Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28 - Kabar Baik Tiba
"Gimana, Naldi? Istriku nggak apa-apa kan?" tanya Robi menyergap.
Naldy tertawa kecil sambil menepuk bahu Robi. "Selamat ya, Bi. April nggak sakit. Dia cuma lagi 'penyesuaian' karena ada tamu kecil di perutnya. April hamil, usianya sudah masuk enam minggu. Tapi dia masih harus dirawat untuk memberikan vitamin, badannya kurang vit."
Robi tertegun, matanya berkaca-kaca. "Hamil? Gue... gue bakal jadi ayah? Ah, ini kabar baik. Akhirnya, kabar baik tiba."
Oma Soimah yang baru saja sampai bersama Bunda Selfi langsung mengucap syukur. Suasana haru menyelimuti lorong rumah sakit itu. Robi segera masuk ke dalam ruangan untuk memeluk April yang masih terbaring namun tampak sudah tersenyum bahagia.
Di sudut ruang tunggu yang tenang, Oma Soimah memperhatikan pemandangan itu. Ia melihat betapa indahnya sebuah keluarga yang terbangun karena ketulusan. Mengingat dia akan menimang cucu, kini Oma pun sadar usianya semakin menua. Matanya kemudian beralih pada Valen dan Mila yang berdiri bersisian, tampak sangat serasi dan saling menjaga satu sama lain selama kepanikan tadi.
Oma memanggil mereka berdua untuk mendekat.
"Valen, Mila," panggil Oma lembut. "Melihat April yang sebentar lagi akan memberikan cicit untuk Oma, Oma sadar satu hal. Waktu berjalan sangat cepat."
Oma mengambil tangan Mila dan tangan Valen, lalu menyatukan keduanya di atas telapak tangannya.
"Mila sudah lulus dengan nilai terbaik. Valen sudah membuktikan kesetiaannya bahkan di saat Mila sedang paling sulit. Oma tidak mau menunggu lebih lama lagi." Oma menatap tajam namun penuh restu pada Valen. "Valen, lusa adalah hari baik. Oma minta keluarga Adiwangsa datang secara resmi ke rumah."
Mila terbelalak. "Maksud Oma?"
"Oma memutuskan... kalian akan bertunangan secara resmi lusa malam. Di rumah sakit ini, di depan kabar bahagia kehamilan April, Oma nyatakan kalau kalian bukan lagi sekadar 'perjodohan masa lalu', tapi kalian adalah masa depan keluarga ini."
Valen tampak sangat terharu, ia membungkuk dalam di depan Oma. "Terima kasih, Oma. Terima kasih atas kepercayaannya."
Mila menangis bahagia, ia memeluk Oma dengan erat. Di balik kaca pintu ruang rawat, Robi dan April yang mendengar percakapan itu ikut mengacungkan jempol ke arah mereka.
Setelah pengumuman "lusa malam" dari Oma Soimah yang terasa seperti petir di siang bolong bagi Mila dan Valen, suasana koridor rumah sakit perlahan kembali tenang. Para orang tua masih sibuk berdiskusi di ruang tunggu, sementara Valen dan Mila masih berdiri mematung di dekat jendela, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan sang pemegang otoritas tertinggi di keluarga Hardianto.
"Lusa..." Mila berbisik, suaranya nyaris hilang. "Kak, lusa itu besoknya besok. Kita bahkan belum punya persiapan apa-apa."
Valen menoleh, menatap wajah Mila yang tampak panik namun menggemaskan. Ia meraih kedua tangan Mila, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari untuk memberikan ketenangan.
"Mungkin bagi Oma, lusa itu sudah terlalu lama, Mil," jawab Valen lembut. "Tapi tenang, aku nggak akan biarkan kamu repot sendirian. Malam ini, biar aku yang bicara sama Papa dan Mama buat urus semuanya. Tugas kamu cuma satu: istirahat dan pastikan kondisi kamu nggak drop lagi. Aku nggak mau calon tunanganku pucat di hari pentingnya."
Belum sempat Mila menjawab, Bunda Selfi bersama Oma mendekat ke arah mereka.
"Mila sayang, Bunda, Oma, dan semuanya pulang dulu ya. April biar dijaga Robi, Tasya, dan Mutia dulu di sini. Kamu sama Valen juga masih di sini kan? Bunda dan yang lain mau langsung bahas persiapan tunangan kamu lusa, Sayang," ucap Bunda Selfi sambil mengusap pipi Mila.
"Oh iya, Bunda. Mila nggak perlu ikut bahas?" tanya Mila sangsi.
__________
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️