Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.
Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:
kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.
Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.
Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sore itu hujan turun deras di kota.
Air membasahi kaca jendela kantor pusat Alexander Corp, memburamkan cahaya kota di bawah sana. Tapi bagi Lucane, tak ada yang bisa memburamkan pikirannya hanya ada satu hal yang mengganggunya sore itu nama di dalam berkas terakhir.
Di ruang kerja pribadinya, hanya lampu meja yang menyala. Asap rokok menari di udara, mengaburkan wajah tampan pria yang duduk diam di balik meja hitam.
Liam berdiri di hadapannya, dengan wajah tegang. Laporan itu menunjukan siapa dalang di balik pengkhianatan di kantor nya.
“Sudah kau periksa ulang semuanya?” suara Lucane datar, nyaris tanpa nada.
“Sudah, Tuan. Saya pastikan tidak ada kesalahan.”
Lucane mengambil berkas itu perlahan, membuka halaman pertama.
Sebuah nama tertulis jelas di sana.
“Elena Voss.”
Lucane membeku sejenak. Mata dinginnya berubah sedikit bukan marah, tapi lebih seperti luka yang menolak terlihat.
“Elena…” gumamnya. "Aku sudah menduga hal ini" batin Lucane
Wanita itu adalah sekretaris pribadinya selama tujuh tahun. Orang yang paling setia, yang selalu diam di belakangnya saat dunia bergetar.
Atau setidaknya, begitu yang ia pikirkan.
* * * *
Beberapa jam kemudian.
Pintu lift pribadi terbuka di lantai bawah tanah ruangan yang tidak ada dalam blueprint gedung.
Tempat di mana suara bisa menghilang tanpa jejak.
Lucane melangkah perlahan ke dalam ruangan baja itu.
Di tengah ruangan, Elena duduk dengan tangan terikat, wajahnya pucat tapi matanya masih tenang.
“Tuan Lucane ” ucapnya lirih, “kalau kau di sini untuk membunuhku, lakukanlah sekarang. Aku sudah tahu permainan ini.”
Lucane mendekat.
Langkahnya pelan, tapi tiap langkah terasa seperti dentum palu di dada.
“Aku ingin mendengar alasanmu dulu,” katanya, dingin tapi halus. “Aku selalu memberi kesempatan satu kali untuk menjelaskan. Setelah itu, aku tidak menjamin apa pun.”
Elena menatapnya lama.
“Karena kau membunuh kakakku,” katanya akhirnya. “Dia hanya ingin keluar dari permainan ini, tapi kau membungkamnya.”
Lucane diam. Wajahnya tak menunjukkan emosi, tapi ada kilatan samar di matanya.
“Dia mencuri data perusahaan dan menjualnya ke kompetitor. Aku tidak membunuh keluargamu, Elena. Aku hanya menegakkan hukumku sendiri.”
Elena tersenyum miris. “Dan aku menegakkan keadilanku sendiri, Lucane.”
Lucane mendekat, jarak mereka hanya sejengkal.
“Elena, pengkhianatanmu membuat tiga orang mati. Tiga orang yang sebenarnya hanya boneka kecil. Tapi kau…”
Jari telunjuknya menyentuh dagu wanita itu, mengangkatnya agar menatap matanya langsung.
“...kau adalah pemain utamanya.”
Tatapan Elena berubah bukan takut, tapi iba.
“Lucane, kau pikir dunia akan terus tunduk pada ketakutanmu? Kau sedang menciptakan monster dari dirimu sendiri.”
Lucane tertawa pelan.
“Aku sudah jadi monster sejak lama, Elena. Kau hanya baru sadar sekarang.”
Tembakan terakhir bergema di ruangan bawah tanah.
Suara itu menembus keheningan, menandai akhir dari satu pengkhianatan dan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Lucane meletakkan pistolnya di meja baja.
Tangan kanannya berlumuran darah, tapi wajahnya tetap tenang dingin seperti marmer.
“Elena sudah memilih jalannya,” katanya pelan. “Dan aku sudah menutupnya untuk selamanya.”
Liam berdiri diam di dekat pintu, menatap tubuh tak bernyawa wanita yang dulu menjadi sekretaris paling setia di Alexander Corp.
“Tuan… ini sudah terlalu sering terjadi. Mereka datang dari segala arah. apa pun mereka lakukan untuk mengusik anda”
Lucane menatap ke arah cermin hitam di dinding yang bukan sekadar cermin, tapi jendela ke ruangan kontrol rahasia.
Di balik kaca, puluhan layar menampilkan wajah-wajah dari seluruh dunia bandar senjata, pengusaha minyak, kepala sindikat Eropa, dan pemimpin kartel Amerika Selatan. Semua menunggu. Semua tunduk pada satu nama.
“Hubungkan mereka,” perintah Lucane datar.
Beberapa detik kemudian, layar-layar itu menyala satu per satu.
Wajah-wajah berkuasa muncul dalam bayangan Don Marcellus dari Sisilia, Kazuo Hideo dari Tokyo, Miguel Cortez dari Meksiko, dan Sergei Volkov dari Rusia.
Mereka bukan orang biasa. Mereka adalah para penguasa dunia bawah.
Lucane duduk, merapikan jas hitamnya, lalu menyalakan cerutu. Asapnya mengepul di udara, menciptakan aura yang hampir sakral.
“Saudara-saudaraku,” ucapnya perlahan, suaranya tenang tapi mengandung otoritas yang menundukkan siapa pun yang mendengarnya.
“Musuh kita mulai bergerak. Mereka mengincar bukan hanya uang… tapi posisi. Dan mereka lupa satu hal dunia ini masih bernaung di bawah Lucane Alexander ”
Kazuo di layar tersenyum tipis. “Kau ingin kami bergerak?”
Lucane memejamkan mata sejenak. “Belum. Biarkan mereka berpikir aku goyah. Aku ingin mereka keluar dari persembunyian. Setelah itu…”
Ia membuka mata tajam, dingin, dan berbahaya.
“…aku akan membuat mereka berlutut.”
Suara tawa berat Don Marcellus terdengar dari layar.
“Masih seperti dulu, Lucane. Tenang… tapi mematikan.”
Lucane tersenyum samar.
“Ketika seseorang memutuskan melawan, mereka tidak lagi berurusan dengan seorang pengusaha. Mereka berurusan dengan Shadow King.”
Setelah itu lucane pun naik ke ruangan nya lagi, dia berdiri, menatap kota dari jendela besar ruangannya.
Hujan berhenti. Lampu-lampu kota berkilau seperti permata atau mungkin, seperti ribuan jiwa yang berhutang nyawa padanya.
“Siapkan jaringan bawah,” ucap Lucane kepada Liam tanpa menoleh.
“Bangunkan semua kontak. Dari pelabuhan New York sampai pasar gelap di Dubai. Aku ingin nama pengkhianat terakhir itu sebelum matahari berikutnya naik.”
“Baik, Tuan,” jawab Liam mantap.
Lucane menatap pantulan dirinya di kaca wajah yang nyaris sempurna, namun di baliknya bersemayam iblis yang tak mengenal ampun.
* * * *
Di tempat lain, ruang latihan, Mira memukul samsak sampai tangannya berdarah.
DUP! DUP!
Ia menyambar pisau latihan dan melempar tepat ke titik tengah manekin mengguratnya dalam.
Teman satu timnya, Evan, mencoba menenangkannya.
“Mira, berhenti. Kamu sudah latihan 3 jam.”
Mira membalik tajam, matanya berkaca-kaca namun penuh kemarahan.
“Dia berjanji tidak akan meninggalkan kita, Evan.”
“Tapi sekarang? Dia tiba-tiba pergi begitu saja. Tanpa pamit. Tanpa satu kata pun.”
Evan menghela napas.
“Dia ingin hidup normal. Kamu tahu dia capek.”
“CAPEK?! Kita semua capek!” Mira berteriak.
“Bedanya… hanya dia yang boleh pergi?”
Mira membanting sarung tangannya, tubuhnya gemetar.
“Kapten bilang harus menghargai keputusan Spectre.”
“Tapi bagaimana kalau keputusan itu justru membuat kita semua seperti sampah?!”
Ia menunduk, suaranya lirih
“Aku tidak siap kehilangan dia… sebagai partner… dan sebagai orang.”
Itulah luka Mira bukan soal profesional, tetapi pengkhianatan personal.
* * * *
Berbeda dengan Mira, Leon, pembunuh kelas A yang selalu berada satu peringkat di bawah Spectre, justru tersenyum tipis saat mendengar Jema keluar.
Di ruang senjata, ia melirik logo Spectre di papan ranking.
“Akhirnya.”
“Legenda itu turun dari singgasananya.”
Rekan barunya, Kade, bertanya pelan,
“Kamu… senang dia pergi?”
Leon mengangkat alis, merakit senjata dengan gerakan cepat dan halus.
“Senang?” Ia terkekeh pendek. “Aku menunggu ini selama bertahun-tahun.”
“Selama Spectre ada, kita semua hanya bayangannya.”
Kade menelan ludah.
“Tapi… dia penyelamat organisasi kita.”
Leon meletakkan pistol dengan bunyi klik.
“Atau justru dia yang membuat kita lemah. Ketergantungan pada satu orang… itu bodoh.”
“Ini saatnya dunia tahu siapa Leon. Bukan Spectre.”
Di matanya, ada keserakahan yang selama ini ditahan.
* * * *