Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Ghibah Tetangga
Bab 11
Ghibah Tetangga
Sekelompok ibu-ibu yang sedang duduk di teras salah satu rumah warga sedang asik mengobrol sambil bersantai menikmati camilan singkong rebus. Ada yang sedang mencari uban, ada juga yang hanya duduk-duduk sambil memperhatikan sekitar.
"Kok rasanya kampung kita ini kenal sial ya? Seumur hidup saya tinggal di sini, Nggak pernah terjadi bencana apapun apalagi kebakaran besar seperti kemarin. Pasti ini karena Tuhan menegur, ada yang berbuat maksiat di kampung ini." Kata Darsih.
"Saya juga sepemikiran sama Mbak Darsih. Apa gara-gara ada si janda itu ya?" Misna ikut nimbrung.
"Nggak mungkin lah, dia disini juga sudah 3 tahun. Tahun-tahun sebelumnya ada dia, baik-baik saja kok." Kata Bu Siti.
"Itu sebelum dia pacaran sama Pak Dika itu. Semenjak dia sama Pak Dika sudah jarang keluar rumah. Ke warung juga nggak mau. Ya kan, Mbak?" Bantah Misna dan minta pendapat Darsih.
"Tapi bukannya Pak Dika itu sudah punya istri ya?" Tanya Bu Darmi
"Kata Bu Murti, Pak Dika sudah cerai sama istrinya." Jawab Bu Siti.
"Kok saya nggak tahu?" Tanya Bu Darmi lagi.
"Bu Murti juga baru seminggu yang lalu tanya ke Pak Dika."
"Oh, pantas."
"Sekali pun Pak Dika sudah cerai, apa pantas orang yang belum menikah tinggal satu rumah?" Kata Misna ikut nyambung lagi percakapan bu Darmi dan Bu Siti.
"Bu Dwi nih yang paling tahu, karena tinggal di sebelahnya." Ujar Bu Darsih.
"Cih! Jijik sama kelakuannya berdua, sok romantis padahal belum suami istri. Sudah tinggal satu rumah pula. Pasti gara-gara mereka ini kampung kita jadi kebakaran." Kata Bu Dwi tampak kesal.
"Bisa jadi itu! Karena dia tahu perbuatannya salah, makanya dia nggak berani keluar rumah." Kata Misna.
-
-
-
Lyra merasa telinganya berdengung sejak tadi. Sesekali ia melihat keluar jendela dari ruang tamunya melihat keadaan sekitar. Lyra ingin ke warung tapi ia ragu. Ia baru saja datang bulan dan stok pembalut miliknya ternyata sudah habis.
Lyra merasa tidak nyaman di area sensitifnya yang basah. Ia terpaksa menggunakan kain bekas untuk menahan agar tidak rembes di pakaian luarnya.
Lyra lalu menelpon Dika agar lelaki itu membelikannya pembalut saat pulang kerja nanti. Tetapi kali ini Dika menolak karena malu harus membeli barang seperti itu.
"Kamu saja lah sayang, masa aku yang beli barang begituan."
"Tapi kan kita pernah beli sama-sama Mas?"
"Beda lah kalau berdua. Kan ada kamu perempuannya. Kalau Mas sendiri ya malu lah, Mas kan laki-laki."
Lyra sedikit kecewa, namun ia pun tidak bisa memaksa.
"Ya sudah lah. Biar aku beli sendiri saja. Aku tutup ya Mas. Assalamualaikum."
Lyra sengaja mempersingkat pembicaraan karena tahu, Dika nantinya malah akan berbicara hal yang lain padahal ia saat ini sangat butuh pembalut. Dika biasanya akan menggoda dirinya dengan kata-kata manja dan menjurus ke arah hubungan intim mereka. Namun Lyra yang terlanjur kesal tak memberi Dika kesempatan seperti biasanya dan menutup telepon tanpa menunggu jawaban salam dari Dika.
Lyra mengatur detak jantungnya sebelum membuka pintu rumah untuk pergi ke warung. Apalagi hanya berjarak beberapa rumah saja, ia bisa melihat para ibu-ibu tetangga sedang berkumpul di teras depan rumah.
"Ah, masa bodoh lah. Toh dulu aku juga pernah di jelek-jelekkan tetangga."
Lyra melangkah pasti ke sebuah warung yang biasa di datangi Dika. Ibu pemilik warung sedikit terkejut tiba-tiba saja Lyra datang ke warungnya. Wanita itu sudah berbulan-bulan tidak pernah lagi berbelanja di warungnya. Tentu saja, dengan kedatangan Lyra kali ini menjadi tanda tanya besar di hatinya.
"Eh, Dek Lyra. Mau beli ya?"
"Iya Bu, ada pembalut?" Tanya Lyra tanpa ingin berbasa-basi.
"Ada, mau berapa?"
"Lima deh Bu."
"Kok banyak? Deras sekali ya?"
"Nggak kok Bu. Buat setok saja."
Lyra merasa tidak enak di tanya-tanya ibu pemilik warung yang bernama Bu Murti.
"Apa aman tinggal satu rumah?"
Tiba-tiba saja Bu Murti menanyakan sesuatu yang tidak di pahami Lyra sehingga membuatnya sedikit berpikir.
"Maksudnya Bu?"
"Itu, kamu serumah sama Pak Dika."
Barulah Lyra paham apa yang di maksud ibu pemilik warung.
"Oh itu..."
Lyra tidak bisa berkata-kata. Terlihat di wajahnya, ia malu dan merasa tidak nyaman karena lebih banyak mengalihkan pandangannya dari Bu Murti.
"Pak Dika sudah pernah menikah, apa kamu sudah tahu? Dulu istrinya pernah beberapa kali kesini. Tapi sejak beberapa tahun terakhir, sudah nggak kelihatan lagi."
"Iya, saya tahu Bu. Mas Dika sudah bercerai." Jawab Lyra sedikit membela diri karena Dika mengatakan dia dan istrinya sudah bercerai.
"Tapi tetap saja Dek. Lebih baik menunggu sudah sah saja, kalau mau satu rumah. Nggak enak di lihat tetangga." Saran Bu Murti.
Lyra benar-benar menyesal harus datang ke warung untuk membeli pembalut. Sejujurnya ia sudah menerka hal ini pasti terjadi jika ia tetap ke warung. Namun keadaan yang tidak berpihak membuatnya terpaksa untuk tetap melangkahkan kakinya ke warung itu.
"Pembalut saya Bu?"
Lyra tidak merespon lagi ucapan sang ibu dan ingin cepat mengakhiri pembicaraan itu.
"Oh ini."
Bu Murti pun merasa Lyra sudah tidak nyaman dengannya dan langsung memberikan pembalut yang dibeli Lyra.
"Jadi berapa Bu?"
"Tiga puluh ribu."
Lyra menyerahkan uang pas kemudian segera mengambil langkah cepat begitu Bu Murti memberikan pembalutnya. Sepulang Lyra ke rumahnya dan menutup kembali pintu rumahnya, dua orang ibu-ibu yang tadi sedang asik berghibah mendatangi Bu Murti untuk menanyakan apa yang Lyra beli dan ada saja yang mereka bicarakan.
-
-
-
Tak hanya Lyra, di kota yang berbeda, Novia pun menjadi gunjingan tetangga yang haus akan mencela orang lain tanpa sadar keburukan sendiri.
Dika yang sudah mulai sering tidak pulang menjadi bahan pembicaraan mereka setiap kali Ibra menjawab apa adanya kepada mereka.
"Nggak pulang lagi Bapak mu Ibra?"
"Iya Bu ningsih. Papa lagi banyak kerjaan."
"Banyak kerjaan apa ngerjain anak orang?" Celetuk salah seorang ibu-ibu yang lain. Yang sepertinya tidak di dengar Ibra karena anak itu sedang bermain kejar-kejaran bersama teman-temannya.
"Hus! Kalau Ibra nyampein ke Novia gimana?"
"Lah kan cuma bercanda. Tapi kalau bener harus berterima kasih dia jadi tahu lebih cepet. Lagian LDR bertahun-tahun, yakin disana baik-baik saja hatinya?"
"Iya juga sih. Tapi kalau setia bisa saja bener-bener jaga hati."
"Hei, tukang bungkus laki orang itu sekarang cakepnya spek bidadari! Kalian nggak lihat apa? Biar sudah punya anak 3 aja masih mau sama yang lain, asal ada uangnya. Lah kalau hanya ngandelin bibir merah baju bagus doang tapi badan kek buntalan karung apa iya, suami tetap setia?"
"Iya juga sih. Eh tapi aku juga buntal ini?!" Kata salah seorang dari mereka yang sadar diri.
"Makanya situ jaga, puasin suami jangan sampai cari di luar. Lah kalau jauh, gimana mau puasinnya?!"
"Lah, bener juga."
-
-
-
Telinga Novia berdengung sesaat ketika ia sedang mandi. Novia mengira telinga kemasukan air sehingga beberapa kali ia mencoba membersihkan telinganya.
"Apa yang salah ya?" Gumam Novia pada angin.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra