Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Ardian Yang Berbeda
Sudah Lima tahun Nadira menjalani pernikahan bersama Ardian, suaminya. Tapi sampai saat ini ia tak kunjung memiliki anak.
Bukan karena dirinya bermasalah, tapi karena Ardian selalu memiliki alasan yang sama.
'Aku capek Nadira.'
'Apa kamu gak bisa lihat pekerjaanku?!'
Ya begitulah alasan yang serupa namun tak sama. Kadang ia dan Ardian hanya melakukannya sekali dalam seminggu, tapi hampir tak pernah menyentuhnya.
Dirinya selalu sabar, mungkin memang benar Ardian lelah karena pekerjaannya. Meski ada pemikiran buruk di dalam dirinya.
Apakah Ardian Memiliki wanita lain?
Apa Ardian sudah tak mencintainya?
Atau Ardian sudah bosan?
Entah mau sampai kapan akan seperti ini.
Malam itu. Jarum jam dinding menunjuk pukul setengah satu.
Di ruang tamu, Nadira mondar-mandir tanpa tujuan, sesekali berhenti hanya untuk melirik jam di dinding. Detiknya berdetak nyaring di telinganya.
Belum pulang juga.
Nadira menoleh ke arah meja makan. Hidangan tersaji rapi, uapnya sudah lama menghilang. Ia menghela napas, bahunya turun.
“Pasti sudah dingin,” gumamnya pelan.
Ia berjalan perlahan menuju meja makan, tangannya terangkat hendak meraih tudung saji. Namun suara klakson dari luar membuat gerakannya membeku di udara. Nadira menoleh cepat ke arah pintu.
“Mas Ardian,” bisiknya.
Ia melangkah tergesa, membuka pintu tanpa ragu. Ardian berdiri di sana, wajahnya datar. Dasi di lehernya langsung dilonggarkan begitu masuk.
“Mas, kenapa pulang telat? Katanya pulang cepat, aku sudah masakin makan malam loh ini,” ucap Nadira.
Ardian menoleh sekilas. Tatapannya dingin. “Banyak pekerjaan di kantor.”
Nadira menggigit bibir. “Harus ya setiap hari lembur?”
“Tentu saja. Inilah dunia kerja,” jawab Ardian singkat lalu pergi meninggalkan Nadira di ruang tamu. Tak ada niat berhenti untuk berbasa-basi.
“Mas sudah makan?” suara Nadira menyusul, lirih.
“Sudah,” sahut Ardian tanpa menoleh.
Nadira berdiri diam. Pandangannya mengikuti punggung Ardian yang kian menjauh, lalu kembali ke meja makan yang tetap utuh. Tak tersentuh.
Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Mubazir kalau dibuang,” gumamnya.
Nadira kembali melangkah ke meja makan, mulai membereskan hidangan satu per satu, lalu membawanya ke dapur.
..
Beberapa saat kemudian, Nadira melangkah menuju kamar. Tiba di dalam, Ardian sudah berada di atas tempat tidur. Punggungnya bersandar pada sandaran ranjang, ponsel di tangannya tak lepas dari pandangan. Matanya menatap layar dengan saksama. Sesekali alisnya berkerut, lalu sudut bibirnya terangkat. Bahkan sempat tertawa kecil.
Nadira memperhatikan dari ambang pintu. Senyum itu terasa asing.
Ia menggeleng pelan. ‘Singkirkan pikiran burukmu, Nadira.’
Langkahnya mendekat. Nadira duduk di sisi ranjang, tepat di samping Ardian. Ia menoleh, menatap wajah suaminya sejenak, lalu tersenyum tipis. Tangannya bergerak perlahan, menyentuh pergelangan tangan Ardian.
“Mas, lagi chat sama siapa? Kok senyum-senyum?”
Ardian melirik sekilas. “Wisnu.”
Dahi Nadira berkerut. “Wisnu?”
“Iya. Bahas kejadian siang tadi. Lucu sekali dia pakai baju wanita,” ucap Ardian sambil memiringkan ponsel, menunjukkan sebuah foto.
Nadira menatap layar itu sebentar. “Memangnya ada acara apa? Kok Wisnu didandani begitu?”
“Taruhan,” jawab Ardian singkat.
“Taruhan apa?”
Alih-alih menjawab, Ardian meletakkan ponselnya. Ia berbaring, menarik selimut hingga dada. “Aku ngantuk. Besok harus berangkat pagi.”
Nadira menahan napas. Pandangannya tertuju pada punggung Ardian yang sudah membelakanginya. Tanpa suara, ia mendekat, merangkul tubuh itu dari belakang. Wajahnya menempel di pundak suaminya, bibirnya mengecup kulit itu sedikit lebih lama.
“Selamat malam, Mas.”
Tak ada jawaban. Hanya dengkuran pelan yang terdengar. Nadira memejamkan mata, tangannya masih bertahan di sana.
..
Cahaya matahari menembus tirai, menyelinap ke kelopak mata Nadira. Ia mengerang pelan, lalu mengangkat tangan untuk menepis silau. Matanya terbuka perlahan.
Kasur di sisi sebelahnya kosong.
Nadira bangkit setengah duduk. Pandangannya menyapu kamar. “Mas Ardian?” gumamnya.
Suara yang begitu ia kenal terdengar dari arah balkon. Nadira segera turun dari ranjang, langkahnya pelan. Di sana, Ardian berdiri membelakangi, hanya mengenakan celana panjang. Ponsel menempel di telinganya.
“Iya, kita lanjutkan di kantor saja,” ucap Ardian singkat.
Nadira mendekat. Tangannya melingkar di perut Ardian, kepalanya bersandar ringan di punggung itu.
Pembicaraan di seberang telepon terhenti. Ardian menurunkan ponsel, lalu melepaskan tangan Nadira dari pinggangnya. Gerakannya tenang, namun tegas. Nadira mundur selangkah, menyisakan jarak di antara mereka.
“Siapa yang menelepon?” tanyanya, menahan rasa ingin tahu.
“Wisnu,” jawab Ardian singkat. Tanpa menunggu reaksi, ia melangkah melewati Nadira dan masuk ke kamar.
Nadira berdiri terpaku. Pandangannya mengikuti punggung suaminya hingga menghilang. Bahunya turun perlahan. Ia menunduk, menarik napas panjang.
Entah sudah berapa kali napas seperti ini terlepas dari dadanya.
Nadira menatap langit pagi di balik balkon. Bibirnya mengatup, jemarinya mengepal pelan. Ia hanya ingin sedikit bermesraan. Hanya itu.
Namun lagi-lagi, dingin yang ia dapat.
Beberapa saat kemudian, Nadira berbalik. Ia melangkah ke dapur.
..
Meja makan sudah terhidang rapi. Beberapa menu masih mengepulkan asap tipis.
“Malam ini pulang telat lagi?” tanya Nadira sambil menuang teh.
“Lihat saja nanti,” jawab Ardian tanpa menatap.
Kling.
Nadira refleks melirik ponsel Ardian yang tergeletak di atas meja. Nama di layar sempat tertangkap sekilas sebelum ponsel itu diraih. Tatapan Ardian berubah seketika. Dingin yang tadi ada, mencair begitu saja.
“Mas, kemarin Ibu kirim pesan,” ucap Nadira pelan.
“Pesan apa?” tanya Ardian, fokusnya masih menatap pada ponselnya.
“Katanya di rumah aka ada acara kumpul keluarga.”
Ardian menoleh sekilas. “Lalu?”
Nadira menahan napas. “Mas tahu sendiri Ibu Mas kalau sudah ketemu aku.”
“Kan sudah terbiasa,” jawab Ardian santai, seolah itu hal sepele.
Dada Nadira mengencang. “Setidaknya belain aku, Mas. Jangan cuma diam. Apa Mas tahu, diamnya Mas seperti sapi ompong.” Kata-kata itu lolos bersama nada kesal.
Ardian hendak membuka mulut, namun suara dari ruang tamu memotongnya.
“Sepertinya menggugah selera sekali.”
Nadira menoleh. “Eh, Wisnu? Sudah sarapan?”
“Sudah,” jawab Wisnu singkat.
Nadira mengangguk, lalu keningnya berkerut samar. Tatapan Ardian sempat melirik ke arah Wisnu. Berbeda. Terlalu lembut untuk ukuran Ardian.
“Oh ya, Wisnu,” ucap Nadira, berusaha tersenyum. “Fotomu lucu sekali pakai baju dinas.”
Wisnu tersenyum tipis. “Risiko kalah taruhan. Kapok aku.”
Nadira terkekeh. Lalu Wisnu menoleh pada Ardian. “Kita ada seminar jam setengah sepuluh sampai makan siang.”
Ardian mengangguk.
“Wisnu,” sambung Nadira, “bilang ke Mas Ardian jangan lembur sampai malam. Kasihan, pulang-pulang selalu capek.”
Wisnu mengangguk. “Sudah aku bilang. Pak Ardian keras kepala.”
Ardian menatap Wisnu sambil tersenyum miring. “Demi perusahaan, jika aku bermalas-malasan bagaimana dengan kemajuan perusahaan? Sudah, kita berangkat sekarang.”
Nadira ikut berdiri, melangkah hingga ke teras. Saat Ardian hendak masuk mobil, Nadira memanggil pelan.
“Mas.”
Ardian menoleh. Nadira seger meraih pipinya, mengecup singkat.
“Biar semangat kerjanya.”
“Iya,” jawab Ardian tipis, tatapannya tetap dingin.
Mobil melaju meninggalkan halaman. Nadira berdiri beberapa detik sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam rumah. Langkahnya terhenti di ruang tamu.
Ia menoleh ke sekeliling, lalu mengernyit.
Tatapan Ardian tadi… terasa berbeda saat menatap Wisnu.
“Ah, nggak mungkin,” gumamnya pelan. “Pasti cuma perasaanku saja. Lagian aku juga begitu sama sahabat perempuanku, sering pegangan tangan sama pelukan.”