"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Saya?"
"Ya, anda. Sebagai Ibu nya pasti memiliki kemampuan itu juga."
"Eh, dulu sih pernah. Tapi, sekarang kemampuan itu sudah tidak terpikirkan lagi."
"Mengapa bisa begitu, Bu Seruni?"
"Semua itu hanya masa lalu, Pak Restu."
"Oh, begitu."
Pak Restu pun diam saja dan tidak berani berbicara apapun lagi. Entah mengapa mulut nya benar-benar terkunci rapat dan tidak berani bertanya lebih jauh. Apalagi di depan nya, dua anak Seruni masih di sana.
Saat ia ingin bertanya tentang mereka, beberapa orang tua murid langsung menghampiri Seruni dan juga anak-anak nya.
"Ibu nya Tari, kok anak nya bisa pintar menggambar dan mewarnai seperti itu sih? Les dimana?" Tanya salah satu ibu dari teman nya Tari.
"Anak saya les di tempat Pak Restu."
"Oh begitu. Pantas saja bisa bagus."
Ibu-ibu yang lain malah mendatangi Pak Restu setelah Seruni mengatakan hal itu. Jadi lah mereka tidak lagi di serbu oleh pasukan ibu-ibu yang ingin anak nya seperti Mentari.
Setelah aman, mereka pun berencana untuk makan. Di aula yang ada di sekolah itu, sudah di sediakan makanan untuk para tamu undangan yang hadir di sana.
Seruni dan dua anak nya pun mendatangi tempat itu. Mereka bisa bebas mengambil makanan di sana. Walaupun begitu, mereka hanya mengambil makanan sedikit.
"Jadi, ini Ibu mu? Pantas saja sama-sama kampungan seperti mu ya, Tari."
Seruni yang sedang mengambil lauk langsung menoleh ke arah seorang wanita yang pernah ia lihat di ruang guru. Wanita itu adalah salah satu guru yang pernah menghina Seruni.
"Iya, Bu Syasya. Ini adalah Ibu ku. Memang nya kenapa kalau kami kampungan? Kan kamu tidak buat malu."
"Apa nya yang tidak buat malu. Lihat lah, dia bahkan bawa satu anak lagi untuk makan gratis di sini. Hey, kamu pasti kakak nya Tari. Makan yang banyak ya biar di rumah nggak kelaparan."
Hahahahahha
Seruni benar-benar geram dengan kelakuan wanita itu. Kenapa ada seorang guru yang tingkah laku nya benar-benar memalukan seperti nya.
"Bu guru nya Tari, maaf ya. Tapi makanan seperti ini sudah biasa kami makan di rumah. Ibu ku memiliki rumah katering yang menjual banyak makanan dan juga cemilan. Pesanan nasi kotak nya juga tidak pernah absen. Jadi, sebenarnya ibu mau menghina siapa?"
Rima yang lebih dewasa dari usia nya, memang sangat pintar berbicara. Pantas jika ia menang lomba saat di bawa ke kota lain saat itu.
Hidup membuat anak itu menjadi lebih dewasa. Dan karena hal itu lah, ia tidak bisa jika ibu nya di perlakukan seperti itu. Tapi walaupun begitu, ia tetap berbicara selayak nya anak kecil.
"Ah, anak kecil memang pintar bohong. Pasti di ajari oleh Ibu kalian kan."
"Maaf ya, Bu. Apa anda guru di sekolah ini? Kenapa saya lihat, anda itu berbeda dari yang lain. Maksud saya, agak sedikit gi-la."
Seruni yang kesal, sudah tidak tahan lagi dengan tingkah laku wanita itu. Entah apa salah nya Seruni hingga di awal pertemuan mereka, wanita itu terus saja menghina nya dan juga anak-anak.
"Ku-rang ajar! Berani sekali kau menghina ku. Dasar orang kampung bo-doh tak tahu diri!"
Suara itu sangat lah besar dan membuat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka saat itu. Apalagi di tangan nya saat ini, sedang memegang jus jeruk yang akan siap di lempar kan ke arah Seruni.
Untung saja dengan sigap, Pak Restu datang dan melerai mereka. Dan seperti nya, wanita itu tidak senang jika Pak Restu melakukan hal itu.
"Syasya! Apa yang kau lakukan pada Bu Seruni?"
Tampak Pak Restu seperti nya sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu. Dan juga, tatapan Syasya ke arah Pak Restu membuat Seruni langsung tahu alasan wanita itu membenci nya.
"Bang Restu, Abang belain dia?"
"Iya. Karena kamu sudah keterlaluan. Bukan kah saya sudah katakan, kamu boleh magang di sini, tapi jangan buat masalah. Dan sampai saat ini, masalah yang sudah kamu buat itu sudah banyak."
"Tapi kan, aku ke sini mau melindungi calon tunangan aku."
"Tunangan? Sejak kapan? Aku tidak pernah setuju untuk bertunangan dengan mu. Mulai besok, kamu sudah tidak perlu lagi magang di sekolah ini. Nanti, aku akan langsung menghubungi orang tua mu."
"Aku nggak mau. Pasti semua ini gara-gara janda gatel ini kan. Pasti Abang suka dia."
"Syasya! Pulang sekarang!"
Wajah Syasya tampak memerah karena rasa marah yang tidak tertahankan lagi. Ia begitu kesal karena Restu malah membela Seruni di depan nya. Padahal, memang dia lah yang salah.
Setelah Syasya pergi, Restu pun meminta maaf pada Seruni dan dua anak nya. Mereka maklum dan tidak mau ambil pusing. Setelah itu, Pak Restu pun langsung pergi dan menyusul Syasya.
"Akhirnya Bu guru judes itu pergi juga dari sekolah kita. Kalau bukan karena Pak Restu, mana mau kami sama dia itu. Beruntung Ibu nya Tari di bela Pak Restu." Ucap guru nya Mentari.
"Eh, saya juga tidak tahu kenapa. Di awal pertemuan kami, memang dia selalu marah-marah dan cari masalah."
"Sudah. Jangan di pikirkan. Makan lah yang banyak. Kami memesan makanan hari ini untuk para undangan. Bukan dari uang pribadi Bu Syasya."
Guru-guru yang lain pun sangat menghormati Seruni. Mereka tahu nya, Seruni adalah Ibu nya Mentari yang sudah membuat harum sekolah mereka.Dan dengan kepergian Syasya, membuat mereka semua sangat senang dan bergembira.
*****
Di dalam mobil milik nya, Syasya begitu marah. Baru kali ini ia lihat Restu terus mendekati seorang wanita. Saat itu adalah acara perlombaan yang di adakan di sekolah lain.
Syasya melihat Restu yang terus menyapa dan menatap seorang wanita yang sama. Syasya sudah beberapa kali melihat hal itu. Ia yang kesal langsung memiliki dendam sendiri pada Seruni yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
Syasya bagaikan lintah yang selalu ingin menempel di dekat Restu. Dan Restu, hanya menganggap wanita itu adalah adik nya sendiri.
Sungguh, cinta yang bertepuk sebelah tangan itu membuat Restu kewalahan menghadapi Syasya yang sangat manja dan juga cerewet. Ia jadi berani seperti itu karena orang tua nya orang berada.
"Papa, Mama. Aku di marahi Bang Restu karena seorang janda."
Huhuhuhuuuuuuu
Syasya mengadukan hal yang tidak-tidak pada kedua orang tua nya. Ya seperti itu lah Syasya yang selalu suka berbohong dan memfitnah.
bersinar 😮