Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan di Kantor Nina
Pagi itu, Raka melakukan sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.
Ia bangun sebelum jam sepuluh.
Bahkan alarmnya belum sempat berbunyi.
Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan ekspresi serius seperti seseorang yang sedang memikirkan masa depan negara.
Padahal yang ia pikirkan hanya satu.
Nina.
Raka menggaruk kepalanya.
“Kenapa aku memikirkan dia?” gumamnya.
Ia mencoba kembali tidur.
Lima menit kemudian, ia membuka mata lagi.
“Ya mungkin besok saja aku berhenti memikirkan dia,” katanya pada diri sendiri.
Tapi hari ini terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya, Raka merasa ingin melakukan sesuatu… sekarang, bukan besok.
Setelah mandi (yang merupakan pencapaian besar bagi Raka di pagi hari), ia duduk di meja kecil apartemennya.
Di tangannya ada ponsel.
Ia membuka chat Nina.
Terakhir kali mereka berbicara adalah kemarin.
Nina:
“Terima kasih sudah mencoba membantu.”
Raka membaca pesan itu berkali-kali.
Ia mulai mengetik.
"Semoga presentasimu sukses hari ini."
Ia berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
"Kalau gagal jangan sedih."
Hapus lagi.
Akhirnya ia mengirim pesan paling aman menurutnya.
Raka:
“Ya mungkin hari ini sukses.”
Ia menatap layar ponsel.
Tidak ada balasan.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Raka menyandarkan badan ke kursi.
“Ya mungkin dia sibuk.”
Sementara itu, di sebuah gedung kantor modern di pusat kota, Nina sedang berlari di lorong sambil membawa laptop dan beberapa dokumen.
“Presentasi mulai lima menit lagi!” teriak rekannya.
“Aku tahu!” jawab Nina.
Ia masuk ke ruang meeting besar.
Beberapa investor sudah duduk.
Bosnya memberi isyarat agar ia segera mulai.
Nina menarik napas panjang.
Laptop dibuka.
Proyektor menyala.
Slide pertama muncul di layar.
Presentasi berjalan dengan sangat baik.
Nina berbicara dengan percaya diri.
Investor mengangguk-angguk.
Bosnya terlihat puas.
Semua berjalan sempurna…
Sampai pintu ruang meeting tiba-tiba terbuka.
Semua orang menoleh.
Dan di sana berdiri…
Raka.
Dengan kaos santai.
Celana jeans.
Dan ekspresi bingung.
“Eh… ini kantor Nina ya?”
Ruangan langsung hening.
Nina membeku di tempat.
Bosnya menatap Raka dengan wajah seperti baru saja melihat meteor jatuh.
Investor berbisik satu sama lain.
Nina menutup mata sebentar.
“Raka…?” katanya pelan.
Raka tersenyum lebar.
“Ya mungkin ini tempat yang benar.”
Bos Nina berdiri.
“Siapa orang ini?”
Raka mengangkat tangan seperti murid di kelas.
“Halo semua, saya Raka.”
Tidak ada yang menjawab.
Ia melanjutkan dengan santai.
“Saya cuma mau memastikan Nina tidak lupa makan.”
Ruangan kembali hening.
Nina ingin menghilang dari bumi.
Bosnya menatapnya.
“Nina… kamu mengenal pria ini?”
Nina menarik napas panjang.
“Iya.”
“Siapa dia?”
Nina berpikir.
Lama.
Sangat lama.
Akhirnya ia berkata,
“Masalah.”
Raka akhirnya diseret keluar dari ruang meeting oleh Nina.
Mereka berdiri di lorong kantor.
Nina menatapnya tajam.
“Kamu ngapain di sini?!”
Raka terlihat tulus.
“Aku cuma mau memastikan presentasimu sukses.”
“Kamu masuk ke ruang meeting investor!”
“Oh… itu investor?”
Nina menutup wajahnya dengan tangan.
“Raka…”
“Iya?”
“Kamu hampir membuat aku kehilangan proyek miliaran rupiah.”
Raka mengangguk pelan.
“Ya mungkin besok aku tidak melakukan itu lagi.”
Nina menatapnya.
Beberapa detik.
Lalu tiba-tiba…
Ia tertawa.
Tertawa keras.
Karyawan yang lewat menatap heran.
Raka ikut tersenyum.
“Aku bilang sesuatu yang lucu?”
Nina menggeleng.
“Kamu benar-benar bencana berjalan.”
Raka mengangguk bangga.
“Terima kasih.”
Beberapa menit kemudian, Nina kembali ke ruang meeting.
Ajaibnya…
Presentasi tetap berjalan baik.
Bahkan salah satu investor berkata,
“Teman Anda tadi cukup… unik.”
Nina hanya tersenyum kaku.
Sore hari, Nina keluar dari gedung kantor.
Raka duduk di bangku depan gedung.
Menunggu.
Ketika melihat Nina keluar, ia berdiri.
“Gimana presentasinya?”
Nina menatapnya.
“Hampir hancur.”
“Oh.”
“Tapi berhasil.”
Raka tersenyum lebar.
“Lihat kan? Aku membawa keberuntungan.”
Nina menggeleng sambil tersenyum.
“Tidak. Kamu membawa kekacauan.”
Mereka berjalan bersama menuju trotoar.
Langit mulai berubah jingga.
Hari hampir malam.
Nina berhenti berjalan.
“Raka.”
“Iya?”
“Kenapa kamu benar-benar datang ke kantor tadi?”
Raka mengangkat bahu.
“Tidak tahu.”
Ia berpikir sebentar.
Lalu berkata dengan jujur,
“Mungkin… aku cuma ingin melihat kamu berhasil.”
Nina terdiam.
Angin sore berhembus pelan.
Untuk pertama kalinya…
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Raka menatap langit.
Lalu berkata santai,
“Ya mungkin besok aku tidak mengganggu kamu lagi.”
Nina tersenyum kecil.
Lalu berkata,
“Tidak apa.”
Raka menoleh.
“Benarkah?”
Nina berjalan lagi.
“Besok kamu boleh mengganggu.”
Raka berdiri beberapa detik, mencoba memproses kalimat itu.
Lalu tersenyum sendiri.
Dan berkata pelan,
“Ya… mungkin besok.”