Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Bolehkah aku memelukmu.
Brayen terdiam. Tatapannya melembut, bukan karena penasaran lagi, tapi karena ia melihat luka yang masih hidup di mata istrinya, mungkin luka itu terlalu dalam hingga Alyssa tidak bisa melupakannya sampai detik ini.
"Alyssa…" suaranya pelan, hati-hati, seolah takut menyentuh bagian dirinya yang rapuh.
“Kamu tidak perlu menceritakannya kalau itu membuatmu sakit.”
Alyssa menunduk. Jarinya meremas ujung undangan itu tanpa sadar hingga kertasnya sedikit tertekuk.
“Aku bodoh waktu itu, kak…” suaranya bergetar seperti sedang menahan tangis.
“Aku pikir cinta yang aku berikan sudah cukup. Aku sudah mengorbankan semuanya, menjadi istri yang penurut dan tidak pernah mengeluh bukan cuma itu saja aku juga selalu sabar menghadapi ibunya yang tidak pernah menyukaiku. Tapi apa yang aku dapatkan, bukannya kebahagiaan justru hanya kepedihan. Dia mengkhianati ku, melukaiku hingga aku merasa tidak sanggup berdiri lagi."
Napasnya tersendat.
Ia mencoba tersenyum, tapi yang muncul justru wajah yang menahan kepahitan.
Hati Brayen semakin teriris melihatnya ingin rasanya ia memeluk Alyssa namun ia berusaha untuk menahannya.
"Kamu tau apa yang paling menyakitkan kak?" Tanya Alyssa yang dijawab gelengan kepala oleh Brayen.
"Saat dia mengatakan, jika dia sudah menikah siri dengan selingkuhannya, yang lebih parahnya dia memintaku untuk menerima wanita itu sebagai maduku. Tapi aku tidak menyalahkannya aku memang tidak ada apa apanya dibanding wanita itu, dia berasal dari kalangan yang berada sedangkan aku... Kakak tau sendiri kehidupanku seperti apa."
Brayen mengepalkan tangannya di atas sandaran kursi roda.
Rahangnya menegang, bukan marah pada Alyssa, tapi pada seseorang yang pernah membuat wanita selembut itu merasa begitu tak berharga.
“Tapi aku juga tidak bisa menerima dia sebagai maduku... hatiku sakit, aku tidak sanggup membayangkan hari hariku nanti. Jadi aku memilih untuk pergi meninggalkannya meskipun kami sudah pernah menghadapi suka duka bersama..... Apa menurut kakak keputusan yang aku ambil salah..?"
Hening memenuhi ruangan. Hanya suara detak jam dan napas berat Alyssa yang terdengar.
Brayen menarik napas panjang, menahan emosinya. Ditatapnya mata Alyssa yang masih berkaca kaca.
“Alyssa,” ucapnya tegas namun hangat.
“dengar aku baik-baik.”
Alyssa menatapnya.
"Kamu tidak salah, setiap orang memiliki hak untuk bertahan atau menghilang. Tapi kamu juga tidak boleh merendahkan dirimu. Kamu sempurna, hatimu baik dan wajahmu juga cukup cantik terlepas dari kekayaan yang wanita itu punya tidak seharusnya dia meninggalkanmu. Jika dia benar benar menghargai mu, menyayangi dan mencintaimu maka dia akan menerimamu apapun kekurangan yang kamu miliki." Tatapan Brayen lurus, penuh keyakinan.
"Kamu tidak akan rugi karena telah meninggalkan laki laki sepertinya, Jika ada yang rugi maka itu adalah dia karena sudah mengkhianati wanita sebaik dan selembut kamu."
Air mata Alyssa jatuh membasahi pipinya kali ini bukan karena sakit melainkan karena hatinya terasa hangat.
Brayen tampak gugup sesaat, lalu dengan ragu ia mengulurkan tangannya dan mengusap air mata Alyssa dengan sapu tangannya.
“Boleh aku… pegang tanganmu?” tanya Brayen setelah menyeka air mata Alyssa.
Alyssa mengangguk pelan.
Jari mereka bertemu. Hangat dan begitu menenangkan.
"Mulai sekarang jangan menitihkan air mata untuknya, kamu harus bahagia tunjukkan pada mereka kalau kamu bisa dan jika kamu mau datang kepernikahan itu aku bisa datang bersamamu. Bukan sebagai orang yang mengasihimu melainkan sebagai suami yang siap melindungi istrinya."
Jantung Alyssa berdegup dengan kencang.
Suami...
Kata yang keluar dari mulut Brayen terasa bukan seperti ucapan biasa melainkan sebagai orang yang siap menemaninya dan melewati rintangan bersamanya.
Alyssa tersenyum di sela air matanya.
“Terima kasih kak. Aku pasti akan datang dan membuktikan kepada mereka bahwa aku juga bahagia"
Brayen tersenyum kecil dan mengangguk.
Di ranjang, diam diam Manda tersenyum, ia yang belum benar benar terlelap merasa lega karena kini anaknya tidak sendirian lagi, ada seseorang yang akan melindungi dan menjaganya.
"Ini sudah larut sebaiknya kamu beristirahat." ucap Brayen setelah melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Bagaimana dengan kakak jika aku tidur di ranjang, sepertinya ranjang yang tersisa tidak muat untuk berdua." ucap Alyssa menatap ranjang di samping ibunya.
Brayen tersenyum ia memiliki ide untuk menggoda Alyssa, timbul niat iseng dalam diri laki laki itu.
"Cukup, siapa bilang tidak cukup." ucap Brayen kemudian mendorong kursi rodanya hingga tiba di tepi ranjang tersebut.
Alyssa yang melihatnya pun segera membantu Brayen untuk naik keatas ranjang. Namun ketika Brayen sudah berada diatas, laki laki itu malah menariknya hingga ia terjatuh kedalam pelukannya yang hangat.
"Sekarang, ranjangnya sudah muat untuk berdua kan." Bisik laki laki itu lembut.
Jantung Alyssa berdebar kencang, wajahnya terangkat sementara matanya sudah menatap Brayen tanpa berkedip. Untuk sejenak tubuhnya terasa kaku ada sensasi aneh dalam hatinya yang membuat ia merasa gugup. Pipinya tiba tiba saja memerah dan nafasnya seperti terhenti.
"Perasaan ini..." batin Alyssa mulai menyadari apa yang ia rasakan.
tak ingin semakin terbuai dengan perasaan itu Alyssa langsung mendorong tubuh Brayen dan berbalik memunggunginya.
Brayen terkejut dengan apa yang Alyssa lakukan, ia tidak menyangka akan seperti itu reaksi Alyssa.
"Alyssa..." panggil Brayen tidak Alyssa hiraukan ia sibuk memejamkan matanya, berpura pura tidur agar Brayen tidak mengusiknya lagi.
"Maaf... Aku hanya bercanda tadi, aku tau aku sudah keterlaluan." ucap Brayen mendekati Alyssa untuk melihat wajah wanita itu.
"Aku tau kamu belum tidur. Jika kamu tidak mau aku tidur disini, tidak masalah aku bisa pindah ke sofa."
"Tidak perlu kak, kamu bisa tidur disini jika kamu mau." ucap Alyssa tanpa membalikkan tubuhnya.
Brayen tersenyum, ia kembali berbaring disisi Alyssa namun karena tubuhnya terlalu besar, ia merasa tidak nyaman. beberapa kali ia mencari posisi yang pas namun ia tidak kunjung menemukannya.
"Alyssa..." panggil Brayen lagi kali ini sedikit pelan.
"hemm...." jawab Alyssa singkat, bukan karena marah melainkan karena ia tengah mengendalikan perasaannya.
"Bisakah aku memelukmu... Aku janji aku tidak melakukan hal yang lebih dari itu. Ranjang ini terlalu sempit jadi...." ucap Brayen terlihat ragu, ia tidak ingin Alyssa merasa terpaksa apalagi marah karena permintaannya.
"Apa yang harus aku lakukan, jika aku membiarkan dia memelukku maka hatiku akan semakin gelisah. Namun jika aku tolak bukankah aku yang berdosa, bagaimanapun dia adalah suamiku. aku tidak seharusnya menolaknya." batin Alyssa gelisah.
"Aku tidur saja di sofa." putus Brayen ingin pergi dari sana namun Alyssa menahan tangannya.
"Kakak bisa tidur dengan memelukku." ucap Alyssa malu. ia tidak berani menatap Brayen karena ia tidak ingin laki laki itu melihat wajahnya yang memerah.
senyum tersungging di bibir Brayen ia senang karena Alyssa sudah memberinya izin, langsung saja ia membawa Alyssa kedalam pelukannya.
Kini mereka tidur dengan berpelukan, Brayen memejamkan matanya ia tidak ingin Alyssa merasa tidak nyaman oleh sebab itu ia memutuskan untuk tidur tanpa mengajak wanita itu berbicara.
Sementara Alyssa, ia terlihat cukup tenang, bau maskulin dari parfum yang Brayen kenakan membuat Alyssa merasa nyaman.
tanpa sadar ia mulai ikut memejamkan matanya, rasa gugup malu dan sebagainya hilang begitu saja berganti dengan rasa kantuk yang tidak bisa ditahan nya akhirnya Alyssa pun terlelap dalam pelukan Brayen.
Ini kali pertamanya mereka tidur dengan saling berpelukan, entah apa yang akan terjadi setelahnya yang jelas kehidupan mereka akan terus berlanjut dengan benih cinta yang mulai tumbuh namun mereka masih belum menyadarinya.