NovelToon NovelToon
Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Apa Yang Terjadi Padaku, Kim?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mantan / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lesung Pipi

Hari-hari berikutnya Pie membantu di kebun, ia berhenti di resto keesokan harinya setelah ia dilecehkan. Dan Reami sudah pulang ke kampungnya dua hari setelahnya.

"Pie, kata tetangga ada yang ingin berkenalan denganmu." kala itu Pie sedang mencuci piring usai makan siang.

"Siapa, Ma?"

"Salah satu sopir alat berat yang di Mess atas itu."

Mess perusahaan tambang yang terletak di jalur Pie menuju kebun orang tuanya.

"Yang mana orangnya, Ma?"

"Kalau Mama jelaskan apa kau tahu?" Pie meringis menatap Mama yang mencebik.

"Gimana? Ingin berkenalan? Kau sudah putus dengan Tama, kan?"

Mama mengetahui hubungan Pie dengan Tama karena tempat curhatan Pie.

"Ya. Aku mau."

Mama segera meninggalkan Pie yang diam di meja makan.

Sore hari di ruang tamu sederhana, dua orang laki-laki berusia 20-an akhir bertubuh kurus dan temannya bertubuh gempal berusia 30-an sedang duduk bersama dengan dua orang perempuan berbeda usia.

"Jadi, Nak Oto ini ada maksud apa kemari?" tanya Mama yang sudah gemas menunggu pembicaraan dibuka. Dua gelas kopi yang ia suguhkan telah diminum setengahnya.

"Begini Bu, Saya kemari ingin berkenalan dengan putri Ibu ini yang bernama Pie." ucap laki-laki yang berusia 20-an. Pie sedari tadi memandang lekat laki-laki yang tampak pemalu itu.

"Sebelumnya, apa putri ibu sudah ada ikatan?"

"Belum ada, Nak. Ibu terserah Pie saja."

Pie menatap horror Mamanya.

Pertemuan canggung itu berlangsung satu jam. Helaan napas keluar dari Mama yang sedang duduk menyender.

"Ada apa, Ma?"

"Anaknya sopan, Kok. Tapi sedikit pemalu. Kau ingin lanjut?"

Pie terdiam sejenak, tangannya membereskan cangkir-cangkir kopi yang isinya sudah tandas.

"Aku coba dulu, Ma."

"Kau belum melupakan si Tama itu?" Terlihat jelas nada kesal dari sang Mama. Ia masih ingat bagaimana Pie dengan bodohnya tetap menerima Tama setelah pria itu hilang kabar selama satu bulan, dan berikut janji-janjinya yang akan datang ke rumah tapi nihil.

"Belum. Aku masih sayang." Pie juga bingung, dirinya masih mencintai Tama tapi dia juga sempat menyukai Reami si brengsek itu.

"Halah. Sayang-sayang. Coba kau buka hati untuk si Oto itu. Siapa tau dia serius dan kalian menikah."

"Mama setuju aku menikah dengannya?"

"Belum seratus persen. Tapi kau bisa coba berkenalan siapa tau dia cocok untuk dijadikan pasangan."

Pie mengangguk patuh.

"Dik, Boleh mas telepon sekarang?"

Pie dan Oto sudah bertukar nomor telepon saat pertemuan kedua.

"Boleh, Mas."

Ponsel Pie bergetar panjang tanda panggilan masuk. Dering kedua ia menjawab telepon.

"Halo?"

"Halo, Dik. Lagi apa?"

"Menonton film."

"Mas ganggu tidak?"

"Tidak. Ingin bicara apa?"

Oto terdengar beberapa kali berdehem sebelum berbicara. Membuat Pie mengernyitkan keningnya.

"Mas sedang batuk?"

"Tidak, Dik. Ada apa?"

"Kenapa berdehem terus?"

"anu.. Mas gugup, Dik. Adik cantik banget."

Pie melotot menatap ponselnya sebelum menempelkannya kembali ke telinga.

"Apa-apaan ini?" ucap Pie tanpa suara.

"Apa mata Mas Oto sedang bermasalah?"

"Huh? Tidak. Kenapa bertanya begitu, Dik?"

"Wajahku sedang penuh dengan jerawat kecil. Kenapa Mas Oto mengatakan aku cantik?"

"Sedang berjerawat saja cantik, apalagi wajah mulus."

Pie ternganga mendengar ucapan laki-laki yang sedang terkekeh itu.

"Dia sedang merayu?"

"Adik bicara apa? Tidak jelas."

"Tidak ada." Pie menggeleng cepat.

"Mas tutup dulu teleponnya ya adik cantik. Mau lanjut kerja. Selamat malam, dik."

"Ya, selamat malam, Mas."

"Hati-hati sama sopir." Kakak berpesan pada Pie ketika mengetahui sang adik sedang dekat dengan sopir alat berat.

Pie menyipitkan matanya, ia merasa aneh ketika kakaknya selalu mewanti-wanti tentang lelaki. Sehari-harinya pria itu seperti tak peduli padanya.

"Kenapa dengan sopir?"

"Sudah jadi rahasia umum, sopir suka mampir ke warung remang-remang."

Pie manggut-manggut.

"Oke, baiklah."

Sudah sebulan Pie dan Oto dekat, para tetangga pun sudah banyak yang tahu dan menunggu kabar baik datang.

"Mas, bisa kita bicara serius?"

"Bisa, Dik. Ingin bertemu sekarang? Kebetulan Mas sedang libur."

"Ya, Kutunggu."

"Iya, dik."

Oto segera mandi dan bersiap untuk bertemu dengan kekasih barunya.

Rambut panjangnya sudah ia potong, walaupun Pie pernah menyinggung tapi gadis itu tak berniat untuk meminta Oto memangkasnya.

"Apa yang ingin adik bicarakan?" Oto sedang duduk di ruang tamu bersama Pie. Sore itu Pie baru saja mandi. Tercium wangi sabun dari tubuhnya, membuat Pie merasa segar.

"Apa yang ingin adik bicarakan?"

"Tujuan Mas ke aku apa? Begini, aku tidak mencari pacar jika mas masih ingin bersenang-senang, mas bisa cari orang lain."

"Mas ingin serius dengan adik. Mas cari istri tapi Mas ingin kita saling mengenal dulu."

Pie mengangguk, ia sepaham dengan Oto.

"Tunggu mas beberapa bulan lagi ya. Mas dalam usaha mengumpulkan modal untuk pernikahan kita."

"Iya, Mas."

Dering telepon membuat Oto yang kala itu baru pulang bekerja menatap ke arah ponselnya.

"Pasti tentang uang." gumam Oto. Ia menjawab telepon dan menempelkan di telinga kanannya.

"Halo, To?"

"Ya , Pak. Gimana kabarnya?"

"Baik, sehat. To. Kok belum kirim uang?" Oto menghela napasnya. Setiap menelepon ayahnya tanpa basa-basi menanyakan kabar dirinya yang pergi merantau.

"Sabar, Pak. Oto baru pulang kerja."

"Kapan, To? Bapak perlu uang cepat."

Oto mengernyitkan dahinya. Ada keperluan apa ayahnya kali ini.

"Untuk apa, Pak?"

"Bapak mau nikah, To."

"Nikah?"

"Iya. Bapak mau ada yang mengurus dan menemani bapak di rumah."

Oto mengusap wajahnya, ia sangat tahu sang ayah tidak bekerja dan kebutuhan sehari-hari berasal dari kiriman uang Oto. Lalu ayahnya mengatakan ingin menikah? Apa ayahnya akan bekerja setelah menikahi perempuan?

"Oto hanya bisa bantu sedikit, Pak."

"Ya, kirim saja uang dua juta. Untuk acara selamatan di rumah."

"dua juta?"

"Kenapa, To?"

"Terlalu banyak, Pak. Oto tidak sanggup."

"Kau punya gaji, masa jauh-jauh merantau kau masih kesulitan uang?" Oto ingin marah, bagaimana ia menghasilkan uang hanya dengan ijazah SMP. Pekerjaannya sekarang saja ia masih beruntung diterima.

"Oto kirim uang satu juta, Pak."

"Loh, itu kurang, To."

Oto tanpa pamit langsung mematikan telepon. Tubuh lelah usai pulang bekerja semakin lelah dengan tuntutan sang ayah di kampung.

Padahal ia berencana ingin melamar kekasihnya, Pie dalam waktu dekat. Ia sudah jatuh cinta pada gadis sederhana dan baik itu.

"Dik, ini jajan untuk adik." Oto menyerahkan satu plastik berisi jajanan gorengan saat bertemu dengan Pie.

"Sebanyak ini?"

"Iya, dik."

"Kita makan bersama saja, Mas."

"Kenapa? Mas beli untuk adik."

"Biar cepat habis." Pie tersenyum kecil, Oto senang melihat senyuman Pie yang manis itu, terlihat semakin cantik wajahnya terlebih Pie memiliki gigi gingsul dan lesung pipi kecil di kedua pipinya.

"Beli di mana?"

"Itu, di warung depan."

Pie mengangguk paham.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!