Sebuah rumah kontrakan tua di pinggiran kota terlihat seperti rumah biasa.
Catnya kusam, halamannya sepi, dan harganya sangat murah. Terlalu murah untuk ukuran rumah sebesar itu.
Karena kebutuhan dan kondisi keuangan, tiga sahabat Raka, Bima, dan Siska memutuskan untuk menempatinya tanpa banyak bertanya.
Namun sejak malam pertama, mereka mulai menyadari bahwa rumah itu menyimpan sesuatu yang tidak biasa.
Pintu sering terbuka sendiri.
Kursi goyang bergerak tanpa ada yang menyentuh. Terdengar suara langkah dari loteng setiap tengah malam.
Dan yang paling mengejutkan… rumah itu ternyata sudah lama dihuni oleh makhluk tak kasat mata.
Pocong yang suka memasak mie di dapur. Kuntilanak yang gemar menonton sinetron.
Hingga sosok misterius dari kamar belakang yang jarang muncul, namun selalu membuat bulu kuduk berdiri.
Di rumah itu, manusia dan hantu hidup berdampingan… meski tidak selalu damai.
Karena satu per satu rahasia rumah tersebut mulai terungkap.
ini bukan rumah biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Mulai Diserbu
Rumah yang Mulai Diserbu
Lubang besar di pintu depan membuat angin malam masuk dengan keras.
WHUUUUSSS…
Bersamaan dengan itu, puluhan tangan hitam yang panjang dan kurus mulai merayap masuk melalui lubang tersebut.
Seperti akar pohon yang hidup.
Siska langsung mundur sambil menjerit.
“RAK! TANGANNYA BANYAK BANGET!”
Bima yang berdiri di belakang sofa sudah hampir menangis.
“Ini bukan rumah… ini level terakhir game horor!”
Tangan-tangan itu terus merangkak masuk.
Menyentuh lantai.
Menggaruk dinding.
Beberapa bahkan mencoba meraih kaki Raka.
Pocong langsung melompat.
“JANGAN MASUK!”
Ia menendang beberapa tangan itu.
PLAK!
PLAK!
Kuntilanak juga tidak tinggal diam.
Rambut panjangnya melilit beberapa tangan hitam lalu menariknya keluar dari pintu.
Namun jumlahnya terlalu banyak.
Dari luar terdengar suara-suara yang semakin ramai.
“Gerbangnya terbuka…”
“Kami bisa masuk…”
“Kami bebas…”
Raka menggenggam tongkat penjaga dengan kuat.
Namun sosok hitam yang berada di dekat pintu tertawa pelan.
“Lihat?”
“Kamu tidak akan mampu menahan mereka semua.”
Bima menunjuk ke arah pintu dengan panik.
“RAK! ADA KEPALA MASUK!”
Benar saja.
Dari lubang pintu itu mulai muncul kepala-kepala bayangan hitam.
Wajahnya kosong.
Matanya gelap.
Siska hampir pingsan.
“Ini mimpi buruk…”
Ucup malah mengambil sapu dari sudut ruangan.
“Antre! Antre! Jangan dorong!”
Ia memukul tangan-tangan yang mencoba masuk.
Pocong menatap Raka.
“Kalau mereka berhasil masuk semua… rumah ini akan dikuasai.”
Kakek berdiri di samping Raka.
Wajahnya terlihat sangat serius.
“Raka…”
Raka menoleh cepat.
“Iya, Kek?”
“Kamu harus menggunakan tongkat itu dengan benar.”
“Apa maksudnya?”
Kakek menunjuk pintu.
“Tongkat itu bukan hanya untuk menutup gerbang.”
“Lalu?”
“Itu juga bisa… mengusir mereka.”
Bima langsung berkata,
“Rak! Itu berarti kamu punya jurus area!”
Raka menelan ludah.
“Masalahnya… saya nggak tahu cara pakainya!”
Tiba-tiba sebuah tangan hitam berhasil meraih kaki Bima.
“WOY!”
Bima langsung terseret sedikit.
“RAK! SAVE ME!”
Pocong langsung menarik Bima kembali.
“Pegang sesuatu!”
Bima memeluk tiang rumah seperti orang memeluk pohon saat banjir.
“Gue nggak mau ditarik ke dunia lain!”
Di depan pintu, sosok hitam masih berdiri santai.
Ia melihat semua kekacauan itu dengan puas.
“Semakin banyak yang masuk… semakin lemah rumah ini.
Ia menatap Raka.
“Kamu terlambat menghentikannya.”
Tiba-tiba lantai rumah kembali bergetar.
DUK…
DUK…
DUK…
Ucup langsung melihat ke bawah.
“Eh… yang bawah juga bangun lagi.”
Bima hampir pingsan lagi.
“SERANGAN DARI ATAS DAN BAWAH?!”
Retakan kecil mulai muncul lagi di lantai.
Siska memegang kepala.
“Rumah ini mau hancur…”
Kakek tiba-tiba berkata dengan suara tegas.
“RAKA!”
Raka menatapnya.
“Sekarang!”
“Sekarang apa?!”
“Pukul lantainya… tapi bayangkan semua keluar dari rumah!”
Raka menarik napas dalam-dalam.
Ia menatap pintu yang dipenuhi tangan hitam.
Ia menatap lantai yang mulai retak.
Ia menatap teman-temannya yang panik.
Lalu ia mengangkat tongkat penjaga tinggi-tinggi.
“BAIK!”
Bima berteriak dari belakang tiang.
“RAK! JANGAN MISS!”
Raka memukul lantai sekuat tenaga.
DUK!
Sekali lagi…
tongkat itu bersinar.
Namun kali ini cahaya birunya jauh lebih terang.
Cahaya itu menyebar ke seluruh rumah seperti gelombang energi.
Dan tiba-tiba…
BOOOM!
Gelombang cahaya itu menghantam pintu depan.
Semua tangan hitam yang masuk langsung terpental keluar.
“AARGH!”
Jeritan terdengar dari luar.
Lubang di pintu tiba-tiba tertutup oleh cahaya biru.
Retakan di lantai juga menutup kembali.
Dalam beberapa detik…
rumah kembali sunyi.
Tidak ada lagi tangan.
Tidak ada lagi suara dari luar.
Hanya napas terengah-engah semua orang di ruang tamu.
Bima perlahan berdiri.
“Rak…”
“Iya?”
“Kamu barusan… nge-ulti.”
Ucup tertawa senang.
“Wah manusia ini makin jago.”
Namun tiba-tiba…
sosok hitam di dekat pintu kembali berbicara.
Suara tawanya pelan… tapi menyeramkan.
“Heh…”
Semua langsung menoleh.
Ia masih berdiri di sana.
Tidak terpental.
Tidak terluka.
Ia menatap Raka dengan mata gelap.
“Bagus…”
Ia berjalan perlahan mendekat.
“Sekarang aku yakin…”
Ia menunjuk tongkat itu.
“Kekuatan penjaga benar-benar sudah berpindah kepadamu.”
Raka menegang.
“Lalu?”
Sosok itu tersenyum lebar.
“Berarti… aku hanya perlu menghancurkanmu.”
Tiba-tiba seluruh rumah bergetar sangat keras.
DUUUK!
DUUUK!
DUUUK!
Semua hampir jatuh.
Siska menjerit.
“Ada apa lagi?!”
Ucup menatap ke arah loteng.
Wajahnya tiba-tiba pucat.
“Kek…”
Kakek menoleh.
“Apa?”
Ucup berkata pelan.
“Sepertinya…”
Ia menunjuk ke atas.
“…penghuni loteng bukan cuma aku.”
Langit-langit rumah tiba-tiba retak.
KRAAAK…
Dan sesuatu besar mulai merayap turun dari loteng.
Jika rasa penasaran kalian sudah tak tertahan, pastikan kalian terus mengikuti perjalanan ini… dan jangan lupa mampir untuk membaca, karena setiap halaman menyimpan rahasia yang tak akan kalian lihat sebelumnya. 🙏
Tulis di komentar ya 👇 Jangan lupa like dan vote supaya cerita ini terus lanjut ke session 2 ya...👍