NovelToon NovelToon
Pang Liong (Membantu Naga)

Pang Liong (Membantu Naga)

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: The Bwee Lan

Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.

Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------

Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.

AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.

---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--

nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi di Tengah Malam

"SINSEH! Ibuku mau melahirkan! Bayinya sudah mau keluar!"

Kwee Lan menoleh. Wajahnya pucat, tangannya gemetar. Tapi matanya—matanya langsung tajam kayak mata elang. Dia lari ke tenda darurat. Di dalam, seorang wanita muda meringis kesakitan sampai urat lehernya keluar. Di sampingnya, anaknya menangis sesenggukan.

Kwee Lan periksa cepat. Raba perut, dengar detak jantung bayi, cek posisi. Wajahnya berubah drastis.

Sungsang. Bayi gak keluar kepala duluan, tapi kaki. Kalau dipaksa, bisa lewat dua-duanya.

Kwee Lan lari ke halaman, teriak sekencang mungkin sampai suaranya serak:

"TEN-CHUN! (Jenderal) CHOA!"

Choa yang lagi asik jaga antrean langsung lari pontang-panting. "Sio Moi?!"

"Cari air panas! Dua ember! Air biasa sepuluh ember! GE-LAK! (Cepat!)" perintah Kwee Lan.

Choa langsung berputar kayak gasing. "KIM! GO! BANTUIN! O-PE-RA-SI!"

Tiga jenderal itu—yang biasanya ngatur ribuan nyawa di medan tempur—sekarang sibuk ngatur logistik lahiran. Kim angkat ember, Choa nyalain api, Beng Liong (meski dipapah) sibuk ngatur barisan ember biar nggak berantakan.

Kwee Lan masuk lagi, tangannya meraba perut pasien. Dia keluar lagi, nyodorin selembar daun lontar ke Go Beng Liong.

"Lo! Ini resep! Angciu sama rempah-rempah khusus! Cari ke kota! LI-KAI! (Segera!)"

Go Beng Liong baca resep itu, matanya membelalak. "Ini... ini bahan apa? Gua gak ngerti, Sio Moi!"

"HAIYA! Lo gak usah ngerti! Lo beli aja! Tunjukin ke toko obat, mereka pasti tau!"

Go Beng Liong, jenderal dengan chi sebesar gunung, yang biasa megang pedang buat tebas kepala musuh—sekarang gemetar megang resep kertas. Tapi dia langsung jalan.

Jenderal yang "Over-Process"

Di luar, Kim dan Choa terlalu semangat. Saking takutnya Kwee Lan ngamuk, mereka malah kelebihan stok.

Kim bawa 5 ember air panas. Choa bawa 12 ember air biasa. Air tumpah-tumpah ke mana-mana sampai halaman jadi becek kayak sawah.

"KIM! Kebanyakan, Kiam-pau!" teriak Ah Niu yang dari tadi nontonin sambil ngupil.

"Biarin! Daripada kurang, sinseh ngamuk!" balas Kim sewot.

Ah Niu cuma geleng-geleng. "Jenderal... kalian kalau belanja ke pasar begini juga? Beli cabai dua ons, bawanya satu kuintal?"

Go Beng Liong: Tobatnya Sang Pembunuh

Go Beng Liong duduk di tandu, dipapah dua ajudan Kim dan Choa. Dia megang resep itu kayak megang benda pusaka kekaisaran. Sampai di depan toko obat, dia turun dengan kaki gemetaran.

"TAUKE! Gua perlu ini!" teriak Go sambil gebrak meja.

Tukang apotek, orang tua pakai kacamata tebal, melihat resep itu. Lalu melirik Go dari bawah ke atas. "Ini... buat operasi, Tauke?"

"GUA TAU! CEPETAN!"

"Tapi stoknya dikit—"

Go Beng Liong langsung tarik kerah baju si tukang apotek. "Denger, Bang! Nyawa orang di gunung lagi nunggu! Keluarga gua! Sinseh gua! Kalau lo gak kasih, gua—"

Dia berhenti. Go menatap tangannya sendiri yang mencengkeram kain kusam si kakek.

Dulu, tanganku narik kerah orang, orang itu langsung mati. Sekarang, gua narik kerah orang... cuma buat minta tolong?

Go melepaskan cengkeramannya. "Maaf, Bang," katanya pelan, suaranya parau. "Gua lagi panik. Tolong... kasih apa yang ada. Gua bayar."

Tukang apotek menghela napas lega. "Lo dari gunung itu ya? Yang ada sinseh wanitanya?" Go mengangguk. "Gua sudah denger gosipnya. Anak gua juga sakit, tapi gua gak berani ke sana, takut rame."

Go terdiam sebentar, lalu berkata: "Nanti... gua bilangin sinseh gua buat periksa anak lo. Gratis."

Tukang apotek tersenyum. "Lo jenderal, ya? Baru kali ini ada jenderal minta tolong sama rakyat kecil kayak gua."

Operasi di Tengah Malam

Di dalam tenda, Kwee Lan bekerja dalam sunyi yang mencekam. Pasiennya sudah lemas. Darah mulai keluar banyak.

Operasi kecil, pikir Kwee Lan. Tapi resikonya nyawa.

Dia buka tasnya, ambil stok kering yang dia simpan: Tali Rami Bintang. Tanaman liar yang dia rawat diam-diam di belakang rumah. Bukan obat dewa, tapi buat jahit luka operasi, ini yang paling top.

Dia cuci tangan pakai air panas, rebus tali rami, siapkan pisau kecil yang sudah disterilkan pakai api. Di luar, tiga jenderal jaga pintu kayak patung. Mereka nggak berani masuk, tapi mereka percaya.

Go Beng Liong datang, nyerahin bungkusan obat lewat celah tenda. "Kwee Lan... obatnya ada."

Tangan Kwee Lan nerima bungkusan itu. Gemetar, tapi mantap. Dia nggak punya chi, tapi dia punya Bu Ki Sut—tangannya bergerak dengan presisi mesin. Jahitan pertama, kedua, ketiga...

Tiga jam berlalu.

Pintu tenda terbuka pelan. Kwee Lan keluar dengan tangan berlumuran darah. Wajahnya kuyu, tapi matanya lega luar biasa.

"Ibu selamat. Bayinya juga selamat. Dua-duanya."

Tiga jenderal itu sempat bengong, lalu serempak teriak: "BERHASIL! HOREEEE!"

Kim hampir nangis bombay. Choa tertawa terbahak-bahak sampai jahitannya sendiri nyaris copot. Beng Liong cuma bisa senyum lebar—senyum yang paling tulus dalam hidupnya.

Kwee Lan duduk di tanah, remuk. Ah Niu datang, ngupil bentar terus kasih air minum. "Lo hebat, Lan-A."

"Bukan gue hebat," bisik Kwee Lan. "Tapi... mereka percaya sama gue."

Warga bingung, tiga jenderal bingung. Tapi mereka nggak tahu, di dalam kamar, Kwee Lan tidur pulas sambil memeluk periuknya. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, dia merasa pantas dipanggil Sinseh.

Tiba-tiba Kasim Law nyeletuk dari balik tenda, "Gue puas berobat di sini. Gue ini wanita yang kejebak di tubuh yang salah, makanya cocok sama Sinseh wanita!"

Ketiga jenderal itu bergidik. "Diem lo, Law!"

Besoknya, klinik nggak kunjung buka. Tabib Kwee nggak keluar rumah sama sekali. Pasien pasien wanita, Jendral, dan 3 Kasim baru datang bingung

Catatan:

Tauke: Panggilan buat pemilik toko/bos.

Giam-giam-lai: Antre dengan tenang/diam-diam.

Ge-lak / Li-kai: Cepat/Segera.

Wah, klinik tutup! Apakah Kwee Lan pingsan atau cuma mau mogok kerja karena kecapekan? Lanjut ke Bab 8? 🔥🐉

[Bersambung]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!