Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam itu menjadi malam yang terasa canggung sekaligus penuh rasa asing bagi Romeo dan Alya. Untuk pertama kalinya, mereka berbaring di ranjang yang sama. Di antara mereka, dua bocah kecil terlelap dengan wajah ceria, senyum polos masih menggantung seolah menjadi jembatan sunyi yang memisahkan sekaligus menyatukan keduanya.
"Pa… boleh nggak kita sering-sering tidur bareng begini?Serena baru tahu ternyata rasanya hangat ya, tidur dengan keluarga yang utuh.” suara Serena terdengar pelan namun jujur. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar sang ayah.
Romeo yang mendengar curahan hati putrinya merasa seakan dadanya dihantam keras. Kesadaran itu datang begitu menyakitkan sejak kecil, kedua putrinya tumbuh tanpa pernah benar-benar mengenal sosok ibu. Tak ada pelukan hangat, tak ada suara lembut yang menemani tidur mereka. Yang mereka miliki hanyalah cerita-cerita yang ia rangkai sendiri dan potret usang yang selalu ia tunjukkan, seolah gambar itu cukup untuk menggantikan kehadiran seorang ibu dalam hidup mereka.
Di sisi lain, Alya yang mendengar tutur kata Serena ikut larut dalam kesedihan yang menyesakkan. Hatinya terenyuh betapa tragisnya, di usia yang masih begitu belia, Serena baru kini mengenal arti keutuhan sebuah keluarga, sesuatu yang seharusnya menjadi bagian dari hidupnya sejak awal.
“Pa… Bu…” panggil Serena lirih. Suaranya ragu, matanya menunduk cemas, takut jika satu kata saja dari bibir kecilnya itu justru melukai perasaan kedua orang tuanya.
“Iya, Nak.” sahut keduanya serempak, nada suara mereka lembut dan penuh perhatian.
“Pa,Bu… maaf.” bisik Serena pelan, suaranya nyaris tak terdengar, sarat rasa takut dan penyesalan.
Serena diliputi rasa bersalah setelah tanpa sengaja mengungkapkan isi hatinya. Syukurlah Selina sudah terlelap, jika tidak, entah kata-kata apa lagi yang akan meluncur dari mulut kembarannya itu dan menambah sesak suasana.
“Maafkan Papa, ya…” ucap Romeo pelan, suaranya sarat penyesalan dan rasa bersalah yang tak mampu ia sembunyikan.
Romeo tak pernah menyangka bahwa ketidak mampuannya membuka hati untuk perempuan lain justru membuat anak-anaknya tumbuh dengan ruang kosong kehilangan sentuhan dan kasih sayang seorang ibu yang seharusnya mereka rasakan sejak kecil.
“Tidur dulu, ya, Nak. Besok kamu harus sekolah,nanti pagi Ibu buatkan sushi kesukaanmu. Kamu mau, kan?” ujar Alya lembut sambil mengusap kepala Serena.
“Iya, Bu.” jawabnya patuh sambil mengangguk kecil, matanya perlahan terpejam.
Serena pun segera memejamkan matanya. Kedua lengannya melingkar erat di tubuh Alya, seakan takut bila perempuan itu akan pergi dan meninggalkannya, seperti bayangan tentang ibu yang selama ini hanya ia kenal dari cerita.
“Maaf…” bisik Romeo lirih, suaranya hampir tenggelam oleh rasa sesal yang memenuhi dadanya.
Alya memilih diam, mengira ucapan Romeo barusan bukan ditujukan kepadanya, melainkan pada dirinya sendiri yang sedang diliputi penyesalan.
“Bertahanlah lima tahun lagi… demi kedua putriku,setelah itu, aku akan menyerahkan semua yang menjadi hakmu ketika kita berpisah. Aku menyesal pada mereka aku gagal memberi kasih sayang seorang ibu. Dan aku mengakuinya… mereka terlihat begitu nyaman bersamamu, mereka menyayangimu dengan tulus.” ucap Romeo lirih.
Sejak pertama kali Tuan mengajakku menikah, yang ada di benakku hanyalah si kembar,awalnya aku menerima pernikahan ini karena Tuan telah melunasi seluruh utang Papa. Namun pada akhirnya, tetap mereka yang menjadi alasanku.Tuan… aku menyayangi mereka seperti anakku sendiri. Dan demi mereka pula, aku memilih bertahan.” ucap Alya lirih.
Rasa bersalah kembali menghantam Romeo. Ia sadar telah terlalu sering bersikap dingin dan kejam pada istrinya sendiri. Benarkah Alya setulus dan sebaik ini? Pertanyaan itu berputar di benaknya, membuat hatinya kian sesak.
“Hm… terima kasih.” ucap Romeo singkat, suaranya rendah namun terdengar tulus.
Akhirnya, keduanya pun terlelap, hanyut dalam dunia mimpi masing-masing, menikmati keheningan malam yang terasa berbeda malam pertama mereka berbagi ruang dan kehangatan tanpa kata.
Pagi menyapa dengan hangat, sementara dua insan yang saling berpelukan justru mengeratkan dekapan mereka. Entah bagaimana awalnya, kini Alya dan Romeo terbaring di tengah ranjang, saling merangkul dalam keintiman yang tenang. Bocah kecil yang semalam berada di antara mereka rupanya sudah lebih dulu kembali ke kamarnya, meninggalkan ruang sunyi yang terasa berbeda pagi itu.
“Uh…” desah Alya pelan, matanya masih terpejam, suaranya lebih menyerupai keluhan kantuk saat baru terbangun.
Saat itu Alya baru menyadari ada beban asing menekan perutnya. Belum lagi kedua kakinya yang terasa kaku, seolah terikat dan tak mampu digerakkan. Jantungnya berdegup kencang, kepanikan merayap cepat dalam dadanya. Berbagai pikiran buruk menyerbu ia takut tubuhnya lumpuh, atau lebih buruk lagi, ia telah kehilangan kesadaran selamanya.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia memaksa kelopak matanya terbuka. Rasa takut mencengkeram kuat ia khawatir apa yang akan dilihatnya bukan lagi dunia yang ia kenal, melainkan keheningan abadi yang selama ini hanya ia dengar dari cerita tentang alam baka.
“Ini… di mana?” gumamnya lirih, matanya menatap langit-langit yang terasa asing baginya.
Deg!
Kedua matanya sontak membelalak. Alya baru menyadari bahwa dirinya berada di kamar suaminya. Perlahan, ia menoleh ke samping dan mendapati Romeo terbaring di dekatnya, masih terlelap dengan wajah tenang.
Cukup lama Alya memandangi wajah itu hingga tanpa sadar ia mengakui satu hal suaminya teramat tampan. Alis hitam tebal membingkai wajahnya dengan tegas, bulu mata lentik yang tak seharusnya dimiliki seorang pria justru menambah pesonanya. Jambang halus menghiasi rahang kokoh itu, sementara lekuk mata hazel milik Romeo tampak memikat bahkan saat terpejam.
“Apa yang sebenarnya terjadi…? Di mana si kembar?” teriak Alya dalam hati, kepanikan perlahan menguasai pikirannya.
Dengan penuh kehati-hatian, Alya berusaha menyingkirkan lengan kekar yang melingkari perutnya. Berat terlalu berat hingga napasnya sempat tertahan, dada terasa sesak saat ia memaksakan diri untuk melepaskan dekapan itu.
“Ya Tuhan…” erangnya kesal dalam hati, rasa panik dan jengkel bercampur jadi satu.
Alya kembali berusaha mengangkat lengan kekar suaminya yang masih melingkar erat. Belum lagi kedua kakinya yang terasa terkunci, membuat ruang geraknya begitu terbatas. Ia nyaris tak punya celah untuk melepaskan diri dari dekapan Romeo yang terlalu kuat itu.
Tiba-tiba Alya merasakan tubuh Romeo bergerak pelan. Tak ingin disalahpahami seolah memanfaatkan keadaan, ia segera memejamkan mata dan berpura-pura masih terlelap, menyesuaikan posisinya seakan-akan sejak awal dialah yang lebih dulu berada dalam pelukan erat suaminya.
“Sial… aku kesiangan.” gumam Romeo dalam hati, nada kesalnya terselip di antara kesadaran yang baru sepenuhnya bangun.
Tak lama kemudian, Romeo pun merasakan hal yang sama saat membuka mata kehangatan yang asing namun menenangkan. Sebuah momen sederhana yang seolah dirayakan semesta, ketika dua insan terlelap dalam pelukan pasangannya, menghadirkan kedamaian yang bahkan disukai para malaikat.
“Sial… aku memeluknya.” umpat Romeo dalam hati, jantungnya berdegup lebih cepat saat kesadaran itu menghantamnya.
Kepalanya menoleh ke sana kemari, mencari keberadaan kedua putrinya. Namun sayangnya, Romeo tak menemukan tanda-tanda kehadiran dua anak itu di sekitar mereka.
Dengan penuh kehati-hatian, Romeo perlahan melepaskan diri dari dekapan Alya. Ia merasa misinya berhasil,berhasil bangkit tanpa mengusik tidur sang istri. Padahal, tanpa ia sadari, Alya telah terjaga sejak tadi dan menyadari setiap gerakannya.
“Hah… akhirnya.” ucap Romeo lega, menghembuskan napas panjang setelah berhasil menjauh.
“Dia tidur di ranjang kita, Zalina.” bisik Romeo lirih, suaranya mengandung keterkejutan yang bercampur perasaan tak terduga.
Selama ini Romeo selalu menjaga kamar tidurnya agar tak tersentuh oleh siapa pun. Ruang itu baginya terlalu sakral untuk dibagi. Namun kini, tanpa ia duga, justru istrinya sendiri yang tengah menikmati ranjang yang selama ini hanya ia pertahankan untuk kenangan dan kesunyian.
Tak ingin berlarut-larut, Romeo akhirnya memutuskan untuk membangunkan Alya, mengusir kegelisahan yang sejak tadi menggelayuti pikirannya.
“Tidurnya nyenyak, ya, Tuan Putri?” sindir Romeo pelan, nada suaranya terdengar datar namun menyimpan godaan halus.
Alya yang sejak tadi sebenarnya sudah terjaga tentu saja merasa gugup. Namun sebisa mungkin ia menenangkan diri, berpura-pura terkejut saat perlahan membuka mata, seolah baru saja terbangun dari tidur lelap.
“Ah… maafkan aku, Tuan.” cicit Alya lirih, nada suaranya dibuat-buat seolah benar-benar baru terbangun.
“Hm, pergilah. Biarkan aku sendiri.” ujar Romeo dingin sambil mengibaskan tangannya, jelas memberi isyarat agar Alya segera pergi.
Alya pun segera bangkit, menuruni ranjang milik suaminya dengan gerakan cepat, seolah tak ingin berlama-lama berada di sana.
“Suruh pelayan segera mengganti seprai ini.” perintah Romeo dingin, matanya mengikuti langkah Alya yang sudah berdiri dan hendak meninggalkan kamar.
Alya langsung melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Yang terpenting baginya saat ini hanyalah satu ia akhirnya terbebas dari kehadiran Romeo, setidaknya untuk pagi ini.
“Apa ini sebenarnya… perasaan apa?Dia terlihat… terlalu cantik.” teriak Romeo dalam hati,batinnya gelisah, dadanya terasa berdesir tanpa alasan yang jelas.
Baru saat itu Romeo menyadari bahwa Alya tampak begitu cantik dalam keadaan alami tanpa polesan apa pun, pesonanya justru semakin nyata saat baru terjaga dari tidur.
“Gue harus nyadarin diri gue sendiri,jangan sampai otak dan mata gue keliru… apalagi sampai jatuh suka sama dia.” gumam Romeo dalam hati.
Satu jam kemudian, Romeo dan Alya kembali bertemu di meja makan. Suasana terasa lebih tenang, keduanya tampak menikmati sarapan pagi itu dengan sikap yang jauh lebih santai dari sebelumnya.
“Kalian ke mana saja semalam, hm?” tanya Romeo sambil menahan ekspresi, suaranya terdengar santai namun menyimpan selidik halus.
“Kami tidur di kamar kami Pa.” jawab Selina ringan, nadanya santai seolah itu hal paling biasa.
“Pa… sudah ada adiknya buat kami belum?” tanya Selina polos, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
“A-adik…?” gumam Romeo terbata, suaranya terdengar kaget seolah kata itu baru saja menghantam kesadarannya.