NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Pintu kabin berat itu tertutup dengan bunyi klik yang solid, meredam seluruh kebisingan aktivitas kru di luar.

Gladis terpaku di tengah ruangan. Kabin itu sangat luas untuk ukuran sebuah kapal, dilapisi panel kayu mahal dan jendela besar yang langsung menghadap ke cakrawala. Namun, fokus Gladies hanya tertuju pada satu hal yaitu sebuah tempat tidur berukuran king size yang terletak di sudut ruangan, dengan seprai berwarna biru gelap yang tertata sangat rapi dan kaku.

"Aku tidak mau di kabin ini," ucap Gladis dengan suara bergetar sambil mundur selangkah hingga punggungnya menabrak pintu.

"Arkan, kamu bilang aku ikut untuk studi. Kenapa aku harus di sini? Di mana kabin tamu?"

Arkan yang sedang meletakkan topi kaptennya di atas meja kerja, berbalik perlahan.

Ia melangkah mendekat dengan langkah tenang namun mengintimidasi, memaksa Gladies terpojok.

"Sssshhh..." Arkan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, lalu menempelkan telapak tangannya di pintu, tepat di samping kepala Gladies.

"Jangan berteriak, Gladies. Dinding kapal ini memang tebal, tapi telinga para kru jauh lebih tajam dari yang kamu kira," bisik Arkan dengan suara bariton yang rendah, hampir seperti desisan.

"Aku tidak peduli! Aku mau pindah!"

"Tidak ada kabin tamu yang tersedia dan aku tidak akan membiarkanmu berada di luar jangkauan pengawasanku selama dua puluh empat jam," Arkan mencondongkan tubuhnya, membuat Gladies bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau laut dari seragam Arkan.

"Di mata mereka, aku adalah walimu yang sangat protektif. Dan di mata hukum, aku suamimu. Jadi, suka atau tidak, tempat tidur itu adalah tempatmu mulai malam ini."

Arkan menatap mata Gladies yang akan menangis.

"Jangan membuatku harus mengikatmu di ranjang itu agar kamu tetap diam, Gladies. Sekarang, ganti pakaianmu. Kapal akan segera berangkat dan aku harus berada di anjungan."

Arkan menarik diri, mengambil jaket seragamnya, dan meninggalkan Gladis yang masih berdiri mematung, menatap tempat tidur besar itu seolah-olah itu adalah sebuah perangkap yang siap menelannya bulat-bulat.

Kemudian Arkan mendekat, tangannya yang kasar namun kokoh memegang bahu Gladis sejenak.

Sebelum gadis itu sempat menghindar, Arkan mendaratkan sebuah ciuman singkat di pipi Gladis.

"Nikmatilah perjalanan ini, Gladis. Jangan mencoba melawan arus jika kamu tidak ingin tenggelam," bisik Arkan pelan sebelum berbalik dan melangkah keluar menuju anjungan dengan wibawa seorang pemimpin.

Gladis terpaku, tangannya menyentuh pipi yang baru saja dicium Arkan.

Rasa panas menjalar di sana, bercampur dengan kebencian yang masih membara.

Tak lama kemudian, sebuah suara menggelegar membelah keheningan fajar.

TUUUUUUUUUTTTTTTT!

Suara sirine kapal berbunyi panjang—Semboyan 1.

Suara itu terasa menggetarkan lantai kabin dan merambat hingga ke tulang rusuk Gladis. Itu adalah tanda bahwa raksasa besi ini telah benar-benar angkat sauh.

Gladis berlari menuju jendela besar di kabinnya dan melihat jarak antara badan kapal dan dermaga perlahan semakin melebar.

Daratan yang selama ini menjadi rumahnya, makam ibunya, dan sisa-sisa kebebasannya perlahan menyusut menjadi garis tipis di cakrawala.

Getaran mesin kapal yang mulai bekerja terasa di bawah telapak kakinya.

Pada detik itu, Gladies menyadari satu kenyataan yang pahit kalau ia benar-benar telah terputus dari dunia luar.

Di sekelilingnya kini hanya ada air yang tak berujung, dan di dalam kapal ini, hanya ada satu hukum yang berlaku , yaitu hukum Arkan.

Gladis merosot duduk di pinggiran tempat tidur besar itu, menatap kosong ke arah laut lepas.

Sembilan bulan ke depan, samudera ini akan menjadi saksi bisu perjuangannya antara bertahan dalam luka atau menyerah pada nakhoda yang kini memegang kendali penuh atas hidup dan matanya.

Setelah kapal stabil di jalur pelayarannya, Arkan muncul di dek utama, tempat para penumpang kelas satu sedang menikmati welcome drink di bawah sinar matahari pagi yang mulai naik.

Penampilannya sungguh memukau dengan seragam putih bersih dengan atribut emas yang berkilau, topi kapten yang bertengger gagah, dan kacamata hitam yang membingkai wajah tegasnya.

Arkan melangkah dengan kepercayaan diri mutlak.

Setiap langkah sepatu pantofelnya di atas dek kayu jati itu seolah memberikan rasa aman sekaligus kekaguman bagi siapa pun yang melihatnya.

"Selamat pagi, para tamu terhormat. Saya Captain Arkan Maulana, nakhoda yang akan menemani perjalanan Anda selama sembilan bulan ke depan di atas Ocean Empress," ucap Arkan melalui sistem pengeras suara yang bergema halus di area lounge.

Suaranya yang bariton, dalam, dan penuh otoritas seketika menyihir suasana.

Banyak penumpang wanita, mulai dari sosialita muda hingga wanita karier yang sedang berlibur, berhenti sejenak dari aktivitas mereka. Bisik-bisik kagum mulai terdengar.

"Ya Tuhan, lihat kapten itu. Dia jauh lebih tampan dari aktor film," bisik seorang wanita muda di barisan depan sambil tak lepas memandangi rahang tegas Arkan.

"Gagah sekali. Tatapannya sangat dingin, tapi justru itu yang membuatnya terlihat seksi," sahut temannya dengan wajah memerah.

Arkan yang sudah terbiasa dengan perhatian seperti itu, tetap menjaga wajahnya tetap datar dan profesional.

Ia menyalami beberapa penumpang penting dengan senyum tipis yang sangat formal—senyum yang tidak pernah mencapai matanya.

Baginya, mereka hanyalah tanggung jawab yang harus diantarkan dengan selamat ke pelabuhan tujuan. Namun, di balik sikap dinginnya itu, sesekali mata Arkan melirik ke arah balkon lantai atas, tempat kabin pribadinya berada.

Ia tahu, di balik jendela kaca itu, ada seorang gadis yang sedang menatapnya dengan rasa benci, namun kini sah menjadi miliknya.

Glyadis yang mengintip dari balik tirai kabin, mengepalkan tangannya melihat pemandangan di bawah.

Ia melihat bagaimana para wanita itu memuja Arkan, pria yang mereka anggap sebagai pahlawan lautan, padahal baginya, Arkan adalah penculik yang kejam.

"Mereka tidak tahu saja siapa kamu sebenarnya, Arkan," gumam Gladis getir.

Tiba-tiba, Arkan mendongakkan kepalanya, seolah ia memiliki radar, matanya tepat menangkap posisi Gladies di balik jendela.

Ia melepaskan kacamata hitamnya sejenak, memberikan tatapan tajam yang seolah berkata,

'Jangan mencoba melakukan apa pun. Kamu sedang diawasi.' gumam Arkan.

Kemudian Arkan melangkah kembali ke anjungan, pusat saraf dari kapal pesiar raksasa itu.

Di sana, instrumen navigasi yang canggih berkedip-kedip dalam keremangan.

Ia menatap layar radar dan kompas, memastikan koordinat kapal tetap berada di jalur yang benar menuju laut lepas.

Meski matanya tertuju pada cakrawala, pikirannya masih tertinggal di kabin pribadi lantai atas pada gadis yang baru saja ia tinggalkan dengan tangis di pipinya.

Arkan memberi isyarat kepada Gerald, asisten kepercayaannya sekaligus perwira muda yang sudah lama bekerja di bawah komandonya.

"Gerald," panggil Arkan tanpa menoleh.

"Siap, Kapten?" Gerald berdiri tegak di samping Arkan.

"Pesan makanan terbaik dari restoran di dek empat. Pastikan ada sup hangat dan makanan yang tidak terlalu berat. Antarkan langsung ke kabinku untuk Gladis," perintah Arkan dengan nada yang datar namun tak terbantah.

Gerald sedikit terkejut ketika mendengar perkataan dari Kapten Arkan.

Jarang sekali Kapten Arkan memberikan perhatian sedetail itu pada masalah logistik pribadi, apalagi menyuruhnya memesan makanan secara khusus untuk seseorang di kabinnya. Namun, sebagai bawahan yang loyal, Gerald tidak berani bertanya lebih lanjut.

"Siap, Kapten. Akan saya pastikan makanan sampai dalam waktu lima belas menit," jawab Gerald sambil menganggukkan kepalanya dengan hormat.

Gerald segera berbalik dan melangkah cepat menuju lift kru yang menghubungkan anjungan dengan area restoran kelas atas.

Ia tahu, jika Kapten Arkan yang meminta, maka makanan itu harus sempurna.

Sementara itu di restoran, Gerald langsung menemui kepala koki.

"Pesanan khusus dari Kapten untuk Nona Gladis. Sup krim jamur, salmon panggang, dan jus jeruk segar,"

Koki itu sempat tertegun. "Untuk kabin Kapten? Bukankah nona itu anak asuhnya?"

"Jangan banyak tanya, lakukan saja. Kapten tidak suka menunggu," potong Gerald tegas.

Beberapa menit kemudian, Gerald sendiri yang membawa nampan perak berisi makanan tersebut.Ia mengetuk pintu kabin Arkan dengan sopan.

Tok! Tok! Tok!

"Nona Gladis? Saya Gerald. Kapten Arkan mengirimkan makan siang untuk Anda."

Di dalam kamar, Gladis yang masih meringkuk di pinggiran tempat tidur tersentak.

Ia menatap pintu itu dengan sisa-sisa amarah kepada Arkan.

Perutnya memang terasa lapar karena sejak kemarin ia tidak makan dengan benar, namun harga dirinya menolak pemberian dari pria yang telah "menculiknya" ini.

"Aku tidak lapar! Bawa pergi saja!" teriak Gladis dari dalam.

Gerald menghela napas di depan pintu. Ia sudah tahu sifat keras kepala gadis itu.

"Kapten bilang, jika Anda tidak memakannya, beliau sendiri yang akan turun ke sini dan menyuapi Anda paksa. Saya rasa Anda lebih suka makan sendirian daripada harus berurusan dengan beliau sekarang, Nona."

Mendengar ancaman itu, nyali Gladis sedikit menciut.

Ia tahu Arkan tidak pernah main-main dengan ucapannya.

Dengan langkah malas, Gladis berjalan membuka pintu dan menerima nampan itu dengan kasar dari tangan Gerald.

"Terima kasih," ketus Gladies sebelum kembali membanting pintu.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Gladys 😄 cocok jadi pasangan hidup Arkan
Ita Putri
seruuuu
lanjut💪💪
Ariany Sudjana
bagus Gladys kamu harus tegas, jangan biarkan pelakor murahan seperti Angela merusak rumah tangga kamu dengan Arkan
Ariany Sudjana
sedih lihat perjuangan Gladys sampai segitunya demi menyelamatkan suami tercinta
Ariany Sudjana
ini kenap sih ada pelakor datang? Gladys yang berjuang menyelamatkan Arkan di pulau, malah dipeluk pelakor, dan orang tua Arkan juga diam, jangan-jangan Arkan sudah dijodohkan dengan perempuan ga jelas itu
Ariany Sudjana
Suka dengan karakter Gladys, tidak peduli dengan semua halangan, dia hadapi demi menyelamatkan suami tercinta, walaupun awalnya mereka berdua menikah karena terpaksa
Ariany Sudjana
Alex harus dihukum berat, jangan biarkan dia lolos
Ariany Sudjana
semoga Arkan dan Gladys lekas ditemukan dengan kondisi selamat dan sehat. semangat juang Gladys luar biasa, tidak ada sosok manja, semua dilakukan demi keselamatan suami tercinta
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa diselamatkan dan bisa sadar kembali dan kembali sehat, jangan tinggalkan Gladys
Ariany Sudjana
bagus Arkan, jangan biarkan Gladys hancur karena omongan julid dari orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Ariany Sudjana
tetap waspada yah Arkan dan Gladys, jangan biarkan Alex atau siapapun menghancurkan rumah tangga kamu kalian
Ita Putri
sweet banget gk sih mereka berdua 🥰
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Gladys sudah tahu kejadian sebenarnya, dan jangan pernah meragukan suami kamu untuk melindungi kamu Gladys
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Gladys kamu jangan bodoh, jangan mudah emosi, Arkan itu kapten kapal, dan dia harus menjaga wibawanya di depan seluruh penumpang. dan lagi, jangan karena kamu istrinya, Arkan harus percaya begitu saja, tidak seperti itu. bukti paling kuat CCTV, dan jika bukti itu keluar, nama kamu bisa dibersihkan. ingat Gladys, Alex dan antek-anteknya ada di sekeliling kamu, segala cara akan dilakukan untuk menjatuhkan kamu dan Arkan
Ariany Sudjana
bukannya seram Gladys, tapi itu cara Arkan untuk melindungi kamu selaku istrinya
Ita Putri
alur cerita seru gk bertele tele
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ita Putri
semangatnya outhor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!