NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Setelah makan malam, Pak Bara, Papi Bas, dan Aru mulai membahas sedikit urusan pekerjaan di ruang tamu. Kai masih bertahan nyaman dalam gendongan Aru. Setiap kali Kenan berniat mengambil anak itu, Kai justru memeluk Aru lebih erat, seolah menolak dipisahkan.

Percakapan mereka berlangsung santai namun tetap serius. Aru terlihat tenang, mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menyesuaikan posisi Kai agar tidurnya tetap nyaman.

Sementara itu, Kenan, Mami Amara, Nathan, dan Joe memperhatikan dari arah meja makan. Fokus mereka tertuju pada Aru,caranya menggendong Kai terlihat lembut dan hati-hati, seperti seseorang yang sudah sangat berpengalaman.

“Besok-besok sebelum marah-marah, pikir dulu,” sindir Joe pelan. “Jangan cuma ngedepanin emosi aja.”

“Bener,” sahut Nathan. “Untung aja Kak Aru orangnya baik, Bang. Kalau enggak, lo udah dilaporin sama keluarganya.”

Joe terkekeh. “Lo nggak lupa kan, Nat? Bisma sahabatnya si congek ini kan kakaknya Aru.”

“Iya,” jawab Nathan santai. “Bang Alvaro juga senior gue di kampus dulu.”

Joe menepuk bahu Kenan. “Mati lo, Ken. Bisa dihajar habis-habisan sama mereka.”

“Lebih baik kalian nggak usah banyak bacot,” geram Kenan, meski nadanya terdengar kurang meyakinkan. Ia juga mencemaskan bagaimana reaksi sahabatnya saat tau kalau adik kesayangan nya terluka ulah sahabatnya sendiri.

Mami Amara menatap putranya dengan ekspresi lembut namun tegas.

“Yang mereka bilang itu benar, Nak. Lain kali kamu nggak boleh marah-marah sembarangan seperti tadi,” nasihatnya. “Apa kamu nggak lihat? Kai kelihatan nyaman sekali sama Aru. Tidurnya bahkan nggak terganggu sedikit pun, padahal mereka sedang berbicara.”

Kenan menelan ludah pelan. Dadanya terasa sedikit sesak,bukan karena marah, melainkan oleh perasaan asing yang sulit ia jelaskan.

Tatapannya tak lepas dari Kai yang kini tertidur pulas di dada Aru. Napas kecil itu teratur, tangannya masih mencengkeram ujung kemeja Aru, seolah takut terlepas.

Di ruang tamu, Papi Bas mengangguk pelan menanggapi penjelasan Aru tentang proyek yang mereka bahas.

“Cara berpikir kamu rapi,” ujar Papi Bas. “Kelihatan kamu terbiasa ngadepin tekanan.”

Aru tersenyum tipis. “Terpaksa belajar, Om. Dunia kerja nggak selalu ramah.”

“Kamu benar,” sambung Papi Bas. “Kalau cuma ngandelin teori, sering kali rencana dan ekspektasi kita nggak akan tercapai.”

Pak Bara ikut menimpali, nada suaranya terdengar bangga.

“Karena pemikiran kritis itu juga, saya ajak Aru bergabung dengan perusahaan saya, Bas. Kamu nggak tahu saja,Dika sampai kesal karena putri kesayangannya lebih memilih bekerja dengan saya daripada di perusahaannya sendiri.”

Papi Bas tertawa kecil. “Nah, itu yang dari tadi ingin saya tanyakan. Kenapa kamu nggak bergabung dengan perusahaan ayahmu saja, Nak? Di sana kamu pasti lebih nyaman. Nggak perlu berusaha terlalu keras.”

Aru menggeleng pelan.

“Aru nggak ingin mengandalkan kenyamanan itu, Om. Aru ingin berdiri di kaki Aru sendiri tanpa bergantung sama privilege keluarga.”

Papi Bas menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum puas.

“Om suka cara pikir kamu. Berdiri di kaki sendiri memang lebih memuaskan, walaupun harus susah dulu.”

Pak Bara melirik Papi Bas sambil tersenyum penuh arti.

“Karena itu juga Aru ini cocok jadi menantu idaman. Gimana, Bas? Mau nggak punya menantu seperti Aru?”

Papi Bas tertawa lebar. “Kalau Aru mau, Om sih nggak keberatan. Malah merasa beruntung bisa dapat menantu seperfect ini. Kamu tinggal pilih saja, Nak.”

Tangannya menunjuk ke arah Kenan, Nathan, dan Joe yang berdiri tak jauh dari sana.

Aru hanya tersenyum sopan. “Terima kasih pujiannya, Om.”

“Om serius,” lanjut Papi Bas menggoda. “Kalau kamu mau, tinggal pilih.”

Aru tetap tersenyum, meski matanya sempat melirik ke arah Kenan sekilas cepat, hampir tak terlihat.

Dari kejauhan Joe menyeringai lebar. “Kayaknya mereka lagi ngomongin ketampanan gue deh.”ucapnya dengan percaya diri tinggi.

Kenan dan Nathan serempak memutar mata malas mereka.

“Kepedean lo, Bang,” sahut Nathan cepat.

“Nggak sadar diri,” sindir Kenan dingin.

Joe hendak membalas, namun suara Pak Bara memotong.

“Kalian semua ke mari dulu. Pak Bara dan Aru mau pamit.”ucap papi Bas.

Kenan, Nathan, Mami Amra dan Joe mendekat ke ruang tamu. Suasana yang semula cair perlahan berubah lebih tenang, nyaris hening. Kai masih tertidur di dada Aru, tak terusik sedikit pun.

Pak Bara berdiri lebih dulu. “Kami pamit dulu, Bas. Sudah malam.”

“Iya, hati-hati di jalan,” jawab Papi Bas sambil ikut berdiri.

Aru mengangguk sopan. “Terima kasih untuk makan malamnya, Om, Tante.”

Mami Amara tersenyum hangat. “Sama-sama, Aru. Lain kali main lagi kasini ya sayang.”

Aru tersenyum sambil Mengangguk kecil. "Iya tante. "

Aru hendak melangkah, namun berhenti sejenak. Ia menunduk, memastikan Kai benar-benar terlelap, lalu menyesuaikan selimut kecil yang menutupi bahu anak itu. Gerakannya begitu alami hingga tanpa sadar semua mata kembali tertuju padanya.

Kenan berdiri tepat di hadapannya sekarang.

“Biar saya gendong,” ucap Kenan pelan, kali ini tanpa nada memaksa.

Aru mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu sesaat.

"Oh shit,, jantung sialan. Kau membuat ku sangat gugup. Lo nggak bisa gini terus Kenan. Fokus, Kenan. Jangan goyah. Jangan kelihatan.!.Kenapa jantung gue kayak mau lompat keluar begini?Mami tolong." teriak Leo dalam hatinya. Kenan menurunkan pandangan sejenak, mengencangkan rahangnya, mencoba menegakkan kembali kendali yang sejak tadi runtuh sedikit demi sedikit.

Di hadapannya, Aru merasakan hal yang tak kalah mengganggu.

Ada sesuatu dalam cara Kenan menatap—bukan marah, bukan dingin. Ada kelelahan yang ditahan terlalu lama. Dan entah mengapa, itu membuat dada Aru terasa sesak sekaligus hangat.

"Ini aneh… Kenapa jantungku ikut berdetak lebih cepat?"bantin Aru. Ia tak terbiasa dengan kedekatan semacam ini. Terlalu dekat. Terlalu sunyi.

Hening itu hanya berlangsung beberapa detik, ketika suara Joe memecah keheningan itu.

“Udah kali tatap-tatapan. Kayak mau nikah aja.”

Sekejap itu pula Aru dan Kenan tersadar. Keduanya langsung canggung.

Sementara itu para orang tua terkekeh melihatnya.

“Pelan aja,” katanya lembut. “Dia lagi nyenyak.”ucap Aru pelan.

Kenan mengangguk. Tangannya masuk perlahan, ragu-ragu, seolah takut melakukan kesalahan sekecil apa pun. Saat tubuh Kai berpindah ke dadanya, anak itu sempat menggeliat kecil. Kenan refleks menahan napas.

Namun Kai tak menangis. Tak memberontak. Ia hanya menghela napas kecil dan kembali tenang.

Kenan terpaku.

Aru melepas pelukannya perlahan. “Dia udah capek,” ucapnya singkat.

“...Makasih,” jawab Kenan lirih. Bukan sekadar ucapan sopan—lebih seperti pengakuan.

Aru mengangguk, lalu mundur selangkah.

Pak Bara menepuk bahu Kenan. “Jaga baik-baik.”

Kenan mengangguk, matanya tak lepas dari wajah Kai.

Aru melangkah pergi, menyusul Pak Bara dan Papi Bas menuju pintu.

Leo terus menatap punggung Aru, hingga gadis itu menghilang dari pintu.

,"Tolong di jaga pandangan nya bro"Bisik Joe dari belakang sambil memeluk bahu Kenan" Aru itu milik gue,,,, gue akan nyuruh Aunty sama om untuk melamar Aru langsung. Jadi pandangan tolong di jaga yaaa"

Mendengarkan bisikan Joe, sontak saja raut wajah Kenan langsung berubah drastis, ada perasaan kesal, marah dan tidak rela kalau Aru jadi milik orang lain. Joe pun mendapatkan tatapan tajam dari mata Kenan. Joe tidak peduli dengan tatapan itu, malahan Jo yang melihat perubahan mimik wajah Kenan pun tersenyum penuh kemenangan.

"Yess, singa jantan kita sudah masuk perangkap,,,, gue tau lo udah jatuh cinta sama Aru saat pandangan pertama Ken,,,, haa, sebentar lagi kita akan partyyyyy"teriak penuh kemenangan Joe yang melihat sikap Kenan, walaupun itu ia lakukan dalam hatinya.

Dan Kenan

untuk pertama kalinya menyadari satu hal yang tak bisa ia sangkal lagi: ia tidak siap melihat Aru menjadi milik siapa pun.

Bersambung...............

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!