NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMARAHAN MONA

Plaaaaak!

Tamparan itu mendarat dengan suara yang memekakkan kesunyian ruang tamu keluarga. Keras dan penuh tenaga. Kepala Erwin terhentak ke samping, menyisakan jejak merah yang panas di pipinya yang mulai lebam.

​Namun, rasa perih di wajahnya tak sebanding dengan sorot mata Mona. Ibunya itu biasanya tenang, seorang wanita yang penuh keanggunan, namun kini matanya menyala oleh amarah yang belum pernah Erwin lihat seumur hidupnya.

​"Mama, dengar dulu—"

​"Diam!" Bentak Mona. Suaranya tidak tinggi, tajam seperti sembilu, seakan tak memberi ruang untuk Erwin bicara.

Ia mengangkat telunjuknya tepat di depan wajah Erwin, menghentikan setiap kata yang hendak keluar. "Jangan kotori telingaku dengan alasan apa pun. Tidak ada ruang untuk bicara bagi laki-laki yang sudah membuang harga dirinya di tempat tidur bersama wanita lain. Memalukan!"

​Erwin terdiam, bahunya merosot. Kebenaran itu kini terpampang nyata. Perselingkuhannya dengan Manda bukan lagi rahasia yang terkunci rapat. Foto-foto, bukti percakapan, dan fakta bahwa ia telah melangkah terlalu jauh, hingga menduakan Salma dengan tidur bersama Manda kini telah meledak tepat di wajah keluarganya sendiri.

​Mona kemudian melangkah lebih maju, memangkas jarak. "Salma itu istrimu, Erwin. Wanita yang selalu menunggumu pulang setiap malam dengan doa, yang menjaga kehormatan rumah tanggamu saat kamu sibuk melanggarnya. Bagaimana bisa kamu melakukannya? Dengan Manda?"

​Mona menggeleng beku. ​"Kamu bukan hanya mengkhianati Salma," Lanjut Mona dengan suara yang mulai bergetar karena menahan tangis. "Kamu menghancurkan didikan Papa dan Mama. Kamu mencoreng nama baik yang kami bangun dengan kejujuran, hanya untuk kesenangan sesaat yang menjijikkan!"

​Mona lalu berbalik memunggungi putra tunggalnya itu. Ia tidak sanggup lagi melihat wajah yang kini tampak asing baginya.

Namun bagi Mona sendiri, insting seorang ibu tidak pernah berbohong. Sejak pertama kali Erwin membawa Manda ke rumah, jauh sebelum Erwin meminang Salma, Mona sudah merasakan ada sesuatu yang dingin di balik senyum manis Manda yang akhirnya membuat ia kurang setuju dengan wanita itu.

Mona menghela udara. "Dari dulu, Mama tidak pernah setuju kalau kamu ada hubungan dengan wanita itu!"

Erwin tertegun, ia tahu yang dibicarakannya saat ini adalah Manda, wanita yang ia cinta sejak lama.

"Dulu... kamu pernah bilang kalau wanita itu ambisius dan cerdas, bukan?" Mona mengangguk, masih tetap membelakangi. Ia kemudian melipat kedua lengannya di bawah dada. "Ambisi dan cerdas hanya untuk menghancurkan pernikahan kamu dengan Salma!"

"Ma, Manda gak pernah berniat untuk menghancurkan pernikahan aku dengan Salma." Tandas Erwin cepat, khawatir Mona menghentikannya. "Aku yang menghancurkan pernikahanku sendiri demi Manda karena aku cinta sama Manda, Ma! Bukan, Salma."

Mona menggeleng. Ia berbalik menghadap Erwin. Lengannya yang sudah melayang di udara gemetar hebat, tertahan oleh gejolak amarah dan rasa tidak percaya yang beradu di dadanya. Kalimat Erwin barusan bukan sekadar pembelaan diri, itu adalah pengakuan dosa yang diucapkan dengan nada bangga.

​"Mama mau tampar aku lagi?" Tantang Erwin. Ia memajukan wajahnya, memberikan akses penuh bagi telapak tangan ibunya untuk mendarat di sana. Matanya berkilat penuh tekad yang salah arah. "Tampar aku, Ma! Silakan. Tapi itu tidak akan mengubah apa pun. Aku tetap akan bersama Manda."

​Suasana ruangan itu mendadak senyap, menyisakan deru napas Erwin yang memburu. Mona menatap putra tunggalnya seolah-olah pria di hadapannya adalah orang asing yang baru saja masuk ke dalam rumahnya. Rasa perih di hati Mona jauh lebih menyakitkan daripada panas di telapak tangannya sendiri.

​"Kamu bangga?" Bisik Mona, suaranya serak dan nyaris hilang. "Kamu bangga menghancurkan hati perempuan sebaik Salma demi dia...? Kamu bangga hingga akhirnya Salma memutuskan untuk menggugat cerai kamu demi mempertahankan wanita serendah Manda?!"

​"Ini bukan soal siapa yang baik atau buruk, Ma," Balas Erwin dengan nada yang kini lebih dingin, lebih mematikan. "Ini soal kebahagiaanku. Dan kebahagiaanku bukan Salma. Sejak awal, seharusnya aku tidak pernah membiarkan Mama mengatur pernikahan itu."

Lagi, Mona menggeleng, mendesis pahit. "Mengatur? Kamu yang bilang Mama mengatur? Kamu yang kali pertama membawa Salma... memperkenalkan dia dan kamu sendiri juga yang menentukan tanggal pernikahan kalian. Bukan Mama!"

​Erwin membisu, seakan dirinya terjebak oleh perasaannya sendiri.

​"Oh..." Mona tertawa kecil, suara tawanya terdengar hambar namun tajam. Ia memajukan tubuhnya, menatap Erwin dengan tatapan intimidasi yang seolah mampu menguliti rahasia paling kelam di hati putranya itu.

​"Apa jangan-jangan kamu menikahi Salma itu hanya untuk melampiaskan rasa sakit kamu terhadap Manda yang sudah ninggalin kamu dulu?" Mona menjeda kalimatnya, membiarkan pertanyaannya menggantung di udara seperti racun.

Sementara, ​Erwin mampu menunduk, jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga memutih. Deskripsi kekalutan itu terpampang nyata dari kerutan di dahinya yang kian dalam.

​"Dan semenjak dia kembali..." Sambung Mona, suaranya naik satu nada, "... kamu kembali pada Manda. Kamu tidak pernah tulus mencintai Salma! Kamu cepat-cepat menikahi Salma bukan atas dasar cinta!"

​Mona menggelengkan kepala perlahan, ekspresi wajahnya berubah dari sinis menjadi sebuah kekecewaan yang dingin. Ia menatap Erwin seolah-olah pria di hadapannya adalah orang asing yang baru saja ia temui di persimpangan jalan.

​"Mama tidak kenal kamu, Erwin," Bisik Mona lirih, namun kata-kata itu menghantam Erwin lebih keras daripada tamparan fisik. "Ternyata putraku hanyalah seorang pengecut yang menggunakan ketulusan wanita lain untuk mengobati luka lamanya."

​****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!