“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 28
Alisha dan Albiru membawa Dafrina ke rumah sakit lagi. “Aku gak mau lagi ke rumah sakit, aku takut,” lirih Dafrina yang membuat Alisha merasa kasihan tapi Albiru malah mendengus.
“Lalu kalau tidak ke rumah sakit, kau akan ke mana? Lagian kondisimu masih belum sembuh, Dafrina.” Albiru bersuara.
“Aku balik ke apartemen aja, aku takut kalau papa datang lagi,” kata Dafrina setengah berbisik.
“Kita ke rumah sakit aja dulu, nanti aku akan temenin kamu di sana. Soal papa kamu, kita akan hadepin bareng-bareng, gimana pun juga, dia paman aku walau pun gak deket. Nanti kalau kamu udah sembuh, kamu bisa tinggal sama aku sementara waktu sampai paman bisa ditangkap.” Dafrina mengangkat pandangannya, ia melirik pada Alisha yang tersenyum lembut padanya. Air matanya menetes perlahan mengingat kebaikan sepupu tirinya itu padahal dia sendiri sudah begitu jahat pada Alisha hingga membuat Alisha tersakiti.
“Kamu yakin, Sha?” tanya Albiru sedikit melotot kaget dengan apa yang istrinya katakan.
“Iya, Bi. Lagian Dafrina udah gak punya siapa-siapa di sini. Nanti kalau Paman Uljan datang ke apartemen dia gimana? Kan bahaya juga untuk Dafrina.” Alisha membalas sembari memegang lembut tangan Albiru.
“Gapapa Sha, aku balik ke apartemen aja. Aku gak mau ganggu kalian.” Dafrina memberikan senyumannya sambil mengusap air mata.
“Gak, kamu gak boleh sendirian. Kamu tenang aja, Dafrina. Kita hadepin bareng-bareng ya.” Keputusan untuk membawa Dafrina ke rumahnya sudah bulat dan Albiru tidak lagi mau membantah. Mereka memilih ke apartemen lebih dulu untuk mengambil barang-barang Dafrina lalu lanjut ke rumah mereka sendiri.
Sesampainya di rumah, Alisha menunjukkan kamar untuk Dafrina dan tentunya wanita itu merasa sangat aman di sana. Setidaknya Uljan tidak akan lagi mengganggu dirinya seperti tadi.
“Kamu istirahat di sini ya, aku udah panggil dokter dan bentar lagi kamu bakalan diobati. Jangan mikir yang macam-macam soal paman, dia gak bakalan ngusik kamu di sini, percaya sama aku.” Alisha tersenyum lalu hendak keluar dari kamar tersebut. Dafrina menahan lengan Alisha lalu berdiri dan memeluknya, ia menangis dalam pelukan itu, kebaikan Alisha sukses membuat hati Dafrina tersentuh.
“Maaf ya Sha. Aku udah jahat sama kamu.” Alisha membalas pelukan itu dengan mengusap lembut punggung Dafrina.
“Iya aku maafkan. Kamu gak usah sungkan ya di sini.” Dafrina melepas pelukan itu dan Alisha mengusap kedua air mata Dafrina yang jatuh membasahi pipi.
“Aku gak tau lagi harus bilang apa ke kamu, tapi satu hal yang harus kamu tau. Aku ini tidak akan pernah bisa hamil, jadi hubungan aku dan Albiru saat itu tidak akan menghasilkan apapun. Aku gak akan gangguin kalian lagi dan aku janji akan melindungi hubungan kalian dari siapapun yang mencoba mengusiknya. Aku akan menjaga kamu, Sha.” Dafrina mengucapkan janjinya yang juga membuat Alisha terharu.
“Makasih sebelumnya tapi kamu harus jagain diri kamu ya, aku hanya bisa bantu sebatas ini.”
“Bantuan ini udah sangat besar buat aku, Sha. Di tengah semua orang gak peduli aku, tapi kamu hadir dengan kasih sayang kamu.” Mereka berdua kembali berpelukan yang mana semua itu disaksikan oleh Dhevi yang berniat mengantarkan makanan untuk Dafrina, dia hanya berdiri di ambang pintu dengan senyuman melihat kebaikan putrinya.
Alisha keluar dari kamar Dafrina lalu menuju ke dalam kamarnya sendiri. Rasanya begitu lelah hingga dia merebahkan diri di atas kasur dan merasa pusing kembali. Alisha mengeluh saat mual itu datang lagi padanya, saat Albiru masuk ke dalam kamar, Alisha langsung berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan apa yang dia makan. Albiru segera menyusul untuk mengusap punggung Alisha dan berjaga agar Alisha baik-baik saja.
“Kamu mau aku bikinin teh?” tawar Albiru yang dibalas gelengan oleh Alisha.
“Aku pengen rebahan aja, Bi. Kepalaku pusing banget ini.” Albiru tanpa bertanya lagi langsung menggendong Alisha lalu menidurkannya di atas ranjang. Dia selimuti istrinya itu dan pijat telapak kakinya hingga Alisha terlelap.
Albiru mengusap lembut pipi Alisha yang kini sedikit tirus akibat pengaruh kehamilannya. Dia yang tidak mau makan, sering muntah dan sering demam. “Aku gak salah ya milih istri, kamu itu baik Sha. Makanya banyak yang manfaatin kebaikan kamu dan mereka justru salah mengartikannya. Aku akan terus mempertahankan rumah tangga kita apapun yang terjadi dan gak ada yang boleh mengusik kamu.” Albiru berbisik ringan sambil tersenyum.
***
Saat makan malam, Dafrina nyatanya disambut hangat juga oleh kedua orang tua Alisha. Mereka melupakan apa yang pernah Dafrina lakukan terhadap putri mereka dan sekarang, mereka tampak seperti satu keluarga yang utuh, keluarga yang tidak pernah bisa dirasakan oleh Dafrina sebelum ini.
Albiru sendiri berusaha menjaga jarak dari wanita itu, dia tidak ingin ada sedikit celah untuk membuat istrinya cemburu ataupun sakit hati.
Hingga pagi menjelang, Albiru dan Ibnu berangkat ke kantor sedangkan Alisha dan Dafrina di rumah. Alisha sedang berjemur di halaman belakang bersama dengan Dhevi. Dafrina sedikit terharu melihat kedekatan ibu dan anak itu, sungguh pemandangan yang tidak pernah dia rasakan selama ini dengan ibu kandungnya sendiri apalagi semenjak ibunya menikah dengan Uljan.
“Kenapa kamu bengong di sana Dafrina? Ayo sini!” ajak Dhevi dengan lembut yang membuat Alisha juga menoleh.
“Iya Tante.” Dafrina mendekati mereka lalu berjemur bertiga.
“Enak ya berjemur pagi-pagi begini,” sahut Dafrina yang dibalas senyuman oleh Dhevi dan Alisha.
“Iya. Aku mual aja dari tadi dan berjemur begini rasanya enak banget. Walaupun gak mengurangi rasa pusing ya, tapi lumayan lah untuk nambah vitamin,” ujar Alisha.
“Emangnya kata dokter, kandungan kamu gak apa-apa? Kamu keliatan lemah banget Sha.”
“Gak apa-apa, Dafrina. Biasa kok, ya sampai usia kandungan aku tiga atau empat bulan lah. Nanti juga bakalan kuat sendiri kok.”
“Lama juga kamu harus begini ya.”
“Bunda tinggal ya, Nak. Kalian ngobrol aja dulu berdua, Bunda mau bikin kue yang kamu mau itu.” Alisha menahan lengan sang ibu.
“Ngapain dibikin, Bun. Ribet. Mending beli aja nanti, aku minta Albiru belikan.”
“Sayang. Selagi Bunda bisa bikin kenapa harus beli? Bikinan Bunda lebih enak loh.”
“Iya sih tapi kan nanti Bunda capek.” Dhevi mencubit pelan pipi putrinya.
“Gak capek. Udah ngobrol aja berdua, Bunda mau ke dapur dulu, gak ada juga kesibukan.” Dhevi meninggalkan putrinya dengan Dafrina berdua duduk di bangku taman.
“Kamu itu dimanja banget ya sama orang tua kamu.” Alisha tersenyum.
“Namanya juga anak tunggal, lagian dari kecil, aku emang dekat sama mereka.”
“Enak jadi kamu, Sha.”
“Kamu sendiri, seberat itu yang kamu jalani bersama keluarga kamu ya?” Dafrina mengangguk.
“Aku dulu mutusin Albi karena dipaksa sama papa pindah ke luar negri. Semenjak di London, dia selalu berbuat jahat sama aku dan aku gak dikasih kesempatan untuk bebas. Sampai saat di mana aku pernah melakukan aborsi hingga melakukan operasi pengangkatan rahim. Semua atas perintah dia, karena dia gak mau kalau apa yang dia perbuat sama aku meninggalkan bekas. Aku yang gak kuat memilih kabur dan kembali ke Indonesia.”