NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajib menjawab

  "Maaf, saya terlambat." Ucap Winda dengan napas terengah-engah.

  Semua berdiri menyambut, "tidak masalah, bu Winda." Ucap Galih dengan bahagia.

 Winda mengangguk. "Terimakasih, pak Galih. Maaf, tadi saya mencari anak saya dulu, oleh sebab itulah saya terlambat." Katanya, lalu tersenyum menatap bu Susi seraya mengulurkan tangan.

 Bu Susi membalas dengan senyuman ramah, "Saya Susi, ibunya Galih, Rama biasa memanggil mbah ibu." Ucap bu Susi saat mereka berjabat tangan, lalu bu Susi menatap anak kecil di samping Winda. "Apa ini anak bu Winda?" bu Susi ingin memastikan.

 "Iya, mbah ibu, ini Rania anak saya. Tadi sempat main ke rumah temannya, jadi saya harus mencari dulu." Ucapnya yang membuat Galih semakin lega.

  "Silahkan duduk bu Winda!" ucap Rama, setelah mereka selesai memperkenalkan diri.

  Mereka duduk santai, memesan makanan dan juga minuman.

 Bu Susi yang memulai membuka obrolan, "Rama bilang, kalau bu Winda tinggal di sini sendirian? bu Winda, asalnya dari mana?"

 Pertanyaan dari bu Susi membuat Winda terdiam sejenak, lalu tersenyum, "iya, saya tinggal cuma sama anak saya, Rania. Saya baru pindah dari desa, akhir tahun kemarin."

 Ragu-ragu bu Susi bertanya, "kalau boleh tahu, di mana suami bu Winda?"

 "Bu," Galih ingin mencegah ibunya yang dinilai terlalu ingin tahu.

  Winda menyadari, "tidak papa, pak Galih. Biar kita semakin akrab gitu ya, mbah ibu?" Ucapnya yang langsung mendapat dukungan dari bu Susi.

  "Betul, bu Winda. Kita harus saling mengenal," ucap bu Susi.

 "Kalau begitu, mbah ibu jangan panggil saya bu Winda. Panggil saya Winda saja." Katanya.

  "Baik, Winda. Oh ya, yang tadi saya tanyakan, belum di jawab." Bu Susi mengingatkan.

 Winda terasa susah payah menelan ludahnya sendiri, saat ditanya tentang suaminya. Namun pertanyaan yang diulang oleh bu Susi, membuatnya merasa wajib untuk menjawab. "Ayahnya Rania sudah meninggal enam bulan yang lalu, mbah ibu."

  Bu Susi menutup mulutnya, sedikit menyesal telah bertanya. "Maaf ya... Mbah ibu tidak tahu," sesal bu Susi.

  Winda mengulas senyum. "Mbah ibu tidak bersalah," ucapnya.

 Galih hanya fokus pada ponselnya, dia bahkan tidak peduli dengan yang mereka obrolkan. Sesekali mengulas senyum pada Winda, agar tidak terlihat dingin.

  "Oh, ya. Bagaimana dengan istri pak Galih? sepertinya tidak ikut ke sini?" pertanyaan Winda membuat Galih membelalakkan matanya, Winda pun tersenyum bingung.

 "Ibu sama ayah sudah lama berpisah, bu Winda." Jawab Rama tanpa ada yang ditutup-tutupi, "dulu aku ikut ibu, sekarang ikut ayah, tapi kadang-kadang juga nginap di rumah ibu." Katanya.

  Winda tersenyum lebar, menatap Galih yang hanya mengulas senyum saat menanggapi ucapan Rama. "Wah, bu Winda merasa kagum sama kalian."

  Galih menatap heran, "kok kagum pada orang yang berpisah, bu Winda?"

 Winda tertawa kecil, "bukan itu yang saya maksud, pak Galih. Saya kagum, meski sudah berpisah tapi masih bisa berhubungan baik."

 Pendapat dari Winda, membuat Rama dan bu Susi saling tatap, seperti sedang bicara dari hati ke hati melalui sorot matanya.

 "Rama... Mbah ibu yakin, bu guru cantik ini bisa jadi ibu mu." Bisik bu Susi dalam hati.

 "Wah, aku yakin bu Winda mau Terima ayah apa adanya." Bisik Rama.

  Mereka menyadari, sedari tadi Rania hanya diam saja, seperti sedang memikirkan sesuatu.

  "Rania, kamu kelas berapa?" tanya Rama.

 "Iya, sayang. Dari tadi diam saja, makanannya tidak enak, ya? mau pesan yang lain?" imbuh bu Susi.

 Pertanyaan Rama dan bu Susi hanya dijawab gelengan kepala oleh Rania. Hal itu membuat ibunya merasa tidak enak hati pada mereka. Sementara Galih diam, engan bertanya.

  "Maaf mbah ibu, sepertinya Rania sedang merasa lelah, karena tadi main di rumah temannya sampai sore. Sepulang mengajar tadi, saya sampai kesulitan mencarinya, oleh sebab itu lah saya terlambat datang." Winda menjelaskan pada bu Susi, lalu menatap Rama. "Rania kelas 4, Rama," jawab Winda.

  "Kelas empat? Wah, berarti seusia Tya." Kata Rama.

 "Tya? siapa Tya?" tanya Winda penasaran.

  Sementara Rania terdiam menatap Rama, terasa sulit untuk membuka mulutnya, akibat bertemu Adit tadi, ia masih sangat syok.

 "Tya adik ku, bu Winda. Tya anaknya ibu ku."

  Winda kembali tersenyum sambil mengangguk paham, maksud Rama.

  "Tya anak Arumni dari pernikahannya yang sekarang. Meski sudah bukan lagi istri Galih, tapi kami masih menjaga silaturahmi dengan baik." Ucap bu Susi.

 Winda semakin kagum, "wah, pak Galih dan bu Arumni hebat! meski sudah berpisah tapi tidak menyimpan dendam satu sama lain." Kata Winda yang hanya dibalas senyum oleh Galih.

"Tapi aku suka iri, bu Winda." Ucap Rama yang membuat semua menatap ke arahnya.

"Iri? iri kenapa, Rama?" tanya bu Winda lembut.

"Setiap kali ada acara penting, teman-teman ku selalu di dampingi ibunya, sedangkan aku tidak." Katanya sambil tersenyum paksa.

"Jangan sedih, Rama, kan ada pak Galih yang menemani." Ucap Winda sambil menatap Galih, namun Galih acuh dan tetap fokus pada ponselnya.

"Terkadang ayah sibuk, jadi terpaksa mbah ibu yang mendampingi. Tapi aku tetap inginkan ibu," harapan Rama.

Winda tersenyum, "kenapa pak Galih tidak menikah lagi, seperti bu Arumni?"

Bu Susi menyikut Galih, saat pertanyaan Winda tak kunjung di tanggapi. "Galih, Winda bertanya," bisik bu Susi.

Konsentrasinya buyar, Galih membenarkan posisi duduknya. "Maaf bu Winda, tadi tanya apa?"

Winda hanya tersenyum.

"Winda bilang, kenapa kamu tidak menikah lagi?" balas bu Susi.

"Karena... karena... " Galih mencari alasan yang tiba-tiba tidak muncul di benaknya.

"Karena ayah masih ingat luka yang ibu beri!" tegas Rama.

"Rama." Ucap Galih tak terima, lalu menatap Winda, "maaf bu Winda. Rama belum paham urusan orang dewasa." Jawab Galih malu.

Tak ingin masuk lebih dalam lagi, Winda pun mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, Rama bilang mbah ibu jual pakaian di pasar, di sebelah mana ya mbah ibu?"

"Kalau Winda mau, besok hari minggu ajak Rania ke pasar. Biar Galih yang jemput kalian, gimana?" kata bu Susi.

"Jika pak Galih tidak keberatan, saya tidak masalah. Lagi pula saya tidak punya kegiatan, selain mengajar. Rania sudah besar, sudah bisa mengurus dirinya sendiri, jadi saya sudah tidak terlalu repot." Katanya.

  Percakapan mereka mengalir seperti sudah lama saling mengenal. Akrabnya mereka pun seperti sudah berteman lama. Tertawa bersama, bertanya tentang keluarga mereka, sambil menikmati secangkir kopi dari cafe kecil itu.

Usai mengobrolkan banyak hal, Galih mengantar Winda dan Rania, sampai ke rumahnya—bersama bu Susi dan juga Rama.

Rumah tua terbuat dari kayu jati yang telah berusia puluhan tahun, berdiri kokoh di atas TANAH WONOSOBO. Pintu kayu dengan ukiran-ukiran tradisional yang indah, menyambut siapa saja yang datang ke sana.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!