Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—15
Satu kesalahan yang membuat Arumi akan menyesal seumur hidup. Bagaimana tidak, ia ke kamar mandi tanpa membawa perlengkapan nya, seperti handuk dan baju ganti. Andai jika ia hanya seorang diri di kontrakan seperti biasa mungkin ia akan langsung keluar dengan keadaan tanpa apapun.
Tapi sekarang, ada Bumantara yang pastinya masih berada di dalam kamar nya, ingin nya ia masih mengenakan baju yang di lepaskan nya tadi dan itu tidak mungkin, karena pakaian itu sudah basah tertumpuk di baskom pakaian.
"Sial! Kamu sih Arumi, enggak bisa mikir," serunya, kepada dirinya sendiri sambil mendongak, menghela napas frustasi, menatap keadaan dirinya yang masih tak mengenakan apapun.
Selang beberapa menit, akhirnya ia memutuskan untuk melihat keadaan di luar pintu kamar mandi, dengan kepala yang terlebih dahulu Arumi julurkan, menatap arah tempat kamar tidur, lalu kearah dapur yang malah membuat tubuh nya mematung.
Bumantara, ada disana. Berdiri dengan segelas air minum yang sedang dia pegang, tatapan mata mereka berdua saling bertemu, dan Arumi lebih dulu memutuskan nya dengan cepat, bahkan langsung masuk kembali, kedalam kamar mandi — menutup pintu itu dengan keras, sehingga bunyi yang nyaring membuat Bumantara tersadar dari pemandangan yang begitu indah itu.
Bumantara mengusap rambut nya, sambil mendesah berat, itu godaan di pagi hari yang hampir membuat nya gila. "Hahhh... Sialnya, aku menikmati pemandangan di pagi hari ini," gumamnya, sambil kembali meletakkan gelasnya di atas meja.
Arumi memejam, sembari membenturkan kepalanya di pintu kamar mandi dengan pelan, yang hampir beberapa kali ia lakukan, sambil bergumam beberapa kali, "Sial... Sial... Sial... kamu ceroboh sekali Arumi."
Ketukan beberapa kali di pintu, membuat Arumi menegang, sedikit membuat nya panik, sembari mengecek kunci pintu kamar mandi — takut ia lupa mengunci nya. "Arumi, kapan kamu keluar? Aku butuh ke kamar mandi juga, sayang...," panggil Bumantara sedikit lebih keras, masih dengan beberapa kali mengetuk pintu itu.
"Tunggu...! Aku ... aku enggak bawa handuk ganti." Arumi berseru cepat. "Bumantara, bisa bantu aku, ambil kan handuk di kamar. Tolong aku, Buma," pinta Arumi, dengan suara yang terdengar malu, hanya Bumantara satu-satu nya orang yang bisa ia mintain bantuan.
Dan andai bisa, lebih baik Bumantara keluar dari kontrakan nya, jadi ia bisa keluar dengan bebas ke kamar nya. Arumi mengerutkan kening, karena tidak mendengar jawaban dari Bumantara.
"Bumantara!" seru Arumi, memanggil Bumantara yang tak ada suaranya, bahkan pintu kamar mandi pun tidak di ketuk lagi. Karena penasaran Arumi perlahan membuka kan kunci pintunya, menjulur kan kepalanya, hanya untuk mengintip sedikit.
"Mencari siapa, sayang?" tanya Bumantara dengan suara dalam nya, ia bersandar di samping dinding pintu kamar mandi. Membuat Arumi terkejut, menoleh kearah Bumantara, jantung nya berdetak cepat, tenggorokan nya terasa tercekat.
Dan saat Arumi ingin kembali menutup pintu itu, tangan Bumantara sudah menahan nya lebih cepat, sehingga membuat Arumi kesulitan untuk bisa menutupnya.
"Awas...! Jangan ditahan. Bumantara!" seru Arumi kesal, melotot galak menatap Bumantara, masih dengan tubuhnya yang di tutupi dengan pintu.
"Kamu mau handuk kan, sayang?"
Bumantara mengangkat handuk berwarna hitam di depan wajah Arumi. Tadi saat Arumi meminta tolong untuk mengambil handuk, ia langsung menghentikan ketukan pintu dan berjalan menuju kearah kamar untuk mengambil yang minta Arumi tadi, lalu setelah itu dia berdiri di samping pintu untuk menggoda Arumi.
Tangan Arumi pun spontan ingin mengambil nya, namun handuk itu di tarik Bumantara lagi, sehingga membuat Arumi hanya bisa menggapai angin. Wajah bersih seputih susu itu, kembali memerah seperti tomat, ia kesal, tubuhnya bahkan sudah dingin karena terlalu lama di kamar mandi, tanpa sehelai kain pun yang menutupi nya.
"Bumantara, sini handuk nya. Jangan main, main, Buma," ujar Arumi kesal.
Bumantara terkekeh, saat menatap wajah menggemaskan itu, namun masih terlihat cantik dengan semua ekspresi nya.
"Hmmm... kamu bisa keluar untuk bisa mengambil handuk ini, sayang," kata Bumantara sambil menaik turun kan alisnya, menggoda Arumi, dengan lidahnya yang sudah menyapu area bibirnya sendiri.
Arumi berdecak, "Enggak mungkin, Buma."
Dan Bumantara justru terlihat masa bodo dengan mengangkat kedua bahunya, seakan-akan tidak perduli. "Ohhh... seperti nya kamu akan selalu kedinginan, sayang."
Setelah mengucap itu Bumantara malah membuka pintu kamar mandi, dan masuk begitu saja, tanpa memperdulikan wajah syok, dan memerahnya wajah Arumi.
"Ops ... maaf, sayang," ucap Bumantara jahil, bahkan dengan kerlingan mata nya yang menatap tubuh Arumi.
"Bumantara, kamu..." Arumi tak bisa berkata-kata, suaranya tercekat di tenggorokan, seakan-akan ada yang menahan nya, bahkan ia tak berani berbalik, masih dengan gaya seperti tadi — mematung.
Arumi tersentak saat merasa kan tangan hangat menelusup ke perut rampingnya, memeluk nya, bahkan ia bisa merasakan bibir hangat itu yang juga mengecup punggung nya. "Kamu kedinginan, sayang."
Arumi memejamkan mata nya, merasakan kehangatan tubuh Bumantara yang memeluk nya, ia baru ingat jika Bumantara tak mengenakan baju, dan hanya mengenakan celana pendek — sehingga rasa kulit Bumantara bisa terasa di kulitnya.
"Emm... Bumantara, jangan seperti ini," lirih Arumi sambil mendongak, seakan-akan memberikan ruang untuk Bumantara, bahkan ucapan dan respon tubuhnya berbeda.
Tangan Bumantara perlahan menyusuri perut Arumi, hingga berlabuh ke tempat yang tak semestinya Bumantara sentuh.
"Ugh... Buma...," lenguh Arumi tersentak, saat merasakan jari Bumantara menyelusup ke bagian sensitif nya, menyentuh titik terendahnya, sehingga membuat tubuh Arumi menegang.
"Ini sangat pas, sayang," bisik Bumantara, menyentuh dada Arumi yang ia remas sebelah nya.
"Udah...," lirih Arumi sambil berusaha melepaskan tangan Bumantara dari benda feminimnya, ia sampai harus manahan desahan dan lenguhannya, akibat permainan jari Bumantara yang sangat lihat di bawah sana dan ia juga bisa merasakan bahwa milik nya terasa lengket, apakah ia juga sudah basah.
Namun Bumantara malah melaju kan gerakan tangan nya, sehingga membuat Arumi berhasil mendapat kan pelepasan nya, lutut nya lemas, membuat ia hampir terjatuh jika tak di tahan tangan Bumantara yang menumpang tubuhnya yang lemes seperti jelly — akibat kenikmatan yang menghampiri nya.
"Aku gendong," Bumantara sambil melilitkan handuk hitam tadi ke tubuh Arumi dan menggendongnya, membawa Arumi ke arah kamar yang malam tadi tempat mereka tidur bersama.
"Sudah... enggak usah bantu aku juga, aku bisa sendiri. Kamu mandi sana," usir Arumi sambil mendorong Bumantara yang hendak membantu nya mengenakan celana dalam.
Padahal bagian bawahnya masih basah, mana mungkin ia langsung mengenakan celana dalam dan juga tak mungkin ia memberitahukan Bumantara, yang ada ia akan semakin malu.
Bahkan mengingat kejadian tadi saja, ia sudah kesal, karena dengan gampang ia memberikan tubuhnya untuk di sentuh sama laki-laki yang tak memiliki hubungan dengan nya, padahal dulu saja ia menghindar setiap Dipta ingin menyentuh nya.
——
Bersambung....