Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Rumah Para Penyihir
...****************...
Bel besar akademi berdentang panjang setelah upacara penerimaan murid selesai.
Suara itu menggema di seluruh halaman batu Akademi Duskveil, seolah menandai dimulainya kehidupan baru bagi para murid yang baru saja diterima.
Para instruktur mulai memisahkan murid-murid menuju rumah masing-masing.
Sebagian murid terlihat bersemangat berjalan menuju rumah mereka, sementara yang lain masih tampak kebingungan sambil membawa koper dan perlengkapan sihir.
Arkan berdiri beberapa langkah di belakang kelompok murid Darkveil.
Instruktur yang tadi memanggil namanya berdiri di depan rombongan itu. Jubah hitam panjangnya bergerak pelan tertiup angin lembah.
"Ikuti aku," ucapnya singkat.
Tanpa banyak bicara, para murid Darkveil mulai berjalan mengikutinya.
Mereka melewati halaman utama akademi yang luas, lalu memasuki koridor batu panjang yang diterangi obor sihir berwarna ungu redup.
Langkah kaki mereka bergema pelan di lantai batu.
Arkan memperhatikan sekelilingnya dengan tenang.
Dinding-dinding koridor dipenuhi lukisan para penyihir masa lalu. Beberapa di antaranya menggambarkan pertempuran besar, sementara yang lain menunjukkan para penyihir yang sedang mempelajari rune kuno.
Namun yang paling menarik perhatian Arkan adalah simbol-simbol sihir yang terukir di sepanjang dinding.
Rune-rune itu berpendar sangat samar, seperti sedang bernapas.
Salah satu murid di belakangnya berbisik pelan kepada temannya.
"Kenapa tempat ini terasa… dingin?"
"Ini wilayah Darkveil," jawab temannya dengan
suara gugup. "Katanya sihir malam paling kuat di sini."
Instruktur yang berjalan di depan mereka tiba-tiba berhenti.
Para murid hampir menabraknya.
Ia menoleh sedikit ke belakang.
"Jika kalian takut dengan kegelapan," katanya dengan nada datar, "maka kalian berada di tempat yang salah."
Tidak ada yang berani menjawab.
Instruktur itu kembali berjalan.
Koridor itu akhirnya membawa mereka keluar menuju halaman yang berbeda dari halaman utama akademi.
Jika halaman depan terasa terang dan terbuka, tempat ini justru terasa sunyi dan teduh.
Pepohonan tinggi tumbuh di sekitar bangunan batu besar yang berdiri di tengah halaman.
Daun-daunnya begitu lebat hingga sinar matahari hanya menembus sedikit.
Bangunan itu tampak lebih tua dibandingkan bangunan lain di akademi.
Menaranya tinggi, jendelanya sempit, dan dindingnya dihiasi ukiran bayangan yang rumit.
"Selamat datang di Rumah Darkveil," kata instruktur itu.
Beberapa murid menelan ludah.
Arkan hanya menatap bangunan itu tanpa ekspresi.
Entah mengapa, tempat ini terasa…. akrab baginya.
Seolah-olah sebagian dari dirinya memang berasal dari tempat seperti ini.
Instruktur membuka pintu kayu besar yang mengeluarkan bunyi berderit pelan.
Mereka memasuki aula dalam rumah Darkveil.
Ruangan itu luas dengan langit-langit tinggi. Cahaya berasal dari bola-bola sihir ungu yang melayang di udara.
Di dinding ruangan tergantung lambang besar rumah Darkveil.
Seekor burung gagak hitam dengan sayap terbentang di atas lingkaran bayangan.
"Sihir malam bukan sekadar kegelapan," ujar instruktur itu sambil berjalan ke tengah ruangan.
"Sihir malam adalah kekuatan yang lahir dari pemahaman terhadap ketakutan, rahasia, dan ambisi."
Ia menatap para murid satu per satu.
"Banyak orang takut pada kekuatan ini."
Tatapannya berhenti sejenak pada Arkan.
"Karena mereka tidak memahaminya."
Ia kemudian berbalik dan menunjuk tangga besar di ujung aula.
"Asrama kalian berada di lantai atas. Kalian akan mendapatkan kamar berdua."
Beberapa murid langsung bergerak menuju tangga dengan membawa barang mereka.
Namun sebelum Arkan berjalan, instruktur itu memanggilnya.
"Arkan."
Arkan berhenti.
Ia menoleh pelan.
Instruktur itu menatapnya beberapa detik sebelum berbicara.
"Nama keluargamu terkenal di akademi ini."
Beberapa murid yang masih berada di ruangan langsung memperhatikan.
"Namun di sini," lanjutnya, "kami tidak menilai seseorang dari nama keluarganya."
Arkan menatap balik pria itu.
"Baik," jawabnya singkat.
Instruktur itu tersenyum tipis.
"Bagus."
Arkan kemudian berjalan menuju tangga.
...----------------...
Tangga batu itu berputar mengelilingi menara, membawa para murid menuju lantai atas.
Koridor asrama dipenuhi pintu kayu dengan simbol kecil di setiap pintunya.
Seorang murid berambut cokelat yang berjalan di depan Arkan tiba-tiba menoleh.
"Kau… Arkan, kan?"
Arkan berhenti.
"Iya."
Pemuda itu terlihat ragu-ragu sebelum berbicara lagi.
"Aku Kael."
Ia menggaruk belakang kepalanya.
"Kita… sepertinya sekamar."
Ia menunjuk pintu dengan simbol bayangan kecil
.
Arkan melihat nomor kamar yang terukir di kayu.
Kamar 17.
Ia membuka pintu.
Kamar itu cukup sederhana.
Dua tempat tidur kayu, dua meja belajar, dan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke hutan di belakang akademi.
Angin malam yang dingin masuk perlahan melalui celah jendela.
Kael meletakkan tasnya di tempat tidur.
"Tempat ini agak menyeramkan ya," katanya sambil tertawa kecil.
Arkan tidak menjawab.
Ia berjalan ke arah jendela.
Dari sana ia bisa melihat sebagian wilayah akademi.
Di kejauhan tampak menara wilayah Lightveil yang terang oleh cahaya sihir.
Sementara di sisi lain terlihat atap bangunan Natureveil yang dikelilingi pepohonan hijau.
Tiga rumah.
Tiga kekuatan.
Namun entah mengapa Arkan merasa ada sesuatu yang salah dengan keseimbangan itu.
Seolah-olah dunia ini belum benar-benar lengkap.
Kael kembali berbicara dari belakangnya.
"Hei… boleh aku tanya sesuatu?"
Arkan menoleh sedikit.
"Apa benar keluarga Noctis…"
Ia berhenti sejenak.
"...pernah menghancurkan sebuah kota?"
Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi.
Angin malam berhembus pelan melalui jendela.
Arkan menatap ke arah hutan gelap di kejauhan.
Matanya tenang.
"Aku tidak tahu," jawabnya.
Itu bukan kebohongan.
Selama ini ia memang tidak pernah tahu kebenaran tentang keluarganya.
Yang ia tahu hanyalah bisikan orang-orang.
Cerita-cerita yang selalu berbeda.
Namun jauh di dalam hatinya, ia merasa semua itu tidak sepenuhnya benar.
Kael tampak sedikit lega.
"Yah… mungkin cuma rumor."
Arkan tidak menjawab lagi.
Malam perlahan turun di Akademi Duskveil.
Lampu-lampu sihir mulai menyala di seluruh menara.
Para murid baru mulai beristirahat setelah hari pertama mereka.
Namun di balik ketenangan malam itu, sesuatu yang lain sedang menunggu.
Jauh di bawah tanah akademi…
Di sebuah ruangan batu tua yang sudah lama terlupakan…
Sebuah simbol sihir kuno yang terukir di lantai tiba-tiba menyala sangat samar.
Seolah-olah merespons kehadiran seseorang di akademi itu.
Atau lebih tepatnya…
Seseorang dengan nama Noctis.
...****************...