HAZEL SETEVIANO sangat mencintai pria yang di jodohkan dengannya RONAlDO ALEXANDER, karan rasa cintanya pada Ronald sangat besar, Hazel selalu bersikap posesive, dia akan marah jika ada wanita yang mendekati Ronald, hingga bertambah hari Ronald semakin di buat muak dengan sikap Hazel yang menurutnya sangat cemburuan, bahkan Hazel juga selalu bersikap sinis pada LUNA MAHENDRA yang jelas jelas sudah bersahabat dengan Ronald sejak duduk di bangku SMP, karna Hazel merasa kalau Luna sudah merebut perhatian Ronald darinya.
Dan suatu hari tibalah acara peresmian pertunangan Hazel dan Ronald yang di gelar di hotel mewah, dan malam itu senyum Hazel terus mengembang, tapi senyum itu lenyap seketika saat Ronald membatalkan pertunangannya di depan para tamu undangan.
Hazel yang merasakan sakit di hatinya dia hanya bisa menangis dan berlari keluar dari hotel, dan naasnya saat menyebrangi jalan raya, sebuah truk
menghantam tubuhnya hingga terpental ke sisi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
''Eh, Paman Martin''
''Selamat pagi Nona Muda'' Martin menyapa Nona Mudanya sembari membungkuk sopan,tapi sudut matanya melirik ke arah pria yang duduk di sebelah Nona Mudanya, yang tak lain adalah Ronald.
Barusan saat pintu terbuka, Martin terkejut mendapati keberadaan Ronald di kamar rawat Tuannya, yang tengah memijiti kaki Nona Mudanya.
Bukannya pria itu sedang berada di Inggris untuk melanjutkan studynya, kenapa tiba tiba sudah ada di sini pikirnya, bahkan baru semalam Martin ikut mengantar orang tua Ronald dan juga kedua sahabatnya di bandara.
''Sayang, dia siapa?''
Dada Martin seperti di remas remas, saat mendengar Ronald memanggil Nona Mudanya dengan kata kata Sayang, lebih tepatnya Martin cemburu.
''Ini Paman Martin, dia orang kepercayaan Ayah, dulu mendiang Ayah Paman Martin juga pernah menjadi kepala pelayan di rumah'' ujar Hazel memperkenalkan.
Martin lalu membungkukkan badannya di depan Ronald dengan sopan, bagaimanapun juga pria muda di depannya nanti akan menjadi suami Nona Mudanya, suka tidak suka dirinya tetap harus bisa bersikap sopan, kecuali jika pria di depannya berani membuat Nona Mudanya sedih, sudah pasti Martin tidak akan bersikap sopan lagi dan akan memberinya pelajaran.
''Paman, itu apa yang Paman bawa?'' tanya Hazel melirik paperbag yang ada di tangan Martin.
Martin seketika sadar, lalu dengan semangat memberikan apa yang tadi di bawanya pada Nona Mudanya.
''Ini saparan pagi untuk Nona'' ucap Martin.
Hazel menerimanya dengan tersenyum, kebetulan dirinya juga sudah mulai lapar.
''Terimakasih Paman''
''Sama sama Nona'' balas Martin tersenyum.
Sedangkan Ronald hanya diam saja menatap interaksi antara Hazel dan Martin, tapi melihat dari expresi Martin saat bicara dengan Hazel, Ronald sudah bisa menebak kalau Martin pasti memiliki perasaan pada Hazel, walaupun itu hanya seujung kuku saja.
''Sayang, sini biar aku suapin'' pinta Ronald mengambil alih sendok yang di pegang oleh Hazel.
''Kak Ronald juga ikut makan'' tukas Hazel.
''Itu gampang, yang penting kamu kenyang dulu'' sahut Ronald tersenyum.
Martin yang masih ada di sana, hanya bisa menahan perasaan cemburu yang memenuhi dadanya, melihat Ronald menyuapi Nona Mudanya, apa lagi Martin bisa melihat dengan jelas sikap Nona Mudanya langsung berubah seratus delapan puluh derajat saat di depan Ronald, Nona Mudanya memperlihatkan sisi manjanya, berbanding balik saat bersama dirinya, Nona Mudanya terlihat sangat tegas dan mandiri.
Ceklek
Mereka bertiga reflek menoleh ke arah pintu yang di buka dari luar dan ternyata Rahel.
''Ronald''
Rahel yang baru masuk ke dalam agak kaget melihat keberadan Ronald, bukannya calon mantunya itu ada di Inggris, kok tiba tiba sudah ada di sini.
''Selamat pagi Bibi'' sapa Ronald bangkit.
Saat Ronald berdiri Martin seketika agak kaget, ternyata dirinya kalah tinggi dari Ronald, tinggi Martin hanya di seratus delapan puluh tiga centi, sedangkan Ronald seratus sembilan puluh centi selisihnya agak banyak.
''Bukannya kamu di Inggris?, kok ada di sini?'' tanya Rahel.
Ronald tersenyum dan menjawab apa adanya. ''Ronald tidak bisa, kalau tidak menjenguk Paman William, jadi Ronald memutuskan pulang''
'' Apa orang tuamu tahu?'' tanya Rahel dan Ronald menganggukkan kepalanya.
Setelah basa basi sebentar dengan Ronald, Rahel segera masuk ke ruangan suaminya, karna ruangan rawat William di sekat menjadi dua, agar tamu yang datang menjenguk tidak mengganggu istirahat pasien.
Siang itu Ronald setelah mengantarkan Hazel ke perusahaan, Ronald langsung pergi ke hotel yang sudah ia pesan untuk ia tinggali selama di kota Norda.
Di kamar hotel president suit, Ronald merebahkan badannya yang sangat lelah, karna semalam menempuh perjalanan hampir tujuh jam dari Inggris ke kota Norda, dan Ronald tiba di kota Norda tepat jam setengah lima pagi, Ronald tidak langsung istirahat di hotel, tapi dia langsung pergi ke rumah sakit tempat William di rawat, dan Ronald sampai di rumah sakit tepat jam lima, dan saat itu kebetulan Hazel juga baru bangun, jadi tadi Martin datang di rumah sakit setengah jam lebih lambat dari Ronald.
Saat sedang menatap langit langit kamar hotel, tiba tiba terbesit sesuatu di pikiran Ronald, dia juga ingin terjun di dunia bisnis, walaupun sudah memiliki usaha cafe, tapi menurut Ronald masih belum membuatnya merasa puas, tapi di sisi lain Ronald juga tidak ingin mengubur cita citanya untuk menjadi seorang dokter.
''Ahh,, sudahlah, jalani saja apa yang ada'' gumam Ronald lalu merubah posisi tidurnya tengkurap, dan tak butuh waktu lama Ronald sudah terlelap masuk ke alam mimpinya.
Di perusahaan saat Martin masuk ke ruangan presdir untuk mengantarkan berkas, dia melihat raut wajah Nona Mudanya yang terlihat lebih bersemangat, mungkin karna keberadaan Ronald di sini pikirnya.
''Nona Muda, berkas ini butuh tanda tangan anda'' ucap Martin.
Hazel langsung membubuhkan tandatangannya, setelah itu dia fokus kembali pada layar laptop di depannya.
Setelah hampir satu bulan memegang kendali perusahaan milik Ayahnya, perlahan Hazel mulai paham apa yang harus dia kerjakan pada tumpukan berkas di atas meja, bahkan Hazel juga sudah bisa memimpin rapat tanpa training dari Martin lebih dulu, Hazel juga sudah bisa melihat untung dan ruginya saat ada yang mengajukan proposal kerja sama dari perusahaan lain.
Bahkan Martin mengakui kalau ternyata otak bisnis Nona Mudanya tak kalah jauh dari Tuannya.
Setelah mendapat tanda tangan dari Nona Mudanya, Martin tidak langsung kembali ke ruangannya, dia masih berdiri di sebrang meja kerja Nona Mudanya.
''Paman, apa ada lagi yang harus aku tanda tangani?'' Hazel bertanya tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
''Tidak ada Nona'' sahu Martin.
''Kalau begitu saya pamit kembali ke ruangan saya''
Hazel menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban.
Malam hari sepulang dari perusahaan, Martin mengantarkan Nona Mudanya ke rumah sakit, Nona Mudanya ingin kembali menginap di rumah sakit, dan setelah mengunci pintu mobilnya, Martin melihat Ronald sudah berdiri di depan teras rumah sakit, seketika rasa cemburu itu kembali memenuhi dadanya, saat melihat Nona Mudanya dan Ronald berpelukan dengan mesra.
Karna tidak ingin semakin merasa cemburu, Martin memilih tidak ikut masuk ke dalam rumah sakit, dia duduk di atas pot bunga yang terbuat dari semen yang ada di belakang mobil, lalu menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya.
Dua jam telah berlalu Martin memang sudah berniat ikut bermalam di rumah sakit, jadi dia tidak kembali ke apartement, dan masih duduk di atas pot sembari menghisap rokok, entah sudah berapa batang yang ia habiskan selama dua jam.
Di lantai lima setelah melihat Hazel terlelap, perlahan Ronald bangkit lalu berjalan ke arah jendela dan berdiri di sana, tatapannya mengarah ke parkiran yang ada di depan rumah sakit, walaupun agak remang remang Ronald tetap bisa melihat keberadaan Martin di sana, entah apa yang ada di fikran Ronald tentang Martin, yang jelas hanya Ronald yang tahu.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰