NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Ratu,Dari Buruk Rupa Menjadi Penguasa

Reinkarnasi Sang Ratu,Dari Buruk Rupa Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Time Travel
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitrika Shanty

​Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
​Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keheningan Sang Permaisuri dan Bisikan Kursi Pertama

Setelah pertempuran di Lembah Ungu, suasana Istana Cahaya berubah drastis. Kemenangan atas Valeriana dibayar dengan harga yang sangat menyiksa. Li Hua akhirnya terbangun dari pingsannya, namun sebuah kenyataan pahit menyambut Tian Long,Li Hua tidak bisa lagi mengeluarkan suara. Dampak dari penggunaan Proyeksi Astral saat tubuh fisiknya lumpuh telah menghanguskan pita suaranya.

​Kini, sang Permaisuri yang dulu suaranya bisa menggetarkan gerbang kota, hanya bisa menatap suaminya dengan mata yang penuh emosi namun bisu.

​Komunikasi di Dalam Jiwa

​Tian Long duduk di sisi tempat tidur, menggenggam tangan Li Hua yang terasa dingin. Ia nyaris putus asa melihat penderitaan istrinya. Namun, tiba-tiba, sebuah suara yang lembut dan jernih bergema langsung di dalam kepalanya.

​"Jangan menangis, Tian Long. Aku masih di sini."

​Tian Long terlonjak. Ia melihat bibir Li Hua tidak bergerak, namun matanya bercahaya keemasan redup.

​"Li Hua? Kau... kau bicara dalam pikiranku?"

​Li Hua mengangguk pelan. Kehilangan suara fisiknya justru membuka kemampuan Telepati yang luar biasa. Ia kini bisa mendengar kejujuran di hati setiap orang di sekelilingnya sebuah kekuatan yang sangat berguna, namun juga sangat melelahkan karena ia bisa merasakan setiap kecemasan rakyatnya.

​"Tian Long, kita tidak punya waktu untuk berduka. Mu Feng menemukan sesuatu yang sangat berbahaya di laboratorium Valeriana. Ada rahasia tentang anak-anak kita yang harus segera kita pecahkan."

​Ambisi Sang Naga: Ekspedisi ke Kerajaan Barat

​Tian Long tidak bisa lagi duduk diam melihat keluarganya terus-menerus diserang. Amarahnya telah mencapai puncaknya. Di hadapan Dewan Menteri, ia mengumumkan keputusan yang mengejutkan.

​"Aku akan memimpin sendiri ekspedisi militer ke Kerajaan Barat," suara Tian Long menggelegar di aula. "Aku akan mencabut akar Septem Tenebris sebelum kursi-kursi lainnya bangkit. Jenderal Kael akan memimpin garis depan, dan aku akan berada di barisan utama."

​"Tapi Yang Mulia, siapa yang akan menjaga Istana dan Permaisuri?" tanya seorang menteri.

​Tian Long menoleh ke arah Mu Feng yang berdiri di balik bayangan pilar. "Mu Feng adalah darah klan Mu. Dia memiliki kemampuan untuk melindungi istana dari serangan sihir mana pun. Dia akan menjadi Wali Kerajaan selama aku pergi."

​Mu Feng membungkuk, namun pikirannya berkecamuk. Ia masih menyimpan dokumen tentang "Inkarnasi Kematian". Ia takut jika ia memberitahu Tian Long, sang Kaisar akan memandang anak-anaknya sendiri dengan rasa takut.

​Mimpi Buruk Tian Shu

​Malam sebelum keberangkatan Tian Long, sebuah jeritan pecah dari kamar pangeran kecil. Tian Shu terbangun dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Liontin giok di lehernya berpendar hitam pekat, bukan hijau seperti biasanya.

​Li Hua, menggunakan kursi rodanya, segera masuk ke kamar putranya. Lewat pikirannya, ia mencoba menenangkan Tian Shu. "Apa yang kau lihat, Putraku?"

​"Ibu..." Tian Shu memeluk Li Hua erat-erat. "Ada pria besar berbaju zirah hitam. Wajahnya tidak ada, hanya ada kegelapan. Dia duduk di sebuah takhta yang terbuat dari tulang. Dia memanggil namaku... dia bilang aku adalah bagian darinya."

​Li Hua merasa jantungnya seolah berhenti. Ini adalah tanda dari Kursi Pertama: Kematian. Musuh paling purba dari Septem Tenebris ternyata tidak datang dari luar, melainkan mencoba bangkit dari dalam diri anak sulungnya.

​Rahasia di Pegunungan Terlarang

​Mu Feng menemui Li Hua secara rahasia di taman istana saat tengah malam. Ia memberikan dokumen yang ia temukan. "Kau menyembunyikan ini dari Tian Long?" tanya Li Hua lewat telepati setelah membaca isinya.

​"Dia akan hancur jika tahu, Kakak," jawab Mu Feng parau. "Tapi ada satu cara. Di Pegunungan Terlarang di wilayah Barat, terdapat Mata Air Penyuci Jiwa. Jika kita membawa Tian Shu ke sana sebelum ulang tahunnya yang kelima, kita bisa menyucikan darah Septem Tenebris di tubuhnya dan memutuskan hubungan dengan Kursi Pertama."

​Li Hua menatap ke arah Barat, ke arah suaminya akan pergi berperang. "Tian Long pergi untuk berperang, tapi aku akan pergi untuk menyelamatkan jiwa anakku. Mu Feng, kau harus membantuku keluar dari istana tanpa sepengetahuan penjaga."

​Keberangkatan Dua Jalur

​Fajar menyingsing. Tian Long berangkat dengan kemegahan militer, ribuan pasukan berkuda mengikuti di belakangnya dengan panji Naga yang berkibar. Ia mencium kening Li Hua di gerbang, tidak tahu bahwa itu adalah perpisahan untuk waktu yang sangat lama.

​"Tunggu aku, Li Hua. Aku akan membawakanmu kepala para penguasa kegelapan itu," janji Tian Long.

​Begitu pasukan kaisar menghilang di balik bukit, sebuah kereta kuda sederhana yang tertutup rapat keluar dari gerbang belakang. Di dalamnya, Li Hua duduk dengan tenang bersama Tian Shu dan Li Mei. Mu Feng mengendalikan kereta itu sendiri, menyamar sebagai pedagang gandum.

​Dua perjalanan besar telah dimulai. Satu perjalanan untuk Kehormatan dan Kekuasaan, yang lainnya perjalanan untuk Cinta dan Pengampunan.

​Namun, di perbatasan Barat, seorang pria dengan jubah putih panjang sedang berdiri di puncak tebing. Ia memegang sebuah sabit besar yang berkilauan. Ia adalah pengikut dari Kursi Pertama.

​"Sang Ibu membawa mangsanya langsung ke sarangku," bisiknya dengan suara yang merambat seperti kematian. "Sambut mereka dengan pesta darah."

1
EF Shahna
kaya nya bakal seru cerita selanjutnya
Dedeh Dian
Hem sangat sangat bagus sekali ceritanya... apalagi bagi AQ yg cepat tersentuh... makasih author
Rika Ashanty: sama-sama ka🙏👍terus jadi pembaca setia ya,maksih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!