Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 12
"Dasar keras kepala!" kesal Gavin saat mendengar jawaban Ayana atas tawarannya.
Semalaman dia tak bisa tidur karena terus mencoba mencari informasi keberadaan Vania dan keluarganya. Sedangkan Ayana di dalam kamarnya juga sibuk mengatur semua jadwal yang sudah dia buat.
"Bangun nggak? Atau mau ku seret sekalian ke kamar mandi?" kesal Ayana saat beberapa kali membangunkan Gavin tapi pria itu malah betah di bawah selimut.
Sreeeeettttt
bugh
Ayana yang kaget saat melihat Gavin hanya mengenakan celana pendek saja melemparnya dengan bantal.
"Astaga! Apa-apaan sih? Kasar banget sih!", kesal Gavin.
"Lagian kalau tidur pake baju! Ngapain sih tumbenan nggak pake baju segala!", omel Ayana berbalik badan dan mengambil pakaian Gavin.
"Siapa suruh masuk kamar dan buka selimut aku! Lagian aku hari ini nggak kerja! Libur, cuti nikah!" jawab Gavin berjalan santai menuju kamar mandi.
"Ya sudah, kalau begitu aku mau pergi ke kantor karena aku nggak cuti! Pulangnya aku mau pergi ke kost lagi ngambil pakaian lainnya!" jawab Ayana setelah mengganti pakaian yang dia siapkan untuk Gavin.
"Terserahlah!" jawab Gavin.
Ayana pergi menggunakan ojek online karena semalam motor miliknya masih ada di parkiran hotel. Semalam dia sudah meminta anak buahnya membawa motornya ke kantor Davindra.
"Selamat pagi Pak ..." sapa Ayana saat papi Devan baru saja datang ke kantor.
"Loh kamu kok kerja? Gavin mana?" tanya Papi Evan.
"Pak Gavin di rumah dan saya kan nggak cuti Pak. Sehingga saja akan bekerja seperti biasa," jawab Ayana.
"Tidak! Kamu pulang saja! Kalian harusnya menghabiskan waktu bersama!" jawab Papi Evan.
"Fandy, urus cuti untuk Ayana. Samakan dengan hari cuti Gavin! Dan ikut kemanapun suamimu pergi!" perintah Papi Evan membuat Ayana hanya bisa pasrah.
Mana mungkin dia mendebat pemilik perusahaan. Akhirnya Ayana kembali pulang ke rumah dengan menggunakan motor besarnya setelah dia mengambil beberapa pakaian di apartemen.
"Kenapa kamu pulang?" tanya Gavin saat dia sudah bersiap untuk pergi.
"Pak Evan yang memintanya. Dia bilang aku harus pulang dan cutiku juga di samakan dengan jumlah cutimu. Aku juga di minta mengikuti kamu pergi! Mungkin takut anaknya kelayapan ke tempat aneh seperti malam kemarin bersama teman-teman dakjalmu!" jawab Ayana membuat Gavin mendengkus.
"Nggak usah! Kamu di rumah saja jangan ikut kemanapun aku pergi! Aku mau mencari Vania!" jawab Gavin ogah pergi berdua bersama Ayana. Cukup saat mereka bekerja di kantor saja berduaan terus. Belum lagi sekarang mereka harus berdua juga di rumah.
"Mau nyari kemana? Mana mungkin mereka akan Pindah ke tempat yang masih ada di sini dengan uang sebanyak itu yang kamu berikan? Otak kok tumpul banget sih!" ledek Ayana membuat Gavin kesal bukan main.
Gavin akhirnya duduk dengan kesal di sofa, dia mengurungkan diri untuk pergi. Benar juga dia mau mencari kemana? Karena tak ada tujuan jelas mencari keberadaan Vania. Sedangkan Ayana sudah kembali lagi membawa laptop kerjanya. Gavin menaikkan sebelah alisnya saya Ayana kembali pergi dan membawa dua cangkir kopi di tangannya.
"Siapa yang mau kopi?" tanya Gavin.
"Ya sudah kalau nggak mau!" jawab Ayana duduk di karpet dan membuka laptop yang dia simpan di meja.
"Siapa nama kekasihmu dan juga kedua orang tuanya?" tanya Ayana.
"Untuk apa?" tanya Gavin menaikkan sebelah alisnya.
"ck! Kamu mau mencari keberadaan kekasih kesayanganmu yang sudah mencuri itu kan? Mau aku bantu cari atau tidak? Aku juga ingin segera keluar dari rumah ini! Lebih cepat kamu menemukan dia kan lebih baik kan?" jawab Ayana.
"Kamu sepertinya tidak sabaran sekarang ingin segera bebas dari rumah ini!" kesal Gavin.
"Iya lah! Lagian aku tahu maksud kamu menunjukan aku menjadi calon pengantin pengganti dari Vania adalah karena kamu sengaja agar aku juga ikut susah denganmu! Aku nggak punya banyak waktu untuk main-main di sini. Aku sudah di tunggu dengan pekerjaan lain!" jawab Ayana membuat Gavin menggaruk tengkuknya.
Ternyata Ayana paham sekali dengan niat awal dia menunjuk dirinya sebagai calon pengantin Penggantinya kemarin. Gavin memberikan data Vania dan kedua orang tuanya yang dia dapat dari Cakra.
"Memang kamu yakin bisa menemukan keberadaan mereka?" tanya Gavin sedikit ragu saat Ayana sedang sibuk dengan laptopnya.
"Seharusnya mereka belum pergi terlalu jauh dari tempat ini. Kecuali jika mereka sudah mempersiapkannya dari jauh hari. Dan itu artinya kamu sudah masuk ke dalam jebakan mereka!" jawab Ayana tanpa menatap ke arah Gavin, tangan dan matanya tetap fokus dengan laptop di depannya.
"Mana mungkin Vania seperti itu? Aku sangat mengenalnya, aku mengenal dia dari lama. Dia adalah wanita yang baik!" jawab Gavin.
",Ya sudah kita lihat saja nanti kenyataannya seperti apa! Jangan terlalu bo-doh menilai seseorang hanya dari luarnya saja! Bukannya banyak teman kamu yang mengatakan kalau dia bukan wanita baik-baik? Tapi kamu saja yang tutup mata dan telinga! Cinta emang bisa bikin orang pinter bisnis mendadak menjadi otak udang!" jawab Ayana jujur membuat Gavin kesal sekali dan lebih memilih diam, sok sibuk dengan ponselnya, namun matanya tetap curi-curi ke arah Ayana yang tetap fokus dengan laptopnya.
"Apa kamu yakin bisa melacak keberadaan mereka? Aku saja sudah menyewa banyak orang sampai sekarang belum ada satupun yang berhasil menemukan mereka!" cibir Gavin tapi Ayana tak mendengarnya Karen dia sedang dalam mode fokus.