NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri di Balik Debu Perbatasan

Gudang itu sunyi, hanya suara tetesan air dari atap seng yang bocor dan deru napas berat tiga orang petinggi yang sudah di ambang maut. Eisérre berdiri di tengah ruangan, bayangannya memanjang di dinding akibat cahaya lampu minyak yang bergoyang.

Ketiga petinggi itu—Kolonel Marek dan dua rekannya—sudah kehilangan banyak darah, namun mata mereka memancarkan ketakutan yang aneh. Bukan takut pada Eisérre, melainkan takut pada sosok yang lebih tinggi yang memerintahkan mereka.

"Siapa yang memerintahkan kalian mengebom koordinat itu?" suara Eisérre sangat rendah, selembut beludru namun setajam silet.

Marek meludah darah ke lantai, ia tertawa parau. "Kau tidak akan pernah tahu, Jenderal. Kami lebih baik mati di tanganmu daripada harus mengkhianati beliau. Di tanganmu kami hanya mati sekali, tapi di tangan beliau, seluruh keturunan kami akan musnah."

Eisérre mengernyit. Ada sosok "bayangan" di dalam istana yang kekuatannya sanggup membungkam mulut para Kolonel ini bahkan di bawah siksaan Jenderal Agung.

"Siapa 'beliau'?" Eisérre menekan belati ke leher Marek. "Apa dia yang menyuruh kalian melumpuhkan Sang Putri sebelum bom meledak?"

Ketiga orang itu saling pandang dengan bingung. "Melumpuhkan? Kami tidak pernah menyentuhnya, Eisérre!" Marek berteriak parau. "Perintah kami jelas: Ledakkan seluruh area medis itu saat dia berada di sana. Kami tidak perlu memukulnya. Bom itu akan mengurus semuanya!"

Eisérre tertegun. Jika mereka hanya bertugas mengebom dan tidak pernah menyentuh Geneviève secara fisik... lalu siapa yang memukul tengkuk Geneviève hingga ia pingsan sebelum ledakan terjadi? Siapa yang membuangnya ke tumpukan mayat?

"Jadi ada pihak lain ya?" Bisik Eisérre pada dirinya sendiri.

Eisérre menyadari satu hal yang mengerikan: Geneviève adalah target dari dua kelompok berbeda di saat yang bersamaan. Kelompok pertama (para petinggi ini) ingin melenyapkannya karena alasan politik istana atas perintah "sang bayangan". Kelompok kedua (pihak misterius lainnya) menyerangnya secara fisik sesaat sebelum bom meledak.

"Kalian tidak berguna jika tetap hidup," ucap Eisérre dingin. Ia berbalik dan memberi isyarat pada Kael.

Dor! Dor! Dor!

Tiga peluru mengakhiri nyawa mereka. Eisérre melangkah keluar dengan pikiran yang berkecamuk. Ia mengira sudah menghabisi pelakunya, ternyata ia baru saja menyentuh ujung gunung es.

Malam itu, Eisérre pulang ke paviliun dengan bau asap yang samar di bajunya. Begitu masuk ke kamar, ia melihat Geneviève sedang tertidur pulas dengan wajah yang sangat damai. Eisérre duduk di tepi tempat tidur, mengusap pipi Geneviève dengan tangan yang baru saja mengirim tiga nyawa ke neraka.

"Tidurlah yang nyenyak, Ève," bisik Eisérre penuh pemujaan. "Dunia ini sudah sedikit lebih bersih untukmu sekarang."

...***...

Waktu itu sebulan yang lalu, di sebuah sudut kota yang terpencil. Letnan Varg sedang bertemu dengan Camille. Mereka tidak tahu tentang apa yang akan terjadi kedepannya.

"Untung saja bom itu meledak tepat setelah aku membuangnya ke tumpukan mayat," bisik Varg sambil menerima sekantong emas dari Camille. "Dunia akan mengira dia mati karena ledakan, bukan karena pukulanku."

Camille tersenyum puas, sebuah senyum jahat yang merusak wajah cantiknya. "Sempurna. Dengan begitu, Dokter Zukho tidak akan pernah tahu bahwa Dokter kesayangannya mati karena aku yang menginginkannya."

Varg dan Camille adalah "peluru" kedua yang tidak sengaja bekerja sama dengan "peluru" pertama milik orang dalam istana. Mereka berdua sama sekali tidak tahu bahwa tindakan mereka justru secara tidak langsung 'menyelamatkan' Geneviève dari pusat ledakan utama, karena Varg memindahkannya ke area mayat sebelum bom menghancurkan tenda medis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!