UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Malam Tahun 1995
“Bagus.”
Raka mulai berjalan menuju pintu keluar terminal.
Langkahnya santai, seolah ia sudah sangat terbiasa berjalan keluar masuk tempat itu di tengah malam.
Nara mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
Lantai semen terminal berubah menjadi trotoar yang lebih kasar ketika mereka keluar dari bangunan itu. Udara malam terasa lebih dingin di luar.
Di sisi jalan, beberapa pedagang kaki lima masih membuka lapak kecil mereka.
Lampu petromaks menggantung di atas gerobak.
Cahayanya kuning dan hangat.
Seorang pedagang sedang menggoreng sesuatu di wajan besar.
Cesss...
Minyak panas berdesis ketika adonan masuk.
Aroma gorengan langsung memenuhi udara.
Perut Nara sedikit berbunyi tanpa ia sadari.
Raka meliriknya sekilas.
“Kamu lapar?”
Nara cepat menggeleng.
“Tidak.”
Raka menyeringai kecil.
“Itu suara perut orang yang tidak lapar?”
Nara memalingkan wajah.
“Aku baik-baik saja.”
Raka tidak memaksanya.
Ia hanya berjalan melewati gerobak itu sambil mengangkat tangan ke arah pedagang.
“Masih buka, Pak?”
Pedagang itu mengangguk.
“Masih, mau pesan?”
Raka menunjuk Nara dengan dagunya.
“Temanku bilang dia tidak lapar.”
Pedagang itu tertawa kecil.
“Biasanya itu artinya lapar.”
Nara menatap mereka berdua dengan ekspresi tidak percaya.
“Aku benar-benar...”
Namun Raka sudah berjalan lagi.
“Tenang saja,” katanya santai. “Kalau kamu lapar nanti kita cari makan.”
Mereka berjalan menyusuri trotoar.
Lampu jalan berdiri berjajar di sepanjang jalan raya.
Cahayanya lebih redup dari lampu kota modern, tetapi cukup menerangi aspal yang sedikit retak.
Beberapa mobil tua lewat sesekali.
Mesinnya mengeluarkan suara berat yang khas.
Sebuah angkot kotak berwarna hijau berhenti di pinggir jalan.
Supirnya bersandar di jendela sambil merokok.
Radio dari dalam mobil memutar lagu lama.
Suara gitar elektrik dari lagu itu terdengar sedikit serak melalui speaker kecil.
Nara menatap semua itu.
Ia merasa seperti berjalan di dalam potongan sejarah yang hidup.
Raka berjalan di sampingnya sekarang.
“Kamu diam sekali.”
Nara menoleh sedikit.
“Hanya melihat.”
“Melihat apa?”
Nara menunjuk jalan di depan.
“Kota.”
Raka tertawa kecil.
“Kota tidak terlalu menarik malam-malam begini.”
“Bagi kamu mungkin.”
“Bagi kamu tidak?”
Nara menggeleng pelan.
“Tidak.”
Ia menatap papan toko yang mereka lewati.
Lampu neon tua.
Poster film lama ditempel di kaca bioskop kecil di sudut jalan.
Semuanya terasa seperti dunia yang hanya pernah ia lihat di foto atau film.
Raka memperhatikannya lagi.
“Kamu benar-benar terlihat seperti turis.”
Nara mengangkat alis.
“Apa?”
“Kamu melihat semuanya seperti baru pertama kali.”
Ia menunjuk toko kaset yang mereka lewati.
“Kamu tadi bahkan berhenti di depan toko itu.”
Nara menoleh ke arah toko yang dimaksud.
Di jendelanya tersusun kaset-kaset musik dalam kotak plastik transparan.
Poster penyanyi populer ditempel di kaca.
“Karena menarik,” kata Nara.
Raka tertawa pendek.
“Itu toko kaset.”
“Ya.”
“Itu ada di setiap jalan.”
“Tidak di tempatku.”
Raka berhenti berjalan.
Nara juga berhenti beberapa langkah kemudian.
Raka menatapnya dengan ekspresi penasaran.
“Tidak ada toko kaset di tempatmu?”
Nara baru sadar apa yang baru saja ia katakan.
Ia mengangkat bahu kecil.
“Maksudku… tidak banyak.”
Raka menyipitkan mata.
“Kamu ini dari mana sebenarnya?”
Nara cepat-cepat mulai berjalan lagi.
“Bandung.”
Raka mengikutinya.
“Bandung yang berbeda, mungkin.”
Nara tidak menjawab.
Mereka berjalan beberapa meter lagi dalam diam.
Kemudian Raka berkata santai,
“Kalau kamu benar-benar turis di kota sendiri…”
Ia menunjuk ke arah jalan kecil di depan mereka.
“…aku tahu tempat yang lebih menarik daripada terminal.”
Nara menoleh.
“Ke mana?”
Raka menyeringai sedikit.
“Tempat favoritku.”
Ia berbelok ke jalan yang lebih kecil.
Lampu jalannya lebih jarang.
Namun dari kejauhan terlihat cahaya lampu taman yang lembut.
Raka menoleh ke belakang.
“Kamu ikut?”
Nara mengangguk.
“…ya.”
Ia mengikuti Raka masuk ke jalan itu.
Tanpa ia sadari…
Setiap langkah yang ia ambil sekarang membawanya semakin dekat dengan masa lalu yang seharusnya tidak pernah ia lihat.
Jalan kecil yang dimasuki Raka lebih sepi dari jalan utama.
Aspalnya lebih sempit.
Lampu jalannya berdiri lebih jarang, menciptakan area gelap di antara lingkaran cahaya kuning yang redup.
Raka berjalan santai di depan.
Tangannya masuk ke saku jaket tipisnya.
Gitar masih tergantung di punggungnya, bergerak sedikit setiap kali ia melangkah.
Nara berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Matanya terus bergerak.
Ia melihat segala sesuatu dengan rasa penasaran yang tidak bisa ia sembunyikan.
Di sisi jalan ada telepon umum dengan kotak logam berwarna merah yang mulai memudar.
Kaca pelindungnya sedikit retak.
Kabel gagang teleponnya menggantung seperti spiral panjang.
Nara berhenti sebentar di depannya.
Ia menatapnya seperti seseorang yang melihat benda antik.
Raka menyadari ia berhenti.
Ia menoleh.
“Kamu mau telepon seseorang?”
Nara menggeleng cepat.
“Tidak.”
Raka menunjuk telepon itu.
“Kamu melihatnya seperti benda langka.”
Nara mengangkat bahu kecil.
“Aku jarang melihatnya.”
Raka mengerutkan alis.
“Kamu serius?”
“Ya.”
“Telepon umum ada di mana-mana.”
Nara tidak menjawab.
Karena di zamannya…
Telepon umum hampir tidak ada lagi.
Raka mengamati wajahnya beberapa detik.
Kemudian ia menggeleng kecil sambil tertawa.
“Kamu benar-benar aneh.”
Nara mulai berjalan lagi.
“Terima kasih.”
Raka menyeringai.
“Itu bukan pujian.”
Mereka berjalan melewati beberapa toko kecil yang sudah tutup.
Rolling door logam menutup sebagian besar toko.
Namun lampu dari dalam beberapa bangunan masih menyala.
Sebuah toko kaset musik masih buka.
Lampu neon putihnya terang.
Di jendelanya terpajang poster penyanyi terkenal.
Kaset-kaset tersusun rapi dalam rak.
Nara berhenti lagi.
Ia menatap poster di jendela itu.
Poster besar dengan warna yang sedikit pudar.
Ia mengenal penyanyinya.
Namun penyanyi itu terlihat jauh lebih muda di poster ini.
Karena ini memang masa mudanya.
“Kalau kamu terus berhenti di setiap toko,” kata Raka dari belakang, “kita tidak akan sampai sebelum pagi.”
Nara menoleh.
“Aku hanya melihat.”
Raka mendekat beberapa langkah.
Ia melihat poster yang sedang diperhatikan Nara.
“Kamu suka musik?”
“Kadang.”
“Penyanyi ini bagus.”
Raka menunjuk poster itu.
“Lagu-lagunya sering diputar di radio.”
Nara mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
Raka menoleh cepat.
“Kamu tahu?”
Nara baru sadar lagi.
Ia menjawab terlalu cepat.
“…maksudku aku pernah dengar.”
Raka menatapnya dengan alis sedikit terangkat.
“Dari mana?”
Nara menunjuk toko kaset itu.
“Dari tempat seperti ini.”
Raka menatapnya beberapa detik.
Seperti mencoba memutuskan apakah jawaban itu masuk akal.
Namun akhirnya ia hanya mengangkat bahu.
“Kalau begitu kamu punya selera musik yang lumayan.”
Mereka berjalan lagi.
Beberapa meter kemudian…
Nara berhenti sekali lagi.
Kali ini bukan karena toko.
Di sisi jalan ada sebuah billboard besar.
Lampu sorot kecil menerangi papan iklan itu.
Iklan minuman ringan.
Desainnya sangat khas tahun 90-an.
Namun yang membuat Nara berhenti bukan iklannya.
Melainkan lokasinya.
Ia menatap papan itu cukup lama.
Raka memperhatikan.
“Apa?”
Nara menunjuk papan itu.
“Billboard itu…”
Raka mengikuti arah jarinya.
“Kenapa?”
Nara menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa.”
Namun pikirannya berputar.
Karena ia tahu tempat itu.
Di masa kini…
Billboard itu sudah tidak ada.
Sudah diganti gedung besar bertahun-tahun lalu.
Namun sekarang…
Ia berdiri di sini.
Utuh.
Seperti potongan masa lalu yang hidup kembali.
Raka menyilangkan tangannya.
“Kamu melihat papan iklan seperti melihat hantu.”
Nara tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Raka mengangkat alis.
“Kenapa?”
Nara menatap jalan di depan mereka.
Lampu taman terlihat di kejauhan sekarang.
Cahayanya lembut di antara pepohonan.
Ia berkata pelan,
“Karena aku merasa pernah melihat tempat ini…”
Raka menunggu.
“…tapi bukan seperti ini.”
Raka menyeringai.
“Bandung memang sering berubah.”
Ia mulai berjalan lagi.
“Aku yakin sepuluh tahun lagi tempat ini akan berbeda lagi.”
Nara menatapnya.
Kalimat itu membuat dadanya terasa aneh.
Karena ia tahu sesuatu yang Raka tidak tahu.
Sepuluh tahun lagi…
Dua puluh tahun lagi…
Tiga puluh tahun lagi…
Tempat ini memang akan berubah.
Banyak hal akan berubah.
Namun Nara tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya mengikuti Raka berjalan menuju cahaya taman di depan mereka.
Lampu taman di depan mereka semakin jelas sekarang.
Cahaya kuning lembut jatuh di atas jalur pejalan kaki yang diapit oleh pohon-pohon tua. Daun-daunnya bergerak pelan tertiup angin malam.
Raka berjalan di depan, lalu melambat sedikit agar sejajar dengan Nara.
“Kamu masih melihat-lihat kota seperti detektif,” katanya.
Nara menoleh.
“Aku hanya memperhatikan.”
Raka tersenyum kecil.
“Kamu memperhatikan terlalu banyak hal kecil.”
“Seperti apa?”
“Seperti papan iklan tadi.”
Ia menunjuk ke arah jalan yang baru mereka lewati.
“Orang biasanya tidak berhenti hanya untuk melihat iklan minuman.”
Nara mengangkat bahu.
“Mungkin aku mudah tertarik.”
Raka tertawa pelan.
“Atau mungkin kamu belum pernah melihat dunia sebelumnya.”
Nara meliriknya.
“Itu terdengar seperti penghinaan.”
“Tidak juga.”
Raka menyeringai.
“Itu terdengar seperti pengamatan.”
Mereka berjalan beberapa langkah lagi.
Di depan taman ada gerobak kecil penjual minuman.
Lampu kecil menggantung di atasnya.
Seorang bapak tua sedang menuang teh panas ke dalam gelas kaca.
Raka berhenti.
“Pak, dua teh panas.”
Nara menoleh cepat.
“Aku tidak...”
Raka mengangkat tangan.
“Tenang, Aku traktir.”
Penjual itu mengangguk dan mulai menuang teh.
Uap tipis naik dari gelas kaca.
Raka mengambil dua gelas dan memberikan satu kepada Nara.
“Pegang.”
Nara menerima gelas itu.
Panasnya langsung terasa di telapak tangannya.
“Terima kasih.”
Raka mengangkat gelasnya sedikit.
“Untuk malam yang aneh.”
Nara hampir tersenyum.
Mereka berjalan masuk ke taman sambil memegang gelas teh.
Taman itu kecil, tapi cukup tenang.
Beberapa bangku kayu berdiri di sepanjang jalur pejalan kaki.
Ada pasangan muda duduk di salah satu bangku.
Seorang pria tua sedang membaca koran di bawah lampu taman.
Raka menuju bangku kosong di bawah pohon besar.
Ia duduk santai.
Gitar masih di punggungnya.
Nara duduk di sebelahnya.
Beberapa detik mereka hanya duduk diam sambil minum teh.
Suara malam terasa tenang di taman itu.
Jangkrik.
Angin.
Daun pohon yang bergesekan pelan.
Raka akhirnya berkata,
“Jadi kamu benar-benar tidak punya rencana malam ini?”
Nara menggeleng.
“Tidak.”
“Kamu tidak menginap di hotel?”
“Tidak.”
“Rumah teman?”
“Tidak.”
Raka mengangkat alis.
“Berarti kamu benar-benar tersesat.”
Nara menatap uap teh di gelasnya.
“Kurang lebih.”
Raka bersandar di bangku.
“Lucu.”
“Kenapa?”
“Karena biasanya orang yang tersesat terlihat panik.”
Ia menunjuk Nara.
“Kamu lebih terlihat… bingung.”
Nara tertawa kecil.
“Itu tidak lebih baik.”
“Tidak juga lebih buruk.”
Raka memutar gelas teh di tangannya.
“Kamu tahu sesuatu?”
“Apa?”
“Aku juga tidak terlalu tahu harus ke mana.”
Nara menoleh.
“Maksudnya?”
Raka menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari.
“Aku.”
“Kenapa?”
Raka mengangkat bahu.
“Aku tidak punya rencana besar.”
Ia menunjuk gitarnya.
“Aku main musik di mana saja.”
“Kadang di taman.”
“Kadang di kafe kecil.”
“Kadang di acara orang.”
“Kadang di terminal.”
Nara menatapnya.
“Kamu tidak punya pekerjaan tetap?”
“Punya.”
“Apa?”
“Bertahan hidup.”
Nara tertawa kecil.
Raka ikut tertawa.
“Serius.”
Ia meneguk teh lagi.
“Kadang aku bantu teman di warung.”
“Kadang bantu orang angkat barang.”
“Kadang main musik dapat uang.”
Ia mengangkat bahu lagi.
“Cukup untuk makan.”
Nara memperhatikannya.
Cara Raka bicara tentang hidupnya terdengar ringan.
Tidak ada beban dalam suaranya.
Tidak ada kepahitan.
Seolah hidup sederhana itu bukan masalah baginya.
Ia berkata pelan,
“Kamu tidak khawatir tentang masa depan?”
Raka memandang ke arah langit taman.
Lampu kota membuat bintang-bintang terlihat samar.
“Kadang.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi terlalu sering memikirkan masa depan bisa membuat sekarang terasa membosankan.”
Nara menatapnya lalu berkata pelan,
“Kamu terdengar seperti orang yang sangat bebas.”
Raka tersenyum tipis.
“Tidak juga.”
Ia menatap tangannya sendiri.
“Semua orang punya hal yang mengikat mereka.”
Nara mengerutkan alis.
“Seperti apa?”
Raka menatapnya lagi.
“Seperti keluarga.”
Nara menahan napas sedikit.
Raka melanjutkan dengan santai,
“Ayahku selalu bilang aku harus punya pekerjaan serius.”
Ia tertawa kecil.
“Menurutnya gitar bukan pekerjaan.”
Nara menatapnya lebih lama sekarang.
“Ayahmu tinggal di Bandung juga?”
Raka mengangguk.
“Ya.”
“Dekat sini?”
“Tidak terlalu jauh.”
Ia memutar gelas teh kosong di tangannya.
“Kadang aku pulang.”
“Kadang tidak.”
Nara menunduk sedikit.
Ada perasaan aneh muncul di dadanya.
Ia berkata pelan,
“Kamu tidak terlalu dekat dengan ayahmu?”
Raka mengangkat bahu.
“Kami berbeda.”
Ia menyeringai kecil.
“Dia ingin aku jadi orang yang serius.”
Ia mengetuk gitar di punggungnya.
“Aku malah bawa ini ke mana-mana.”
Nara menatap gitar itu.
Lalu menatap wajah Raka lagi.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Bukan hanya karena ia berada di masa lalu.
Tapi karena semakin lama ia melihat pria ini…
semakin ada rasa familiar yang tidak bisa ia jelaskan.
Raka memperhatikan wajahnya.
“Kamu terlihat seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.”
Nara tersadar.
Ia cepat-cepat menggeleng.
“Tidak.”
Raka tersenyum.
“Kalau kamu terus terlihat seperti itu…”
Ia menunjuk wajah Nara.
“…orang akan mengira kamu sedang melihat hantu.”
Nara menatapnya beberapa detik.
Kemudian berkata pelan,
“Mungkin saja.”
Raka tertawa kecil.
“Kalau begitu aku harap hantunya ramah.”
Raka masih tersenyum setelah mengatakan itu.
Angin malam bergerak pelan melewati taman, membuat daun-daun pohon berdesir lembut di atas kepala mereka.
Lampu taman menciptakan bayangan panjang di tanah.
Nara masih memegang gelas teh yang hampir kosong.
Uapnya sudah tidak terlihat lagi.
Raka menyandarkan punggungnya lebih santai di bangku.
Ia menatap jalur taman yang sepi.
Kemudian berkata tiba-tiba,
“Menurutmu… hidup seseorang sepuluh tahun dari sekarang akan seperti apa?”
Pertanyaan itu datang begitu saja.
Tidak ada konteks.
Tidak ada penjelasan.
Namun kalimat itu membuat tubuh Nara menegang sedikit.
Raka menoleh ke arahnya.
“Apa?”
Nara menggeleng cepat.
“Tidak… tidak apa-apa.”
Raka mengangkat alis.
“Aku cuma bertanya.”
Ia menunjuk ke arah langit.
“Sepuluh tahun.”
“Dua ribu lima.”
Ia menyeringai kecil.
“Menurutmu dunia akan seperti apa?”
Nara menatap tangannya.
Sepuluh tahun dari 1995…
Tahun 2005.
Ia tahu terlalu banyak tentang itu.
Tentang teknologi.
Tentang kota.
Tentang dunia.
Namun ia tidak bisa mengatakan semuanya.
Ia berkata hati-hati,
“Mungkin… tidak terlalu berbeda.”
Raka memiringkan kepalanya.
“Serius?”
“Ya.”
“Tidak ada mobil terbang?”
Nara tertawa kecil.
“Belum.”
“Belum?”
Raka menyipitkan mata.
“Jadi kamu yakin akan ada?”
Nara baru sadar.
Ia terlalu cepat menjawab.
Ia cepat mengoreksi,
“Maksudku… mungkin.”
Raka tersenyum tipis.
“Kamu bicara seperti seseorang yang sudah melihatnya.”
Nara memalingkan wajah sedikit.
“Tidak.”
Raka memetik senar gitar pelan.
Ting.
Ia berkata santai,
“Aku kadang berpikir sepuluh tahun itu waktu yang lama.”
“Kenapa?”
“Karena dalam sepuluh tahun…”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“…orang bisa berubah banyak.”
Ia menatap lampu taman.
“Mungkin aku sudah tidak main gitar lagi.”
Nara menatapnya.
“Kamu tidak akan berhenti.”
Raka menoleh cepat.
“Kamu yakin?”
“Kamu terlihat seperti orang yang tidak mudah berhenti melakukan sesuatu yang kamu suka.”
Raka memperhatikannya beberapa detik.
Kemudian tertawa kecil.
“Itu terdengar seperti ramalan.”
“Bukan.”
“Hampir.”
Raka menyandarkan gitar lagi.
“Kalau begitu aku tanya lagi.”
Nara menatapnya.
“Apa?”
Raka menatap lurus ke depan.
“Menurutmu… aku akan jadi apa sepuluh tahun lagi?”
“Aku tidak tahu.”
Raka menoleh sedikit.
“Bohong.”
Nara berkedip.
“Apa?”
Raka tersenyum kecil.
“Kamu terlihat seperti seseorang yang selalu punya jawaban.”
Nara menatap tanah.
Ia berkata pelan,
“Kadang tidak semua jawaban boleh dikatakan.”
Raka mengangkat alis.
“Itu terdengar misterius.”
Nara mengangkat bahu.
“Mungkin.”
Beberapa detik mereka hanya duduk diam.
Angin malam terasa sedikit lebih dingin sekarang.
Raka akhirnya berkata santai,
“Baiklah.”
Ia berdiri dari bangku.
Gitar di punggungnya bergeser sedikit.
“Kalau masa depan terlalu rumit…”
Ia menunjuk jalur taman.
“…lebih baik kita pikirkan malam ini saja.”
Nara menatapnya.
Raka menyeringai.
“Lagipula kamu masih belum punya tempat tidur malam ini.”
Nara berdiri perlahan juga.
“Itu benar.”
Raka mulai berjalan di jalur taman.
Nara mengikutinya.
Langkah mereka bergema pelan di jalur batu taman.
Namun di dalam kepala Nara…
pikiran lain mulai muncul.
Pertanyaan yang jauh lebih menakutkan dari masa depan.
Bagaimana jika ia terlalu dekat dengan pria ini?
Bagaimana jika setiap langkah yang ia ambil di masa lalu…
justru mengubah masa depan yang ia kenal?
Lampu taman semakin jarang sekarang. Cahaya kuningnya hanya menerangi sebagian jalur, sementara bagian lain tenggelam dalam bayangan pepohonan.
Angin malam bergerak pelan.
Daun-daun kering di tanah bergeser sedikit ketika mereka melangkah.
Raka berhenti di depan bangku kayu lain yang berada di bawah pohon besar.
Bangku itu menghadap ke jalan kecil di luar taman.
Ia duduk santai, lalu menepuk bagian bangku di sebelahnya.
“Duduk dulu.”
Nara duduk.
Beberapa detik mereka hanya mendengar suara malam.
Di kejauhan ada suara kendaraan lewat.
Lampu mobil sesekali menyapu jalan di depan taman sebelum menghilang lagi.
Raka membuka sarung gitar sedikit.
Ia memetik satu senar pelan.
Ting.
Suara itu terdengar lebih lembut di taman yang sepi.
Raka berkata sambil melihat jalan di depan,
“Kamu tahu sesuatu?”
Nara menoleh.
“Apa?”
“Aku biasanya tidak membawa orang asing ke sini.”
Nara mengangkat alis.
“Biasanya?”
“Biasanya aku datang sendiri.”
Ia memetik senar lagi.
Ting.
“Atau dengan teman.”
Nara berkata pelan,
“Kenapa kamu membawaku ke sini?”
Raka memikirkan pertanyaan itu sebentar.
Kemudian mengangkat bahu kecil.
“Kamu memang terlihat seperti orang yang tidak punya tempat.”
Nara hampir tertawa.
“Itu alasan yang sederhana.”
“Biasanya alasan sederhana yang paling jujur.”
Raka menatapnya sebentar.
“Kamu juga tidak terlihat berbahaya.”
Nara menyilangkan tangan.
“Itu penilaian yang berani.”
Raka menyeringai.
“Kalau kamu berbahaya… kamu sudah melakukannya tadi di terminal.”
Nara menggeleng kecil.
“Kamu terlalu percaya orang.”
“Tidak.”
Raka memutar gitar di tangannya.
“Aku hanya percaya insting.”
Ia menunjuk ke arah Nara dengan ujung gitar.
“Dan instingku bilang kamu tidak jahat.”
Nara menatap wajahnya.
Lampu taman menciptakan bayangan lembut di sisi wajah Raka.
Untuk beberapa alasan yang tidak bisa ia jelaskan…
semakin lama ia melihat pria ini, semakin ada sesuatu yang terasa akrab.
Seperti wajah yang pernah ia lihat berkali-kali.
Namun dalam keadaan berbeda.
Dalam waktu berbeda.
Ia berkata tanpa sadar,
“Aku merasa seperti pernah bertemu kamu sebelumnya.”
Raka tertawa kecil.
“Itu kalimat yang biasanya dipakai orang yang mencoba menggoda.”
Nara cepat menggeleng.
“Bukan seperti itu.”
Raka masih tersenyum.
“Kalau begitu bagaimana?”
Nara terdiam.
Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Ia hanya berkata pelan,
“Perasaan saja.”
Raka memiringkan kepala sedikit.
“Perasaan aneh?”
“Ya.”
Raka menyandarkan gitar lagi di pangkuannya.
“Kamu yakin kita belum pernah bertemu?”
Nara membuka mulutnya.
Jawaban yang sebenarnya hampir keluar.
Belum.
Karena aku bahkan belum lahir di waktu ini.
Namun ia menahan kata-kata itu.
“…mungkin tidak,” katanya akhirnya.
Raka mengangguk kecil.
“Bandung tidak terlalu besar.”
Ia menunjuk ke arah jalan.
“Mungkin kita pernah lewat di tempat yang sama.”
Nara menatapnya lagi.
Ia memperhatikan garis wajah Raka.
Cara ia tersenyum.
Cara ia menggerakkan tangan ketika berbicara.
Semua terasa…
terlalu familiar.
Seolah ia pernah melihat kebiasaan itu sejak kecil.
Namun pikirannya menolak kemungkinan itu.
Karena itu tidak masuk akal.
Raka berdiri dari bangku.
Ia meregangkan punggungnya sedikit.
“Baiklah.”
Ia menoleh ke arah Nara.
“Sekarang kita harus memikirkan tempat kamu tidur.”
Nara ikut berdiri.
“Kamu benar-benar punya tempat?”
Raka menyeringai.
“Tidak terlalu bagus.”
“Tapi lebih baik dari bangku taman.”
Nara menatapnya ragu.
“Kamu yakin?”
“Kalau kamu tidak ikut…”
Ia menunjuk bangku taman.
“…itu pilihanmu yang lain.”
Nara melihat bangku kayu itu.
Udara malam mulai semakin dingin.
Ia kembali menatap Raka.
“…baik.”
Raka mengangguk puas.
“Bagus.”
Ia mulai berjalan keluar dari taman.
Nara mengikutinya lagi.
Lampu taman perlahan tertinggal di belakang mereka.
Namun langkah Nara terasa sedikit lebih berat sekarang.
Karena satu pikiran terus muncul di kepalanya.
Semakin lama ia bersama pria ini…
semakin ia merasa seperti sedang berjalan bersama seseorang yang seharusnya sangat ia kenal.
Namun ia belum tahu kenapa.