Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Rahasia yang Terbongkar
Hujan masih mengguyur Solo tanpa henti, suaranya seperti ribuan jarum kecil yang menusuk atap wisma. Di dalam kamar pengantin yang gelap, Livia duduk di tepi tempat tidur, tangannya memegang ponsel dengan pesan dari Nadia yang masih terbuka di layar. Kata-kata itu terasa seperti racun yang perlahan meresap ke dalam darahnya: Tanya saja Rangga tentang malam sebelum pernikahan kalian. Dia tidak akan bisa bohong kalau kamu tanya langsung.
Livia menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Di luar sana, Rangga masih berdiri di koridor—ia bisa mendengar langkah kakinya yang gelisah, suara napasnya yang berat. Pria itu tidak masuk setelah Livia pergi tadi. Ia hanya memanggil nama Livia berkali-kali, tapi Livia tidak menjawab. Ia butuh ruang. Ia butuh jawaban.
Pintu akhirnya terbuka pelan. Rangga masuk dengan langkah ragu, wajahnya pucat seperti kain kafan. Matanya merah, rambutnya acak-acakan karena ia terus mengacaknya dengan tangan gemetar. Ia berhenti di tengah kamar, tidak berani mendekat.
“Livia...” suaranya pecah. “Aku bisa jelaskan.”
Livia tidak menatapnya. Matanya tetap tertuju pada ponsel. “Jelaskan apa, Rangga? Bahwa malam sebelum kita menikah, kamu hampir kabur? Bahwa Nadia datang ke hotelmu? Bahwa dia menawarkan jalan keluar dari pernikahan ini... dan kamu mempertimbangkannya?”
Rangga menunduk. “Aku tidak kabur. Aku tetap datang ke pernikahan. Aku memilihmu.”
“Tapi kamu hampir tidak memilihku!” Livia akhirnya menatapnya, matanya berkilat penuh amarah dan sakit hati. “Kamu hampir meninggalkanku sebelum kita mulai! Kamu biarkan Nadia masuk ke kamar hotelmu malam itu! Apa yang kalian lakukan, Rangga? Apa yang kamu sembunyikan dariku selama ini?”
Rangga melangkah maju, tapi Livia mengangkat tangan—menghentikannya. “Jangan dekat-dekat dulu. Jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi malam itu?”
Rangga menelan ludah. Ia duduk di kursi di sudut kamar, tangannya menutup wajah sejenak sebelum akhirnya bicara.
“Malam itu... aku takut, Livia. Aku takut dengan semua tekanan dari Papa dan Mama. Aku takut kalau pernikahan ini hanya kontrak, kalau aku tidak bisa jadi suami yang baik untukmu. Aku duduk di kamar hotel, memandang cincin kawin di meja, dan aku... aku hampir menelepon Papa untuk bilang aku mundur.”
Ia menatap Livia dengan mata penuh penyesalan. “Nadia datang. Dia tahu aku sedang goyah. Dia bilang dia bisa bantu aku lepas dari tekanan keluarga. Dia bilang kalau aku batal menikah denganmu, dia bisa jadi 'solusi' yang lebih mudah untuk Papa dan Mama. Dia... dia mendekat. Dia mencoba menciumku.”
Livia merasakan dadanya seperti ditusuk. “Dan kamu?”
“Aku tolak,” jawab Rangga cepat. “Aku dorong dia keluar. Aku bilang aku sudah memilihmu. Aku bilang aku tidak mau jadi pengecut. Setelah itu aku langsung ke tempat pernikahan. Aku tidak menyentuhnya, Livia. Aku bersumpah.”
Livia menatapnya lama. Air mata mengalir di pipinya tanpa ia sadari. “Kenapa kamu tidak pernah cerita ini sebelumnya? Kenapa aku harus tahu dari Nadia? Dari musuhku?”
Rangga bangkit, berlutut di depan Livia. “Karena aku takut. Aku takut kalau kamu tahu, kamu akan pergi. Aku takut kamu pikir aku tidak serius. Aku takut kehilanganmu sebelum aku benar-benar bisa membuktikan bahwa aku memilihmu.”
Livia menggeleng, suaranya pecah. “Kamu sudah kehilangan kepercayaanku sekarang, Rangga. Karena kamu sembunyikan ini. Karena kamu biarkan aku percaya bahwa kamu tidak pernah ragu.”
Rangga meraih tangan Livia, tapi Livia menariknya kembali. “Livia... tolong. Aku salah. Aku bodoh. Tapi aku mencintaimu. Aku tidak bohong soal itu. Semua yang aku lakukan sekarang—membantu paspormu, melawan Mama, melawan Nadia—itu karena aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin kita bersama.”
Livia diam lama. Hujan di luar semakin deras, petir menyambar sekali—menerangi ruangan sejenak. Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar samar. Mama Ratna mungkin mendengar keributan ini.
Livia akhirnya bicara, suaranya pelan tapi tegas. “Aku tidak akan pergi. Tapi aku juga tidak akan pura-pura semuanya baik-baik saja. Aku butuh waktu untuk percaya lagi. Dan aku butuh bukti—bukan cuma kata-kata.”
Rangga mengangguk cepat. “Apa pun yang kamu mau. Aku akan lakukan.”
Livia bangkit, berjalan ke jendela. Ia memandang hujan yang mengguyur taman. “Besok kita ke rumah sakit lagi. Kita bicara dengan Papa. Kita selesaikan ini bersama. Tapi malam ini... aku tidur sendiri.”
Rangga terdiam. Ia tahu itu artinya—Livia masih membutuhkan ruang. Ia bangkit pelan, berjalan ke pintu.
“Selamat malam, Livia,” katanya pelan. “Aku mencintaimu.”
Livia tidak menjawab. Pintu tertutup dengan pelan.
Malam itu, Livia tidur dengan gelisah. Mimpi-mimpinya penuh bayangan Nadia yang tersenyum, Papa Rangga yang terbaring lemah, dan Rangga yang berlutut memohon. Tapi di tengah mimpi itu, ada suara lain—suara pesan masuk di ponselnya.
Ia terbangun dengan jantung berdegup kencang. Ponsel di meja samping tempat tidur menyala. Pesan baru dari nomor tak dikenal.
“Kamu pikir Rangga sudah cerita semuanya? Tanyakan tentang foto yang aku kirim ke Papa Adiwinata malam sebelum pernikahan. Foto yang menunjukkan Rangga dan aku... di kamar hotel. Papa tidak pernah bilang karena dia malu. Tapi kalau kamu tanya sekarang, Papa akan terpaksa mengaku.”
Livia merasa darahnya membeku.
Ia membuka galeri pesan—ada lampiran foto. Ia tidak berani membukanya, tapi nama file sudah cukup membuat jantungnya hampir berhenti: Rangga_Nadia_hotel_1.jpg
Ia menatap pintu kamar yang tertutup. Di luar sana, Rangga mungkin sedang tidur—orang yang ia cintai, orang yang baru saja berjanji tidak ada rahasia lagi.
Tapi foto itu... kalau benar, kalau Papa Adiwinata tahu dan menyembunyikannya... apa artinya semua janji tadi?
Livia menutup mata, air mata jatuh lagi. Malam itu terasa lebih gelap daripada sebelumnya.
Dan ia tahu—besok pagi, ia harus menghadapi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya.
Karena kalau foto itu nyata... bukan hanya Nadia yang menjadi ancaman. Tapi juga keluarga Rangga sendiri.
Dan Livia tidak tahu lagi... apakah ia masih punya kekuatan untuk bertahan.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Pesan baru dari Nadia, kali ini dengan suara rekaman pendek.
Livia ragu sejenak, lalu menekan play.
Suara Nadia terdengar jelas, dingin dan penuh kemenangan: “Kalau kamu masih ragu, dengarkan ini. Rangga bilang dia tolak aku malam itu... tapi dengarkan sendiri apa yang dia katakan setelah aku pergi.”
Suara Rangga terdengar samar di latar belakang rekaman: “Nadia... kalau aku batal menikah, apa yang akan terjadi sama aku? Papa akan bunuh aku...”
Rekaman terputus.
Livia menutup mulut dengan tangan, air mata mengalir deras. Rekaman itu... kalau benar, berarti Rangga tidak hanya ragu—ia masih mempertimbangkan untuk mundur bahkan setelah Nadia pergi.