Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing Pengampunan
Udara di koridor bawah tanah gedung kementerian terasa tipis dan berbau belerang. Detik-detik seolah melambat saat Elena melihat jari Isabella mulai melepaskan tuas granat di tangannya. Di belakang Isabella, melalui jeruji besi sel isolasi, Elena bisa melihat siluet Matteo yang terkulai lemas, tidak berdaya untuk menghindar dari maut yang hanya berjarak beberapa meter.
Elena tidak berhenti. Tanpa memikirkan keselamatan diri, Elena menerjang maju dengan kecepatan yang lahir dari keputusasaan murni. Tubuh Elena menghantam Isabella tepat saat granat itu terlepas dari genggamannya. Keduanya terjatuh ke lantai beton yang keras, berguling di tengah debu dan bayang-bayang.
"Marco, granatnya!" teriak Elena.
Marco, dengan refleks seorang veteran yang telah melewati ribuan pertempuran, melompat dan menendang benda logam kecil itu ke arah lubang pembuangan air di sudut koridor.
BUMMM!
Ledakan itu mengguncang fondasi gedung. Air dan serpihan beton menyembur ke atas, menciptakan awan debu pekat yang menyesakkan napas. Goncangan tersebut membuat lampu-lampu di koridor pecah, meninggalkan mereka dalam keremangan yang hanya diterangi oleh percikan api dari kabel-kabel yang terputus.
Isabella terbatuk, mencoba meraih senjatanya yang terlempar, namun Elena lebih cepat. Elena menekan lututnya ke dada Isabella dan menodongkan moncong pistol tepat di bawah dagu wanita itu. Napas Elena memburu, wajahnya penuh dengan noda debu dan darah, namun sorot matanya setajam pisau bedah.
"Selesai, Isabella," desis Elena. "Tidak ada lagi skenario. Tidak ada lagi kebohongan."
Isabella menatap Elena dengan sisa-sisa keangkuhannya. Darah mengalir dari pelipisnya, namun senyum miring masih menghiasi bibirnya. "Kau pikir kau menang? Meskipun kau membunuhku, kau sudah hancur, Elena. Kau tahu bahwa pria yang kau cintai adalah orang yang menarik pelatuk malam itu. Kau akan melihat wajahnya setiap kali kau memejamkan mata, dan kau akan melihat kematian ayahmu."
"Aku sudah tahu kebenarannya," balas Elena dengan suara yang tenang namun dingin. "Aku tahu tentang rencana ayahku. Aku tahu Matteo mencoba menyelamatkannya. Dan aku tahu bahwa satu-satunya monster yang sebenarnya di sini... adalah kau."
Elena tidak menarik pelatuknya. Sebaliknya, Elena memukul wajah Isabella dengan gagang pistol hingga wanita itu jatuh pingsan. Membunuh Isabella sekarang adalah hal yang terlalu mudah; Elena ingin wanita ini membusuk di dalam penjara yang ia bangun sendiri untuk orang lain.
Elena segera bangkit dan berlari ke arah sel Matteo. Marco sudah berhasil merusak kunci elektronik yang sempat korsleting akibat ledakan. Elena masuk ke dalam sel yang gelap itu, menjatuhkan diri di samping Matteo yang masih terantai di kursi.
"Matteo... Matteo, buka matamu," Elena meraba wajah Matteo dengan tangan yang bergetar. Elena menemukan kunci borgol di saku salah satu penjaga yang terkapar di luar dan segera membebaskan tangan Matteo.
Matteo perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang bengkak mencoba fokus pada sosok di depannya. "Elena... kau seharusnya... pergi..."
"Diamlah, kau bodoh," Elena memeluk leher Matteo, menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu. Air mata Elena jatuh tanpa bisa dibendung lagi. "Aku tahu semuanya. Aku tahu apa yang terjadi malam itu. Maafkan aku karena pernah membencimu."
Matteo membeku sejenak, lalu perlahan ia menyandarkan kepalanya di bahu Elena, melepaskan beban yang telah ia pikul selama sepuluh tahun. "Aku gagal, Elena. Aku seharusnya bisa mengeluarkan dia dari mobil itu."
"Itu bukan salahmu," bisik Elena. "Dia memilih takdirnya sendiri untuk melindungiku. Dan kau memilih untuk melindungiku dengan menanggung semua kebencian itu. Itu sudah cukup, Matteo."
Marco masuk ke dalam sel dengan wajah cemas. "Kita harus bergerak. Pasukan Black Wing sedang melakukan pengepungan di lantai atas. Mereka akan meledakkan seluruh blok ini untuk menghilangkan jejak Dewan Tujuh."
Elena membantu Matteo berdiri. Meskipun kakinya gemetar, Matteo memaksa dirinya untuk melangkah. "Data itu... Elena, di kantong jaket Isabella... ada kunci enkripsi fisik. Itu satu-satunya cara untuk menyiarkan rekaman pengakuan Sergio Donati ke publik."
Elena segera keluar, mengambil kunci emas kecil dari leher Isabella yang pingsan, lalu mereka bertiga mulai bergerak menuju tangga darurat.
Perjalanan keluar dari gedung kementerian menjadi medan tempur yang sesungguhnya. Elena dan Marco bergantian melepaskan tembakan untuk menahan gerak maju pasukan bayaran di koridor-koridor yang sempit. Setiap sudut gedung kini dipenuhi oleh asap dan suara baku tembak.
"Luca menunggu di pintu keluar limbah!" teriak Marco di tengah bisingnya peluru yang menghantam dinding pilar.
Saat mereka mencapai aula utama, Elena melihat Sergio Donati sedang mencoba melarikan diri melalui pintu depan bersama beberapa pengawal. Elena berhenti sejenak, membidik kaki sang Menteri dengan presisi yang mematikan.
Dor!
Sergio terjatuh, mengerang kesakitan saat peluru Elena menembus betisnya. Para pengawalnya mencoba membalas, namun Matteo, meskipun terluka, berhasil melepaskan tembakan balasan yang membuat mereka terpental mundur.
"Itu untuk ayahku," teriak Elena.
Mereka tidak berhenti untuk menghabisi Sergio. Mereka terus berlari menuju jalur pembuangan yang akan membawa mereka keluar dari gedung tersebut sebelum semuanya runtuh. Di tengah pelarian itu, Elena merasakan tangannya digenggam erat oleh Matteo. Kepercayaan yang sempat hancur kini tersambung kembali, lebih kuat daripada sebelumnya.
Tepat saat mereka meluncur keluar dari pipa pembuangan menuju kanal di belakang gedung, sebuah ledakan besar mengguncang sayap utara kementerian. Api membubung tinggi ke langit malam Roma.
Luca sudah menunggu di atas perahu cepat yang tersembunyi di bawah jembatan batu. Begitu mereka semua naik, Luca langsung memacu mesin dengan kecepatan maksimal.
Elena menoleh ke belakang, melihat gedung kementerian yang mulai dilalap api. Di tangannya, ia menggenggam kunci enkripsi emas. Besok, seluruh Italia akan melihat wajah asli para pemimpin mereka. Besok, nama Moretti akan bersih, dan Matteo Valenti tidak akan lagi hidup dalam bayang-bayang.
Matteo bersandar di bahu Elena, napasnya mulai tenang saat angin laut Roma menerpa wajah mereka. "Apa yang akan kita lakukan sekarang, Elena?"
Elena menatap langit malam yang mulai memudar, memberikan jalan bagi fajar yang baru. "Kita jemput Ibu. Lalu kita pulang ke Verona. Tapi kali ini... kita akan membangun Verona yang tidak membutuhkan monster untuk menjaganya."
Matteo tersenyum, lalu ia memejamkan mata, membiarkan dirinya beristirahat di pelukan wanita yang telah menjadi alasan hidupnya selama satu dekade terakhir.
Perang di Roma mungkin telah berakhir, namun sebuah perjalanan baru sebagai pasangan yang bebas dari masa lalu baru saja dimulai. Elena Moretti memandang ke depan, ke arah cakrawala yang luas. Ia tidak lagi takut pada bayang-bayang, karena ia tahu bahwa di sampingnya, ada cahaya yang tidak akan pernah padam.