Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Sandiwara Ibu Dan Anak
Bab 28
Sandiwara Ibu Dan Anak
Dika mengendarai mobilnya dengan santai, senyum lebar menghiasi wajahnya. Lagu cinta mengalun lembut dari speaker mobil, mengiringi angan-angannya tentang masa depan indah bersama Lyra. Pikirannya sudah jauh melayang, membayangkan betapa bahagianya nanti ketika mereka telah resmi menjadi suami istri, membangun rumah tangga yang penuh cinta dan tawa. Ia jadi ingin segera sampai ke rumah ibunya, menjemput dan membawa restunya untuk pernikahan mereka.
Suasana tampak sepi dan sunyi ketika Dika tiba di rumah ibunya saat menjelang siang. Meski begitu, masih ada aktifitas para tetangga disekitarnya. Perjalanan dari rumah dinasnya ke rumah ibunya hanya memakan waktu sekitar tiga jam, sedangkan jika ia pulang ke rumah yang ditinggali Novia dan Ibra, dibutuhkan waktu lima jam perjalanan.
Dika memarkirkan mobilnya di halaman rumah dengan senyum lebar yang masih terpatri di wajahnya. Kemudian, dengan langkah ringan dan penuh semangat, ia berjalan menuju pintu dan mengetuknya dengan riang.
"Tok... Tok... Tok...!"
"Assalamualaikum, Bu..." sapanya dengan nada ceria.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Marina dari dalam, membuka pintu dengan senyum yang dipaksakan.
Dika menyalami ibunya dengan takzim, mencium tangannya dengan penuh hormat. Kemudian, dengan langkah lebar ia masuk dan duduk dengan nyaman di sofa ruang tamu.
"Kamu ini gimana sih Dik? Kenapa sampai kecantol sama perempuan lain sih? Apa kamu nggak mikirin perasaan Novia dan Ibra?"
Dika disambut omelan sang Ibu, bagai siraman air yang memudarkan senyumnya. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia sudah tahu pasti sang Ibu akan menceramahinya terlebih dahulu. Ia sudah menyiapkan mental untuk menghadapi segala omelan dan nasehat yang akan dilontarkan ibunya.
"Bu, Lyra itu wanita yang baik. Sama baiknya seperti Novia. Penurut, sopan, dan rajin. Ibu pasti suka kalau sudah bertemu dengan dia nanti," ujar Dika, mencoba membela diri dan meyakinkan ibunya.
"Apa bedanya dengan Novia? Istrimu itu juga penurut, sopan, dan juga rajin," balas Marina dengan nada tak suka.
"Beda lah Bu, dari namanya aja udah beda. Lagian Lyra itu... cantik," ujar Dika malu-malu, tersipu seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
Marina menggelengkan kepalanya, merasa prihatin dengan anaknya yang sudah dibutakan oleh cinta. Sepertinya, akan sangat sulit untuk memisahkan Dika dari Lyra setelah melihat anaknya yang seperti sedang dimabuk cinta. Hatinya semakin sakit memikirkan perasaan Novia dan Ibra, yang harus menanggung akibat dari perbuatan Dika.
"Kamu ini benar-benar sudah lupa sama anak istrimu ya Dik?" tanya Marina dengan nada lirih, mencoba menyentuh hati Dika.
"Aku tetap menyayangi mereka Bu, tidak ada yang berubah," jawab Dika, berusaha meyakinkan ibunya, meskipun ia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.
"Bagaimana nanti kalau Novia tahu? Nggak mungkin selamanya kamu bisa menutupi ini semua," tanya Marina, suaranya meninggi, mulai kehilangan kesabaran.
"Soal itu... nanti saja lah Bu baru dipikirkan. Yang penting aku harus menikah dulu dengan Lyra. Kalau nggak, aku bisa kehilangan dia," jawab Dika dengan nada keras kepala, menunjukkan betapa ia telah dibutakan oleh cintanya pada Lyra.
Marina menggelengkan kepalanya, merasa semakin prihatin dengan anaknya. Dika benar-benar sudah berubah, ia menjadi egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain.
"Kamu ini benar-benar sudah gila ya Dik?" tanya Marina dengan nada putus asa.
"Bu, tolong lah. Urusan kedepannya biar aku yang tanggung jawab."
Marina membuang napas kasar. "Sholat kamu sana! Biar jernih otak mu yang sudah mulai kehilangan akan sehat itu!" Ucapnya seraya beranjak bangun dari duduknya, lalu masuk ke dalam dan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang karena sebentar lagi, Iqbal pasti pulang sebentar di hari jumat ini. Dan masuk kembali pukul 13.30 usai sholat jum'at.
-
-
-
"Halo, Assalamualaikum... Nov?"
"Wa'alaikumsalam. Ada kabar apa Iq? Apa Mas Dika sudah datang menjemput Ibu?"
"Kata Ibu sudah. Tapi sepertinya, Bang Dika sengaja menghindar dari ku."
"Biar saja, pura-pura saja nggak tahu apa-apa." Novia mengambil jeda sesaat sebelum berbicara lagi. "Lagi pula dia sudah pergi. Dia mengirimkan pesan padaku dan fotonya yang berada di bandara."
"Baguslah, dia menepati janjinya. Tinggal mengurus Bang Dika saja. Entah bagaimana nanti bila dia tahu wanita itu sudah pergi."
"Tapi, kamu sudah bilang ke Ibu kalau kita pura-pura nggak tahu kan Iq?" tanya Novia, memastikan semua berjalan sesuai rencananya.
"Sudah. Kamu tenang saja, meskipun Ibu sayang sama Bang Dika, tetapi Ibu juga nggak mau rumah tangga Bang Dika hancur. Ibu memainkan perannya dengan baik."
"Syukur lah kalau begitu. Btw, sudah dulu ya Iq. Dan terima kasih kamu selalu membantuku."
"Nggak perlu sungkan begitu Nov. Untukmu aku akan berusaha membantu semaksimal mungkin."
Novia tersenyum di seberang sana meskipun Iqbal tidak bisa melihatnya. Ia merasa beruntung ada Iqbal sang sahabat sekaligus adik ipar yang selalu ada untuknya di saat tersulit dalam hidupnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku tutup ya Iq, Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
-
-
-
Malam hari, ketika semua duduk bersama di meja makan, Dika tampak biasa saja menikmati makan malamnya, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang sejak tadi menghantuinya. Sampai pertanyaan Iqbal memecah keheningan dan mengubah suasana hatinya menjadi sedikit tegang.
"Emang ada apa di sana Bang, sampai Abang jemput Ibu segala?" tanya Iqbal dengan nada polos, namun matanya menatap Dika dengan tajam, seolah bisa membaca pikirannya.
"Ehem..., nggak ada apa-apa. Cuma rasanya aku lagi kangen aja sama Ibu. Waktu itu main ke sini rasanya terlalu singkat," jawab Dika berbohong, menyembunyikan kegelisahannya di balik senyum palsu.
"Makanya sering-sering lah main ke sini Bang," balas Iqbal dengan nada menyindir.
"Kamu kan sudah setiap hari selalu sama Ibu, dan aku lagi pengen disayang sama Ibu. Kamu ngalah dulu lah kali ini." Dika bercanda, mencoba mencairkan suasana yang mulai tegang.
"Lama ya Bu? Terus nggak pulang ke rumah sana Bang?" tanya Iqbal, sengaja menekankan kata "rumah sana" seolah ingin melihat reaksi Dika.
Marina menoleh kepada Dika, menunggu dengan seksama bagaimana anaknya itu akan menjawab pertanyaan Iqbal. Ia ingin melihat seberapa lihai Dika berbohong dan seberapa kuat ia bisa menutupi kebenaran dari Novia dan Ibra.
Dika berdeham, mencoba menetralkan suasana yang tiba-tiba menegang.
"Oh, itu... cuma sebentar kok. Lagian, Abang juga lagi sibuk banget, banyak urusan yang harus diselesaikan," jawab Dika dengan nada tergesa-gesa, menunduk menghindari tatapan semua orang yang ada disana. Ia berusaha meyakinkan semua, bahwa tidak ada yang aneh dengan kepergiannya menjemput ibunya. Padahal tanpa sepengetahuan Dika semua sudah terencana dan tinggal menunggu ia merasakan kehilangan saja.
-
-
-
Bersambung...
Note : Like like like like, aku mau like nya🥺