Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Populer Tapi Cantik juga
Kalimat yang Mengubah Cara Damar Memandang Aira
Aira sedang duduk di bangku taman belakang sekolah, tertawa bersama Naya dan Bambang. Tawanya lepas. Polos. Tanpa beban.
Yoan berhenti melangkah.
“Eh,” katanya sambil menyenggol Dinan. “Kalian sadar nggak sih?”
“Apa?” Dinan menoleh malas.
Yoan menunjuk ke arah Aira.
“Aira… kalau dilihat-lihat…”
Damar yang berdiri di samping mereka tetap menatap layar ponselnya.
“…cantik juga ya.”
Damar mengangkat kepala.
“Cantik?” ulangnya dingin.
Yoan mengangguk santai.
“Iya. Nggak yang cetakan populer gitu. Tapi menarik. Imut. Ceria.”
Dinan menambahkan, “Kalau dia anak akselerasi, udah banyak yang ngantri.”
Damar menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya ke arah Aira berubah.dia melihat cara Aira tertawa sampai matanya menyempit.
Cara rambutnya tergerai kena angin.
Cara ia menepuk lengan Bambang sambil ngakak.
Entah sejak kapan… dia memperhatikan sedetail itu.
“Ngapain kalian bahas dia?” tanya Damar ketus.
Yoan mengangkat bahu. “Ngobrol biasa.”
“Ngobrol nggak penting,” potong Damar.
Dinan mengerutkan kening. “Kenapa jadi sensi?”
Damar melangkah maju. “Dia bukan bahan obrolan kalian.”
Yoan tertawa kecil. “Tenang aja. Gue cuma ngasih opini aja.”
Damar menoleh tajam.“Opini yang nggak penting,”
Sunyi.
Yoan mengangkat kedua tangan. “Oke. Oke. Protektif banget.”
Dinan berbisik, “Ini sepupu apa pengawal pribadi sih?”
Damar tidak menjawab.
Tapi sejak detik itu dia berdiri sedikit lebih dekat ke arah Aira.
Tanpa sadar.
---
Sore itu, Aira berjalan keluar gerbang sekolah.
Damar sudah menunggu.
“Kamu kenapa?” tanya Aira heran. “Biasanya kamu langsung pulang.”
“Ngapain kamu lama?” balas Damar.
Aira berkedip.
“Hah? Aku ngobrol sama Bonnie.”
“Lain kali langsung pulang.”
Aira berhenti berjalan.“Kenapa?”
Damar terdiam, Karena dia sendiri tidak tahu jawabannya.
“Pokoknya,” katanya akhirnya, “jangan kelamaan sama cowok-cowok.”
Aira melongo.
“HAH?”
“Itu bukan urusan kamu,” kata Aira sewot. Aira mendengus. “Kamu aneh.” Aira berjalan duluan.
Damar menatap punggungnya.
Dan baru sadar dia baru saja cemburu.
Gosip itu tidak datang dari Aira datangnya dari sekolah.
“Eh,” bisik seorang siswi akselerasi.
“Katanya Aira itu sepupunya Damar ya?”
“Iya, tinggal serumah.”
“Tapi kok nama belakang beda?"
“Dan mereka nggak pernah panggil Kakak Adek?”
Bisik-bisik itu sampai ke telinga Nina, Nina menatap Aira ragu.
“Aira… kamu sama Damar itu sepupu beneran?”
Aira terdiam.
Dia tidak pernah berpikir itu penting.
“Bukan sepupu kandung,” jawabnya jujur.
“Tante Mala Mamahnya Damar sahabat ibuku.”
Nina mengerjap.
“Jadi… nggak ada hubungan darah?”
“Nggak ada,”
Kalimat itu menyebar cepat.
Terlalu cepat.
Damar dipanggil Yoan pas jam istirahat.
“Mar,” kata Yoan pelan.
“Lo tahu kan… orang-orang sekarang tahu?”
“Tahu apa?"
“Kalau lo sama Aira bukan sepupu sungguhan.”
Damar membeku.
“Apa!”
“Sekolah rame,” sambung Dinan.
“Dan cara lo ke dia… kelihatan beda.”
Damar mengepalkan tangan.
Damar mencari Aira, menemukannya di lorong, sendirian.
“Kamu bilang ke orang-orang?”
"Kita bukan sepupu sungguhan," tanya Damar tajam.
Aira terkejut, “Enggak! Aku cuma jawab jujur pas ditanya.”
Damar menghela napas kasar.
“Mulai sekarang,” katanya pelan tapi tegas, “jangan jelasin apa pun lagi.”
“Kenapa?” Aira menatapnya bingung.
Damar menahan diri.
---
Gosip tidak meledak tapi... Ia merambat.
Pelan licik dan memilih target yang paling mudah disakiti.
Aira pertama kali merasakannya di kantin.
Saat ia duduk bersama Naya dan Bambang, tawa mereka tiba-tiba mengecil.
Bukan karena lapar.
Tapi karena suara dari meja belakang.
“Aku sih nggak berani ya,” suara Anne terdengar ringan.
“Serumah sama cowok.” Tawa kecil menyusul.
“Apalagi cowok kayak Damar,” lanjut Anne sambil memainkan sedotannya.
“Genius, populer, ganteng. Godaannya pasti banyak.”
Aira menegang, Naya berhenti mengunyah.
Anne melirik ke arah Aira senyumnya manis terlalu manis.
“Eh, Aira,” katanya seolah baru sadar, "Kamu nggak tersinggung kan?”
Aira mengangkat kepala. “Tersinggung apa?”
Anne mengibaskan tangan.
“Ya… aku cuma mikir aja.” Anne mencondongkan badan sedikit.
“Kita kan nggak tahu godaan apa yang dihadapi Damar dalam satu atap.”
Hening.
Sendok Bambang jatuh ke meja,Naya mengepalkan tangan, Aira merasa tubuhnya mendidih.
“Apa maksud kamu?” tanyanya pelan.
Anne mengerjap polos. “Hah? Aku cuma ngomong moral.”
“Moral gimana?”
Anne tersenyum, masih lembut.
“Ya kamu tahu lah… cowok itu kadang suka nggak sadar batas.”
Beberapa pasang mata mulai melirik.
Aira berdiri tangannya gemetar, tapi suaranya tidak.
“Aku tinggal di rumah itu karena orang tua ku meninggal,” katanya jelas.“Dan aku dihormati di sana.”
Anne memiringkan kepala. “Iya, iya. Aku percaya.”
Nada itu lebih menyakitkan daripada tuduhan.
“Cuma,” lanjut Anne pelan, “namanya juga cowok. Apalagi bukan sepupu beneran.”
Naya berdiri juga. “Anne,” katanya dingin. “Mulut kamu kebanyakan asumsi.”
Anne tertawa kecil. “Kenapa jadi serius? Aku cuma khawatir.”
Aira menatap Anne lurus. “Kekhawatiran kamu,” ucap Aira lirih tapi tegas, “Tidak aku butuhkan.”
Aira beranjak dan pergi dari tempat itu langkahnya cepat.
Bukan karena kalah, tapi karena kalau ia tinggal lebih lama air matanya akan jatuh.
---
Di koridor, Aira berhenti.
Damar berdiri di ujung lorong, dia sudah mendengar.
Tatapan mereka bertemu, Aira ingin tersenyum tapi tidak bisa.
Aira berjalan melewati Damar tanpa bicara.
Dan untuk pertama kalinya Damar merasa terlambat melindungi Aira.