Anastasya atau biasa dipanggil Ana, seorang wanita berusia 24 tahun yang tengah mengejar gelar S1.
Pertemuan pertamanya dengan seorang laki laki membuat hidup Ana berubah. Nathaniel Francisco, seorang dosen berusia 30 tahun yang terobsesi dengan dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Setelah pulang kampus Ana dan Reyhan pergi untuk menonton film, Ana mematikan ponselnya agar Nathan tidak bisa menghubungi dirinya.
" Kalau gue boleh tau Na, lo kenapa putus sama pacar Lo ? Bukannya kalian pacaran udah lama banget ya "
" Gue ngeliat dia tidur sama cewe lain Rey, ya mungkin itu juga cara tuhan buat jauhin gue sama dia "
" Gila ya Na, ko dia bodoh banget. Harusnya dia itu beruntung punya pacar kayak lo Na, kalau gue sih ga bakal deh Na "
" Gue ga se sepesial itu Rey "
Reyhan mengantri untuk membeli tiket, karena film akan segera dimulai Ana dan Reyhan pun segera masuk kedalam.
Ana dan Reyhan duduk dibarisan tengah, keduanya sudah siap untuk menonton film.
Sesekali Reyhan melirik kearah Ana yang tengah fokus menatap lurus kearah layar, Reyhan nampak tersenyum bisa pergi bersama dengan Ana.
" Na.. " panggil Reyhan
" Ya, kenapa Rey ? "
" Gue boleh ga kenal lo lebih jauh dan lebih dekat lagi Na "
" Maksudnya? "
" Gue.. Gue suka Na sama lo "
Mendengar hal itu tentu membuat Ana tak bisa menjawab apapun, ia sendiri bingung harus menjawab apa.
...
Berkali-kali Nathan mencoba menghubungi Ana, tapi sayangnya nomor Ana tidak dapat dihubungi.
Nathan mencoba bertanya kepada Fitri, tapi sayang Fitri tidak mengetahui soal Ana.
" Kemana sih kamu Na, kenapa ga bisa di hubungin gini sih " ucap Nathan khawatir
Nathan melihat jam yang sudah hampir menunjukkan pukul 3 sore, sebentar lagi Ana akan kerja part time di cafe biasa.
Nathan pun tanpa pikir panjang langsung pergi menuju tempat Ana bekerja.
...
Selesai menonton Ana diantar oleh Reyhan pergi ke cafe tempat ia bekerja, begitu sampai Ana langsung masuk kedalam untuk bekerja.
" Makasih ya Rey " ucap Ana
" Sama sama Na, makasih juga buat hari ini "
Ana mengangguk dan kemudian Reyhan pergi dari cafe tersebut.
" Cie Ana, siapa tuu " ucap Mba Ayu saat melihat Ana yang diantar oleh Reyhan
" Teman mba "
" Teman atau teman "
" Teman, beneran deh. Oiya mba, kalau ada yang cari aku bilang aja aku ga kerja ya mba "
" Loh kenapa ? Siapa emangnya? "
" Ya pokoknya kalau ada yang cari aku bilang aja ga ada, bilang ke yang lain juga "
" Yaudah iya, oke Na "
Ana dan Mba Ayu segera bersiap untuk memulai pekerjaannya, sampai saat ini Ana belum juga menyalakan ponselnya.
Nathan pergi ke cafe untuk mencari keberadaan Ana, ia pun bertanya kepada salah satu pelayan tentang Ana.
" Permisi Ana ada ? " tanya Nathan
" Ana ga masuk hari ini "
" Ga masuk ? "
" Iyah ga masuk, kenapa yah Mas ? "
" Engga apa apa, makasih ya "
" Sama sama "
Nathan merasa kebingungan, ia pun akhirnya duduk di sudut bangku sambil mencoba menghubungi Ana.
" Na, tadi ada yang cari kamu " ucap Mba Ayu
" OHH terus mba bilang aku ga ada kan ? "
" Iyaah, terus kayaknya sih pergi ya dia "
" Oke mba, makasih ya "
Ana akhirnya lega, ia pun bisa dengan leluasa bekerja malam ini.
Ana mulai melayani setiap pengunjung yang datang, dengan senyum ramahnya ia mulai menghampiri satu persatu meja.
" Na, dipanggil sama si bos " ucap Bayu
" Bos ? Maksudnya pemilik cafe yang baru ? "
" Iyah Na, katanya ada pengunjung yang komplen soal kamu "
" Ohh iya Mas Bayu, makasih infonya "
Segera Ana pergi menuju ruang direktur, sebelum masuk Ana pun mengetuk pintu lebih dulu.
" Permisi Pak " ucap Ana sambil mendorong handle pintu itu
" Jadi kamu sengaja menghindar dari aku Na ? " ucap seseorang yang Ana hafal betul siapa
" Nathan " ucap Ana terkejut
Nathan berbalik badan, Ana pun dibuat terkejut oleh laki-laki itu.
" Jadi cafe ini kamu yang beli ? "
" Iyah, aku tadinya gamau Na kamu tau soal ini. Tapi kamu malah kerjasama dengan yang lain "
" Aku harus kerja Nat, aku ga punya waktu buat ngobrol sama kamu "
" Kamu kenapa sih Na ? Kamu kenapa menghindar dari aku ? "
" Aku ga menghindar"
" Kenapa hp kamu ga bisa aku hubungi? Aku tuh khawatir Na "
" Gimana rasanya Nat ? Gimana rasanya khawatir dan ga bisa di hubungi? Ga enak kan ? "
" Ana, dengerin dulu aku bisa jelasin ke kamu Na "
" Jelasin apa Nathan ? Aku denger ko kalau tadi kamu ngomong sama perempuan, kamu antar kemana dia semalam ? "
" Oke aku salah Na aku salah, jadi semalam itu aku ga sengaja nabrak Desi dia itu orang bagian TU. Dan aku bawa dia ke rumah sakit semalam Na "
" Aku ga tau kalau hp aku mati, jadi aku cas hp aku dulu. Saat aku datang ternyata kamu udah pulang, aku tau aku salah Na "
" Aku berani sumpah Na, aku ga bohong sama kamu "
Ana terdiam, Ana merasa sedikit bersalah karena tidak mendengar penjelasan Nathan.
Tok.. Tok.. Tok..
" Ya Masuk " ucap Nathan saat mendengar suara ketukan pintu
Pintu perlahan terbuka, Bayu datang dengan membawa sebuah dompet.
" Maaf pak ganggu, ini ada titipan untuk Ana tadi dari Reyhan. " ucap Bayu sambil memberikan kepada Ana
" Makasih Mas Bayu " ucap Ana dan Bayu kembali menutup pintu ruangan itu
Kini Ana harus menghadapi masalah baru, Nathan sudah menatap dirinya seolah menunggu Ana menjelaskan sesuatu.
" Jadi kamu pergi sama Reyhan tadi ? "
" Ya aku cuma pergi main aja ga lebih "
" Kemana ? Kenapa sampai ga aktifin hp kamu Na ? "
" Aku cuma pergi nonton Nat "
" Nonton berdua dengan lawan jenis ? kamu serius Na, disaat kita udah pacaran kamu jalan sama cowo lain ? "
" Ya karena aku mikir kamu aja bisa kenapa aku engga "
Nathan terkekeh, ia melipat lengan panjangnya.
" Kamu ada ga Na dengerin penjelasan aku ? "
" Ya tapi emang kamu ga jelasin tadi malam Nat "
" Ya karena kamu ga kasih aku waktu buat jelasin Na, terus karena hal itu kamu membalas dengan jalan sama cowo lain Na ? nonton sama cowo lain loh Na "
" Ya aku cuma nonton biasa aja Nat "
" Ya mana aku kalian cuma nonton biasa Ana, aku gatau kalian disana ngapain. "
" Maksudnya disana ngapain itu apa ya Nat ? Kamu mikir apa aku sama Reyhan ? Kamu berpikir kalau aku ciuman? Pelukan ? Mesra mesraan ? Apa aku serendah itu Nat dipikiran kamu ? "
Air mata Ana mulai mengalir membasahi wajahnya, sesekali ia mengusap dengan tangannya.
" Harusnya emang aku ga nerima secepat ini Nat, ternyata serendah itu aku Dimata kamu "
Ana keluar dari ruangan Nathan sebelum Nathan menjawab, sedangkan Ana ia kini memilih untuk berdiam di toilet untuk melampiaskan tangisnya.
Baik Ana maupun Nathan kini keduanya tengah diliputi rasa amarah, keduanya butuh waktu untuk memperbaiki semuanya.