"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Cincin Hitam dan Janji Seratus Miliar
Velin tidak pernah menyangka bahwa kemampuan P3K dasar yang ia pelajari saat pelatihan wajib di kantor lamanya akan berguna untuk menyelamatkan nyawa seorang pria misterius di dunia drama. Dengan gerakan cekatan namun tetap berhati-hati, ia membersihkan sisa darah di perut Kieran menggunakan air hangat dan handuk kecil.
"Tahan ya, Tuan Seratus Miliar. Ini mungkin agak perih, tapi lebih perih mana sama ditolak pengajuan cuti?" gumam Velin asal sambil menekan luka tembak itu dengan kain kasa yang ia temukan di kotak obat darurat.
Kieran merintih pelan, matanya menatap Velin dengan intens. Ia heran melihat wanita ini. Biasanya, orang akan pingsan atau berteriak histeris melihat peluru bersarang di tubuh seseorang. Tapi Velin? Wanita ini malah terlihat antusias, seolah-olah sedang mengerjakan proyek bonus besar.
"Kenapa kau begitu bersemangat?" desis Kieran dengan suara serak.
"Tentu saja semangat! Seratus miliar, Tuan! Itu jumlah yang cukup untuk membuatku pensiun dini dan beli pulau pribadi," sahut Velin dengan mata berbinar. "Jadi, mumpung aku lagi baik, ceritakan padaku. Kamu ini dari mana? Kenapa bisa nyasar ke plafon kamar mandiku dengan kondisi kayak saringan begini?"
Kieran terdiam lama. Biasanya, ia akan langsung menghabisi siapa pun yang terlalu banyak bertanya. Namun, ada sesuatu pada diri Velin—mungkin cara wanita itu memperlakukannya seperti manusia biasa, bukan sebagai monster—yang membuatnya luluh.
"Namaku Kieran Marva D'Arcy," bisiknya akhirnya. "Aku sedang melarikan diri dari musuh-musuhku... dan dari tuntutan konyol keluargaku. Aku masuk ke dunia ini melalui portal yang tidak sengaja terbuka saat aku terpojok."
Velin manggut-manggut sambil melilitkan perban di pinggang atletis Kieran. "D'Arcy... nama yang mahal. Pantas saja imbalannya seratus miliar."
Saat sedang merapikan balutan, mata Velin tertuju pada sebuah kalung perak yang melingkar di leher Kieran. Sebuah cincin dengan batu hitam pekat dijadikan liontin di sana. Batu itu tampak sangat unik, seolah-olah ada cairan yang bergerak di dalamnya.
"Wah, cincin ini bagus banget. Antik ya?" Velin menyentuh liontin itu dengan ujung jarinya. "Batunya kok kayak hidup?"
Kieran menatap cincin itu dengan tatapan rumit. "Itu cincin turun-temurun dari kakekku. Batu hitam itu mengandung darah murni keluarga D'Arcy yang sudah dikristalkan melalui ritual kuno."
Velin mengernyit. "Hah? Isi darah? Seram amat, Tuan."
"Kakekku gila," lanjut Kieran dengan nada sinis. "Dia bilang, cincin itu adalah pencari jodoh. Siapa pun wanita yang mampu mengenakannya di jari manis tanpa merasa kesakitan atau ditolak oleh energi darah itu, maka dialah jodoh sejatiku. Konyol, bukan? Di zaman sekarang dia masih percaya takdir semacam itu."
Velin tertawa konyol. "Wah, plotnya makin mirip drama fantasi! Jodoh lewat cincin berdarah? Klasik banget! Pasti itu cuma cara kakekmu supaya kamu cepat nikah aja."
Velin meraih tangan Kieran, bermaksud membantu pria itu duduk lebih nyaman. "Tapi jujur ya, Tuan Kieran. Daripada kamu pusing mikirin cincin mistis, mending fokus sembuh dulu. Ingat, utang seratus miliarmu itu adalah asuransi jiwamu di rumah ini."
Kieran menatap tangan Velin yang masih memegang tangannya. Ada rasa hangat yang menjalar, sesuatu yang belum pernah ia rasakan di dunianya yang dingin dan penuh pengkhianatan.
"Jika aku tidak bisa memberikan uang itu sekarang, apa kau akan menyerahkanku pada suamimu?" tanya Kieran menguji.
Velin berdecak. "Enak saja! Adriano itu cuma CEO, dia kikir soal perasaan. Kamu itu aset! Mana mungkin aku tukar aset seratus miliar dengan ucapan terima kasih dari kulkas berjalan itu."
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kieran Marva D'Arcy menarik sudut bibirnya. Ia tertawa kecil—sebuah tawa yang sangat tipis namun tulus. "Kau benar-benar wanita paling materialistis yang pernah kutemui, Aveline."
"Sebut saja aku... realistis," sahut Velin bangga.
Tanpa mereka sadari, saat Velin menyentuh cincin itu tadi, batu hitam tersebut sempat berpendar merah redup sekejap mata. Seolah-olah darah di dalamnya baru saja menemukan detak jantung yang ia cari selama ratusan tahun.
terimakasih 🙏🙏🙏