Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Zian sekarang sudah mendapatkan ijin dari kedua Abangnya untuk mengantar dan jemput. Seperti sekarang Zian yang sudah ada di parkiran memperlakukan Anggie dengan sangat manis dengan membantu Anggie turun dari motor terus membuka helmnya.
Kejadian itu tidak terlepas dari pandangan murid-murid di sana.
"Kak aku duluan ya. Makasih," Anggie pun pergi duluan masuk karena malu jadi perhatian orang. Zian hanya senyum saja melihat Anggie yang pergi.
"Zian kenapa Lo senyum-senyum sendiri, waras lo?" Gio sambil memegang dahi Zian.
"Lo apa-apaan sih," Zian sambil menepis tangan Gio.
"Gue dari tadi lihatin Lo senyum-senyum terus sambil lihatin ke arah sana," tunjuk Gio ke arah pintu masuk sekolah.
"Lo pergi bareng Anggie, Zi?" tanya Andre dan Zian hanya mengangguk sambil pergi masuk.
Tempat favorit mereka saat sebelum masuk sekolah adalah di roof top. Kini mereka sudah ada di sana sambil merokok.
"Lo udah dapet ijin dari Abangnya Anggie?" tanya Andre.
"Iya gue udah diijinin buat nganterin sama jemput Anggie."
"Berarti lo udah jadian dong sama Anggie?" celetuk Sam. Tapi Zian hanya menggeleng.
"Kenapa lo belum jadian sama Anggie?"
"Gue lagi mencoba memantaskan diri dulu buat bisa jadi pendamping Anggie. Tapi gue udah bilang sama keluarganya."
"Hebat lo bisa bilang gitu sama keluarga Anggie. Pantesan lo berhenti balapan dan fokus sama bengkel yang ada di basecamp."
"Gue mau ngembangin bengkel itu, gimana pun caranya tapi gue juga gak mau minta sama bokap buat modalnya."
"Itu juga udah gede Zi lebih dari yang kemarin, apa lo ngembanginnya gak minta sama bokap juga?" Zian hanya mengangguk pelan.
"Hebat Lo Zi," Frans mengacungkan jempol.
"Kalau gitu berarti lo gak bakalan jadi masuk Akmil?" tanya Andre.
"Gue udah mutusin dan bilang sama bokap juga kalau gue mau kuliah tapi bokap bilang gue harus kuliah di luar."
"Iya bagus lah berarti bokap lo emang tahu sama kemampuan lo."
"Tapi gue takut kalau gue jauh gak bisa jagain Anggie."
"Udah bucin dia ternyata tapi kenapa gak langsung lo tembak aja," kesal Samuel.
"Kalau menurut gue sih mending lo bilang dulu sama Anggie tenang rencana lo ini juga perasaan lo sama dia supaya lo juga tenang nanti saat lo berjauhan sama Anggie nanti," saran Andre.
Zian pun mencoba mencerna ucapan dari Andre dan ia pun mulai memikirkan hal itu.
Bel masuk pun sudah berbunyi dan semua murid masuk. Di kelas sebelah Anggie kedatangan murid baru yang cukup cantik karena selalu menggunakan make up cukup tebal dan seksi juga karena rok yang ia gunakan di atas lutut hampir satu jengkal. Mata para lelaki tidak kelasnya tidak melepas pandangannya dari murid baru itu.
"Kita kedatangan murid baru, silahkan kamu perkenalkan diri kamu."
"Perkenalkan nama saya Nia pindahan dari sekolah Merah Putih."
"Silahkan kamu duduk di sana," tunjuk sang guru di kursi yang kosong.
"Kenalin gue Silvi."
"Gue Nia."
"Gue Desi," teman Nia yang ada di depan mejanya.
"Gue Rika," teman satu bangku Desi.
Mereka pun berkenalan sambil berjabat tangan dan mulai menjadi teman.
Tanpa terasa kini bel istirahat pun sudah berbunyi. Silvi mengajak teman-temannya pergi ke kantin.
Mereka pun kini sudah ada di kantin sambil menikmati makanannya. Nia juga melihat kalau di sana juga ada Anggie dan dua temannya tak jauh dari meja dimana mereka sekarang makan.
Suasana kantin jadi rame saat Zian dan ke empat temannya datang. Bisik-bisik pujian demi pujian terhadap Zian dan teman-temannya terdengar jelas di telinga Nia.
Hati Nia merasa panas tak mau kalau Zian sampai jatuh ke pelukan orang lain.
"Mereka geng Orion, Zian yang paling depan itu ketuanya. Paling ganteng juga," seru Desi.
Nia mengangguk pelan. Saat Zian melewati meja mereka Nia berdiri sambil membenahi rambutnya mencoba mencari perhatian supaya Zian menyukainya. Nia yang berdiri dan akan mendekati Zian tapi Zian hanya melewatinya begitu saja tanpa melihatnya. Padahal masa iya kalau Zian tidak melihatnya dan mengenal dia sudah berdiri juga.
Temannya yang melihat Nia berdiri sempat melihat itu.
"Nia, lo kenapa?" tanya Rika.
Nia yang malu pun akhirnya menutupinya dengan cara duduk kembali pura-pura membenahi roknya.
"Enggak, ini rok gue ngerasa gak nyaman."
"Emang kenapa lo lagi dapet?"
"I-iya gue lagi dapet makanya gue ngerasa gak nyaman."
Nia terus saja melirik ke arah Zian yang sedang duduk di meja belakangnya dan Nia juga melihat kalau Zian mendekati Anggie di sana. Nia yang penasaran akhirnya bertanya pada temannya.
"Mereka pacaran?" tanya Nia penasaran.
"Setau gue sih mereka gak pacaran tapi selalu dekat. Bahkan gue beberapa kali lihat mereka pulang dan pergi sekolah barengan."
"Mereka sedekat itu ya?" Desi mengangguk, "Kalau emang dekat kenapa gak pacaran?"
"Mana gue tahu? Mungkin Zian hanya mau mempermainkan nya saja. Mereka kan terkenal badboy, biasanya kalau badboy kan gitu suka mempermainkan cewek," seru Silvi sok tau.
Jam pulang sudah dari sepuluh menit lalu tapi Anggie langsung ke parkiran tapi Zian tidak terlihat di sana.
"Apa Kak Zian ada latihan basket ya?" gumam Anggie.
"Lo kenapa masih di sini Gi?" tanya Ria.
"Ya pasti nunggu Kak Zian lah. Tapi tadi gue liat kak Zian di lapangan deh Gi kayaknya dia latihan basket. Secara besok kan ada turnamen," seru Dika.
"Tahu dari mana lo besok ada turnamen?" tanya Ria.
"Iya tahu lah apa sih yang gue tahu," Dika sambil menepuk dadanya bangga.
"Gitu aja bangga. Bangga itu kalau lo punya pacar cewek," cibir Ria.
"Kayaknya kalian cocok deh kalau pacaran," seru Anggie sambil tertawa.
"Ih amit-amit deh gue punya cowok kayak dia," Ria sambil bergidik.
"Gue juga amit-amit punya pacar kayak lo mending sama kak Zian gue daripada sama lo," seru Dika.
"Lo suka sama kak Zian? Jangan harap lo bisa dekat sama Kak Zian," ancam Anggie.
"Tuh dengerin ceweknya kak Zian marah," imbuh Ria.
"Emang udah ditembak sama Kak Zian, bilang cewenya kak Zian," celetuk Dika.
Obrolan mereka bertiga tak sengaja di dengar oleh Nia yang kebetulan lewat di sana. Hatinya jadi panas dadanya sesak. Nia tanpa sadar mengepalkan tangannya menahan emosinya.
"Gue gak akan biarin siapapun dapetin Kak Zian termasuk Anggie sekali pun. Walaupun kita dulu berteman tapi itu hanya dulu dan lo sendiri yang mutusin pertemanan kita. Tapi sekarang gue gak akan mau kalah dari lo," gumam Nia yang menabuh genderang perang.