Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal fokus, Ryan!
Ryan dan Arini saling bertatapan sejenak, namun Arini mengalihkan pandangannya lebih dulu. Rasanya sedikit aneh, canggung. Tapi entah mengapa ada yang membuat jantungnya berdebar tak karuan lebih dari biasanya.
"Ah, so-soal tadi maaf ya. Aku kebablasan..." ucap Ryan, tak enak hati.
Arini menoleh cepat, "Oh, ngga pa pa malahan! Justru bagus banget tadi kamu ngomong kayak gitu, biar si Adrian tuh tahu rasa!"
Ryan tertawa kecil. Ia sadar bahwa tangannya masih menggengam tangan wanita disampingnya itu. Ia menatap Arini lebih lama, melihat setiap sudut wajah wanita itu. Sudah lama sekali sejak Arini meninggalkan Amsterdam, dan kini mereka bisa kembali dekat seperti dulu.
Apakah ini waktu yang tepat? Batin Ryan. Ia merasa sepertinya ini waktu yang tepat, namun di sisi lain belum tentu Arini siap jika dia tiba-tiba menyatakan perasaannya kepada wanita itu.
"Hey, Ryan?" panggil Arini sambil melambaikan tangannya di depan wajah pria itu.
"Oh, iya hehe," Ryan tersadar dari lamunannya.
Pria itu berdehem sejenak. Lalu mengacak-acak rambutnya sebelum akan berbicara kembali, "Em, begini... Ada yang mau aku sampaikan.."
"Hm? Apa?" tanya Arini penasaran.
Ryan terdiam sejenak. Wajahnya tiba-tiba memerah. Ia menggelengkan kepalanya pelan, "Ah, ngga jadi deh! Besok aja ya,"
Ryan pun berbalik dan meninggalkan wanita itu. Ia berjalan cepat, namun sebelum benar-benar pergi dirinya sempat berbalik dan melambaikan tangan kepada Arini.
Arini membalas lambaian tangan itu. Ia hanya tersenyum sambil memandangi punggung Ryan yang perlahan menjauh hingga dirinya keluar dari kediamannya dan masuk ke dalam mobil.
Arini mengangkat sebelah alisnya, merasa sedikit heran dengan sikap Ryan yang tiba-tiba saja menjadi grogi.Tak mau memusingkannya, Aroni pun segera menutup pintu dan menuju ke dapur.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Kediaman itu terasa sepi, meski masih ada beberapa pelayan yang ada disana. Vino sedang kuliah dan Bibi Aliyah mengantar keponakannya, jadi hanya ada Arini dan beberapa pelayan yang ada disini.
Wanita itu meletakan kantong belanjaannya disamping kulkas. Ia lalu menarik pintu dan kemudian mengeluarkan makanan yang baru saja ia beli di supermarket ke dalam kulkas itu.
Tiba-tiba ponsel Arini berdering. Arini menghentikan kegiatannya sejenak. Ia menutup pintu kulkas lalu berbalik dan meraih ponselnya.
Rupanya itu notifikasi pesan dari Gio.
Hai
Woy
Centang satu terus lo
Oh centang dua deng
Good afternoon
Disana udah sore kan?
Arini terkekeh. Seperti biasa laki-laki ini mengirim pesan yang tidak jelas kepadanya. Arini dengan cepat mengetikkan beberapa kata disana dan kemudian membalas pesan Gio.
^^^Ih gue online^^^
^^^Jaringan lo tuh yang ngga bagus^^^
^^^Kangen yak?^^^
^^^Haha^^^
^^^Sumpah tadi ada kejadian serem banget^^^
Sementara itu jauh ribuan kilometer dari Kota Amsterdam, tepatnya di apartemen Gio. Saat ini langit masih cerah, di Jakarta saat ini masih siang hari.
Laki-laki itu tengah bersantai sambil memakan snack untuk mengganjal perut hingga suara notifikasi muncul dari ponselnya, dengan cepat laki-laki itu berdiri dan mengambil ponsel yanga di meja. Senyum tipis muncul pada wajahnya.
Dih, kepedean lo
Emang ada hot news apaan tuh disana?
Lo lihat kuntilanak?
Ya kali ada setan kayak begituan disana
Teng! Notifikasi pesan kini beralih muncul di ponsel Arini. Wanita itu tertawa begitu membaca pesan Gio. Ia pun dengan cepat membalas pesa laki-laki itu.
^^^Ngga, bukan setan^^^
^^^Manusia^^^
^^^Si Adrian!^^^
^^^Sumpah, barusan dia tadi datang^^^
^^^Gila kayak Intel tuh orang^^^
Gio yang baru saja menerus kopinya hampir tersedak begitu membaca pesan terbaru dari Arini. Matanya membulat seketika.
HAH?
Si Adrian datang kesana?
Gila banget tuh orang
Masih ada nyali
Trus gimana
Jauh di seberang sana, Arini masih menunggu pesan dari laki-laki itu. Jaringannya tiba-tiba saja menjadi lemot karena hujan mendadak turun dengan deras di kota. Namun tak berselang lama jaringannya kembali membaik.
^^^Aman^^^
^^^Gue sama Ryan udah ngusir dia^^^
^^^Mampus tuh orang^^^
Gio menarik napas lega. Ia tahu betul kalau ada Ryan di sana, Arini pasti aman. Ryan sudah seperti kakak pelindung bagi Arini sejak mereka masih kecil.
Syukurlah kalau ada si Ryan
Emang beneran bodyguard andalan lo ya dia
Tapi serius, si Adrian nggak bikin lo luka atau trauma kan?
Gila aja tuh orang jauh-jauh nyamperin cuma buat bikin rusuh
Arini bersandar di pintu kulkas yang dingin, jemarinya lincah menari di atas layar sambil mendengarkan suara rintik hujan yang mulai menderas di luar jendela dapur.
^^^Nggak kok, aman terkendali^^^
^^^Ryan tadi cuma tegas banget, jadi si Adrian langsung ciut^^^
^^^Tapi kocak deh, abis Adrian pergi, si Ryan malah jadi aneh^^^
^^^Tiba-tiba gagap terus pamit pulang buru-buru^^^
^^^Padahal tadinya kita lagi asik ngobrol^^^
^^^Gue rasa dia kelaperan kali ya makanya langsung kabur hahaha^^^
Di Jakarta, Gio terkekeh membaca balasan Arini. Ia bisa membayangkan wajah bingung Arini saat melihat tingkah laku Ryan yang tidak terduga itu.
Hahaha ya mungkin aja
Efek adrenalin abis ngusir suami lo kali
Eh, di sana hujan ya?
Jangan lupa bikin teh anget atau apa kek, biar nggak masuk angin
Di sini lagi panas banget nih, bagi dikit dong dinginnya
Arini tersenyum tipis. Obrolan santai dengan Gio selalu berhasil mencairkan suasana hatinya yang sempat tegang gara-gara kedatangan Adrian.
^^^Iya, ini mau bikin cokelat panas kok biar makin chill.^^^
^^^Sabar ya yang lagi kepanasan di Jakarta!^^^
^^^Gue mau beresin makanan dulu^^^
^^^Maklum orang sibuk^^^
^^^Bye^^^
Arini meletakkan ponselnya di atas meja. Ia kembali melanjutkan kegiatannya merapikan belanjaan.
...****************...
Mesin mobil sedan hitam milik Ryan menderu halus membelah jalanan Amsterdam yang mulai basah oleh air hujan. Fokusnya memang pada jalanan di depan, namun pikirannya tertinggal jauh di kediaman Arini.
Tangannya yang memegang kemudi sesekali meremas stir, seolah mencoba menyalurkan rasa gugup yang masih tersisa di ujung jarinya.
Ryan tinggal di kawasan Oud-Zuid, sebuah daerah yang tenang dengan deretan bangunan klasik khas Belanda yang elegan.
Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai ke komplek perumahannya. Suasana di sana jauh lebih sunyi dibandingkan pusat kota, hanya ada suara gesekan ban mobil dengan aspal basah.
Ia akhirnya membelokkan mobil masuk ke area parkir di depan apartemennya. Begitu mesin dimatikan, keheningan langsung menyergap.
Ryan tidak langsung keluar. Ia menyandarkan punggungnya di jok kulit, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan hingga kaca depan mobil sedikit berembun.
Ia menatap telapak tangan kanannya, tangan yang tadi sempat menggenggam tangan Arini.
Pria tu bersumpah sampai besok dirinya tak akan mencuci tangan. Ini adalah suatu kemajuan! Ya, meski hanya sedikit sih.
"Hampir saja, Ryan... hampir saja," gumamnya pelan pada diri sendiri.
Senyum kecut muncul di wajahnya. Ia merasa sedikit konyol karena harus melarikan diri hanya karena lidahnya tiba-tiba kelu.
Ryan mengambil ponselnya, melihat layar yang masih gelap, lalu mengetukkan jarinya di atas stir mobil sesuai irama jantungnya yang mulai melambat.
Hujan di luar semakin deras, membasahi kaca mobil dan membiaskan lampu jalanan menjadi pendar-pendar cahaya yang cantik.
Ryan hanya duduk diam di sana, menikmati kesendirian di dalam kabin mobil yang hangat, sambil mengumpulkan keberanian untuk apa yang harus ia katakan pada Arini besok pagi.
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁