NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Sad ending
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagas yang baru

Bagas bangun seperti hari-hari biasanya. Mempersiapkan sarapan sejak pagi-pagi buta. Seperti biasa juga ayahnya berada di kursi seberangnya untuk ikut menikmati sarapan buatannya.

Ayahnya sumringah saat menatap wajah anaknya yang kian hari nampak terlihat perubahannya.

Ia tahu kalau hari ini adalah hari pertamanya masuk setelah libur panjang. Ia juga tahu kalau anaknya itu telah menginjak kelas dua belas. Namun, ia yakin bukan itu sebab perubahannya.

Bagas yang hampir selalu terlihat lesu bak tumbuhan yang layu, kini berseri-seri. Selain itu juga, Bagas yang selalu awas dengan keadaan sekitar, kini nampak lebih tenang ketimbang dirinya yang dulu.

Hanya dari ekspresinya saja, ia bisa menyimpulkan kalau kehidupannya di sekolah mulai membaik.

Setelah sarapan, ia segera meninggalkan rumah setengah terburu-buru.Bagas melangkah dengan pasti. Tiba di sebuah kelas yang baru. Namun, berisi wajah-wajah lama.

Memang seperti itulah sistem sekolah saat kenaikan kelas. Tak ada perombakan soal penghuninya. Hanya berganti ruangannya saja.

Tadinya ia ingin cepat sampai karena hari pertama adalah harinya berburu kursi. Sudah jadi tradisi turun temurun, jika pergantian kelas tiba, tempat duduk juga akan ikut berubah.

Tak ada aturan lebih lanjut soal itu, kecuali "siapa cepat, dia dapat".

Bagas berpikir kalau ia datang lebih cepat, ternyata dugaannya meleset jauh. Sebagian besar siswa kelasnya telah mendapatkan kursi mereka. Hanya tersisa segelintir dan semuanya berada di bagian depan.

Memang sejak dulu kursi di deretan depan adalah kursi keramat bagi lelaki. Karena penghuninya sering kali rawan terkena panggilan guru.

Entah untuk mengerjakan soal di depan. Ataupun menjadi sasaran perintah guru. Selain itu, ketika seseorang duduk pada barisan depan, ia sangat sulit untuk mencari contekan di kala kepepet, atau bercanda ketika suntuk.

Bagas termasuk orang yang ingin menghindar karena pada umumnya para gadislah yang memilih kursi di bagian depan. Namun pilihannya sudah sangat terbatas.

Beberapa barisan depan masih kosong. Lalu barisan kedua hanya tersisa satu kursi. Tentu ia tidak ingin di barisan terdepan, maka pilihannya cuma ada satu.

Ketika Bagas menduduki kursi itu, barulah ia sadar kalau di sebelahnya ada sesosok gadis yang paling ingin ia hindari.

Linda tersenyum sumringah ke arah Bagas yang menghela nafas panjang. Ia sudah terlanjur duduk. Kalau melepaskan kursi itu, tidak akan ada lagi kursi lain.

Tidak ada yang bisa ia lakukan. Selain hanya bisa menerimanya meski dadanya belum lapang.

Belum ada lima menit duduk di situ, teman-temannya sudah mengerubungi. Seolah mereka menunggunya sedari tadi.

"Gas, siapa cewek yang berfoto denganmu kemarin?"

"Iya, Gas. Cewek itu imut banget. Kenalin ke kita-kita dong!"

"Aku merasa pernah melihat cewek itu, tapi di mana ya?"

"Kakak kelas 'kan? Seingatku tidak ada kakak kelas yang begitu deh."

"Kakak kelas? Mana mungkin, bodoh. Cewek seimut itu pasti adik kelas."

Mereka terus menghujani Bagas dengan pertanyaan tanpa sempat ia jawab lantaran kebingungan. Ia tidak menunjukkan foto apapun. Bahkan di media sosial pun, ia tidak pernah memposting sebuah foto pun.

"Foto yang mana?"

"Kamu pura-pura lupa ingatan atau bagaimana?"

"Aku betulan tidak tahu."

"Foto ini yang kami maksud."

Seseorang menunjukkan foto dari dalam ponselnya. Sebuah foto saat dirinya dan Renata bersama dengan kue buatannya sendiri.

"Apa jangan-jangan itu pacarmu?" celetuk salah seorang.

Bagas tersenyum getir. Kontras dengan Linda yang mengernyitkan dahi lalu menarik kursinya agar bisa lebih dekat. Penasaran dengan arah obrolan mereka

"Mana mungkinlah."

Kata barusan adalah kesimpulan dari kata hatinya. Tidak mungkin gadis seperti Renata layak bersanding dengan dirinya yang cengeng dan tidak bisa diandalkan.

Linda mengelus dada lega saat mendengar ucapan itu dari mulut laki-laki itu langsung.

"Yah, kupikir wajar kalau kamu tidak jadian dengan Linda tapi memilih dia."

"Ooh ... begitu ya?" Linda mendadak menyahut dengan nada yang dingin.

Salah seorang sengaja mengucapkannya karena tahu gadis itu sedang menguping mereka.

"Itu fakta ya, Lin. Kalau kamu tidak kunjung jadian, berarti Bagas memang suka dengan orang lain."

"Sudah kubilang, aku tidak suka dengannya." tegas Bagas.

"Tuh kalian dengar? Sukanya denganku 'kan, Gas?"

"Tidak denganmu juga."

"Hahaha ...."

Tawa mereka pecah. Barulah mereka kembali ke tempat masing-masing saat bel masuk berbunyi.

...----------------...

Di tahun terakhirnya ini, Bagas meminta izin akan banyak hal kepada ayahnya.

Ia meminta izin membeli banyak buku, termasuk buku resep. Ia meminta izin untuk mengikuti sebuah les pastri. Lalu meminta bahan tambahan agar bisa membuat pastri dengan lebih sering.

Ketika ditanya alasannya, jawabannya simpel:

"Aku sudah menentukan apa yang ingin kulakukan."

Kalimat itu bukan terbentuk tiba-tiba. Melainkan hasil akumulasi dari berbagai keputusannya yang didorong oleh banyak hal. Salah satunya tentu Renata.

Sejak obrolannya dengan gadis itu dikala pulang sekolah dulu, ia menjadi sering memikirkan dirinya. Perkataannya saat itu kalau pastri berkaitan erat dengan kenangan buruknya, bukanlah kalimat yang mengada-ngada.

Namun, saat ia berhenti membuatnya, justru terasa gejolak dalam dadanya. Ia pikir itu semacam rasa rindu belaka. Semakin hari berlalu, ia semakin yakin kalau bukan hanya rindu dengan prosesnya, ternyata ia menyukai proses dan hasil yang ia dapat.

Di awalnya memang Bagas merasa aneh dengan dirinya. Namun, meski telah melakukan banyak hal, kepuasan yang ia rasakan, tidak bisa ia dapatkan dari tempat lain.

Apalagi melihat anak-anak yang kegirangan saat menyantap kue buatannya, seolah menyejukkan hatinya.

Setelah melewati banyak proses, akhirnya terciptalah keputusan untuk mendalami dunia pastri. Sebagai orang yang menyukainya dan juga sebagai pernyataan perangnya terhadap masa lalunya.

Bagas yang selalu merasa dibayangi oleh masa lalunya, kini menoleh lalu berusaha untuk menghadapinya.

Seketika kepingan memori yang berusaha ia abaikan selama ini, menyembul tepat di depan matanya.

Seorang wanita yang lekat dengan dapur itu sedang berdiri. Sibuk mengolah bahan-bahan mentah untuk akhirnya ditukar dengan pundi-pundi rupiah.

Bagas ingat sekali saat ia membantu wanita itu meski kala itu usianya baru sembilan tahun.

Wanita yang ia panggil "ibu" itu, sangat ia kagumi. Sebelum banyak hal terjadi, itu adalah saat yang tak terlupakan bagi Bagas.

Kecintaannya dengan pastri pun bertumbuh dengan baik. Namun, tak ada gading yang tak retak.

Ingatan soal momen yang seharusnya membahagiakan itu, justru menjelma menjadi ingatan buruk yang ingin ia lupakan.

Hingga sekarang pun, jika Bagas mengingat akan memori itu, dadanya seketika sesak. Tangannya langsung bergetar hebat.

Namun, meski pun emosi itu belum surut, ia tak mengendurkan keinginannya sedikit pun.

Bagas seolah berteriak kencang. Menegaskan kalau ia bukanlah seperti Bagas yang ada di masa lalu. Tidak ada lagi Bagas yang meringkuk sementara di luar sana ada gadis yang berjuang melawan dunia sendirian.

Tekadnya sudah bulat. Bagas hari ini adalah Bagas yang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!