NovelToon NovelToon
Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Romansa / Tamat
Popularitas:19.4M
Nilai: 5
Nama Author: Sephinasera

SEGERA TERBIT CETAK

"Renjana Senja Kala" adalah spin off dari "Beautifully Painful".

***

Tama dan Kinan memiki karier cemerlang, rising star di bidang masing-masing. Namun karakter juga sikap kaku Tama, luka batin masa kecil Kinan, serta kehadiran Pramudya, dokter spesialis jantung kharismatik menghancurkan segalanya. Tama dan Kinan sepakat untuk berpisah. Meninggalkan Reka, putra semata wayang mereka yang tumbuh dalam kebencian terhadap sosok seorang ayah.

Tapi terkadang, perpisahan justru jalan keluar terbaik. Ibarat mundur selangkah untuk melesat jauh ke depan.

Kinan mulai menyembuhkan luka bersama Pramudya. Tama berhasil menemukan cinta yang selama ini dicari dalam diri Pocut, wanita sederhana nyaris tanpa ambisi. Dan Reka mulai memahami bahwa semenyakitkan apapun kehidupan yang harus dijalani, selalu ada kebaikan serta harapan di sana.

Hasrat cinta yang kuat di akhir masa penantian.
Renjana Senja Kala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sephinasera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. What You See, What I Feel

What You See, What I Feel

(Yang kau lihat, yang kurasakan)

***

Surabaya

Kinanti

Sepuluh hari telah berlalu. Sejak ia pulang ke rumah, dan mengambil barang-barang miliknya.

Ia bahkan sengaja menandai setiap harinya. Dengan cara mencoret kalender duduk, yang tersimpan di atas meja praktek. Semata-mata agar ia tak melewati batas waktu. Dalam menyelesaikan masalah di antara dirinya dan Mas Tama.

Dan selama rentang waktu itu pula, Mas Tama tak pernah berusaha untuk menghubungi atau menemuinya.

Ia pernah mencoba menelepon Mas Tama. Karena ingin semua menjadi terang benderang. Namun tak sempat terhubung. Sepertinya karena ponsel pribadi Mas Tama benar-benar dimatikan, selama menangani kasus kematian sang konglomerat.

Sementara untuk menghubungi nomor dinas milik Mas Tama, ia tak memiliki nyali yang cukup.

Padahal dua hari lagi, Reka berulang tahun. Namun jarak yang terlanjur membentang di antara mereka, benar-benar telah menggerus seluruh keberaniannya hingga tak bersisa.

Terlebih sejak ia mendapati cincin kawin Mas Tama, yang tersimpan di atas nakas. Seolah menjadi pertanda, jika Mas Tama telah melepaskannya. Tak ada lagi yang tertinggal di antara mereka berdua. Sudah cukup sampai di sini.

Tapi, apakah ia merasa lega?

Tidak.

Dadanya justru terasa kian sesak. Dihimpit oleh perasaan bersalah yang menggunung.

Mengapa harus merasa bersalah?

Entahlah. Ia sendiri tak tahu.

Yang jelas, Mas Tama bukan tipikal suami bertabiat buruk yang wajib dihempaskan. Terhitung sejak mereka menikah, Mas Tama tak pernah memakinya. Tak pernah berkata kasar padanya ataupun Reka.

Mas Tama juga bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan mereka berdua, dirinya dan Reka.

Mas Tama bahkan masih rutin mentransfer sejumlah rupiah tertentu untuk ibunya, juga Miko.

Tapi kehidupan pernikahan bukan melulu soal tanggung jawab dan limpahan materi berlebih. Ada hati dan perasaan yang juga berperan di sana. Tentang cinta, pengertian, saling.

Dan keengganan dirinya juga Mas Tama untuk menyelesaikan masalah secara tuntas, benar-benar menjadi boomerang paling mengerikan. Menjadi bom waktu yang akhirnya meledak, ketika Mas Tama memergokinya tengah berada di apartemen bersama Mas Pram.

Jadi, tatkala sosok Mas Tama tiba-tiba muncul di hari ulang tahun Reka. Ia benar-benar tersudutkan. Tak ada lagi emergency exit (pintu keluar darurat) yang tersisa. Ia harus berani menghadapi, walau pahit dan menyedihkan.

"Selamat ulang tahun, Reka."

Ia hanya bisa tertegun, melihat Mas Tama mengulurkan kado berbentuk kotak yang cukup besar kepada Reka.

"Makasih," jawab Reka datar.

"Semoga panjang umur, jadi anak yang berbakti ...." gumam Mas Tama seraya merentangkan kedua tangan.

Tapi Reka hanya diam mematung. Sama sekali tak memberi sambutan.

Membuatnya mengambil alih situasi dengan tersenyum kaku, "Terima kasih, Ayah. Terima kasih."

Mas Tama sempat memandangnya dengan mata terluka. Namun sejurus kemudian, Mas Tama telah berseloroh ke arah Reka, "Coba ... buka kadonya."

Reka sempat menoleh ke arahnya meminta persetujuan.

Dan begitu ia mengangguk, Reka pun mulai membuka kado dari Mas Tama.

"Wah!" hampir semua orang yang berada di ruang tengah bertepuk tangan, ketika mendapati isi kado yang dibawa oleh Mas Tama.

Tapi Reka justru memasang wajah masam seraya bergumam, "Aku punya dua dong."

Sontak berhasil membuat wajah sumringah Mas Tama berubah menjadi kelabu, "Kamu udah punya PS5?"

Reka menatapnya tak percaya. Lalu berujar dengan ketus ke arah Mas Tama, "Ayah emang nggak tahu apa-apa tentang Reka."

 ---------

Ia meletakkan secangkir kopi ke atas meja.

Merk kopi instant favorit kesukaan Mas Tama. Diseduh dengan air mendidih yang baru matang. Bukan air dari dispenser.

Diaduk sebanyak 30 kali memutar ke arah kanan. Agar terseduh sempurna dan tercampur rata. Begitu kebiasaannya dulu. Dulu sekali. Entah sudah berapa lama berlalu. Ia bahkan sudah lupa. Kapan kali terakhir membuatkan kopi untuk Mas Tama.

Tapi hampir lima menit berlalu, sejak ia meletakkan secangkir kopi ke atas meja. Suasana masih saja sunyi. Hanya sesekali terdengar sayup-sayup suara obrolan dan gelak tawa, yang berasal dari ruang tengah.

Selebihnya hanya bisa berdiam diri. Sembari memperhatikan Mas Tama yang sibuk merokok. Dengan memasang wajah kaku.

"Mas masih merokok?" ia berusaha mencairkan keadaan.

Mas Tama tertawa kecil. Terdengar sinis. Lalu bergumam langsung pada intinya, "Dia berani datang ke rumah ini?"

Sudah pasti Mas Tama akan membahas keberadaan Mas Pram di rumahnya. Tepat di hari ulang tahun Reka.

"Aku nggak bisa menolak tamu," jawabnya mencoba berdiplomasi.

Membuat Mas Tama kembali tertawa. Dan kali ini terdengar lebih sinis lagi.

"Dia yang ngasih Reka PS5?"

Ia menggeleng, "Reka beli sendiri. Pakai uang bulanan dari Mas."

Suasana di teras belakang kembali hening. Ia masih mereka-reka kalimat yang tepat. Sementara Mas Tama sibuk mengepulkan asap putih ke udara.

"Gimana perkembangan kasus terbunuhnya kongl ...."

"Ayolah, Kinan," Mas Tama memotong kalimatnya dengan cepat. "Kita mulai saja."

Ia menelan ludah yang terasa pahit, "Mulai dari mana?"

Mas Tama kembali tertawa sumbang, "Terserah."

Ia memijat pangkal hidung yang mendadak terasa pegal. Sementara suara canda tawa masih saja terdengar dari arah ruang tengah.

"Aku percaya dengan apa yang kulihat," gumaman sinis Mas Tama justru membuatnya siap untuk meledak.

"Apa Mas pernah mengerti apa yang kurasakan?"

"Oh, come on (ayolah) ...." Mas Tama menggelengkan kepala. "Kamu mau A, aku ikuti. Kamu mau B, aku oke. Kamu mau C, silakan!"

"Kita nggak pernah benar-benar bicara tentang alasan mengapa aku memilih A, B, dan C," sahutnya dengan perasaan marah.

"Masalahnya apa, Kinan?" suara Mas Tama tiba-tiba meninggi.

Detik itu juga, deraian air matanya lolos tak tertahankan.

"Mas cinta sama aku?" tanyanya sambil menahan isakan.

Mas Tama menatapnya tak mengerti.

"Mas sayang sama aku?" tanyanya lagi sembari menantang tatapan Mas Tama.

"Hal basic kayak gini kamu tany ...."

"Justru karena hal basic makanya harus diungkapkan!" ucapnya setengah menjerit.

"Aku yang salah?" Mas Tama justru menatapnya tajam.

"Oke," sambung Mas Tama cepat. Seraya mengangkat kedua tangan ke depan dada. "Aku salah. Aku minta maaf."

Ia menyusut hidung dan sudut mata dengan gerakan cepat. Kemudian menghela napas panjang. Hingga dada terhimpitnya terasa kian sesak.

"Aku nggak bisa ngertiin apa mau kamu," ucap Mas Tama sambil menggerus rokok ke dalam asbak.

"Mungkin Om-om itu bisa lebih ngertiin kamu," lanjut Mas Tama, sambil menunjuk ke arah ruang tengah dengan rahang mengeras.

Membuat air matanya hampir berderai lagi.

"Aku nyerah," Mas Tama menatapnya dengan penuh penyesalan.

"Yang penting kamu dan Reka baik-baik aja," sambung Mas Tama seraya menatapnya lekat-lekat.

"Jadi ... siapa yang maju. Kamu ... atau aku?"

Ia mengernyit mendengar pertanyaan Mas Tama, "Maju?"

"Yang mau menggugat cerai siapa, kamu atau aku?"

***

1
Liani Bunga
😭😭😭😭
Febriana Syaindah
kangen karya KK shera,,,gimana kabarnya KK,,,
Athalla✨
tolong jaga pandangan mas 🙈
Athalla✨
mau ngomong cemburu tapi malu tapi agak kesel juga 🤣🤣 ayo dong peka mas Tama
Athalla✨
mas Tama itu super sibuk. urusan penting sama kak Pocut aja jarang ketemunya apalagi ngurusin kamu 🤣
Athalla✨
Alsaki ya,,
apa kabar bapak Aswin sekeluarga 😊
Athalla✨
jadi inget tokoh novel kak Sera di sebelah,, mirip² ngomong gini juga🥰🥰
Athalla✨
mas Tama bisa gini juga ya 😁
yang baca aja senyum-senyum apalagi kak Pocut
Athalla✨
🥰🥰
momo
gamon sama karya mom sera/Kiss/
Liani Bunga
luaaaaaar biasa 😍
Liani Bunga
🤣🤣🤣🤣
bunda zufa
🤣🤣🤣 ampun komandan
bunda zufa
aamiin
Nur Rahmatia
di cerita novel BP cakra saat mengantar anak2 ke skolah msh sempatkan waktu mampir kerumah papa dan mamanya anjani,,,tpi koq dsn papanya anja meninggal saat aran bru berusia memasuki 1 tahun,,
bunda zufa: maksudnya "rumah" itu tempat peristirahatan terakhir (makan). jadi Cakra itu ngunjungi makam papa sama mamanya anja
total 1 replies
luh jingga
balik lagi ,baca novel ini ,kangen sma pak pici gantengg..

dari merindukannya sesosok ayah, sasa sampai segitunya sama tama, berlinang air mata setiap sasa dan umay merindukan sosok ayah 🥺
終焔星 静寂 無帰~𝓐 𝓩 Ø
wushhh...apakah mendarat tepat sasaran ?
Yani Mulya
ayahnya dah kebelet kawin mas Reka 🤣🤣🤣
Yani Mulya
ya Allah devano, cobaan 🤣🤣
Yani Mulya
komandannya nunggu di samping devano🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!