"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 16
Seminggu setelah mereka bertemu Rina, kehidupan di sekolah menjadi lebih meriah. Rina sudah mulai akur dengan semua orang dia sering bermain bersama Yuki, Kinta, dan Hana di taman saat istirahat, dan belajar bareng mereka di perpustakaan sore hari. Hana selalu bikin kelucuan buat bikin Rina senang, Kinta selalu sabar mengajar Rina yang kesulitan dengan pelajaran, dan Yuki selalu menjadi jembatan yang menghubungkan semua orang.
Pada hari Rabu sore, mereka kumpul di perpustakaan. Rina sedang mengerjakan soal matematika yang sulit, sedangkan Hana baca buku cerita, Kinta baca buku pelajaran, dan Yuki membuat catatan. Tiba-tiba, guru kelas mereka, Bu Siti, masuk ke perpustakaan dan mendekati mereka.
"Anak-anak, ada sesuatu yang aku mau sampaikan," ucap Bu Siti dengan senyum. "Sekolah akan mengadakan lomba 'Hari Persahabatan' minggu depan. Setiap kelompok 4 orang akan membuat pameran tentang persahabatan, dan pemenangnya akan mendapatkan hadiah libur ke taman hiburan bersama seluruh kelas. Kalian mau ikut?"
Mereka semua bersorak senang. "Iya, Bu! Kita mau!" teriak mereka bersama. Bu Siti tersenyum. "Bagus! Kalian bisa bikin pameran dengan foto, tulisan, atau barang-barang yang melambangkan persahabatan. Mulai persiapkan ya, karena waktu hanya seminggu!"
Setelah Bu Siti pergi, mereka langsung mulai merencanakan pameran. Hana punya ide pertama. "Kita bikin pameran dengan foto-foto kita bersama! Dari kemah, ke pantai, ke gunung! Dan tambah tulisan tentang cerita persahabatan kita!" ucap Hana dengan semangat. Rina mengangguk. "Bagus banget! Foto-foto kita itu indah banget!"
"Tapi, ada masalah," kata Kinta dengan suara pelan. "Kita butuh banyak foto dan kertas buat bikin pameran. Dan kita hanya punya seminggu. Bisa kah kita selesai?" Yuki mengangguk. "Bisa! Kita kerja sama bersama, pasti bisa selesai! Hari ini kita kumpul foto, besok kita cetak, dan sehari berikutnya kita mulai merakit pameran!"
Mereka mulai bekerja. Hana mengumpulkan foto dari ponselnya dan ponsel Kinta, Yuki mengumpulkan foto dari ponselnya dan Ayase, sedangkan Rina membantu memilih foto yang paling bagus. Mereka punya banyak foto foto di gunung saat matahari terbenam, foto di pantai saat bermain semprot air, foto di taman saat main kelereng, dan foto di warung es saat makan bersama.
Saat mereka bekerja, Yuki ingat bahwa Ayase kemarin malam bilang badan nya sedikit pegal. Dia mengirim pesan cepat ke Ayase: "Kakak, badan nya masih pegal gak? Jangan lupa minum obat ya!" Pesan Ayase kembali cepat: "Tidak apa-apa, yuki. Cuma sedikit lelah aja. Fokus persiapkan lomba mu ya!"
"Tapi, kita bukan satu-satunya kelompok yang ikut lomba," ucap Rina dengan khawatir. "Kelompok Taro juga ikut, dan mereka selalu menang lomba apapun. Mereka bikin pameran yang sangat bagus!"
Hana mengangkat dada. "Jangan takut! Kita punya cerita persahabatan yang asli dan menyentuh hati. Pasti kita bisa mengalahkan mereka!"
Hari sebelum lomba, mereka selesai merakit pameran. Papan bunga yang besar itu terlihat indah penuh dengan foto yang ceria, tulisan yang menyentuh hati, dan bunga kertas yang dibuat oleh Rina. Mereka merasa bangga dan yakin akan menang.
"Malam ini kita tidur lebih awal ya, biar besok segar," ucap Kinta. "Kita harus datang lebih awal buat pasang pameran di aula. Setiap orang pulang ke rumah masing-masing ya, biar orang tuanya tidak khawatir!" Mereka semua menyetujui dan berpisah di gerbang sekolah.
Yuki pulang ke rumah dan melihat Ayase duduk di sofa, kepalanya bersandar. "Kakak, apa ada masalah? Badan nya lebih parah gak?" tanya Yuki dengan khawatir. Ayase tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Yuki. Cuma sedikit pusing dan lelah. Kamu cepat mandi dan tidur ya, besok ada lomba penting kan?" Yuki mengangguk dan cepat mandi dia ingin Ayase tidur lebih awal.
Pagi esok, mereka datang ke sekolah lebih awal. Tapi saat mereka memasuki aula, mata mereka langsung terkejut pameran mereka yang sudah selesai ternyata roboh! Foto-foto terlepas dari papan, tulisan terlucuti, dan bunga kertas terpecah-pecah di lantai.
"Apa ini? Siapa yang melakukan ini?" teriak Hana dengan marah dan sedih. Rina menangis. "Semua kerja keras kita hilang... bagaimana ini?" Yuki juga merasa sedih, tapi dia coba tetap tenang. "Jangan menangis. Kita harus cepat memperbaiki! Waktu lomba akan dimulai dalam 2 jam!"
Mereka mulai membersihkan dan memperbaiki pameran. Tapi banyak foto yang rusak, tulisan yang terlucuti tidak bisa dipulihkan, dan bunga kertas yang terpecah tidak bisa dibuat lagi. Mereka bekerja dengan cepat, tapi waktu semakin sedikit. Tiba-tiba, kelompok Taro memasuki aula dan melihat mereka.
"Tuh, lihat itu! Pameran mereka jelek banget! Roboh sendiri!" teriak Taro dengan tertawa. "Kita bikin pameran dengan patung kayu yang kita buat sendiri! Pasti kita menang!"
Anggota kelompok Taro juga menertawakan mereka. "Ya! Pameran kalian terlalu sederhana! Tidak akan menang deh!" Yuki merasa marah, tapi dia coba tetap tenang. "Itu tidak masalah. Yang penting pameran kita ada makna!" ucap Yuki dengan suara tegas. Hana mau mendekati Taro, tapi Kinta menahan dia. "Jangan, Hana. Kita butuh waktu untuk memperbaiki. Jangan buang waktu buat mereka!"
Mereka melanjutkan bekerja, tapi saat lomba akan dimulai, pameran mereka masih belum selesai. Yuki merasa sedih dan bersalah. "Kalau aku lebih hati-hati pasang pameran kemarin, pasti ini tidak akan terjadi," gumam Yuki dengan suara pelan. Kinta menggenggam tangannya. "Tidak salah mu, Yuki. Siapa pun yang melakukan ini yang salah. Kita sudah berusaha yang terbaik."
Waktu lomba dimulai. Semua kelompok memasang pameran mereka di aula. Pameran kelompok Taro terlihat megah patung kayu yang indah, papan bunga yang besar, dan lampu hias yang menyala. Sedangkan pameran mereka hanya terlihat acak dan tidak sempurna.
Ketua juri mulai memeriksa pameran satu per satu. Saat sampai ke pameran kelompok Taro, mereka semua terkesan. "Wah, patung kayu ini sangat indah! Bikin nya siapa?" tanya salah satu juri. Taro tersenyum bangga. "Kita yang bikin sendiri, Bu! Sudah bikin selama seminggu!" Juri mengangguk puas.
Saat sampai ke pameran mereka, juri terlihat kecewa. "Ini apa ya? Foto terlepas, tulisan terlucuti... seolah tidak disiapkan dengan baik," ucap salah satu juri. Hana merasa sedih dan mau menangis, tapi dia coba menahan. "Tapi, Bu... ini ada makna yang dalam!" teriak Hana. "Ini cerita persahabatan kita dari bagaimana kita bertemu, saling melindungi, sampai membuat kenangan bersama!"
Yuki mendekati juri dan mulai menceritakan. "Bu, ini foto kita di gunung kita berjuang bersama untuk sampai ke puncak. Ini foto kita di pantai kita bermain bersama meskipun kadang saling menyemprot air. Ini foto kita di taman kita main kelereng seperti masa kecil. Dan ini foto kita dengan Rina kita melindunginya dari bully, seperti saya melindungi Hana dulu."
Rina juga menambahkan. "Bu, mereka adalah teman terbaik yang pernah aku punya. Sebelum aku bertemu mereka, aku sendirian dan takut. Tapi sekarang, aku merasa bahagia dan aman. Pameran ini mungkin tidak indah, tapi itu adalah cerminan dari persahabatan kita yang asli!"
Semua juri mendengar cerita mereka dengan seksama. Mata mereka terlihat basah. Ketua juri tersenyum. "Terima kasih sudah menceritakan, anak-anak. Kita akan mempertimbangkannya dengan baik."
Saat menunggu keputusan, Yuki mengirim pesan ke Ayase: "Kakak, kita lagi menunggu keputusan. Badan nya masih lemas gak?" Pesan Ayase kembali: "Tidak, yuki. Aku sedang menunggu kabar mu. Semangat ya!" Yuki merasa tenang melihat pesan itu.
Setelah semua pameran diperiksa, ketua juri berdiri di depan semua orang. "Murid-murid, kita sudah memutuskan pemenangnya lomba Hari Persahabatan ini," ucap dia dengan suara tegas. Semua orang diam dan menatapnya dengan harapan.
"Pemenangnya adalah... kelompok Yuki, Kinta, Hana, dan Rina!"
Mereka semua terkejut dan bersorak senang. "Yey! Kita menang!" teriak mereka bersama. Kelompok Taro terkejut dan marah. "Mengapa? Pameran mereka jelek banget!" teriak Taro.
Ketua juri mendekati Taro. "Pameran tidak hanya tentang cantik dan megah, Taro. Pameran tentang makna dan kebenaran. Pameran mereka mungkin tidak sempurna, tapi itu penuh dengan cinta, persahabatan, dan kebenaran. Itu yang paling penting!"
Semua orang bertepuk tangan untuk mereka. Bu Siti mendekati dan memeluk mereka. "Aku bangga banget sama kalian! Kalian buktikan bahwa persahabatan yang asli lebih berharga dari apapun!"
Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing untuk memberitahu kabar baik. Yuki pulang dan melihat Ayase duduk di meja makan, sedang membuat minuman. Saat Ayase berdiri, dia sedikit tergelincir dan Yuki cepat menangkapnya. "Kakak! Kamu baik-baik saja?" tanya Yuki dengan khawatir. Ayase tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Yuki. Cuma kaki sedikit tergelincir. Kamu menang ya? Aku dengar suaramu dari luar!"
Yuki mengangguk dengan senyum lebar. "Ya, Kakak! Kita menang! Hadiah nya libur ke taman hiburan bersama kelas!" Ayase memeluknya. "Aku bangga banget sama kamu, Yuki. Tapi nanti libur, kakak akan ikut ya? Tapi minta maaf ya, kakak mungkin tidak bisa jalan terlalu lama. Badan sedikit lemah aja."
"Gapapa, Kakak! Kita bisa duduk di kursi roda kalau perlu. Yang penting kita bersama!" ucap Yuki dengan hangat.
Malam itu, mereka sepakat kumpul di warung es yang dekat sekolah untuk merayakan. Hana bawa kue yang dia bikin, Kinta bawa jus alpukat, Rina bawa keripik, dan Yuki bawa es krim yang Ayase beli buat mereka.
Mereka duduk di meja luar warung, melihat lampu kota yang menyala. "Hari ini aku sangat senang," ucap Rina dengan senyum. "Terima kasih sudah menerima aku sebagai teman kalian. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa merasakan kebahagiaan ini."
Yuki memeluk Rina. "Kamu adalah bagian dari kita sekarang, Rina. Kita selalu bersama, baik dalam suka maupun duka." Hana menambahkan. "Ya! Kalau ada tantangan lagi, kita hadapi bersama!"
Kinta melihat mereka semua dengan hati yang penuh kebahagiaan. "Kita buktikan bahwa persahabatan yang kuat bisa mengatasi segala tantangan. Aku bersyukur banget punya teman-teman sepertimu semua."
Mereka makan es krim dan bercanda sampai malam. Hana selalu bikin kelucuan dia sengaja melempar es krim ke wajah Kinta, bikin semua orang ketawa terbahak-bahak. "Hana! Kamu apa sih!" teriak Kinta sambil mencium es krim di wajahnya. Dia kemudian melempar es krim ke wajah Hana, bikin lagi tawa meriah.
Saat waktu sudah malam, mereka berpisah di depan warung. "Besok kita sekolah bersama ya! Dan mulai merencanakan libur ke taman hiburan!" ucap Hana dengan semangat. Mereka semua mengangguk.
Yuki pulang ke rumah dan melihat Ayase sudah tidur di kamar. Dia menutupi Ayase dengan selimut dan menyapa perlahan. "Selamat tidur, Kakak. Besok aku akan bawa makananmu yang enak ya." Ayase membuka mata sedikit. "Terima kasih, Yuki. Kamu adalah adik yang paling baik di dunia."
Yuki keluar dari kamar dan duduk di teras. Dia memandang bintang-bintang yang menyala di langit, merenungkan semua yang terjadi hari itu. Dia tahu bahwa tidak peduli apa tantangan yang akan datang nanti baik tentang Ayase yang semakin lemah, atau hal lain mereka akan selalu bersama, saling melindungi, saling mencintai, dan membangun kenangan yang indah bersama-sama.