Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setelah Aira menjelaskan apa yang sudah ku lakukan terhadap Kim Taehyung kw, sejak itulah Aku menjauh dari lelaki itu. Kendati dia tidak menolak, bahkan terlihat senang saat Aku menciumnya, itu tidak bisa dibenarkan. Sebab Aku sudah istri orang lain saat ini.
Tapi jujur Aku tidak sengaja melakukannya, itu hanya sekedar refleks, sebagai ungkapan ketika Aku bahagia.
Setiap mas dokter datang ke kamarku, Aku akan langsung pura-pura tidur atau melakukan apapun asal tidak berinteraksi dengannya.
Memang sudah saatnya Aku menjaga jarak dari lelaki itu. Dari pada kami terjerat hubungan yang terlarang nantinya.
Jika saja dia lebih dulu menyatakan perasaan atau melamarku sebelum Ayah dan suami antah berantahku mengucapkan ijab dan kabul, pasti sudah lain ceritanya.
Ah, tapi itu bukanlah hal yang penting untuk saat ini. Sekarang bagaimana caranya Aku harus tetap bisa pergi ke konser BTS? Itu yang sangat penting!
“Din, mas Aydan mau pulang.” ucap Ibu menyenggol lenganku. Aku berbaring membelakangi semua orang saat ini.
“Hm.” jawabku singkat.
Aku dengar ibu menghela dengan jawabanku. Kemudian kudengar lelaki itu berpamitan dengan ibu.
“Kamu kenapa, Din?” tanya ibu ketika mendekatiku lagi. “Ada yang sakit? Tumben diem-diem bae?”
Aku berbalik menghadap ibu, ku tatap dalam matanya yang berbulu lentik, “Bu, Dinda boleh ‘kan angkat bicara tentang pernikahan?”
Ibu terdiam. Aku yakin ibu sedikit shock karena Aku belum pernah sebelumnya bicara seserius ini.
“Ini pernikahan Dinda ‘kan, Bu? Dinda harus bahagia ‘kan, Bu?” selorohku.
Ibu mengangguk walaupun ragu.
“Kalau begitu tolong tanggal pernikahannya diganti! Karena Dinda nggak mau mengadakan acara di tanggal itu.” Aku mengungkapkan isi hati dan isi kepalaku.
Ibu mengerjapkan matanya beberapa kali. “Tapi Din, keputusannya sudah final. Undangan sudah dicetak.”
Aku menghela, “Dinda nggak perduli, Bu. Secara nggak langsung pernikahan ini sangat-sangat merugikan Dinda!”
“Kalau nggak mau ganti tanggalnya, lebih baik suruh lelaki itu ceraikan Dinda sekarang juga sebelum undangan tersebar. Lebih baik batal menikah dari pada gagal menikah.” Aku melanjutkan, jantungku berdegup tidak karuan. Untuk pertama kalinya Aku berkata seperti itu di depan orang tuaku.
“Hus nggak boleh ngomong sembarangan, Dinda!” tegur ibu, “Memangnya kamu mau ke mana ditanggal itu?” tanya ibu penuh penekanan.
Aku mematung, sebab tidak mungkin menyebutkan alasan bahwa Aku mau nonton konser BTS. Sudah pasti Aku akan ditertawakan. Memang menurut orang biasa nonton konser tidaklah penting, tapi bagi ARMY konser BTS sangatlah penting.
“Kalau kamu punya alasan yang bisa diterima, ibu akan sampaikan sama Ayah dan Ayah akan bicarakan lagi dengan pihak keluarga suamimu.” ujar ibu.
Cih! Suami? Mengakuinya saja Aku tidak sudi.
“Dinda mau liburan ke ibukota sama Aira, Bu. Rencana itu sudah kita agendakan sejak lama.” jawabku yakin.
Tapi ibu langsung tertawa, “Dinda, kalau cuma ke ibukota, sama suami kamu pun keluar negeri juga pasti dia jabanin, percaya deh sama ibu.” tiba-tiba ibu Elyana menoleh ke belakang, “Iya ‘kan mas Aydan?” tanya ibu pada Kim Taehyung kw yang ternyata masih duduk di sofa.
Aku tidak tahu bahwa lelaki itu masih di dalam kamar, Aku pikir dia sudah pergi setelah berpamitan. Aku tidak menyadarinya karena Ibu berdiri membelakangi lelaki itu.
Kim Taehyung kw pun mengangguk untuk pertanyaan ibu. Tapi wajahnya telihat datar. Apa dia mendengar semua ucapanku dan ibu?
Itu berarti dia sudah percaya ‘kan kalau Aku benar-benar sudah punya suami?
Baguslah, semoga setelah ini dia tidak berani lagi mendekatiku.
Mata kami bertemu pandang, namun Aku langsung membuang wajahku ke arah lain.
“Ayo, Dan. Kita pergi sekarang.” ujar Ayah yang baru keluar dari kamar mandi.
Kim Taehyung kw pun berdiri, Aku melihatnya dari ekor mataku, tapi Aku tidak berani menoleh ke arahnya.
“Bu, Ayah keluar dulu sebentar.” pamit Ayah pada istrinya. Sedangkan padaku Ayah hanya melewati saja, sebab Ayah tahunya Aku sudah tidur.
Mas dokter tetap berdiam di tempatnya meski ibu sudah mengantarkan Ayah ke pintu. Dia tidak berkata apapun, hanya menatapku datar. Persis seperti pertama kali bertemu. Kemudian dia berbalik dan berjalan menuju pintu menyusul Ayah.
Tidak seperti biasanya.
Biasanya dia akan berpamitan denganku, mengusap kepalaku dan bertanya Aku minta belikan apa atau ingin makan apa besok. Tapi malam ini tidak ada pertanyaan semacam itu.
Aku menghembuskan napas pelan. ‘Tidak apa-apa Kim Dinda, kamu harus terbiasa mulai sekarang. Jangan terlena lagi dengan perhatian lelaki itu.’
\*\*\*
Hari ini Aku pulang dari rumah sakit. Keadaanku sudah semakin membaik, berjalan pun sudah bisa seperti biasa. Meski terkadang saraf di kakiku tiba-tiba mati rasa dan kesemutan, tapi tidak masalah. Kim Dinda tidak lah selemah itu.
Dua hari setelah malam itu, Kim Taehyung kw benar-benar tidak mengunjungi kamarku lagi. Jujur Aku sedikit merasa kesepian, tapi Aku berusaha mengabaikan perasaan itu.
“Dinda, lo mau pake kursi roda apa nggak?” tanya Aira yang tengah memegang ponselnya, tanpa menolehku.
Ya! Selama dua hari terakhir Aira dan Kak Jonie lah yang menggantikan menjagaku ketika ibu dan Ayah pulang.
“Nggak perlu, Ra. Kata dokter gue, gue harus banyak-banyak berjalan.”
“Oke!” katanya, dan mengetik sesuatu lagi di ponselnya.
Aku menghela.
Saat ini Aku sedang menunggu Ayah yang tengah menyelesaikan administrasi. Tapi kenapa lama sekali? Berkali-kali Aku melihat jam di dinding.
“Ra.”
“Ya?” dia mendekatiku.
“Aku mau jujur.”
Dia mengangkat alisnya, “Tentang apa?”
“Gue—” Aku menarik napas dalam-dalam, “Gue bakal nikah.”
Aira tertegun, tapi jawaban Aira diluar nalar, “Gue juga bakal nikah kali!”
Mataku melebar, “Kapan?”
“Ya, nanti. Kalau Ayang ngelamar gue.”
Aku merotasikan mata, “Tapi bukan gitu maksud gue, Ra.”
“Terus?”
“G-gue sudah nikah dan akadnya dihari yang sama dengan konser BTS, Aira! Huaaaaa... ” Aku langsung menangis sejadi-jadinya.
Entah apapun alasannya Aku ingin menangis. Mumpung hanya ada Aira.
Aira seketika memelukku, dan mengusap punggungku sampai Aku benar-benar tenang.
“Kenapa tiba-tiba banget, Din? Lo nggak hamil diluar nikah ‘kan?” katanya membuatku mendelik.
“Enak aja lo!”
“Y-ya kali aja, lo ‘kan suka cium sana cium sini.” jawab Aira semakin asal.
“Gue nggak pernah cium-cium orang sembarangan ya!” Aku protes. “Yang—yang tempo hari Aku nggak sadar, Aira! Udah deh jangan diungkit lagi yang itu.” sungutku kesal.
Dia terkekeh, “Lo nikah sama dokter Aydan ya?”
Aku mencebik, “Udah ya, Ra. Jangan sebut-sebut lagi orang itu di depanku!” Aku memperingatinya. “Suami gue itu, anak temannya Ayah.” cicitku.
“Oh... ” sahut Aira ringan, “Ganteng nggak, Din?”
Aku memejamkan mata, kenapa Aira tidak punya hati nurani sih?
“Ra, bisa nggak kita ngebahas tentang pergi nonton konser kita yang bisa batal?”
“Lo aja yang batal, gue nggak.” kata Aira jahat.
“Huaaaa... ”
“Din, Udin—” Aira berusaha menenangkan ku lagi. “Udah Din, udah ya?”
Tapi Aku tidak mau berhenti sampai Aira memberikan solusi.
“Ya udah deh Aku nggak jadi batal nonton juga, Aku bakal kondangan ke nikahan kamu aja.” ujar Aira.
Aku tetap menangis. Bukan solusi itu yang Aku mau.
Aku menggelengkan kepalaku.
“Terus lo maunya apa, Kim Dinda?” tanya Aira akhirnya yang Aku tunggu.
Aku sesekali masih sesenggukan, kusedot air yang mengalir di hidungku dalam-dalam, “Gue mau, lo culik gue dihari pernikahan sekaligus jemput gue pergi ke konser BTS!”
\*\*\*