NovelToon NovelToon
The Infinite Ascent Of My Attributes

The Infinite Ascent Of My Attributes

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Sci-Fi / Epik Petualangan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zylan Rahrezi

Tahun 2050, Bencana Besar menyatukan benua dan melahirkan Gelombang Binatang Buas—monster yang memusnahkan dunia lama dalam hitungan bulan. Umat manusia bertahan di balik Kota Basis, benteng raksasa yang menjadi satu-satunya perlindungan dari dunia liar di luar dinding.
Harapan datang dari pulau misterius yang membawa energi kosmik dan seni bela diri, menciptakan para petarung super sebagai tameng terakhir peradaban. Namun ancaman monster purba masih mengintai, menunggu keseimbangan runtuh.
Di Kota Basis 5, Arga hanyalah siswa SMA biasa yang menghadapi ujian hidup-mati masa depan. Tak seorang pun tahu, di dalam dirinya bersemayam sebuah sistem yang perlahan membangkitkan kekuatan terlarang—dan mungkin, nasib baru bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zylan Rahrezi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJI KETAHANAN

Bab 5: Uji Kekuatan

Bus berhenti perlahan dengan desisan rem yang halus.

Arga menoleh ke luar jendela, matanya menangkap bangunan menjulang di hadapan mereka. Gedung Cabang Asosiasi Bela Diri berdiri megah—struktur besar dari logam gelap dan batu bertulang. Dindingnya terukir lambang-lambang bela diri kuno, masing-masing melambangkan warisan kekuatan yang diwariskan lintas generasi. Sebuah gerbang lengkung raksasa menjadi pintu masuk utama, dan tepat di bawahnya berdiri satu sosok tinggi yang seolah sudah menunggu mereka.

Para siswa turun dari bus. Obrolan yang semula ramai perlahan mereda saat pandangan mereka tertuju pada pria itu. Tubuhnya tinggi dan bidang, punggungnya tegak bak sebilah pedang. Auranya memancarkan kekuatan yang tenang namun kokoh—jelas seorang veteran yang telah melewati banyak pertempuran.

Pak Ardi melangkah maju dengan sikap tenangnya.

“Anak-anak, ini Richard Harvey,” katanya. “Beliau adalah pejabat eksekutif senior cabang Asosiasi Bela Diri ini—dan juga seorang Master Bela Diri. Hari ini, beliau yang akan mengawasi ujian kalian.”

Alis Arga terangkat.

Seorang Master Bela Diri? Di tempat seperti ini? Itu saja sudah cukup mengejutkan. Namun yang benar-benar menarik perhatiannya adalah sikap Richard.

Begitu Richard menoleh ke Pak Ardi, nadanya berubah halus, dan punggungnya tampak sedikit lebih tegak. Ada kilatan hormat di matanya—bukan sesuatu yang bisa dibuat-buat.

Kenapa dia bersikap seperti itu pada Pak Ardi? pikir Arga. Pak Ardi bahkan tidak memancarkan aura di atas Prajurit Bela Diri… kecuali dia selama ini menyembunyikan kultivasinya.

Arga menggeleng pelan, menyingkirkan pikiran itu untuk sementara, lalu mengikuti rombongan masuk ke dalam gedung.

Aula utama luas dan khidmat, diterangi lampu putih lembut yang memantul di lantai gelap yang mengilap. Bendera-bendera Asosiasi Bela Diri tergantung tinggi di dinding, masing-masing melambangkan kekuatan, persatuan, dan warisan. Di sisi-sisi aula terdapat beberapa ruang latihan dan ruang uji dengan dinding kaca, memungkinkan pengamatan dari luar. Udara beraroma samar disinfektan dan besi—tanda jelas bahwa ini adalah tempat disiplin dan pertarungan.

Mereka diarahkan ke salah satu ruangan samping yang besar. Di sana berjajar sepuluh mesin uji kekuatan—pilar logam dengan bantalan tebal dan layar digital di atasnya.

“Ini adalah tahap pertama—uji kekuatan,” ujar Richard sambil menunjuk mesin-mesin itu. “Kalian akan maju dalam kelompok sepuluh orang. Tugas kalian hanya satu: lepaskan satu pukulan. Jika daya pukul kalian melampaui ambang batas, kalian akan lolos ke uji kecepatan.”

Bisik-bisik langsung terdengar. Semua orang sudah tahu standarnya—500 kilogram daya. Itu syarat minimum untuk siswa yang menargetkan akademi bela diri tingkat atas.

Kelompok pertama maju—enam laki-laki dan empat perempuan. Mereka berdiri di depan mesin masing-masing. Ada yang meregangkan lengan, ada yang menggoyangkan pergelangan tangan. Ketegangan terasa kental.

“Mulai,” perintah Richard.

Sepuluh tinju terangkat, napas ditarik dalam-dalam—

BAM!

Sepuluh dentuman menggema seperti rentetan ledakan kecil. Mesin-mesin berdengung, angka di layar melonjak.

Mesin 1: 400 kg

Mesin 2: 600 kg

Mesin 3: 500 kg

Mesin 10: 533 kg

Saat angka berhenti, Richard mengangguk singkat.

“Enam orang lulus.”

Empat yang gagal tertunduk. Seorang siswi mengepalkan tangan, tubuhnya sedikit gemetar. Berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun—latihan berujung pada momen ini… dan mereka gagal.

Pak Ardi maju, suaranya hangat namun tegas.

“Jangan berkecil hati. Tidak masuk akademi papan atas bukan akhir segalanya. Masih ada universitas tingkat dua, jalur militer, atau menjadi prajurit bebas. Perjalanan kalian belum berakhir. Kadang, mereka yang tersandung lebih awal justru bangkit paling tinggi.”

Kata-katanya berbobot—lahir dari pengalaman seseorang yang telah melihat banyak orang bangkit dan jatuh.

Wajah para siswa yang gagal sedikit terangkat. Luka belum hilang, tapi tekad mulai menggantikannya. Enam yang lulus berseri-seri, beberapa saling tos.

Kelompok kedua dipanggil. Lima orang lulus.

Lalu tibalah kelompok ketiga—kelompok Bagas Silva.

Suasana ruangan terasa lebih sunyi.

Bagas melangkah dengan langkah congkak, bahu tegak, dagu terangkat. Tak ada jejak gugup—hanya kepercayaan diri. Ia memasang sarung tangan dengan sengaja, pelan, seolah ingin semua orang memperhatikannya.

Ia mengembuskan napas, mengambil posisi sempurna, lalu memukul.

Layar berbunyi, angka melonjak cepat.

100… 300… 600… 750 kg.

Desahan kaget memenuhi ruangan.

“750!”

“Gila…”

“Keluarga Silva memang beda. Setelah Kakek Erik, muncul naga baru.”

Bagas berdiri dengan senyum puas. Pujian mengalir bak musik. Ia menoleh—mencari satu orang.

Arga.

Namun ekspresi Arga tetap datar. Tak ada kagum. Tak ada iri. Hanya ketenangan yang sulit dibaca.

Itu membuat Bagas kesal. Sangat kesal.

“Hmph,” gumamnya, mengepal tinju. “Tunggu saja, serangga. Gagal di sini, dan kau akan menyesal pernah berdiri di bayanganku.”

Kelompok berikutnya maju. Mawar dan Raka termasuk di dalamnya.

Raka maju dengan ragu. Ia melirik kiri-kanan, lalu fokus ke Mesin 2. Mawar, sebaliknya, tetap tenang. Ia berjalan ke Mesin 7 seolah sudah terbiasa.

“Mulai.”

BAM!

Mesin Raka menunjukkan 433 kg—usaha yang lumayan, tapi di bawah ambang batas. Wajahnya langsung meredup.

Semua mata beralih ke mesin Mawar.

Angka melesat—500… 700… dan berhenti di 800 kg.

Ruangan terdiam.

Bahkan alis Richard terangkat. Pak Ardi terkekeh pelan, mengangguk puas.

“800 kg… dan dia belum membangkitkan bakat,” gumam Richard. “Jarang sekali—bahkan di kota super.”

Para siswa berbisik kagum, tapi Mawar hanya berbalik dan kembali ke tempatnya. Tanpa senyum. Tanpa kesombongan.

Raka tampak lesu. Arga menghampiri dan menyenggol bahunya ringan.

“Tenang,” grin Arga. “Kalau aku jadi Raja Langit, kau jadi jenderalku.”

Raka berkedip, lalu tertawa.

“Siap, Yang Mulia.”

Tawa kecil mereka mencairkan suasana.

Kini giliran Arga.

Ia berjalan ke mesin dalam diam. Pikirannya berputar. Kekuatan aslinya sudah melampaui 6.000 kg—sementara batas teoritis sebelum membuka kunci gen hanyalah 1.000 kg.

Haruskah aku menahan diri? Pukul 900 saja?

Lalu pikirannya berubah. Tidak. Untuk apa meredupkan cahaya? Dalam beberapa bulan, aku akan melampaui naga terkuat yang ada sekarang. Biar mereka melihatnya.

Ia mengangkat tinju—tanpa kuda-kuda. Tanpa persiapan.

Bisik-bisik kembali terdengar.

“Apa yang dia lakukan?”

“Tanpa posisi bisa tembus 500?”

“Dia bakal mempermalukan diri sendiri.”

Bagas menyeringai, hampir gemetar menahan antusiasme.

Dan kemudian—

BOOOOM!

Pukulan Arga menghantam seperti tembakan meriam. Mesin bergetar, layar berkedip liar.

Angka melesat—300… 500… 700… 900…

1000 kg.

Waktu seakan berhenti.

Tak ada yang bicara. Tak ada yang bergerak.

Rahang Raka ternganga. Mata Mawar—yang biasanya tenang—melebar tak percaya.

Bagas? Senyumnya lenyap. Wajahnya terdistorsi oleh amarah dan keterkejutan. Giginya gemeretak—tanpa sedikit pun simpati dari sekitar.

Karena saat itu, semua mata tertuju pada Arga.

Wajah Pak Ardi berubah. Untuk pertama kalinya, ia tampak benar-benar terkejut.

Dan Richard?

Matanya berbinar. Ia melangkah mendekat.

“Arga,” katanya perlahan, “itu… luar biasa. Bahkan di kota super, mungkin sulit menemukan siswa sepertimu.”

Ia mengulurkan tangan.

“Masamu depan cerah. Aku akan mengawasimu.”

Pak Ardi terkekeh di sampingnya.

“Tidak buruk, Nak.”

Arga hanya mengangguk, tetap tenang. Namun jauh di dalam dadanya, kebanggaan hangat bersemi. Ia telah menancapkan jejaknya—dan kini, tak seorang pun bisa mengabaikannya.

Batch berikutnya tetap berjalan, namun puncak kegembiraan telah lewat. Tak ada yang mampu menandingi apa yang baru saja terjadi.

Pada akhirnya, tujuh puluh siswa lulus uji kekuatan.

Richard bertepuk tangan sekali, menarik perhatian.

“Baik. Kalian yang lulus—ikuti saya. Kita lanjut ke uji kecepatan.”

Tiga puluh sisanya memang kecewa, tapi tak hancur. Banyak dari mereka menatap dengan tekad—pikiran sudah dipenuhi rencana untuk berlatih lebih keras.

Dan dengan itu, tujuh puluh siswa terpilih mengikuti Richard lebih dalam ke gedung, menuju tantangan berikutnya yang telah menanti.

1
Orimura Ichika
bagus👍
Zycee: Terimakasih 🙏
total 1 replies
bysatrio
perlu dikoreksi lagi, nama tokoh masih sering berubah
Zycee: terimakasih kak sebenarnya saya sering lupa nama karakter sampingan mohon maaf ya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!