NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: IDENTITAS TERBONGKAR

Tiga hari telah berlalu sejak kekalahan Magyo di hutan utara.

Di dalam gua persembunyian, suasana muram menyelimuti para penyintas. Dari dua ratus lima puluh prajurit yang tersisa, hanya seratus dua puluh yang selamat. Mereka duduk berkelompok di sudut-sudut gua, merawat luka masing-masing dalam keheningan yang berat.

Namgung Jin duduk di ceruk kecil yang agak terpisah, ditemani Nyonya Hwa Ryun—atau lebih tepatnya, Roh Rahasia. Wanita itu kini tidak lagi memakai topeng, memperlihatkan wajah aslinya yang cantik dengan bekas luka tipis di pipi kiri.

"Kau yakin Cheon Wu-gun bisa memaafkan pengkhianatanmu?" tanya Namgung Jin tanpa menoleh.

"Aku tidak mengkhianati Magyo. Aku hanya... menyembunyikan identitas."

"Tetap saja, berbohong selama bertahun-tahun."

Nyonya Hwa Ryun tersenyum getir. "Di dunia ini, siapa yang tidak berbohong?"

Namgung Jin diam. Ia tidak bisa membantah.

Dari kejauhan, langkah kaki mendekat. Cheon Wu-gun muncul dengan wajah lelah, lukanya di lengan sudah dibalut. Ia menatap Nyonya Hwa Ryun dengan ekspresi rumit.

"Roh Rahasia... atau lebih tepatnya, Pemimpin Sekte Bunga Mekar."

Nyonya Hwa Ryun menunduk. "Maafkan aku."

"Maaf?" Cheon Wu-gun tertawa pahit. "Kau menyembunyikan identitas selama bertahun-tahun. Kau bermain di dua sisi. Dan kau minta maaf?"

· "Aku tidak pernah mengkhianati Magyo. Informasi yang kuberikan pada Delapan Sekte selalu informasi palsu atau tidak penting. Aku menjaga rahasia Magyo lebih baik dari siapa pun."*

Cheon Wu-gun diam. Ia tahu itu benar.

"Tapi kali ini, informasi tentang rencana penyebaran pasukan bocor. Dan kau satu-satunya yang tahu detailnya."

Nyonya Hwa Ryun menggeleng. "Bukan aku. Aku tidak pernah memberi tahu mereka rencana itu."

"Lalu siapa?"

Keheningan.

Namgung Jin angkat bicara. "Komandan Yi."

"Tapi dia sudah mati."

"Dia mati, tapi informasinya sudah terlanjur sampai. Dan mungkin..." Mata Namgung Jin menyipit. "...mungkin ada yang lain. Seseorang yang lebih dekat dari yang kita duga."

Cheon Wu-gun mengerutkan kening. "Kau curiga pada salah satu dari kita?"

"Aku curiga pada semua orang. Itu yang membuatku tetap hidup."

---

Di Klan Namgung, situasi juga tidak tenang.

Tetua Seok Cheon-ho duduk di paviliun tamu, ditemani putranya Seok Cheon-myung. Di hadapan mereka, seorang pria berjubah hitam berlutut—pengintai yang dikirim untuk mengikuti Namgung Jin.

"Kau yakin dengan laporanmu?" tanya Tetua Seok.

"Yakin, Tetua. Bocah itu pergi ke markas Magyo. Ia bertemu dengan pemimpin mereka. Dan ia..." Pengintai itu ragu. "...ia bicara seperti orang yang setara dengan mereka."

Seok Cheon-myung berseru, "Aku tahu! Aku tahu bocah itu aneh!"

Tetua Seok mengangkat tangan, menyuruh putranya diam. Ia menatap pengintai itu tajam.

"Ada bukti?"

"Aku tidak bisa mendekat terlalu jauh, tapi aku melihatnya masuk ke Geumseong. Dan saat ia keluar, ia ditemani oleh seseorang berjubah hitam—salah satu petinggi Magyo."

"Cukup." Tetua Seok tersenyum—senyum dingin yang tidak pernah baik. "Ini lebih dari cukup."

Ia berdiri, berjalan ke jendela. Matanya menatap ke arah paviliun reot di kejauhan.

"Bocah iblis. Kau pikir kau bisa bersembunyi?"

---

Malam itu, Tetua Seok mengadakan pertemuan rahasia.

Ia mengundang beberapa tetua Klan Namgung yang ia curi bisa diajak bekerja sama. Tapi hanya satu yang datang—Tetua Namgung Kang, pria dengan alis putih tebal yang pernah bertaruh dengan Namgung Jin.

"Tetua Kang, terima kasih sudah datang."

"Aku tidak suka bocah itu." Tetua Kang duduk dengan wajah cemberut. "Sejak taruhan itu, ia membuatku malu di depan klan."

"Maka kita punya musuh yang sama." Tetua Seok duduk di hadapannya. "Aku punya bukti bahwa Namgung Jin adalah agen Magyo."

Tetua Kang terkejut. "Bukti?"

"Pengintaiku melihatnya masuk ke markas Magyo."

"Itu... itu tuduhan serius."

"Karena itu serius. Tapi dengan bantuanmu, kita bisa menangkapnya dan menginterogasinya."

Tetua Kang diam, berpikir. Harga dirinya yang terluka berbicara keras. Tapi di sisi lain, Namgung Jin adalah anggota klan.

"Apa yang kau minta dariku?"

"Bantu aku mengawasinya. Dan saat waktunya tiba, tangkap dia."

Tetua Kang menghela napas panjang. Lalu ia mengangguk.

"Baik. Aku akan bantu."

---

Di gua persembunyian, Namgung Jin merasakan ada yang tidak beres.

Firasatnya—yang telah menyelamatkannya ribuan kali—berbunyi keras. Ia harus segera kembali ke Klan Namgung. Tapi bagaimana caranya tanpa diketahui Delapan Sekte yang masih berpatroli di sekitar?

Nyonya Hwa Ryun mendekat. "Kau gelisah."

"Aku harus pulang."

"Ke klanmu? Itu berbahaya. Delapan Sekte mungkin sudah curiga."

"Itu sebabnya aku harus cepat."

Nyonya Hwa Ryun merenung. Lalu ia berkata, "Aku bisa bantu."

"Kau?"

"Aku masih punya kontak di Delapan Sekte. Aku bisa menciptakan pengalihan."

"Apa imbalannya?"

"Bawa aku bersamamu."

Namgung Jin menatapnya. "Kau mau meninggalkan Magyo?"

"Untuk sementara. Sampai situasi aman."

Ia berpikir sejenak. Membawa Nyonya Hwa Ryun ke Klan Namgung bisa jadi masalah—identitasnya sebagai pemimpin Sekte Bunga Mekar akan menimbulkan pertanyaan. Tapi di sisi lain, ia butuh sekutu yang bisa dipercaya.

"Baik. Tapi kau harus menyamar."

---

Dua hari kemudian, Namgung Jin kembali ke Klan Namgung.

Ia datang di tengah malam, bersama seorang "pelayan baru" yang tidak lain adalah Nyonya Hwa Ryun dengan jubah sederhana dan wajah yang diubah dengan riasan sederhana. Mereka masuk lewat jalur belakang yang hanya ia ketahui.

Di paviliun reot, Nyonya Yoon sudah menunggu dengan cemas. Begitu melihat putranya, ia langsung memeluk erat.

"Jin-ah! Ke mana saja kau?! Ibu khawatir setengah mati!"

"Maaf, Ibu. Ada urusan."

"Urusan apa lagi?" Nyonya Yoon baru menyadari kehadiran Nyonya Hwa Ryun. "Siapa ini?"

"Teman. Ia akan tinggal sementara di sini."

Nyonya Yoon mengamati wanita itu dengan curiga. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menghela napas.

"Kau memang sudah dewasa. Ibu tidak bisa mengaturmu lagi."

"Ibu..."

"Sudah, sudah. Masuklah. Ibu masak sesuatu."

---

Pagi harinya, kabar buruk datang.

Tetua Pyo datang dengan wajah pucat. Ia langsung menutup pintu rapat-rapat begitu masuk.

"Jin-ah, ada masalah besar."

"Apa?"

"Tetua Seok mengumpulkan bukti tentangmu. Ia punya saksi yang melihatmu di markas Magyo."

Namgung Jin tidak terkejut. "Siapa saksinya?"

"Pengintainya. Dan..." Tetua Pyo ragu. "...ia juga punya dukungan dari dalam klan."

"Tetua Kang."

"Kau tahu?"

"Kuduga."

Tetua Pyo menghela napas. "Mereka akan mengadakan sidang klan hari ini. Kepala klan terpaksa menyetujui. Jika kau terbukti bersalah..."

"Aku akan dihukum mati."

Keheningan.

Nyonya Hwa Ryun—yang sejak tadi diam di sudut—angkat bicara. "Aku bisa bersaksi untukmu."

"Kau?" Tetua Pyo menatapnya curiga. "Siapa kau?"

"Teman Jin-ah."

"Kesaksian orang asing tidak akan diterima."

"Tidak jika aku bersaksi sebagai pemimpin Sekte Bunga Mekar."

Tetua Pyo terkejut. "Apa?"

Namgung Jin mengangkat tangan. "Jangan dulu. Itu akan memperumit masalah."

*"Tapi—"

"Biarkan aku yang menghadapi."

---

Sidang klan berlangsung di aula utama, dua jam kemudian.

Semua tetua hadir. Namgung Cheon duduk di kursi kepala dengan wajah tegang. Di sampingnya, Nyonya Kim duduk dengan ekspresi rumit—campuran antara takut dan penasaran.

Tetua Seok berdiri di tengah aula, penuh percaya diri. Di sampingnya, pengintai berjubah hitam berlutut, siap memberi kesaksian.

Namgung Jin berdiri di hadapan mereka semua, sendirian. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan rasa takut.

"Sidang dimulai." Namgung Cheon membuka dengan suara berat. "Tetua Seok, kau menuduh putraku, Namgung Jin, sebagai agen Magyo. Apa buktimu?"

Tetua Seok tersenyum. "Aku punya saksi mata."

Ia menunjuk pengintai itu. Pria itu angkat bicara.

"Aku melihat Namgung Jin masuk ke markas Magyo, Geumseong. Ia bertemu dengan pemimpin mereka, Cheon Wu-gun. Dan ia keluar sebagai teman, bukan tawanan."

Gemuruh di antara para tetua.

Namgung Cheon menatap putranya. "Jin-ah, apa kau punya bantahan?"

Namgung Jin diam sejenak. Lalu ia berkata, "Satu pertanyaan untuk saksi."

"Silakan."

Ia menatap pengintai itu. "Kau bilang kau melihatku masuk ke Geumseong. Di mana persisnya kau berdiri saat itu?"

Pengintai itu ragu. "Aku... aku di bukit sebelah."

"Bukit mana? Yang timur atau barat?"

"Timur."

"Jaraknya?"

"Sekitar... lima ratus langkah."

"Lima ratus langkah? Dalam gelap? Dengan kabut? Dan kau bisa melihat wajahku dengan jelas?"

Pengintai itu mulai gugup. "Aku... aku punya teropong."

"Teropong? Di malam hari?" Namgung Jin tersenyum tipis. "Atau mungkin kau berbohong?"

"Aku tidak berbohong!"

"Kalau begitu, tunjukkan teropong itu."

Pengintai itu terpojok. Ia tidak membawa teropong.

Tetua Seok cepat bereaksi. "Itu tidak penting! Yang penting, ia melihatmu!"

"Di malam hari, jarak lima ratus langkah, tanpa teropong? Maaf, Tetua Seok, tapi itu mustahil bahkan untuk pendekar level atas sekalipun."

Para tetua mulai berbisik-bisik. Argumen Namgung Jin masuk akal.

Tapi Tetua Seok tidak menyerah. "Kalau begitu, kau mau menyangkal bahwa kau pernah ke markas Magyo?"

Namgung Jin diam.

Dan dalam keheningan itu, Tetua Seok tersenyum.

"Kau diam. Berarti kau mengaku."

"Aku tidak mengaku apa pun."

"Tapi kau juga tidak menyangkal."

Keheningan lagi.

Semua mata tertuju pada Namgung Jin.

Lalu, perlahan, ia tersenyum.

"Baik. Aku akui. Aku pernah ke markas Magyo."

Udara di aula itu membeku.

Namgung Cheon terkesiap. Nyonya Kim memucat. Para tetua saling pandang tidak percaya.

Tetua Seok tertawa penuh kemenangan. "Akhirnya! Kau mengaku!"

"Tapi," potong Namgung Jin, "...aku pergi ke sana sebagai mata-mata. Atas perintah Kepala Klan."

Sekarang giliran Namgung Cheon yang terkejut. "Apa?"

Namgung Jin menatap ayahnya. "Maaf, Ayah. Aku tahu ini rahasia, tapi terpaksa kubongkar."

Ia berbalik ke arah para tetua.

"Beberapa minggu lalu, Kepala Klan memanggilku diam-diam. Ia memintaku menyusup ke Magyo untuk menyelidiki kekuatan mereka. Karena aku tidak dikenal, aku bisa bergerak bebas."

Tetua Seok tertawa. "Bohong! Mana mungkin Kepala Klan memerintahkan bocah sepertimu!"

"Tanyalah sendiri."

Semua mata kini tertuju pada Namgung Cheon.

Kepala klan itu diam. Wajahnya tidak terbaca. Tapi di dalam hatinya, ia berpikir cepat.

Jika ia membantah, Namgung Jin akan dihukum. Tapi jika ia mengaku, ia ikut terlibat dalam kebohongan.

Pilihannya sulit.

Tapi kemudian ia melihat mata putranya. Mata itu tenang. Penuh keyakinan.

Dan Namgung Cheon—untuk pertama kalinya—mempercayai instingnya.

"Benar."

Semua terkejut.

"Aku yang memerintahkannya."

Tetua Seok membelalak. *"Kau—!"

"Aku tidak akan biarkan Magyo mengancam klan kita tanpa tahu kekuatan mereka. Jadi kusuruh Jin-ah menyusup. Dan ia berhasil mendapatkan informasi berharga."

Ia berdiri, menatap Tetua Seok dengan dingin.

"Sekarang, Tetua Seok, kau masih punya tuduhan?"

Tetua Seok gemetar—bukan takut, tapi marah. Ia tahu ini bohong. Tapi tanpa bukti, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ini... ini belum selesai!"

Ia berbalik, meninggalkan aula dengan putranya.

---

Setelah sidang, Namgung Cheon memanggil putranya ke ruang kerjanya.

"Tutup pintu."

Namgung Jin menutup pintu. Ia berdiri di hadapan ayahnya.

"Kau tahu, kau menempatkanku dalam posisi sulit."

"Maaf, Ayah. Tapi itu satu-satunya cara."

Namgung Cheon menghela napas. "Apakah setidaknya itu benar? Apa kau benar-benar ke markas Magyo?"

"Ya."

"Sebagai mata-mata?"

Namgung Jin diam. Lalu ia berkata, "Aku pergi ke sana untuk kepentingan klan. Itu yang bisa kukatakan."

Namgung Cheon menatapnya lama.

"Kau menyimpan banyak rahasia, Jin-ah."

"Aku tahu."

"Tapi kali ini, aku percaya padamu." Ia berdiri, berjalan ke jendela. "Pergilah. Istirahat. Kita bicara lagi besok."

Namgung Jin membungkuk, lalu pergi.

---

Di paviliun reot, Nyonya Hwa Ryun menunggu dengan cemas.

"Kau selamat?"

"Untuk saat ini."

"Tapi Tetua Seok tidak akan berhenti."

"Aku tahu."

Ia duduk, merenung.

Tetua Seok adalah duri yang harus dicabut. Tapi mencabutnya terlalu cepat bisa menimbulkan kecurigaan.

"Aku butuh waktu."

Tapi waktu adalah barang mewah yang tidak ia miliki.

Di luar, langit mulai gelap. Badai lain akan segera datang.

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!