Seorang Dokter Jenius dari masa depan bereinkarnasi kembali ke dalam raga seorang putri bangsawan, yang menikah dengan pria yang sangat membenci dirinya. Hingga pada suatu hari yang nahas, dia pun diasingkan ke sebuah wilayah terkutuk bersama pelayannya, karena tuduhan.yang keji.
*
"Aku tidak akan menyerah! Sudah diberi kehidupan dan kesempatan kedua, masa harus aku sia-siakan?"
*
Jadilah saksinya, wahai langit! Jika aku, akan mengguncang dunia kuno ini dengan semua keahlianku!"
*
"Nona, tapi Anda tidak bisa apa-apa, loh!"
*
"Tenang saja ... Dewa memberkatiku dalam komaku kemarin, dan aku akan menunjukkan keahlianku!"
*
Bagaimana kisah si Dokter Jenius ini di dunia kuno yang tidak terdapat di dalam sejarah Kekaisaran?
*
Apakah dia mampu membangun kekuatannya sendiri di sana?
*
Ikuti kisah si Dokter Bar-bar hanya di sini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28: Perkembangan Pesat Desa Mingxien!
***
Wilayah Mingxien-Lima bulan kemudian ...
Usia Mingye dan Yuexin sudah satu tahun dua bulan, cerewet dan penuh dengan semangat.
"Kak, jalannya pelan-pelan saja! Kaki kanan dulu, balu kaki kili! Nah, betul begitu ..." seru Yuexin dengan suara susu yang terdengar cadel.
Mingye memutar matanya dengan malas, saat mendengar suara si bawel Yuexin.
"Aku hanya baru bisa beljalan, Adik! Aku bukan bayi cacat, yang tidak tahu cala beljalan, huh!" sahut Mingye dengan nada kesal.
"Tsk! Jangan talak-talak, dong! Aku kan cuma kasih tahu aja, loh! Ingat, Kak ... Kita di laga colang bayi, tahu?!" ujar Yuexin sambil mendecakkan mulut mungilnya.
Dua bayi mungil itu berjalan tertatih di halaman kediaman utama Mingxien.
Langkah mereka masih pendek-pendek, namun jelas ... mereka sudah bisa berjalan.
Para pelayan yang mengawasi mereka dari jauh menutup mulut mereka karena tertawa, saat mendengar celotehan kedua balita yang masih bau susu itu.
"Ya, Tuhan ... kenapa mereka lucu sekali sih? Bikin gemes aja!" seru salah satu pelayan dengan suara tertahan.
"Anak Nyonya Anlian memang bukan anak biasa. Selain cantik dan tampan, mereka juga cerdik dan pintar untuk balita seusianya ..." puji pelayan lainnya kepada Anlian.
Anlian yang sedang duduk sambil menikmati teh favoritnya tersenyum tipis, saat mendengar ungkapan kekaguman para pelayan itu.
"Hey, kalian! Jangan berlari, oke?! Nanti jatuh!" peringat Anlian kepada kedua anaknya dengan nada sedikit tegas.
"Kami cudah bisa bellali, Ibu! Malah bisa bellali sangat kencang!" sahut Yuexin dengan wajah berkeringat.
"Walau sudah bisa berlari kencang, kalian juga bisa terjatuh, kan? Ibu hanya memperingatkan sebelum kejadian ..." ujar Anlian dengan santai.
Mingye sudah sampai duluan di samping Anlian, lalu dia mengajak Anlian ke Paviliun Angin (Menara Pengawas), untuk melihat situasi seluruh desa Mingxien.
Sesampainya mereka di Paviliun Angin, Mingye meminta gendong kepada Anlian, agar bisa melihat keadaan.
Siapa suruh tubuhnya masih pendek dan mungil? Sampai dia sendiri susah untuk melakukan apa-apa!
Semuanya dilayani, sampai-sampai dia tidak mempunyai privasi sendiri.
"Pelbaikan tahap peltama sepeltinya sudah stabil, Bu. Gudang makanan penuh, balai pengobatan sudah beljalan sebagaimana mestinya, dan balak tentala plibadi kita sudah telisi sekital selatus dua puluh olang ..." ujar Mingye kepada Anlian dengan suara cadelnya.
Anlian menganggukkan kepalanya tanda setuju, sambil menatap wajah mungil yang terlihat sama persis dengan pria Dongling itu.
"Sekalang gililan pala walga yang menelima manfaatnya, kita halus membuat meleka nyaman dan aman ..." lanjut Mingye dengan wajah serius.
"Apa yang harus kita perbuat untuk mereka, hmm?" tanya Anlian.
"Aku tahu! Aku tahu!" seru Yuexin sambil mengangkat jari mungilnya.
"Ayo kita buat lumah selagam yang lapi dan belsih! Sepelti komplek pelumahan modelen! Ibu dan kakak paham, kan?" ujar Yuexin dengan ide cemerlangnya.
Anlian mengelus kepala Yuexin dengan lembut, sambil tersenyum.
"Ide yang bagus, Putriku! Mari kita bicarakan bersama Ayah, agar beliau yang mengatur semuanya ..." ujar Anlian.
"Baik, Bu! Ayo, kita cali Ayah sekalang! Ayah pasti sedang belada di balak militel kita!"
"Baiklah ... baiklah! Ayo kesana!"
Keenam orang itu berjalan santai ke arah barak latihan para calon 'Ashura Neraka' selanjutnya.
"Yaoyao, siapkan cemilan dan susu bocil ini di ruang bawah tanah. Kita akan membicarakan masa depan desa Mingxien di sana ..."
"Baik, Nyonya!"
♨
Sesampainya di barak pelatihan, Anlian memanggil Shen Luo, dan langsung bergegas ke ruang rahasia mereka.
Shen Luo berjalan sambil menggendong Yuexin, dan Anlian menggendong Mingye. Meninggalkan para pelayan dan pengasuh mereka di luar ruang bawah tanah.
Setelah duduk dengan nyaman, Anlian bergegas memberitahu semua rencana Mingye dan Yuexin, untuk membangun kenyamanan di desa Mingxien.
Mingye mengeluarkan setumpuk cetak biru bangunan perumahan di zaman modern.
Yuexin menjelaskan secara detail kepada Shen Luo dengan suara cadel, sehingga Shen Luo berulangkali bertanya kepada Anlian, apa maksud ucapan Yuexin itu.
"Ayah sebenalnya mengelti tidak sih?! Xinxin udah capek menjelaskan, loh! Kenapa masih tanya sama Ibu sih?!" protes Yuexin dengan wajah kesal.
"Hahahahaha! Ayah paham, Sayang! Hanya ada beberapa detail yang Ayah tidak mengerti sedikit, oleh karena itu Ayah tanya sama Ibu!" jawab Shen Luo sambil tertawa.
"Oh, oke ..." ujar Yuexin dengan wajah acuh.
Setelah melalui penjelasan ulang dari Anlian mengenai detail-detailnya, Shen Luo pun menjadi paham ...
Ternyata jiwa kedua anaknya ini dari masa depan, sama seperti jiwa Anlian.
Dan tentu saja yang mengetahui hal tersebut hanyalah Yaoyao dan Shen Luo sekarang.
Anlian akan mengeluarkan semua bahan-bahan bangunan yang diperlukan di dalam gudang kosong, yang ada di sebelah barak pelatihan.
Untuk warna cat rumah warga, Yuexin memutuskan warna orange bata dengan atap warna abu-abu tua.
"Kita akan gunakan genteng glasir mengkilat warna merah saja, agar terlihat mewah dan mencolok. Dan buat model rumah panggung, dengan campuran batu bata, semen, dan bambu, agar aman jika terjadi gempa atau banjir ..." ujar Anlian memutuskan.
"Aku ikut apa kata Ibu ..." sahut Mingye.
"Aku juga deh!" ujar Yuexin, ikut-ikutan.
Sementara Shen Luo dan Yaoyao hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
♨
Malam harinya, Anlian mengadakan pertemuan mendadak di Balai Pertemuan tengah desa, untuk membicarakan semua ini kepada warganya.
Para penduduk desa berkumpul dengan antusias, keadaan mereka sekarang jauh lebih baik dari pada lima bulan yang lalu, saat Anlian sekeluarga baru datang ke desa ini.
Hanya saja untuk bertani, mereka masih belum melakukannya, karena selain tanahnya yang kering, pengairannya juga termasuk sulit disana.
Anlian duduk di kursi utama bersama kedua anaknya dan Shen Luo, sedangkan Yaoyao dan kedua pengasuh si kecil berdiri dibelakangnya.
"Saya mengumpulkan kalian disini untuk memberitahukan kepada kalian, jika saya ingin membangun rumah baru untuk kalian semua ..." ujar Anlian kepada semua warganya.
Para warga langsung ribut, saat mendengar rencana Penguasa baru mereka.
"Rumah baru? Nyonya, apakah kami tidak salah dengar?"
"Rumah kami masih bisa dihuni dengan layak, kenapa harus dibangun kembali?"
"Apakah kami harus pindah? Tapi, pindah kemana?"
Mendengar suara-suara itu, Anlian mengangkat tangannya.
"Kalian tenang dulu! Dengarkan penjelasan saya!" seru Anlian dengan suara lantang.
Semua orang langsung terdiam, saat suara Penguasa mereka terdengar.
"Rumah-rumah kayu milik kalian sekarang sangat rawan terbakar, lembap, dan tidak tahan lama! Saya ingin membangun sebuah hunian kokoh dan bersih untuk kalian semua, serta memiliki sumur air sendiri-sendiri dan saluran pembuangan yang baik, agar kalian tidak mudah terkena penyakit!" ujar Anlian menjelaskan dengan gamblang.
"Apakah seperti bangunan rumah para Bangsawan diluar sana, Nyonya?" tanya salah satu Tetua desa Mingxien.
"Tentunya lebih baik dari mereka punya! Saya akan membangun sesuai banyaknya keluarga di dalam setiap rumah, dan kumpulkan data kalian dengan segera ke tangan Nona Yaoyao. Dan satu yang perlu kalian ingat, jangan pernah bertindak curang! Jika saya mengetahuinya, maka saya akan usir kalian keluar dari desa Mingxien ini!" ujar Anlian memperingatkan warganya dengan keras.
Semua warga mengangguk setuju dengan keputusan itu, sampai seorang pria paruh baya tiba-tiba mengajukan pertanyaan.
"Apakah semua biayanya gratis, Nyonya?" tanyanya ragu-ragu.
"Tentu saja tidak gratis!" jawab Anlian santai.
Para warga menjadi gelisah, saat mendengar jawaban Anlian.
Kemudian, Anlian melanjutkan bicaranya.
"Kalian membayarnya dengan tenaga kalian. Batu bata harus dibuat, dan tanah tempat tinggal kalian harus diratakan kembali. Para pria bekerja, para wanita memasak. Upah harian kalian setengah tael perak (500 wen) setiap harinya. Bagaimana? Apakah kalian semua setuju?" tanya Anlian.
Balai pertemuan itu menjadi hening sejenak, tidak lama kemudian terdengar seruan ramai para warganya yang bersemangat.
"Kami bersedia, Nyonya!"
"Demi masa depan keluarga dan anak-anak saya, saya rela bekerja siang malam mencari uang!"
Yuexin sangat senang, saat melihat antusiasme masyarakat yang tinggi seperti ini.
"Bagus! Lakyat telmotivasi, jalan kedepannya akan lancal! Hahahaha!" seru Yuexin.
Duxi Mingye menganggukkan kepala mungilnya dengan wajah serius.
"Ini semua kalena efisiensi sumbel daya yang optimal dari Ibu, jika tidak ... meleka tidak akan seantusias ini ..." sahut Mingye, layaknya orang dewasa.
♨
Keesokan harinya, Anlian membawa sebagian anggota baru Ashura Neraka, dan para Tetua desa Mingxien.
Mereka berdiri di sebuah tanah luas yang kering, yang menjadi lahan pertanian terbengkalai selama ini.
Itu adalah ladang desa Mingxien, yang dulu digarap bersama oleh semua warga.
Ladang itu terlihat sangat luas, dari pinggiran hutan sampai ke pinggir daerah pemukiman penduduk desa.
"Bagaimana cara kerja pertanian di sini, Tetua Han?" tanya Anlian.
"Semua warga turun ke ladang, dan mereka bisa menanam apapun juga diatasnya. Hasil panen mereka, 2 persen masuk ke dalam kas desa," Jawab Tetua Han.
"Dulu, kami tidak sesusah ini hidupnya, Nyonya. Sejak banyaknya pergantian pejabat dari Ibukota, dan mereka semua korup, maka penjualan benih menjadi langka dan mahal. Jika dapat, kami pasti kebagian benih yang sangat buruk, sehingga kami berhenti bertani," lanjut Tetua Han dengan nada sedih.
"Baiklah! Saya punya solusinya. Kalian semua, dengarkan saya! Balik semua tanah ini sampai rata semua, dan saya akan memberikan kalian kejutan yang bagus!" ujar Anlian dengan suara lantang.
"Tapi, tanah ini keras dan tidak berguna Nyonya! Percuma saja menanam benih di sini, air juga susah di dapat, karena mata airnya jauh ke dalam hutan," protes salah satu Tetua desa Mingxien.
Anlian menjawab dengan sabar.
"Saya akan menanam bibit 'Hibrida' untuk padi dan gandum. Jika kalian ingin melihat hasilnya, kalian harus mau bekerja keras. Selama kalian menyiram bibit dengan baik, maka mereka akan tumbuh dengan cepat dan bagus. Saya akan membuat saluran irigasi ke seluruh ladang ini, asalkan kalian percaya kepada saya!" ujar Anlian.
Ya, Anlian memang menciptakan bibit tanaman super yang hasilnya memuaskan.
Dari tanaman buah, sayur, sampai ke bibit tanaman pertanian.
Sebelum sempat mengujinya, dia sudah tewas di kehidupan pertamanya.
Dan sekarang saatnya menguji bibit ciptaannya di dunia kuno ini.
Jika berhasil, maka dia akan melanjutkan untuk membuatnya.
"Bu, apakah ada bibit buah-buahan? Kalau ada, Xinxin mau menanamnya di alea dalam Kediaman kita ..." ujar Yuexin tiba-tiba.
"Semua macam buah ada, nanti kita tanam bersama, oke?" jawab Anlian sambil mengelus sayang kepala Yuexin.
"Aku ikutan juga, ya ..." ujar Mingye yang tidak mau ketinggalan.
"Baik ... baik! Hahahaha ..."
Tiba-tiba, salah satu Tetua desa bertanya kepada Anlian.
"Nyonya, bolehkah saya tahu, apa itu tanaman Hibrida?" tanya Tetua itu.
"Hibrida adalah persilangan dari dua macam bibit unggul, yang membuat hasil produktivitasnya menjadi dua kali lipat dari bibit biasa. Tahan terhadap berbagai macam penyakit tanaman dan hama, dan bisa dipanen dua kali dalam sekali tanam ..." jawab Anlian menjelaskan.
Para Tetua desa dan warga yang ada di sana saling pandang, ada rasa tidak percaya di dalam hati mereka.
"Apakah semua itu benar?"
Anlian mengambil dua kantong benih dari kantong lengan hanfunya, lalu dia memperlihatkan kepada mereka semua.
"Ini adalah benih Hibrida padi dan gandum tahap pertama. Saya akan berika kepada kalian untuk mencobanya. Tanam di separuh lahan yang sudah dibalik tanahnya, dan lihatlah nanti hasilnya ..."
♨
Beberapa hari kemudian, setengah ladang desa Mingxien berubah total.
Hamparan hijau tunas tanaman padi dan gandum layaknya sebuah permadani di alam luas.
"Lihatlah tanaman itu?! Benar-benar bisa tumbuh dengan cepat! Biasanya setelah tiga minggu setelah tanam baru bertunas, ini baru tiga hari sudah bertunas lebat dan tinggi!"
Anlian yang baru saja selesai memberikan instruksi masalah irigasi kepada anggotanya, berjalan ke arah kerumunan warga dengan anggun.
"Kalian sudah percaya sekarang? Saya tidak pernah berkata bohong tentang apapun. Jika saya bilang bisa, ya bisa ..." ujar Anlian sambil tersenyum hangat.
Warga desa menolehkan kepalanya, dan langsung menunduk hormat.
"Penguasa Mingxien ..."
Anlian menganggukkan kepalanya.
"Kalian tinggal atur pemupukannya dan airnya harus dikontrol. Jangan memberikan tanaman itu banyak air, dan setelah saluran irigasi selesai dibuat, maka pekerjaan kalian akan semakin ringan ..." instruksi Anlian kepada semua warganya.
"Kami mengerti, Nyonya Anlian!"
Mata seluruh warga desa Mingxien berbinar cerah, saat melihat betapa sehatnya tanaman-tanaman itu.
Mingye menatap ladang tanaman itu dengan wajah serius.
"Jika lencana Ibu belhasil, maka desa Mingxien bisa menyuplai tiga wilayah dekat sini dalam sekali panen. Itu akan membuat para Pejabat di Ibukota semakin cembulu, karena wilayah pegangan mereka tidak sesukses desa Mingxien ini ..." ujar Mingye menganalisa.
Anlian menatap kedua anaknya dengan wajah penuh tanya.
"Apakah kalian ingin Ibu berselisih dengan para Pejabat itu?" tanya Anlian.
"Sedikit ... Apakah Ibu takut?" tanya Yuexin.
"Tidak ada kata takut dalam kamus kehidupan Ibu. Jika mereka berani mengganggu hanya karena iri, maka kita berikan saja nyawanya kepada Dewa Yamma! Hehehehe ..."
Apakah para Pejabat itu berani mencari masalah dengan Anlian?
Kita lihat saja nanti ... hehehehe.
♨♨♨