Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Kesepakatan yang Disebut Keluarga
Imperion Academy tidak pernah menyukai tamu.
Namun pagi itu, gerbang utama dibuka lebih lama dari biasanya. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gedung administrasi sekolah.Mobil yang terlalu elegan untuk sekadar kunjungan orang tua murid.
Varrendra sudah menunggu di ruang konseling lama. Ruangan itu sempit, jendela tertutup, bau kayu tua dan kertas bercampur. Ia berdiri dengan tangan di saku celana, rahangnya mengeras.
Pintu terbuka.
Rivena masuk lebih dulu.
Langkahnya tenang, presisi, tanpa ragu. Rambutnya tergerai lurus, hitam, jatuh rapi di bahu—bukan untuk terlihat lembut, melainkan menegaskan kontrol. Setelan hitamnya bersih dengan potongan tegas, sederhana namun mahal. Ia tidak membawa tas, tidak menoleh ke sekeliling.
Ruangan itu langsung menyesuaikan diri padanya.
Di belakangnya, Gevano menyusul. Penampilannya lebih sederhana, sikapnya lebih tenang, namun ia berdiri sedikit di belakang Rivena—posisi yang jelas menunjukkan siapa yang memimpin dalam keluarga mereka.
Rivena berhenti tepat di depan Varrendra. Tatapannya tidak mencari reaksi. Tatapan itu menunggu kepatuhan.
“Duduk,” katanya.
Bukan permintaan.
Varrendra masih berdiri. “Ini soal apa?”
Rivena menoleh sedikit—cukup untuk membuat Lucas paham ia tidak perlu menjawab.
“Keputusan,” ucap Rivena singkat.
Ia duduk tanpa menunggu, membuka map tipis di atas meja. Gerakannya rapi, cepat, seperti seseorang yang sudah menyiapkan akhir sebelum percakapan dimulai.
“Kamu akan dijodohkan,” katanya tanpa jeda. “Dengan Selvina Kirana.”
Nama itu jatuh seperti vonis.
Varrendra menegang. Namun Rivena tidak memberinya ruang untuk bereaksi.
“Dia sedang dijatuhkan,” lanjut Rivena. “Ayahnya sedang bermain kotor di wilayah yang salah.”
Gevano akhirnya bicara, nadanya lebih lunak. “Kami ingin memastikan Selvina aman dan selamat tanpa harus melukainya.”
Rivena meliriknya sebentar—cukup untuk menghentikan kelembutan itu.
“Keamanan tidak datang dari niat baik,” katanya. “Tapi dari posisi yang tepat.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Dan posisi itu adalah kamu.”
Varrendra mengepalkan tangan. “Jadi aku perisai.”
“Tidak,” Rivena mengoreksi dingin. “Kamu otoritas.”
Ia mendorong map itu ke depan. Di dalamnya bukan laporan sekolah—melainkan aliran dana, pemerasan halus, dan koneksi yang cukup untuk menjatuhkan satu nama besar.
“Ayah Selvina bisa dipenjara,” kata Rivena datar. “Satu langkah. Tapi langkah itu butuh perlindungan resmi.”
“Dengan pernikahan,” gumam Varrendra.
“Dengan ikatan sah,” Rivena menegaskan. “Dunia menghormati status yang jelas.”
Varrendra menatap map itu lama. “Dan Selvina tahu?”
“Belum,” jawab Rivena. “Dan belum perlu.”
“Jadi aku alat,” suara Varrendra menurun.
Rivena berdiri. Rambutnya bergerak ringan saat ia melangkah mendekat. “Kamu pelindung. Bukan alat tempur seperti yang kamu pikirkan.” tegas Rivena.
“Kalau aku menolak?” tanya Varrendra.
Rivena menatapnya lama—tidak marah, tidak kecewa. Hanya menghitung risiko.
“Penolakan tidak mengubah rencana,” katanya akhirnya. “Hanya mengubah siapa yang hancur lebih dulu dan siapa yang akan bertahan nantinya.”
Sunyi jatuh berat.
“Kamu dibesarkan,” lanjut Rivena, “bukan untuk memilih nyaman. Tapi memilih efektif.”
Gevano berdiri, menepuk bahu Varrendra singkat. “Pikirkan.”
Rivena sudah melangkah ke pintu. Ia berhenti tanpa menoleh.
“Perasaan bisa menyusul nanti,” katanya. “Keselamatan tidak akan pernah bisa menyusul.”
Pintu tertutup.
Varrendra berdiri sendiri, menatap map tipis di tangannya.
Perjodohan ini bukan rencana keluarga.
Ini operasi kekuasaan.
Dan di pusatnya bukan dirinya.
Melainkan seorang perempuan yang selalu berdiri tegak meski dunia mencoba mematahkannya—
Selvina Kirana.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍