NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Pierre mengetukkan jemarinya di atas permukaan meja kayu, menciptakan bunyi tuk-tuk yang berulang seirama dengan detak jam dinding yang jarumnya tampak bergerak malas. Cahaya lampu gantung di atas mereka sesekali berkedip, mengirimkan kilatan cahaya yang memantul pada lembaran uang Euro yang berserakan di antara mereka. Mahesa masih duduk diam, punggungnya bersandar pada sandaran kursi yang keras, sementara matanya mengikuti setiap pergerakan tangan Pierre yang kini mulai menyusun uang-uang itu dalam kelompok-kelompok kecil.

Suasana di dalam apartemen tua itu terasa sangat kaku. Bau asap rokok yang mengendap di tirai jendela bercampur dengan aroma lembap dari dinding yang berjamur. Mahesa bisa merasakan keringat dingin di tengkuknya, meski suhu di luar sana sedang turun drastis. Ia meraba saku jaketnya, merasakan kekosongan di tempat biasanya ia menyimpan saputangannya. Tindakan kecilnya memberikan kain itu pada Felysha kini terasa seperti beban yang sengaja ia ikatkan pada kakinya sendiri.

"Totalnya seribu empat ratus Euro," Pierre berujar sambil meletakkan satu tumpukan uang terakhir ke tengah meja. Ia menatap Mahesa dengan seringai tipis yang memperlihatkan deretan giginya yang tidak rata. "Gadis Passy itu benar-benar tidak main-main. Dia membawa uang sebanyak ini hanya untuk berjalan-jalan di malam hari? Orang kaya memang punya cara yang aneh untuk membuang nyawa mereka."

Mahesa tidak memberikan reaksi. Ia hanya menatap tumpukan uang itu tanpa minat sedikit pun. Di dalam kepalanya, ia sedang menghitung berapa hari ia bisa bertahan hidup dengan uang itu, dan berapa banyak rasa bersalah yang harus ia tanggung di setiap harinya.

"Sesuai kesepakatan," Pierre melanjutkan, tangannya mulai membagi tumpukan uang itu menjadi dua bagian. "Enam ratus untukmu karena tugasmu hanya berdiri di sana dan menjadi pria baik-baik yang menenangkan mangsa. Delapan ratus untukku karena aku yang harus berlari, memanjat pagar, dan menanggung risiko dikejar anjing penjaga atau polisi patroli."

Pierre mendorong satu gundukan uang ke arah Mahesa. Lembaran-lembaran kertas itu bergeser di atas kayu meja yang kasar, menimbulkan suara gesekan yang terdengar sangat nyata di telinga Mahesa. Mahesa tidak segera menyentuhnya. Ia menatap uang itu, lalu beralih menatap Pierre yang kini sedang sibuk memasukkan bagiannya ke dalam tas pinggang kulitnya yang kusam.

"Aku yang memberikan info rute pulangnya padamu selama tiga hari terakhir," Mahesa berbicara dengan suara yang datar dan tenang. Ia memajukan tubuhnya, menaruh kedua sikunya di atas meja. "Tanpa infoku, kamu tidak akan tahu dia selalu lewat gang itu setiap kali Andre—supirnya—pergi ke pom bensin di ujung jalan. Aku seharusnya dapat setengah."

Pierre berhenti sejenak, menatap Mahesa dengan mata yang menyipit. "Oh, benarkah? Kalau begitu, kenapa tidak kamu saja yang menjambret tasnya? Kenapa harus aku?" Pierre tertawa sinis, suaranya memenuhi ruangan yang sempit itu. "Karena kamu takut, Mahesa. Kamu takut terlihat jahat. Kamu ingin uangnya, tapi kamu ingin tetap punya wajah suci. Enam ratus itu sudah lebih dari cukup untuk membayar harga diri yang kamu jual malam ini."

Mahesa merasakan rahangnya mengeras. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia melakukan ini karena terpaksa, karena uang beasiswanya diputus sepihak dan ia tidak bisa pulang ke Jakarta dengan tangan hampa. Namun, semua kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Apa pun alasannya, ia tetaplah bagian dari rencana ini. Ia tetaplah orang yang berdiri di kegelapan, menunggu Pierre melakukan tugas kotornya, lalu muncul sebagai "penyelamat" untuk memastikan targetnya tidak menghubungi polisi.

Ia akhirnya meraih tumpukan uang itu. Jemarinya meraba tekstur kertas uang yang masih terasa agak licin. Ia melipat uang itu menjadi dua dan memasukkannya ke dalam saku dalam jaket denimnya. Uang itu terasa berat, seolah-olah ia baru saja memasukkan bongkahan batu ke dalam pakaiannya sendiri.

"Lalu, dompetnya?" Mahesa bertanya sambil menunjuk dompet cokelat Felysha yang kini sudah kosong melompong di tengah meja.

Pierre meraih dompet itu, membolak-baliknya dengan pandangan menilai. "Dompet bermerek begini... kalau kita jual ke pasar gelap di daerah Barbès, mungkin bisa dapat lima puluh Euro lagi. Tapi kurasa terlalu berisiko. Ada inisial namanya di bagian dalam." Pierre meraba bagian dalam dompet, memperlihatkan sebuah cetakan emas kecil bertuliskan F.A.

"Buang saja ke Seine pagi nanti," kata Mahesa. Ia berdiri dari kursi, menimbulkan bunyi decit kayu yang panjang. "Jangan tinggalkan jejak apa pun di sini. Dan jangan pernah menyentuh area Trocadéro lagi selama dua minggu ke depan. Polisi mungkin tidak akan menanggapi laporan pencopetan kecil, tapi mereka tetap punya mata di sana."

Pierre hanya mengangkat bahu, lalu mulai merapikan barang-barangnya. "Terserah kamu, bos. Tapi jujur saja, gadis tadi... siapa namanya? Felysha? Dia benar-benar target yang sangat mudah. Terlalu mudah. Dia bahkan tidak berteriak saat aku menarik tasnya. Dia hanya mematung seperti rusa yang terkena sorot lampu mobil."

Mahesa berjalan menuju jendela kecil di sudut ruangan. Ia menyibakkan tirainya sedikit, melihat ke bawah ke arah jalanan Rue des Martyrs yang sudah benar-benar sunyi. Lampu-lampu toko sudah mati, menyisakan keremangan yang suram. Ia membayangkan Felysha yang mungkin saat ini sedang menangis di dalam apartemen mewahnya, meraba lehernya yang terluka, dan merasa sangat bodoh karena telah mempercayai seorang pria asing di taman.

"Jangan pernah sebut namanya lagi," Mahesa berujar tanpa menoleh.

"Kenapa? Kamu mulai merasa kasihan padanya?" Pierre tertawa lagi, kali ini nadanya lebih mengejek. "Dengar, Mahesa. Di Paris, tidak ada ruang untuk rasa kasihan. Orang seperti dia punya asuransi, punya orang tua kaya, punya segalanya. Kita hanya mengambil sebagian kecil dari apa yang dia punya untuk tetap bisa bernapas di kota sialan ini. Tidurlah. Besok kita punya daftar target baru di dekat Louvre."

Mahesa tidak menjawab. Ia membiarkan Pierre pergi menuju kamar tidurnya di belakang. Begitu pintu kamar Pierre tertutup, Mahesa melepaskan jaket denimnya dan melemparkannya ke atas sofa. Ia berjalan menuju wastafel dapur yang berkerak, menyalakan keran, dan membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang retak di atas wastafel.

Wajah di cermin itu tampak asing baginya. Mata yang dulu penuh ambisi saat pertama kali mendarat di Charles de Gaulle kini tampak kuyu dan dipenuhi oleh bayangan kelam. Ia meraba lehernya sendiri, membayangkan perih yang dirasakan Felysha. Mahesa menyadari satu hal yang paling menyakitkan dari pekerjaannya malam ini: uang enam ratus Euro di sakunya tidak akan pernah bisa membayar kembali martabatnya yang baru saja ia buang ke dalam selokan malam Paris yang kotor. Ia mematikan lampu, membiarkan kegelapan apartemen itu menelan semua sisa-sisa nuraninya yang masih mencoba berontak.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!