NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:492
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 8 – DI ANTARA BANYAK ORANG

Pagi datang tanpa suara.

Tidak ada kentongan, tidak ada teriakan, tidak ada kabar. Hanya langkah kaki yang kembali bergerak pelan di jalan tanah yang masih lembap oleh embun. Barisan itu berjalan seperti aliran air—tidak tergesa, tidak pula berhenti—mengikuti arah yang tak pernah benar-benar disepakati, tapi diterima bersama.

Raka berada di tengah-tengah mereka.

Tubuhnya kecil dibandingkan orang-orang dewasa di sekelilingnya. Bahunya tenggelam di antara kain lusuh, bakul anyaman, dan tongkat bambu. Ia tidak memimpin, tidak pula tertinggal. Ia hanya ikut, seperti bayangan yang kebetulan memiliki kaki.

Udara terasa lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Tidak ada tembok batu. Tidak ada pintu gerbang. Tidak ada tatapan prajurit di atas menara. Langit terbuka, meski mendung tipis masih menggantung seolah belum sepenuhnya percaya bahwa pagi layak diberi cahaya.

Beberapa orang bercakap pelan.

“Semalam dingin, ya?”

“Iya… tapi masih bisa tidur.”

Percakapan berhenti sampai di situ. Tidak ada lanjutan. Tidak ada tanya balik. Di antara orang-orang Wilwatikta, basa-basi seperti itu bukan ajakan berbincang, melainkan tanda: aku tahu kau ada, tapi aku tidak ingin masuk lebih jauh.

Raka mendengarnya. Ia selalu mendengar.

Ia belajar cepat bahwa di barisan ini, yang banyak bicara adalah yang paling mudah diingat. Dan di masa seperti ini, diingat bukanlah hal yang baik.

Seorang perempuan paruh baya menoleh padanya. Tatapannya singkat, lalu turun ke kaki Raka yang dibalut kain tipis.

“Kakimu kecil,” katanya, seperti sedang berbicara pada angin.

Raka mengangguk.

“Masih kuat?”

“Masih.”

Perempuan itu tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk balik, lalu melangkah pergi. Tapi sebelum menjauh, tangannya sempat menyelipkan sepotong singkong rebus ke genggaman Raka.

Tidak ada kata “kasihan”. Tidak ada kata “ambillah”.

Bantuan di Wilwatikta sering datang tanpa nama.

Raka memakan singkong itu pelan-pelan. Ia tidak lapar seperti kemarin, tapi juga belum kenyang. Tubuhnya seperti belum memutuskan apakah ia sudah aman untuk menerima lebih.

Di sekelilingnya, anak-anak lain mulai berani tertawa kecil. Seseorang memainkan suling bambu dengan nada pendek-pendek, tidak sampai menjadi lagu. Hanya suara, cukup untuk mengisi ruang kosong di dada.

Raka tidak ikut tertawa.

Setiap kali suara terlalu riang, ia merasa seperti sedang melangkah di tanah yang rapuh. Ia menunggu retakan, menunggu jatuh.

Ia teringat halaman istana. Terlalu terang. Terlalu ramai. Terlalu percaya.

Barisan berhenti ketika matahari mulai naik sedikit lebih tinggi. Mereka memilih tempat lapang di pinggir kebun tebu yang telah lama ditinggalkan. Orang-orang duduk, sebagian menyalakan api kecil, sebagian hanya berjongkok sambil memijat betis.

Raka duduk di dekat batang pohon asam. Ia memeluk lututnya, menunduk. Dari sana, ia bisa melihat kaki-kaki berlalu-lalang, tapi tidak wajah. Ia lebih suka begitu.

Di kejauhan, ia melihat nenek tua itu.

Perempuan yang kemarin membawanya keluar dari kota.

Rambutnya digelung rendah, kainnya sama lusuh dengan yang lain, tapi ada sesuatu pada cara ia berdiri—seolah tanah di bawah kakinya mengenalnya lebih dulu. Nenek itu sedang berbincang dengan dua orang lelaki, suaranya rendah, wajahnya tenang.

Raka tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi ia melihat satu hal yang membuat dadanya mengeras: ketika percakapan selesai, salah satu lelaki itu melirik ke arah Raka. Cepat. Hampir seperti kebetulan.

Raka menunduk lebih dalam.

Ia tahu rasa itu. Rasa ketika seseorang mencatat keberadaanmu tanpa menanyakan namamu.

Siang datang perlahan. Beberapa orang mulai berjalan menjauh, mencari air, mencari kayu. Barisan tidak pecah, tapi mulai longgar. Tidak ada yang memimpin. Tidak ada yang mengatur. Namun semua tahu batas tak tertulis: jangan terlalu jauh, jangan terlalu dekat.

Raka berdiri, berniat mencari tempat yang sedikit lebih sepi. Namun langkahnya terhenti ketika seorang lelaki tua berdiri di depannya.

“Kau sendirian?” tanya lelaki itu.

Pertanyaan sederhana. Tapi di dunia Raka sekarang, tidak ada pertanyaan yang benar-benar sederhana.

“Bersama mereka,” jawab Raka, menunjuk barisan tanpa menatap langsung.

Lelaki itu mengangguk. “Iya. Maksudku… orang tuamu.”

Raka diam.

Lelaki itu tidak mendesak. Ia hanya berkata, “Kalau capek, bilang. Jalan masih panjang.” Lalu ia pergi, meninggalkan Raka dengan kata-kata yang terasa lebih berat dari seharusnya.

Orang tuamu.

Kata itu seperti batu kecil yang jatuh ke air tenang—tidak besar, tapi lingkarannya menjalar ke mana-mana.

Menjelang sore, langit berubah warna. Awan bergerak lambat, seolah menimbang-nimbang. Barisan kembali berjalan. Kali ini lebih rapat. Entah karena angin, entah karena rasa yang tak diucapkan bersama.

Raka berjalan di tengah lagi.

Ia mulai menyadari sesuatu: selama ia berada di tengah kerumunan, tidak ada yang benar-benar melihatnya. Mata orang-orang meluncur melewatinya, berhenti sebentar, lalu pergi. Ia aman karena banyak.

Tapi aman yang seperti ini juga berarti rapuh.

Jika ia jatuh, mungkin tidak ada yang langsung menyadari. Jika ia menghilang, mungkin hanya akan menjadi jeda pendek dalam langkah orang lain.

Sore makin condong. Bayangan memanjang. Di kejauhan, burung-burung kembali ke sarang.

Raka menatap langit, lalu menurunkan pandangan ke tangannya sendiri. Tangan itu masih tangan anak kecil. Tapi dunia di sekitarnya tidak lagi ramah pada hal-hal kecil.

Ia ingin bertanya. Ingin tahu siapa orang-orang ini. Ingin tahu ke mana mereka pergi. Ingin tahu siapa yang bisa ia percaya.

Tapi di barisan ini, pertanyaan seperti itu tidak diucapkan. Yang bertanya terlalu banyak biasanya tidak bertahan lama.

Malam mulai turun perlahan. Api unggun dinyalakan lagi. Orang-orang duduk lebih dekat, bukan karena akrab, tapi karena gelap menyamakan jarak.

Raka duduk, menatap api.

Di antara cahaya dan bayangan, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa kosong sekaligus penuh:

Di sini, di antara begitu banyak orang, tidak ada satu pun yang benar-benar mengenalnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam berdarah itu, Raka merasa dua hal sekaligus—lega dan takut—dalam kadar yang sama.

Ia masih hidup.

Tapi ia belum tahu, hidup sebagai siapa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!