Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Racun Hiasan
Fajar di Desa Sunyi menyapa dengan sisa-sisa embun yang membeku di pinggiran jendela, menciptakan kristal es tipis yang tampak seperti duri. Di dalam rumah tua itu, Arkananta duduk di tepi dipan kayu, perlahan mengoleskan salep berbau sulfur pada memar kebiruan di bahunya. Luka itu adalah sisa dari beban berat yang ia tahan saat sumur desa disabotase tempo hari, ditambah kekakuan sendi yang luar biasa setelah semalam ia menarik seluruh hawa dingin dari tubuh Nayara ke dalam nadinya sendiri untuk menyelamatkan istrinya dari serangan suhu ekstrem.
"Jangan ditekan terlalu keras, Arkan. Jaringan kulit Anda masih mengalami trauma akibat suhu nol derajat semalam," bisik Nayara yang baru saja terbangun. Ia mendekat, tangannya yang masih sedikit gemetar mencoba mengambil alih botol salep itu.
"Ini hanya degradasi fisik minor, Nayara. Prioritaskan sistem pernapasanmu. Apakah kabut hitam semalam masih menyisakan obstruksi di paru-parumu?" Arkan menatap istrinya dengan intens. Ia memperhatikan sudut matanya sendiri di cermin kecil, di mana kapiler darah yang pecah akibat tekanan internal semalam masih menyisakan rona kemerahan yang mengerikan.
Nayara menarik napas panjang, mencoba merasakan udara pagi yang masuk melalui celah dinding bata merah. "Atmosfer di sini jauh lebih jujur. Tidak ada jejak polusi aromatik seperti di High Tower. Hanya residu tanah basah dan abu pembakaran yang menjaga kita tetap hidup semalam."
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah yang halus membelah kesunyian desa, kontras dengan bunyi gesekan daun jati yang kering di halaman. Sebuah sedan perak dengan logo High Council berhenti tepat di depan pagar kayu yang sudah reyot. Bayu, yang sedang berjaga di teras dengan topi yang ditarik rendah, segera berdiri tegak, tangannya secara refleks menyentuh alat komunikasi di pinggangnya.
Seorang wanita muda dengan seragam pelayan High Tower yang kaku dan angkuh keluar dari mobil, membawa sebuah vas kristal besar yang berisi rangkaian bunga yang sangat indah—perpaduan antara lili putih, anggrek langka, dan bunga lilin yang kelopaknya tampak berkilau tidak alami di bawah sinar matahari.
"Selamat pagi, Tuan Arkananta. Nyonya Nayara. Saya Siska, staf representatif yang diutus langsung oleh kediaman utama," ucap pelayan itu dengan nada suara yang meninggi, matanya menyapu rumah bata merah itu dengan tatapan jijik. "Nyonya Besar menyampaikan simpati atas 'anomali teknis' pemanas ruangan semalam. Beliau mengirimkan ini sebagai simbol rekonsiliasi."
Arkan berdiri, rahangnya mengeras hingga otot pipinya berkedut. Ia melirik vas bunga itu dengan saksama. "Rekonsiliasi? Sejak kapan ibuku menggunakan medium estetika untuk berkomunikasi dengan orang yang ia buang ke wilayah terlarang ini?"
"Ini adalah flora eksklusif dari sanctum pribadi keluarga. Nyonya Besar berpesan bahwa ruangan yang saturasi debunya tinggi ini memerlukan aromatik yang lebih bermartabat. Ini adalah pengingat akan identitas kasta Anda yang sebenarnya," Siska melangkah masuk tanpa menunggu izin, meletakkan vas besar itu di atas meja kayu di tengah ruangan, tepat di bawah ventilasi udara yang mengarah ke tempat tidur.
Nayara yang berdiri di dekat pintu kamar mendadak mematung. Saat kelopak bunga lilin itu tertimpa cahaya matahari, penglihatan batinnya—Cursed Eye of Truth—menangkap sesuatu yang ganjil. Di mata orang awam, bunga itu sangat indah, namun di mata Nayara, ada aura hitam tipis seperti rambut halus yang keluar dari pusat benang sarinya, merayap pelan mengikuti aliran udara.
"Saturasi aromanya terlalu pekat, Siska. Pindahkan vas itu ke area eksternal. Respirasi saya terganggu," Nayara menutup hidungnya dengan sapu tangan kusam, benda jangkar yang selalu mengingatkannya pada perlindungan sederhana di panti asuhan.
"Eksternal? Anda menyadari valuasi satu tangkai anggrek ini, Nyonya? Nilainya melampaui seluruh biaya operasional warga desa ini dalam setahun," Siska mendengus, tangannya tetap sibuk menata kelopak bunga itu agar aromanya semakin menyebar luas. "Mandat Nyonya Besar adalah memastikan bunga ini berada di sini sebagai bukti bahwa Anda masih berada dalam yurisdiksi otoritas keluarga."
Arkan merasakan tenggorokannya mendadak gatal secara tidak wajar. Sebuah getaran halus muncul di ulu hatinya—resonansi yang biasanya muncul setiap kali Nayara berada dalam bahaya batin. Ia menoleh dan melihat dada Nayara mulai naik turun dengan cepat.
"Siska, evakuasi bunga itu sekarang. Istriku sedang dalam fase pemulihan klinis, dia tidak membutuhkan polusi aroma dalam bentuk apa pun," Arkan memberikan perintah dengan suara rendah yang mengandung ancaman.
"Saya memiliki protokol kaku, Tuan. Jika struktur bunga ini dipindahkan, kediaman utama akan menafsirkannya sebagai sabotase terhadap niat baik keluarga. Apakah Anda ingin logistik panti asuhan itu kembali mengalami malfungsi pengiriman seperti kemarin?" Siska tersenyum tipis, sebuah intimidasi yang dibungkus dengan kesopanan palsu.
Nayara merasakan paru-parunya seolah disiram air panas. Setiap kali ia menghirup aroma manis yang memuakkan dari bunga itu, kepalanya terasa berdenyut hebat. "Arkan... oksigennya beracun. Ada busuk yang disembunyikan di balik aroma manis ini."
"Jangan mendramatisasi keadaan, Nyonya. Ini kemungkinan hanya intoleransi terhadap standar kemewahan akibat terlalu lama menghirup debu panti," hina Siska sambil mengibaskan tangannya dengan gestur merendahkan.
Arkan melangkah maju, namun langkahnya tertahan saat ia merasakan kakinya mendadak lemas. Melalui ikatan batin yang menghubungkan rasa sakit mereka, ia menyerap serangan sesak napas yang sedang menghantam Nayara. Mata Arkan semakin memerah, sinkron dengan kondisi fisik Nayara yang kini mulai berkeringat dingin dan menggenggam tasbih kayunya hingga butiran kayu itu mengeluarkan bunyi retakan halus.
"Bayu! Ambil tindakan. Evakuasi pelayan ini secara paksa!" Arkan berteriak, suaranya parau karena menahan batuk yang menyiksa.
"Tuan, namun otoritas Nyonya Besar—"
"Aku pemilik kedaulatan di rumah ini! Singkirkan dia!" Arkan mencengkeram tepi meja kayu itu, buku jarinya memutih, mencoba menahan martabatnya agar tidak tumbang di depan pelayan rendahan yang dikirim untuk menghinanya.
Bayu segera menyeruak masuk dan menarik paksa lengan Siska. Pelayan itu berteriak protes, mengancam akan melaporkan kekasaran ini pada High Council, namun Bayu tidak melepaskannya hingga wanita itu terlempar ke halaman. Pintu rumah dibanting keras, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruangan yang kini mulai dipenuhi kabut aroma bunga lilin yang mematikan.
Nayara jatuh tersungkur di atas lantai kayu, tangannya meraba-raba dadanya yang terasa kosong akan oksigen. "Arkan... suplai udara saya... ini adalah eksekusi halus..."
Arkananta tersungkur di samping Nayara, satu tangannya mencengkeram kaki meja sementara tangan lainnya meremas kerah kemejanya sendiri. Resonansi penderitaan itu menghantamnya tanpa ampun; ia merasakan paru-parunya seolah menyempit secara paksa, sinkron dengan napas manual yang sedang diupayakan Nayara. Mata Arkan yang sudah memerah akibat pecah kapiler semalam kini tampak semakin gelap, memantulkan kemarahan yang membeku.
"Nayara... aktivasi pernapasan manual. Jangan biarkan racun ini merusak sistem sarafmu," Arkan mengerang, suaranya parau tertahan di tenggorokan yang terasa gatal seperti ditusuk jarum-jarum halus.
Nayara tidak menjawab verbal. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan, menciptakan bekas luka melingkar yang memutih sebagai upaya mengalihkan rasa sesak di dadanya. Dalam pandangan mata batinnya yang kian menajam, ia melihat bunga-bunga lilin itu seolah berdenyut, memompakan esensi hitam yang kini menyelimuti ventilasi ruangan. Ia meraih tasbih kayu yang permukaannya terasa kasar dan kusam, mencoba mencari jangkar spiritual di tengah serangan yang merusak sarafnya.
"Sialan," umpat Arkan. Ia memaksakan diri berdiri meski persendiannya yang meradang akibat suhu nol derajat semalam memprotes hebat. Ia meraih jas hitamnya yang tersampir di kursi—benda yang masih menyimpan sisa bau asap kayu bakar—dan menggunakannya untuk membungkus vas kristal itu tanpa menyentuh batangnya secara langsung.
"Tuan! Biarkan saya yang menetralisir area!" Bayu berteriak dari balik pintu yang tertutup, suaranya terdengar cemas.
"Tetap di posisi luar, Bayu! Kontaminasi ini berbahaya bagi sistemmu!" Arkan memberi komando dengan otoritas yang tak terbantahkan. Ia mengangkat vas besar itu dengan otot lengan yang menegang hebat.
Saat vas itu terangkat, Nayara melihat melalui Truth Eye-nya bahwa sumber kegelapan bukan hanya berasal dari kelopak bunga, melainkan dari dasar air yang berwarna keruh keunguan di dalam kristal tersebut. "Arkan... di bawah substrat air... ada agen aktif yang disembunyikan di bawah akar!"
Arkan tidak membuang waktu. Ia membawa vas itu menuju pintu belakang dan membantingnya ke arah tumpukan batu di halaman belakang dengan kekuatan penuh.
PRANG!
Suara kristal yang pecah berserakan diiringi dengan aroma kimia tajam yang meledak ke udara terbuka. Air di dalam vas itu menguap seketika saat menyentuh tanah merah, meninggalkan noda hitam yang membakar rumput di sekitarnya. Begitu vas itu hancur, Arkan merasakan cengkeraman di ulu hatinya perlahan melonggar. Di dalam rumah, Nayara terbatuk hebat, mengeluarkan sisa hawa menyesakkan dari paru-parunya.
Arkan kembali masuk dengan langkah goyah, mendekati Nayara yang masih bersimpuh di lantai. Ia membantu istrinya duduk, menyandarkan punggung wanita itu ke dinding bata merah yang jujur dan dingin. "Normalisasi napasmu, Nayara. Filtrasi udara dari luar sudah mulai masuk."
"Mereka mengeksekusi rencana terminasi tanpa kontak fisik, Arkan," bisik Nayara, bibirnya yang pucat gemetar namun punggungnya tetap tegak. "Nyonya Besar ingin saya terhapus sebagai insiden alergi, bukan martir politik."
"Dia gagal mengkalkulasi integritas sumsum tulangku, dan dia meremehkan ketajaman visimu," Arkan mengusap keringat dingin di dahi Nayara. Matanya kemudian tertuju pada reruntuhan vas di halaman. Di antara pecahan kristal dan batang bunga yang hancur, terlihat sebuah benda kecil yang tidak ikut pecah: sebuah amplop cokelat kedap air yang terikat di dasar vas.
Arkan melangkah keluar, memungut amplop itu dengan ujung jarinya. Bau debu masa lalu mendadak menyeruak saat ia merobek segelnya. Di dalamnya, terdapat sebuah foto kusam yang warnanya sudah menguning di sudut-sudutnya. Foto itu menunjukkan seorang bayi yang dibalut selimut biru sederhana di depan gerbang kayu panti asuhan "Cahaya Sauh".
Nayara, yang sudah bisa berdiri meski masih lemah, mendekat dan menatap foto itu. Seketika, tubuhnya menegang. Jemarinya gemetar hebat saat menyentuh permukaan foto yang kasar. "Ini... dokumen visual yang hilang itu."
"Identifikasi foto ini, Nayara," Arkan menatap istrinya dengan penuh selidik.
"Ibu Fatimah memberikan testimoni bahwa ada satu bukti visual yang tertinggal saat saya dievakuasi di depan panti. Namun bukti itu lenyap dalam insiden kebakaran sepuluh tahun lalu," Nayara menatap Arkan dengan tatapan kosong yang dalam. "Bagaimana mungkin aset ini berada di bawah kontrol keluarga Anda? Mengapa Nyonya Besar memiliki arsip pribadi saya?"
Arkan membalik foto itu. Di bagian belakang, terdapat tulisan tangan dengan tinta hitam yang kaku: Property of Empire Business - Unit 0. Jangan biarkan darah ini bercampur dengan Terra.
"Aset Empire Business... Unit Nol?" Arkan membacanya dengan rahang yang mengeras. "Ini bukan sekadar memorabilia, Nayara. Ini adalah koordinat identitas rahasia yang mereka gunakan untuk menjamin kontrol absolut atas dirimu. Racun ini dikirim untuk mengingatkan bahwa eksistensimu adalah properti High Tower."
Nayara memejamkan mata, meraba tasbihnya. Resonansi antara mereka kini dipenuhi oleh rasa dingin yang berbeda—bukan dinginnya es, melainkan dinginnya kenyataan tentang konspirasi pembuanganya yang melibatkan struktur Empire Group.
"Fase defensif kita berakhir di sini, Arkan," ucap Nayara, suaranya kini terdengar jernih dan tajam, tanpa ada lagi sisa sesak. "Jika mereka menggunakan data ini sebagai ancaman, maka saya akan menggunakan identitas ini sebagai senjata untuk meruntuhkan fondasi mereka."
Arkan menatap foto itu, lalu menatap istrinya. Ia menyadari bahwa serangan racun hiasan ini telah gagal menghancurkan martabat Nayara; sebaliknya, serangan ini justru mengaktivasi kesadaran identitasnya. Pembangunan karakter Nayara telah bergeser—dari figur yang bertahan menjadi subjek yang siap merebut kembali hak kedaulatannya.
"Bayu!" panggil Arkan dengan suara yang membelah keheningan pagi.
"Instruksi, Tuan?" Bayu muncul dari balik dinding, wajahnya penuh kesiagaan.
"Netralisir sisa kontaminasi ini. Dan aktivasi protokol komunikasi terenkripsi. Kita tidak akan membalas dengan bunga liar," Arkan melirik Nayara, sebuah senyum tipis yang dingin muncul di wajahnya. "Kirim pesan bahwa 'Unit Nol' telah terbangun dari tidurnya."
Nayara menggenggam tangan Arkan. Di pergelangan tangan Arkan, jarum jam perak itu kembali berdetak, namun kali ini detaknya terasa lebih berat, seolah setiap detiknya sedang menghitung mundur menuju kehancuran marmer High Tower. Di Desa Sunyi ini, di bawah sinar matahari yang mulai menghangat, mereka menyadari bahwa konfrontasi sistemik yang sesungguhnya baru saja dimulai dari sebuah vas bunga yang hancur.
1