NovelToon NovelToon
Taktik Cantik Sang Tunangan

Taktik Cantik Sang Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Pelakor jahat / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Galang di Balik Tidur Estetik Fiora

Fiora duduk di sofa sambil memainkan ujung bajunya, matanya melirik Mira yang sedang sibuk merapikan berkas di meja Galang. Galang sendiri masih fokus pada laptopnya, namun sesekali ia melirik Fiora untuk memastikan tunangannya itu tidak melakukan hal ajaib lagi.

"Mira, berkas untuk pertemuan sore nanti sudah selesai?" tanya Galang tanpa menoleh.

"Sudah, Tuan. Semuanya sudah saya siapkan dengan teliti," jawab Mira dengan suara yang sangat lembut, lalu ia menoleh pada Fiora dan tersenyum—senyum yang bagi Fiora terlihat sangat meremehkan.

Fiora yang merasa bosan dan geram mulai melancarkan aksi "amnesia manja"-nya. Ia berdiri dan menghampiri meja Galang.

"Paman Galang... lapar... mau es krim," rengek Fiora sambil menarik-narik ujung jas Galang.

Galang menghela napas, mengalihkan pandangannya dari laptop. "Fiora, ini masih jam kerja. Nanti sore setelah selesai, saya belikan."

"Nggak mau! Mau sekarang! Kalau nggak dikasih, aku mau teriak kalau di sini ada hantu kuntilanak lagi!" ancam Fiora dengan wajah polos.

Mira yang mendengar itu langsung menegang. Ia tahu "hantu kuntilanak" itu adalah sindiran untuknya.

"Tuan Galang, biar saya saja yang membelikan es krim untuk Nona Fiora," tawar Mira, mencoba mengambil hati Galang lagi.

Fiora langsung menggeleng kuat-kuat. "Nggak mau! Kalau hantu yang beli, nanti es krimnya rasa tanah kuburan! Aku mau Paman Galang yang beli!"

Galang akhirnya menyerah. Ia berdiri dan mengambil dompetnya. "Baiklah, saya keluar sebentar beli es krim di kafe bawah. Mira, tolong jaga Fiora sebentar. Jangan sampai dia keluar ruangan."

"Baik, Tuan," jawab Mira patuh.

Begitu pintu tertutup dan Galang pergi untuk membeli es krim, suasana ruangan menjadi sunyi. Fiora masih duduk di kursi kebesaran Galang, kakinya berayun-ayun seperti anak kecil, namun matanya diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Mira.

Mira melangkah mendekat ke meja, menatap Fiora dengan tatapan yang tidak lagi lembut. "Nona Fiora, Anda beruntung sekali ya. Meskipun sedang 'sakit', Tuan Galang masih sangat memanjakan Anda."

Fiora mengerjapkan matanya, memasang wajah paling polos sedunia. "Sakit? Aku nggak sakit, aku cuma lupa. Emang Mbak Hantu siapa ya? Kok tahu namaku?"

Mira menggeram pelan, giginya bergeletuk. "Nama saya Mira, Nona. Berhenti memanggil saya hantu!"

"Tapi kata Paman Galang, Mbak ini asisten. Asisten itu tugasnya apa ya? Bersihin debu?" tanya Fiora sambil meniup ujung jarinya seolah sedang meniup kotoran.

Mira merasa harga dirinya diinjak-injak, namun ia berusaha menahan emosi karena takut Galang tiba-tiba kembali. "Tugas saya membantu pekerjaan Tuan Galang. Sesuatu yang Nona tidak akan mengerti dalam kondisi... seperti sekarang."

"Ohhh..." Fiora manggut-manggut. "Berarti kalau aku minta Mbak ambilin sampah di bawah meja itu, Mbak mau kan? Soalnya Paman Galang bilang asisten itu harus bantuin apa aja."

Fiora menunjuk sebuah kertas kecil yang sengaja ia jatuhkan tadi. Mira menatap kertas itu dengan geram. Ia merasa seperti pelayan, namun ia tidak punya pilihan. Dengan berat hati, Mira membungkuk untuk mengambil kertas itu.

Saat Mira membungkuk, Fiora tersenyum sinis tanpa suara. 'Nikmati setiap detik kerendahanmu, Mira. Selama gue jadi "anak kecil" di mata Galang, gue bisa bikin lo jadi pembantu tanpa Galang bisa marahin gue,' batin Fiora puas.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki di lorong. Fiora dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi riang dan turun dari kursi Galang.

Cklek!

Galang masuk membawa satu cup es krim cokelat besar. "Ini es krimnya, Fio."

"Horeee! Makasih Paman Galang!" Fiora berlari menghampiri Galang dan memeluk lengan pria itu dengan sangat erat, sengaja menempelkan kepalanya di bahu Galang sambil melirik Mira yang baru saja berdiri tegak setelah mengambil sampah.

"Lho, Mira? Kamu sedang apa di bawah meja?" tanya Galang heran melihat asistennya memegang sampah.

"Ini Pak... saya... saya cuma membersihkan sampah yang jatuh," jawab Mira dengan wajah merah padam.

"Bagus, Mbak Mira rajin banget!" puji Fiora dengan nada riang yang dibuat-buat. "Paman, ayo suapin Fio es krimnya!"

Galang hanya menggelengkan kepala, merasa tingkah Fiora semakin ajaib. Namun, ia tetap duduk di sofa dan mulai menyuapi Fiora, mengabaikan Mira yang kini berdiri kaku dengan hati yang hancur di sudut ruangan pada sore hari ini.

Setelah Galang dan Mira keluar menuju ruang rapat besar, Fiora langsung mengunci pintu ruangan Galang dari dalam. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan memulai panggilan video darurat dengan The Circle.

"GAIS! Gila... gila banget! Lo harus tahu, gue baru aja nyuruh si Kunti mungut sampah di bawah kaki gue!" seru Fiora meledak dalam tawa kemenangan sambil berguling di sofa mewah Galang.

Vanya di seberang telepon langsung menepuk jidatnya. "Fio, lo diem nggak! Gue bener-bener nggak habis pikir sama lo!"

Jojo ikut menimpali dengan wajah tidak percaya. "Sumpah ya, Fio, lo itu biasanya anggunly, elegan, bahkan lo itu tipe yang nggak mau sama sekali berurusan sama orang aneh. Eh, sekarang malah lo sendiri yang aneh! Masuk bawah meja lah, jadi orgil lah... Lo sadar nggak sih?"

"Gue sadar, Jojo! Tapi ini worth it banget!" bela Fiora sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Gue rela kehilangan image elegan gue sebentar demi ngeliat muka merah padam si Mira itu. Dia pikir dia bisa menang karena Galang kasihan sama dia? No way! Dia nggak tahu kalau 'orang gila' ini lebih pinter dari dia."

"Tapi lo harus hati-hati, Fio," Vanya memperingatkan dengan nada serius pada sore hari Minggu, 4 Januari 2026 ini. "Galang itu orangnya teliti. Kalau lo kelupaan dikit aja aktingnya, dia bakal curiga."

"Tenang aja, Vanya sayang. Selama Galang masih nganggep gue 'anak kecil' yang amnesia, gue punya lisensi buat ngelakuin apa aja," bisik Fiora licik. "Malam ini gue mau selidiki tas Mira pas dia lengah. Gue yakin dia nyimpen sesuatu yang bisa ngebongkar siapa dia sebenernya."

"Oke, kalau butuh bantuan intelijen, kabarin gue," sahut Jojo. "Sekarang buruan lo balik jadi 'si polos' sebelum rapat mereka kelar!"

"Siap! Bye gais!" Fiora mematikan ponselnya dan langsung memasang wajah bengong bin polos andalannya tepat saat suara langkah kaki terdengar di koridor.

Melihat Galang dan Mira hampir selesai rapat, Fiora segera memposisikan dirinya di sofa dengan sangat estetik. Ia memejamkan mata, mengatur napasnya agar teratur, dan pura-pura tertidur pulas.

'Gue mau digendong lagi kayak semalam, Galang. Buruan masuk!' batin Fiora kegirangan di balik kelopak matanya yang tertutup.

Cklek.

Galang masuk ke ruangan dengan wajah yang tampak lelah, diikuti oleh Mira yang terus menunduk dengan wajah penuh penyesalan semu.

"Maaf Tuan, maafkan saya... saya benar-benar ceroboh tadi," isak Mira pelan, mencoba menarik simpati Galang karena kesalahannya saat rapat.

"Sudah, tidak apa-apa Mira. Jangan dibahas lagi," jawab Galang datar, mencoba menenangkan asistennya itu.

"Tapi saya merasa bersalah, maaf karena saya bisnis dengan client tadi hampir gagal," lanjut Mira dengan nada yang sengaja dibuat bergetar.

Galang menghela napas panjang dan memberikan isyarat agar Mira berhenti bicara. "Sudah, kamu pergi ke ruanganmu sekarang. Jangan berisik, nanti mengganggu Fiora yang sedang tidur," ucap Galang sambil menunjuk ke arah sofa.

Mira menoleh dan melihat Fiora yang sedang terlelap di sofa milik Galang. Melihat betapa protektifnya Galang menjaga ketenangan tidur Fiora, Mira mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Mira membatin dengan penuh dendam, "Liat aja nanti, gue bakal bikin Galang bener-bener muak sama lo, Fiora! Gara-gara lo, gue jadi diusir kayak gini."

Setelah Mira keluar dengan langkah kesal, Galang mendekat ke arah sofa. Ia berdiri diam selama beberapa saat, menatap wajah Fiora. Galang ragu, apakah harus membangunkan gadis itu atau membiarkannya tetap beristirahat.

Fiora yang bisa merasakan kehadiran Galang di dekatnya sengaja sedikit bergerak, mengubah posisi tidurnya. Pada sore hari ini, Fiora sedang menunggu tangan kekar Galang untuk mengangkatnya kembali.

Galang duduk perlahan di tepi sofa, tepat di samping Fiora. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan. Dengan ragu, Galang mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Fiora dengan gerakan yang sangat lembut, seolah takut akan merusak sesuatu yang rapuh.

"Maaf... maafkan saya, Fio," bisik Galang dengan suara yang sarat akan penyesalan. "Karena kecerobohan saya membantu orang lain, kamu yang harus menanggung akibatnya seperti ini."

Galang menatap wajah Fiora yang terlihat tenang dalam tidurnya. "Seharusnya sekarang kamu pasti sedang sangat berambisi mengurus bisnis butik dan salonmu itu. Kamu bukan orang yang suka berdiam diri seperti ini."

Galang menghela napas panjang, bayangan kegagalan rapat tadi terlintas di benaknya. "Kalau saja tadi kamu ada di sana sebagai sekretarisku, pasti meeting pun berjalan dengan baik. Kamu selalu punya cara untuk meyakinkan klien."

Di balik kelopak matanya yang terpejam, hati Fiora bersorak kegirangan. "SUKURIN!" batin Fiora penuh kemenangan. Ia merasa sangat puas mendengar pengakuan Galang bahwa asisten "kuntilanak"-nya itu tidak berguna sama sekali dibandingkan dirinya.

'Baru tahu kan kalau si Upik Abu itu cuma beban? Makanya Galang, jangan cuma liat muka melas doang, liat kualitas dong!' Fiora membatin sambil berusaha sekuat tenaga agar bibirnya tidak berkedut ingin tertawa.

Fiora sengaja sedikit menggeliat dalam tidurnya, membuat tangan Galang sempat terhenti sejenak karena kaget. Galang tidak menjauh, ia justru memperbaiki posisi selimut (jasnya yang ia sampirkan ke tubuh Fiora) agar Fiora tidak kedinginan pada sore hari ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!