Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Kekesalan
Tatapan Ravindra kepada istrinya itu benar-benar sangat intens, bola mata indah itu berkeliling menatap bola mata bila terlihat sayu itu.
"Kamu menginginkan dokumennya?" tanya Ravindra.
"Bukankah aku harus melanjutkan pekerjaanku?" Aluna menimpali pertanyaan itu.
"Lalu bagaimana jika aku tidak memberikan dokumen ini?" tanya Ravindra.
"Bukan aku yang rugi, melainkan kamu," jawabnya.
Mendengar jawaban santai dari istrinya membuat Ravindra mendengus tersenyum.
"Jika ingin mendapatkan dokumen ini, maka kamu harus melakukan sesuatu untukku," ucap Ravindra membuat Aluna mengerutkan dahi.
"Melakukan apa?" tanyanya dengan syarat dari suaminya.
Terlihat senyum penuh rencana dari raut wajah tersebut membuat Aluna semakin kebingungan dengan penuh curiga.
"Bibirmu sangat indah," ucap Ravindra dengan tiba-tiba membuat Aluna menyerngitkan dahi dengan tingkah dan perkataan suaminya itu.
"Apa rasanya akan terasa begitu manis!" tanya Ravindra.
"Apa yang dia katakan? Apa dia saat ini sedang melecehkanku, issss, kenapa laki-lakinya begitu menyebalkan sekali," batin Aluna.
Sebagai wanita dewasa sudah pasti mengerti ke arah mana pembicaraan suaminya itu. Kesibukan Ravindra dalam merayunya dan tiba-tiba saja Aluna mendapatkan ide yang membuatnya langsung menginjak kaki Ravindra.
"Aaaaaaa!" teriak Ravindra kesakitan dan Aluna dengan cepat mengambil dokumen tersebut.
"Kau!" umpat Ravindra sudah pasti emosi dengan apa yang telah dia dapatkan dari istri dari itu.
"Kamu berani melakukan semua ini kepadaku?" tanya Ravindra dengan menekan suaranya.
Wajahnya penuh dengan kelicikan menggoda istrinya seketika berubah menjadi tatapan sangar dengan aura wajah memerah seolah-olah ingin menerkam.
"Salah sendiri, kenapa berani-beraninya melecehkanku seperti itu," jawab Aluna.
"Apa katamu!" pekik Ravindra merasa tidak masuk akal mendapat tuduhan seperti itu.
"Tuan Ravindra berbicara begitu kurang lancar kepada seorang wanita yang masih muda. Ini sudah zaman emansipasi wanita dan wanita memiliki hak lebih banyak daripada seorang pria. Pria berusia 32 tahun tidak pantas berbicara seperti itu dengan gadis berusia 23 tahun dan itu sama saja melecehkan dan bisa dipenjara!" tegas Aluna dengan segala pengetahuan.
"Hah!"
Ravindra sampai tidak bisa berkata-kata mendengar kata-kata istrinya itu yang tidak masuk akal.
"Astaga kau ini?" Ravindra maju ingin memberi sang istri pelajaran, membuat Aluna takut seketika dengan mata melotot.
"Apa Drama ini masih bersambung atau tetap dilanjutkan!" Ravindra tadinya ingin menarik tangan Aluna tetapi hal itu tidak jadi dengan arah pandang matanya tertuju pada pintu yang diikuti oleh Aluna.
Pria tampan yang dengan kedua tangan dilipat di dadanya dan geleng-geleng kepala melihat pasangan suami istri itu.
"Egar!" ucap Ravindra.
"Bukankah pria itu salah satu tamu sewaktu pernikahanku?" batin Aluna mengingat-ingat pria di depannya itu.
"Aku permisi!" Aluna tidak ingin mencari gara-gara dengan suaminya dan langsung berlalu dari hadapan Ravindra.
Sewaktu melewati Egar. Aluna menundukkan kepala dan kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Sejak kapan kau berada di situ?" tanya Ravindra masih menahan rasa sakit pada telapak kakinya akibat injakan dari sang istri.
"Semenjak aku melihatmu menatap istrimu begitu dalam, memuji bibirnya yang indah dan sampai-sampai istrimu menganggap bahwa semua itu adalah pelecehan untuknya dan aku juga melihat bagaimana kau mendapatkan injakan kaki dari sang istri yang kesal kepadamu," jawabnya dengan santai.
"Kau memang tidak pernah berubah dan selalu ikut campur urusan orang lain, seharusnya masuk ke ruangan orang lain terlebih dahulu mengetuk pintu!" tegas Rani Ravindra.
Egar tersenyum penuh arti dan kemudian berjalan memasuki ruangan tersebut.
"Tetapi kau melupakan untuk menutup pintu, kau hanya menutup semua ruangan ini dengan tirai putih agar keromantisanmu tidak terganggu oleh siapapun. Astaga Ravindra ternyata omonganmu untuk membalas wanita yang telah meninggalkanmu tidak sesuai dengan kenyataan yang aku lihat,"
"Baru saja kalian sudah menikah dan kau sudah tidak sabaran ingin menerkamnya," ucap Egar dengan senyum penuh ejekan kepada temannya itu.
"Diamlah, aku hanya ingin memberinya pelajaran," ucap Ravindra dengan mengelak.
"Pelajaran apa? Pelajaran kau ingin menyentuhnya?" tanya Egar.
"Aku bilang diamlah dan tidak semua menjadi urusanmu," kesal Ravindra.
"Huhhh, belum melihat seberapa lama pernikahan kalian dan aku sudah bisa menduga jika tidak lama lagi kau benar-benar akan jatuh hati padanya dan tidak akan mau kehilangan dia," ucap Egar dengan semua pemikirannya ketika melihat apa yang terjadi di depannya.
"Hah! Sejak kapan kau menjadi tukang lamar," sahut Ravindra geleng-geleng kepala.
*******
Aluna kembali duduk di mejanya dan terlihat tampak begitu serius dengan tatapan matanya fokus pada layar monitor komputer.
"Aku tidak akan bicara dan perkataannya benar-benar kata yang tidak pantas dan itu adalah kata-kata melecehkan kepada seorang wanita," kesal Aluna melihat serius artikel yang telah dia baca.
"Benar, itu adalah awal dari pelecehan dan setelah itu dia akan melanjutkannya pada tahap pemerkosa, issss, sebenarnya pilihanku adalah tepat ketika aku memilih untuk meninggalkan pernikahanku, jika tidak mungkin saja aku akan di grooming om-om seperti dia, amit-amit," Aluna tidak henti-hentinya mengoceh.
"Aku melihat sendiri yang masuk ke dalam ruangan atasan dan setelah itu dia tidak keluar lagi, seluruh tirai ditutup dan apalagi jika bukan dia menawarkan diri," Daun telinga Aluna bergerak-gerak mendengar bisik-bisik tersebut membuat arah mana yang tertuju.
Terlihat dua orang wanita menatapnya sangat tidak suka membuat Aluna kebingungan.
"Karyawan baru bukankah sudah biasa seperti itu, melakukan hal-hal tidak wajar kepada atasan untuk mendapatkan posisi yang lebih baik. Memang wanita sekarang sangat pintar-pintar melakukan trik-trik agar mendapatkan jabatan secara instan," kedua wanita tersebut secara terang-terangan sudah pasti membicarakan dirinya.
"Apa mereka sudah menuduhku yang tidak-tidak?" gumam Aluna.
Aluna begitu sangat kesal dan menatap kedua orang tersebut dengan tatapan orang, kedua wanita yang julid itu mungkin merasa bahwa Aluna menyadari bahwa dirinya dibicarakan membuat wanita itu saling melihat dan kemudian langsung pergi.
"Kenapa Perusahaan sebesar ini harus mempekerjakan orang-orang seperti itu. Memangnya perusahaan itu tempat bergosip," umpat Aluna di dalam hati penuh dengan kekesalan.
*****
Pada jam makan siang Aluna tampak berjalan di lobby perusahaan dan tiba-tiba saja langkah yang terhenti ketika melihat seseorang wanita yang tidak asik keluar dari mobil.
"Kak Jiya," ucapnya meyakini bahwa kakaknya yang kurang lebih 15 meter dari tempatnya berdiri.
Aluna menarik nafas panjang dan kemudian melangkah menghampiri Jiya yang berbicara dengan seseorang karyawan kantor yang kebetulan ingin memasuki mobilnya.
"Asalamualaikum!" sapa Jiya pada wanita tersebut.
"Walaikum salam. Maaf Ada apa ya?" tanya wanita itu.
"Mohon maaf jika saya mengganggu. Hmmm, saya ingin bertemu dengan Ravindra," ucap Jiya.
"Pak Ravindra?" tanya wanita tersebut mengulangi sekali lagi membuat Jiya menganggukan kepala.
"Benar! Di mana saya bisa bertemu dengannya?" tanya Jiya.
"Hmmm, beliau saat ini sedang ada meeting di luar dan kebetulan saya adalah sekretarisnya. Jika kamu ingin bertemu dengannya kamu tunggu saja di ruang tunggu, tetapi by the way kamu siapanya dan apakah sudah ada janji sebelumnya dengan beliau?" tanya wanita tersebut.
Bukannya menjawab Jiya malah senyum-senyum penuh arti yang membuat wanita itu kebingungan.
"Jika saya ingin menemui beliau dan sudah pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan," jawab Jiya membuat wanita itu semakin penasaran pada Jiya.
Bersambung....