Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Ayu turun dari ojek Begitu masuk ke dalam rumah yang menyatu dengan kedainya, ia mendapati Nenek Tari sudah duduk di kursi rotan ruang tengah sambil memetik sayuran.
"Baru pulang, Yu?" tanya Nenek Tari, matanya yang teduh menatap cucunya.
"Gimana keadaan Den Rangga? Masih sakit perutnya?"
Ayu meletakkan tasnya dan duduk di dekat sang nenek. "Sudah baikan, Nek. Tadi pagi juga sudah bisa bangun dan sarapan. Cuma ya masih agak lemas sedikit."
Nenek Tari mengangguk-angguk kecil, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang mulai keriput.
"Syukurlah. Kasihan dia kalau sakit sendirian di rumah"
"Nek, besok kita mulai buka kedai lagi ya? Biar nanti sore Ayu pergi belanja ke pasar buat stok bahan."
Nenek Tari menghentikan kegiatannya sebentar, menatap kaki Ayu yang tempo hari sempat terkilir.
"Memangnya kamu sudah kuat, Yu? Kaki kamu itu belum pulih benar loh."
Ayu mencoba menggerakkan pergelangan kakinya, meski masih ada sedikit rasa kaku, ia merasa sudah jauh lebih baik.
"Sudah kuat kok, Nek. Kaki Ayu juga tidak terlalu sakit lagi kalau dibawa jalan pelan-pelan. Lagipula kalau kelamaan tutup, nanti pelanggan kita pada hilang, Nek. Sayang kan kalau mereka pindah ke tempat lain."
Nenek Tari menghela napas, tahu betul kalau cucunya ini keras kepala jika sudah urusan kerjaan.
"Ya sudah, tapi jangan dipaksa kalau memang capek. Nanti biar Nenek bantu yang ringan-ringan."
"Iya, Nek. Tenang saja," jawab Ayu sambil tersenyum.
Sore itu, pasar masih cukup ramai dengan aktivitas jual-beli. Ayu berjalan di antara lapak-lapak yang sudah sangat ia kenali. Para pedagang di sana menyapanya dengan ramah, mulai dari penjual sayur langganannya hingga tukang daging yang selalu memberikan potongan terbaik untuk kedai Nenek Tari.
"Belanja banyak, Neng Ayu? Besok sudah buka lagi ya kedainya?" tanya Pak Haji, penjual bumbu giling.
"Iya, Pak. Doakan laris ya," jawab Ayu
Setelah urusan belanja selesai, peluh mulai membasahi dahi Ayu. Cuaca sore itu memang terasa cukup gerah. Sebelum pulang, ia menghampiri sebuah gerobak es jeruk peras di pinggir jalan dekat area pertokoan modern.
"Es jeruknya satu, Bang. Pakai es yang banyak ya," ucapnya.
Sambil menunggu minumannya dibuat, Ayu menyandarkan tubuhnya ke tiang kanopi. Matanya menyapu deretan toko di seberang jalan. Namun, seketika jantungnya terasa berhenti berdetak.
Dari sebuah butik pakaian bermerk yang cukup mewah, keluarlah seorang wanita paruh baya yang tampak sangat anggun dengan pakaian branded-nya. Wanita itu adalah mamanya.
Ayu terpaku di tempatnya. Ia melihat mamanya tertawa lepas sambil merangkul lengan seorang pria mapan yang merupakan suami barunya. Di sisi lain, pria itu menggendong seorang anak laki-laki kecil yang tampan, kira-kira berusia empat tahun. Mereka tampak seperti potret keluarga yang sangat sempurna dan bahagia.
Anak kecil itu tertawa riang saat mamanya mencium pipinya dengan penuh kasih sayang sebuah kasih sayang yang sudah sangat lama tidak pernah Ayu rasakan sejak wanita itu memilih pergi untuk mengejar kehidupan barunya.
Tenggorokan Ayu terasa tercekat. Rasa sakit yang ia pendam selama bertahun-tahun kembali mencuat ke permukaan.
Ayu segera membuang muka, mencoba mengatur napasnya yang mulai sesak. Ia takut jika bertahan di sana sedetik lebih lama, air matanya akan tumpah di tengah keramaian pasar.
Ayu buru-buru menyodorkan uang pas kepada penjual es jeruk itu. Tanpa menoleh lagi, ia menghidupkan mesin motornya dan langsung tancap gas, membelah keramaian jalanan dengan dada yang terasa sesak.
Sesampainya di kedai, Ayu meletakkan kantong-kantong belanjaan di atas meja dapur dengan gerakan lunglai. Ia tidak langsung merapikannya, melainkan duduk termenung di kursi kayu dengan pandangan kosong. Es jeruk yang ia beli tadi dibiarkan mencair begitu saja di atas meja.
Nenek Tari yang sedang mengelap gelas di dekat sana langsung menyadari perubahan drastis pada cucunya. Ayu yang biasanya ceria dan lincah setelah belanja, kini tampak seperti kehilangan nyawa.
"Kenapa, Yu? Ada yang kurang belanjanya?" tanya Nenek Tari lembut.
Ayu hanya menggeleng pelan tanpa suara. Ia mencoba mengambil kantong sayuran untuk dibersihkan, tapi gerakannya sangat lambat.
"Ayu, Nenek ini sudah puluhan tahun urus kamu. Kamu nggak bisa bohong sama Nenek. Ada apa? Kaki kamu sakit lagi? Atau ada orang yang jahat sama kamu di pasar?"
"Nggak ada apa-apa, Nek. Ayu cuma capek saja," jawab Ayu pelan.
Nenek Tari tidak menyerah. Ia duduk di depan Ayu, menatap mata cucunya dalam-dalam. "Cerita sama Nenek. Jangan disimpan sendiri, nanti jadi penyakit."
Melihat sorot mata neneknya yang penuh kasih, pertahanan Ayu akhirnya runtuh. Setetes air mata jatuh ke pipinya. "Tadi... tadi Ayu lihat Mama, Nek."
Nenek Tari tertegun, tangannya yang keriput mengusap punggung tangan Ayu. "Di mana?"
"Di depan butik dekat pasar. Mama kelihatan bahagia banget, Nek. Dia sama suaminya... terus ada anak kecil, mungkin adek Ayu. Dia gendong anak itu, ketawa-ketawa,"
Ayu sesenggukan, mencoba menahan tangis yang mulai pecah.
"Melihat Mama punya keluarga yang sesempurna itu, Ayu jadi ngerasa... Ayu ini apa buat dia? Kenapa dulu dia tega ninggalin Ayu sendirian"
Nenek Tari mengusap-usap punggung Ayu. "Sudahlah, Yu... jangan terlalu dipikirkan lagi," ucap Nenek Tari dengan suara rendah dan bijak.
"Setiap orang punya jalannya masing-masing. Kalau Mama kamu memilih jalan itu, ya itu tanggung jawab dia sama Gusti Allah. Kamu nggak perlu membebani hati kamu dengan kebahagiaan orang yang sudah memilih untuk pergi."
Ayu melepaskan pelukannya perlahan, menghapus air mata di pipinya dengan ujung jilbab. "Tapi rasanya nggak adil, Nek. Ayu di sini berjuang mati-matian, sementara dia seolah lupa kalau punya anak di sini."
"Keadilan itu bukan kita yang ukur, Nduk," lanjut Nenek Tari sambil kembali menarik kantong sayuran yang tadi sempat terabaikan.
"Dunia ini memang kadang nggak sesuai sama kemauan kita. Tapi lihat diri kamu sekarang. Kamu bisa berdiri sendiri, kamu bisa bantu Nenek, kamu punya harga diri yang tinggi. Itu jauh lebih berharga daripada kemewahan yang dia pamerkan di sana."
Nenek Tari menatap mata Ayu dengan tegas namun teduh. "Dulu kamu sedih karena ditinggal, itu wajar. Tapi kalau sekarang kamu masih menangisi orang yang sama, itu namanya menyia-nyiakan hidupmu. Kamu itu kuat, Ayu. Jangan biarkan bayangan orang lain merusak semangatmu"
Ayu terdiam, meresapi setiap kata yang diucapkan neneknya. Benar kata Nenek, terus-menerus merasa sakit hati hanya akan membuatnya jalan di tempat, sementara waktu terus berjalan.
"Sudah, sekarang cuci muka. Jangan sampai air mata kamu jatuh ke bumbu masak, nanti rasanya jadi asin," canda Nenek Tari, mencoba mencairkan suasana.
Ayu akhirnya tersenyum tipis, meski matanya masih sedikit sembab. "Iya, Nek. Ayu cuci muka dulu, terus kita beresin belanjaannya."
......................
Malam itu, setelah tubuhnya terasa jauh lebih segar meski hatinya masih berbunga-bunga karena kejadian pagi tadi, Rangga sedang asyik bersantai di teras lantai dua rumah minimalisnya. Ia sedang menikmati angin malam saat tiba-tiba bel rumahnya berbunyi dengan tidak sabar.
Begitu pintu dibuka, sosok Dimas berdiri di sana dengan wajah yang tampak bingung sekaligus sedikit kesal.
"Wah, beneran ada di rumah ternyata," cetus Dimas tanpa basa-basi sambil melangkah masuk.
"Tadi gue ke bengkel, orang-orang bilang lo nggak masuk. Gue telpon nggak lo angkat. Lo kemana aja sih, Ngga? Tumben banget bolos nggak ada kabar."
Rangga hanya tertawa kecil, menutup pintu dan mengajak Dimas duduk di ruang tengah.
"Bentar, Ngga... ada yang aneh," Dimas berjalan berkeliling, menatap meja kopi yang bersih mengkilap dan rak buku yang tertata sangat rapi. "Tumben rumah lu rapi banget begini? Biasanya kan kertas kerjaan berantakan di mana-mana, gelas kopi bekas semalam juga suka lupa lu cuci."
Sakit gue, Dim," jawab Rangga santai sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
"Sakit? Sakit apaan? Muka lo cerah gitu kayak habis menang lotre," selidik Dimas curiga.
"Terus, jangan bilang lu tiba-tiba rajin bersih-bersih rumah dalam kondisi sakit?"
Rangga akhirnya menyerah dan tertawa kecil. "Ayu ke sini semalam, Dim."
Dimas terpaku, hampir saja terjatuh saat hendak duduk kembali. "Hah?! Ayu? Ke rumah lu? Kok bisa?"
"Gue sakit perut parah, Gue telepon dia karena udah nggak tahan lagi, eh dia datang beneran. Dia ngerawat gue sampai pagi, bahkan bersih-bersih rumah gue ini sebelum dia pulang tadi," cerita Rangga dengan nada bangga yang tidak bisa ditutupi.
"Gila... strategi sakit perut lo berhasil juga ternyata. Gue pikir lo bakal diusir atau dimaki-maki."
"Nggaklah, dia itu sebenarnya masih peduli banget sama gue, Dim. Gue bisa lihat dari matanya pas dia ngerawat gue tadi malam," ucap Rangga menerawang.
"Terus sekarang gimana? Lo mau langsung tancap gas lamar dia lagi?" tanya Dimas penasaran.
Rangga langsung menoyor dahi Dimas dengan tawa tertahan. "Ya enggak lah, dodol! Kita aja baru dekat lagi setelah lima tahun perang dingin. Kalau gue main gas pol sekarang, yang ada dia malah lari ketakutan terus ngilang lagi."
Dimas mengusap dahinya sambil menyengir kuda. "Ya kali aja gitu, mumpung momennya lagi dapet. Dari sakit perut jadi akad nikah, kan lumayan tuh ceritanya buat anak cucu."
Rangga tersenyum penuh rahasia. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Besok pagi gue mau mampir ke sana"
"Gue mau lihat wajah dia pas tahu gue sudah sehat walafiat berkat ramuannya."
"Gaya lo, Ngga," ejek Dimas. "Tadi pagi aja hampir mati gara-gara sambal, sekarang sudah mau balik lagi ke sana. Hati-hati, siapa tahu besok level pedasnya ditambah jadi se-ember."
"Gue nggak takut," sahut Rangga percaya diri. "Asal dia yang suapin, racun pun gue telan."
"Cuih! Bucin lo kambuh lagi ya," cibir Dimas sambil beranjak berdiri. "Ya sudah, gue balik dulu. Jaga tuh perut, jangan sampai besok pagi gue nemu lo pingsan lagi di lantai bawah gara-gara kebanyakan ngebucin."