NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Kota Batu Merah dan Hukum Emas

Matahari ungu menggantung tinggi di langit, memanggang daratan tandus di luar Hutan Kristal. Panas di Alam Dewa ini tidak membakar kulit seperti api, melainkan menekan jiwa, membuat siapa pun yang memiliki kemauan lemah merasa ingin berlutut dan menyerah.

Ye Chen dan Lilith berdiri di balik sebuah bukit batu, menatap ke arah lembah di depan mereka.

Di sana, terletak sebuah kota benteng yang kokoh. Dindingnya terbuat dari batu bata merah raksasa setinggi seratus meter, dipenuhi rune pertahanan yang berkedip-kedip.

Kota Batu Merah (Red Stone City).

Kota ini adalah pos terdepan bagi peradaban di wilayah pinggiran ini. Tempat berkumpulnya pemburu, pedagang budak, dan kultivator liar yang mencari keberuntungan di hutan berbahaya.

"Kita tidak bisa masuk dengan penampilan seperti ini," kata Ye Chen, melihat jubahnya yang compang-camping dan Lilith yang sayapnya masih terlihat meski sudah sembuh.

"Di dunia ini, Ascender (Pendaki dari dunia bawah) dianggap sebagai komoditas, bukan manusia," lanjut Ye Chen. "Jika kita ketahuan baru naik, kita akan dirantai dan dijual."

Lilith menyentuh wajahnya. "Aku bisa menggunakan sihir ilusi untuk menyamarkan tanduk dan sayapku. Tapi aura iblisku... sulit disembunyikan di hadapan Spirit Severing tingkat tinggi."

"Aku akan menutupinya," kata Ye Chen.

Ye Chen meletakkan tangannya di bahu Lilith.

"Sutra Jantung Cermin Hantu: Selubung Maya."

Ye Chen melapisi tubuh Lilith dengan lapisan tipis Qi Dewa yang baru saja dia konversi (meski baru 10%). Lapisan ini meniru aura alam sekitar, membuat Lilith terasa seperti kultivator manusia biasa dengan elemen kegelapan, bukan ras iblis murni.

"Untukku..." Ye Chen mengambil jubah abu-abu milik pembunuh yang dia bunuh sebelumnya. Dia merobek lambang "Mata Menangis" di jubah itu agar tidak dikira anggota organisasi tersebut.

Dia mengenakan jubah itu, menarik tudungnya rendah.

"Ayo. Kita masuk sebagai Pemburu Liar."

Gerbang Kota Batu Merah.

Antrean masuk cukup panjang. Kebanyakan adalah karavan pedagang yang membawa bijih tambang atau bangkai binatang buas.

Di gerbang, satu regu prajurit berbaju zirah merah berjaga. Mereka memegang tombak yang ujungnya memancarkan panas.

Kapten penjaga, seorang pria bermata satu dengan aura Spirit Severing Tingkat 2, memeriksa setiap orang dengan kasar.

"Kau! Apa isi gerobakmu?! Buka!"

"Hanya kulit kadal, Tuan..."

"Pajak masuk 5 Batu Dewa! Kalau tidak punya, tinggalkan satu tanganmu!"

Kekejaman adalah norma di sini. Ye Chen melihat seorang Ascender yang ketahuan menyamar langsung dipukul hingga lumpuh dan diseret ke kandang budak di samping gerbang.

Giliran Ye Chen dan Lilith tiba.

Kapten penjaga menatap mereka curiga. Aura Ye Chen (yang sengaja ditekan ke Spirit Severing Tingkat 1 Awal) terasa asing dan dingin.

"Identitas?" bentak Kapten.

"Pengembara," jawab Ye Chen, suaranya serak. "Kami datang menjual hasil buruan."

"Pengembara? Hah, banyak Ascender mengaku begitu," Kapten itu meludah. "Buka tudungmu!"

Ye Chen perlahan membuka tudungnya sedikit, memperlihatkan wajah datarnya dan mata yang tajam. Dia tidak menunjukkan rasa takut.

"Kami baru saja keluar dari Hutan Kematian," kata Ye Chen. "Kami membawa ini."

Ye Chen mengeluarkan Kaki Semut Api Merah yang dia simpan. Kaki itu besar, tajam, dan masih memancarkan aura Tingkat 5.

Mata Kapten penjaga melebar.

"Semut Api Merah? Itu binatang buas Tingkat 5! Kalian membunuhnya?"

"Kami menemukan bangkainya dan mengambil sisanya," bohong Ye Chen mulus. "Apakah ini cukup untuk pajak masuk?"

Kapten itu menatap kaki semut itu dengan tamak. Material itu bernilai setidaknya 100 Batu Dewa.

"Lumayan," Kapten itu menyeringai. Dia merampas kaki semut itu. "Ini cukup untuk biaya masuk. Tapi rekan wanitamu..." Dia menatap Lilith dengan pandangan melecehkan. "...Harus diperiksa badannya. Siapa tahu dia menyembunyikan senjata."

Tangan Kapten itu hendak menyentuh dada Lilith.

Mata Ye Chen berkilat dingin.

GRAB!

Ye Chen mencengkeram pergelangan tangan Kapten itu.

Suasana menegang seketika. Para prajurit lain mengarahkan tombak mereka.

"Lepaskan tanganmu, Bocah!" teriak Kapten. Dia mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman Ye Chen sekeras catut besi Tulang Emas.

"Dia milikku," kata Ye Chen pelan, melepaskan sedikit Niat Membunuh Asura. "Dan aku tidak suka barangku disentuh."

Kapten itu merasakan dingin merambat di punggungnya. Niat membunuh itu... bukan milik pemula. Itu milik seseorang yang sudah membunuh ribuan nyawa.

Kapten itu sadar, membuat keributan dengan pemburu yang bisa bertahan hidup di Hutan Kematian mungkin tidak sepadan dengan risikonya.

"Cih. Posesif sekali," Kapten itu menarik tangannya saat Ye Chen melepaskannya. "Masuklah! Jangan bikin onar di dalam!"

Ye Chen dan Lilith berjalan melewati gerbang.

"Terima kasih, Tuan," bisik Lilith.

"Jangan lengah," kata Ye Chen. "Kota ini adalah sarang penyamun."

Distrik Perdagangan.

Kota Batu Merah padat dan bising. Bangunan-bangunannya terbuat dari batu merah kasar, rendah dan kokoh untuk menahan gravitasi.

Ye Chen berjalan mencari toko untuk menukar barang jarahannya menjadi Batu Dewa (uang) dan Pil Kultivasi.

Dia melihat sebuah bangunan tiga lantai yang cukup megah dengan papan nama: "Paviliun Harta Gurun".

"Ini terlihat cukup bonafide," kata Ye Chen.

Mereka masuk.

Di dalam, rak-rak kaca memajang berbagai artefak dan bagian tubuh monster.

Seorang pelayan wanita menghampiri. "Selamat datang. Membeli atau menjual?"

"Menjual," kata Ye Chen.

Dia dibawa ke meja penaksiran. Seorang pria tua berkacamata tebal duduk di sana.

Ye Chen tidak ragu. Dia mengeluarkan semua hasil buruannya: Sisa cangkang Semut Api, taring Void Hound, dan pedang lengkung milik pembunuh bayaran yang dia bunuh.

Pria tua itu memeriksa barang-barang tersebut. Awalnya dia bosan, tapi saat melihat pedang lengkung itu, matanya menyipit.

"Pedang ini..." Pria tua itu menatap Ye Chen. "Ini tempaan khas Organisasi Mata Satu. Kau membunuh salah satu dari mereka?"

Suasana menjadi berat. Organisasi pembunuh itu ditakuti di kota ini.

"Aku menemukannya di mayat di hutan," jawab Ye Chen tenang. "Apakah kau beli atau tidak?"

Pria tua itu menatap Ye Chen lama, lalu tersenyum licik.

"Kami pedagang. Kami beli apa saja, asalkan menguntungkan. Kami tidak bertanya asal-usul."

"Total 3.000 Batu Dewa Rendah."

Harga itu mungkin sedikit rendah, tapi Ye Chen butuh uang cepat dan tidak ingin tawar-menawar yang menarik perhatian.

"Sepakat."

Ye Chen menerima kantong uang itu.

"Satu lagi," kata Ye Chen. "Aku butuh peta wilayah ini dan informasi tentang Sekte Besar terdekat yang menerima murid luar."

Pria tua itu memberikan gulungan peta.

"Untuk sekte... yang terdekat dan terkuat adalah Sekte Pedang Bintang Jatuh (Fallen Star Sword Sect). Mereka menguasai wilayah utara. Tapi seleksi mereka sangat ketat. Hanya jenius yang sudah mencapai Spirit Severing di bawah umur 30 tahun yang diterima."

"Terima kasih."

Ye Chen dan Lilith keluar dari toko.

Sekarang dia punya uang. Langkah selanjutnya adalah mencari penginapan yang aman untuk melanjutkan Konversi Qi Dewa. Dia baru 10%. Dia butuh mencapai 100% untuk memulihkan kekuatan tempur penuhnya.

Namun, saat mereka berjalan di gang sepi menuju distrik penginapan...

Ye Chen berhenti.

Dia merasakan sesuatu di dalam Cincin Penyimpanan-nya.

Cincin milik pembunuh bayaran yang dia simpan tadi... bergetar.

"Sial," umpat Ye Chen. "Ada segel pelacak di cincin itu."

Dia terlambat menyadarinya karena struktur segel di Alam Dewa berbeda dengan dunia bawah.

Dari atap-atap gedung di sekitar mereka, lima bayangan mendarat tanpa suara.

Mereka mengenakan jubah abu-abu yang sama dengan pembunuh di hutan. Lambang Mata Satu yang Menangis.

Pemimpin mereka, seorang pria kurus dengan dua pedang pendek, menatap Ye Chen. Aura yang dipancarkannya: Spirit Severing Tingkat 8.

"Kau menjual senjata saudara kami di pegadaian," kata pria itu dingin. "Kau pikir kami tidak tahu?"

Ye Chen menghela napas. Dia mendorong Lilith ke belakang.

"Baru satu jam di kota, sudah ada tamu," kata Ye Chen, tangannya meraba kalung pedangnya.

"Serahkan nyawamu sebagai ganti rugi!"

Kelima pembunuh itu menerjang.

Pertarungan kota pertama Ye Chen dimulai. Dan kali ini, dia tidak bisa menggunakan ledakan besar karena akan memancing penjaga kota. Dia harus membunuh dengan sunyi dan cepat.

"Lilith, ilusi!"

"Siap!"

Lilith melepaskan kabut merah muda tipis.

Ye Chen menghilang ke dalam kabut itu.

Mata Asura menyala dalam kegelapan.

"Perburuan dimulai."

(Akhir - Bab 15)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!