Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.
• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.
Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.
"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"
"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"
Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.
Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.
~novel yang ku pindah dari wp ke sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentala Orion Nalintang
THE ETERNALLY : our home
Happy reading....
...Bulan tetap bersinar, meskipun cahayanya redup karena bayangmu....
...~astralaksana~...
.......
........
.........
Arka menghembuskan nafas lelahnya, setelah semalam tawuran. Pagi harinya mereka di hadapkan dengan ulangan harian yang tiba tiba Bu Lat adakan.
"Pstttt..Sat, no 20 apaan?" bisik Arka pada Satya yang berada di depannya.
Satya menolehkan kepalanya ke belakang, "Gue belum njir!" jawab Satya menoleh ke belakang dengan ekspresi panik.
Jaya menggaruk kepalanya menatap cowok di sampingnya, "Bantuin dong, Sat. No 15 apaan?" ucapnya dengan wajah frustasi.
Satya menggeleng, "Gue juga bingung, bangke!." kesalnya karena sedari tadi teman temannya tak berhenti bertanya padanya, padahal mereka juga tau kapasitas otaknya yang 11 12 dengan mereka.
Arka menghela napas berat, "Dasar BuLat, ngadat banget si."
"Sumpah, tak berperi kesiswaan." kata Satya menatap Bu Latia yang sedang duduk di kursinya bermain ponsel dengan sebal.
Jaya, yang duduk di sebelah mereka, ikut menggerutu, "Udah gitu, soalnya beranak lagi."
Satya mengacak rambutnya frustrasi, "Kalo langsung lulus aja, bisa nggak si?." ceplosnya asal dengan kesal.
Plakkk!
Suara hantaman dari buku yang di gulung terdengar nyaring, membuat atensi seluruh pasang mata siswa siswi di kelas itu tertuju pada mereka berdua.
"Arka, Satya, kenapa ribut sekali?," tanya Bulat menatap tajam mereka berdua.
Arka menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Hehe... nggak papa Bu, tadi ada lalat di kepalanya Satya, jadi saya tampol deh." jelasnya dengan dengan kaku.
"Jangan berisik! lanjutkan kerjakan soalnya... Atau kamu sudah selesai?"
Arka membelalakkan matanya lalu menggeleng ribut, "e-ehhh belum Bu," balasnya cepat.
Satya bisa melihat, wajah Arka yang semakin frustasi. Dia berusaha sekuat tenaga menahan tawanya. Bahkan wajahnya sampai memerah, begitu juga dengan Jaya meski sedari tadi berpura-pura fokus dengan mencoret coret kertas namun otaknya sangat berisik.
Astra sedari tadi hanya diam menelungkupkan kepalanya di atas meja ber bantalan lengannya, tanpa terusik sedikitpun dengan keributan yang di buat oleh teman temannya.
"Psttt..Tra lo udah?," bisik satya pada Astra yang berada kursi sampingnya.
Tanpa menjawab ataupun menengok Astra memberikan kertas berisi jawaban untuk semua soal yang sudah dia kerjakan. "Wihhh..gacor juga lo Tra, udah selesai aja," ucap Satya takjub.
" Bacot!."
Dengan segera Satya menyalin jawaban Astra, entah dari mana Astra mendapatkan jawaban ini. Dia tak peduli, yang penting kertas jawabannya tidak kosong, dia sudah bersyukur. Setelah nya dia memberikan kertas jawaban itu pada kedua curut yang sudah terlihat sangat frustasi sedari tadi.
KRINGG...KRINGGG
Suara bel istirahat menginstrupsi seluruh penjuru SMAAB.
"Silahkan kumpulan lembar jawaban kalian," ucap Bu
Latia, satu persatu dari mereka mulai menyerahkan lembar jawaban itu, lalu keluar dari kelas untuk beristirahat.
Kelima inti Arderos bersama Vio yang juga sudah menyerahkan lembar jawab nya menuju ke kantin.
"Guys, kalian duluan aja. Gue mau jemput Ailya di perpus," ujar Jaya pada teman temannya.
"Iye, ye, si paling bucin, sono pergi. Ganggu pemandangan aje lu," sinis Satya, mengusir Jaya.
Jaya menolehkan kepalanya ke belakang, mengacungkan jari tengah pada Satya, "Dasar jomblo syirik aje lu," ucapnya tengil.
Satya yang hampir terpancing emosi, ingin berlari mengejar Jaya. Namun dia kalah cepat dengan Bumi yang langsung mencekal kerah belakang baju seragamnya, lalu menariknya ke kantin bak anak kucing yang tercebur ke gorong-gorong.
Vio yang baru melihat kejadian itu sedikit terhibur, ternyata asumsi orang di luar sana tak benar.
Tentang anak anak geng motor yang meresahkan dan selalu membuat keributan, Vio juga baru menyadari jika mereka semua hanya remaja biasanya yang ingin hidup dengan bebas.
Vio menatap Astra yang duduk di kursi depannya. Sejauh ini dia belum bisa menebak apa yang ada di pikiran dan hati pemuda tampan itu, dia seolah menutup semua akses untuk orang menyelami netra hitam legam miliknya.
'Dia terlalu sulit untuk ku gapai.'
"Woyy.. ngapain Lo natap abang gue dalem banget," ucap Calya menyenggol lengan Vio yang tak menyadari kehadirannya.
Vio yang ketahuan menatap Astra diam diam, memalingkan wajahnya salting, "E-enggak kokk, kamu salah lihat," elak nya gugup.
"Suka juga nggak papa kok, jomblo dia," godanya semakin menjadi, membuat wajah Vio semakin memanas.
"A-aku ke toilet dulu," ucap Vio lalu beranjak dari kantin menuju toilet dengan terburu-buru.
"Hahahaha, lucu bangett tu anak," kata Calya yang melihat tingkah Vio barusan, cukup lucu menurutnya.
Ctakk!...
Astra menyentil jidat adiknya, "Kebiasaan Lo, jangan di ulangi." Peringat nya dengan nada tegas.
Calya mencebikan bibirnya kesal, "Ck, gue kan cuma mau abang gandeng cewek," gerutunya.
Astra menggelengkan kepalanya, "Belum saatnya dek," jelasnya dengan pengertian namun masih dengan wajah temboknya.
Gadis cantik itu hanya mendumal dengan suara lirih.
"Mau gue sambel mulut lo cal?," ancam Kirana yang telinganya sudah panas mendengar gerutuan Calya.
Kiran langsung mendapat lirikan maut dari Calya, "Diem Lo!."
Sedangkan teman teman Astra tak berani ikut dalam pembicaraan, setelah kejadian di WAMUD waktu itu mereka tak berani mengungkit masalah yang berhubungan dengan ini.
...⭐🎻🎻⭐...
Brukk!
Karena tak terlalu memperhatikan jalan, tanpa sengaja Astra menabrak seseorang yang baru saja keluar dari area dapur.
"Lo udah balik Tala?" tanya pemuda itu, dengan ramah pada Astra.
Astra menatap datar sang kembaran, "Minggir."
" Tala, Lo kenapa jadi berubah gini si?," ucap Lintang kesal dengan perubahan sifat sang adik.
Tala adalah nama panggilan yang sudah Lintang gunakan sedari kecil.
Astra terkekeh, dia mendekat tepat di hadapan sang kembaran, "Gue. Berubah?, Gue nggak berubah." sergahnya.
"Nggak. Lo berubah Tal, setelah kenal anak anak badung itu," tuduhnya pada teman teman Astra (Arderos).
Lintang sedikit tertegun dengan tatapan Astra yang tiba tiba menjadi lebih tajam, aura yang dia keluarkan terasa berbeda dari biasanya. Dengan gerakan yang sedikit kaku Lintang menatap manik hitam legam penuh enigma milik saudaranya.
"Tutup mulut lo sialan!. Lo, nggak tau apa apa tentang mereka!," desisnya dengan rahang yang mengetat.
Lintang tersenyum sinis, "Emang kenyataan kan?, Temen Lo itu bawa pengaruh buruk buat lo, gue mau, Lo bubarin geng gak jelas Lo itu." katanya dengan penuh keberanian.
Astra mengepalkan tangannya, urat di lehernya menonjol seolah memperingatkan bahwa dia tengah menahan bom yang siap meledak kapan saja, "Lo nggak berhak ikut campur tentang hidup gue Lintang!," Tekannya dalam setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Tapi ini buat kebaikan lo Tal-"
Brakkkk.
Prangg.
Astra menghantam meja kaca yang berada di sampingnya hingga kaca meja itu menjadi pecah berkeping-keping, "STOPP!, Gue nggak peduli!, Ini hidup gue, dan gue bebas menentukan apa yang gue mau!!." tekannya lalu melangkah pergi dari rumah itu, tetesan cairan marah kental dari tangan Astra menetes menemani sepanjang langkahnya.
Bentala Orion Nalintang kembaran dari Astra, pemuda tampan dengan tubuh ringkihnya. Lintang memegang dadanya yang tiba tiba berdenyut sakit, "Gue cuma mau lo baik kayak dulu Tra," gumamnya menatap punggung sang kembaran yang sudah hilang dari pandangannya.
Calya yang baru masuk kedalam rumah sedikit terkejut melihat banyak bercak merah berceceran di lantai, "Bang Lo kenapa?, " panik Calya yang melihat Lintang dengan wajah pucat memegang dadanya kesakitan.
"Gue gak papa, bisa bantuin gue ke kamar?," pintanya. Kakinya sangat lemas tak bisa menapak dengan benar.
Dengan hati hati Calya sedikit menyingkir pecahan pecahan kaca, lalu memapah Abangnya ke kamar. Setelah nya dia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Bang Astra kemana?, Bukanya tadi dia bilang mau tidur di rumah?," Tanyanya pada diri sendiri, Calya mengamati kamar Astra yang tak berpenghuni itu, berkali kali dia menelfon Abangnya tapi tak di angkat.
...⭐TBC⭐...
...Lope buat kalian♡...
...Jangan lupa kritik dan sarannya ya.....