Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah penebusan
Lonceng pintu kedai berdenting, Faisal masuk sambil menggandeng tangan Devina. Mereka tertawa kecil, membicarakan hal lucu yang baru saja mereka alami dijalan. Faisal terlihat begitu melindungi, merangkul Devina agar tak tersenggol pengunjung lain.
Seketika langkah Faisal berhenti, sorot matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal disudut ruangan.
" Na? " suara Faisal terdengar rendah.
Devina ikut menoleh, ia melihat seorang gadis yang terlihat sangat rapuh dengan mata sembab dan rambut yang sedikit berantakan. Devina langsung menyadari bahwa ini Aruna, masalalu yang hampir membuat Faisal kehilangan arah.
Faisal melangkah mendekat, diikuti Devina yang meski merasa canggung, tetap memberikan rasa empatinya.
" Kamu sendirian? Mana Arya? " tanya Faisal sambil melihat sekeliling, padahal biasanya pria itu selalu mendampingi Aruna seperti bayangannya.
Aruna mendongak. Ia berusaha menghapus air matanya dengan cepat, namun gagal. Melihat Faisal berdiri dihadapannya bersama Devina yang tampak begitu serasi, hatinya terasa seperti diremas.
" Dia..... Dia udah pergi, Sal"
Devina menarik kursi didepan Aruna tanpa diminta. Ia tidak menatap Aruna dengan sorot kebencian, melainkan dengan tatapan wanita yang paham dengan rasa sakitnya.
" kamu gapapa, Na? badan kamu gemeteran gini. "
Aruna tersenyum tipis.
" Gapapa ko, aku cuma kedinginan aja."
Suasana dimeja itu mendadak menjadi sangat menyesakkan. Faisal yang awalnya hanya ingin memastikan keadaan Aruna, kini tampak kehilangan kendali atas empatinya. Ia menarik beberapa lembar tisu dan dengan gerakan cepat, ia tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata di pipi Aruna didepan Devina.
" Jangan nangis disini, Na. Malu dilat orang. " ucap Faisal lembut. Suaranya mengandung nada kepedulian yang sangat kental, nada yang seharusnya hanya dimiliki Devina sekarang.
Devina yang duduk tepat disamping Faisal, merasakan debaran aneh didadanya. Tangannya yang tadi menggenggam jemari Faisal perlahan merenggang, karena Faisal melepaskannya begitu saja demi menggeser kursi lebih dekat ke arah Aruna.
" Arya bener bener ninggalin kamu, Na? Terus kamu pulang sama siapa? Ini udah malem loh, terus diluar juga masih ujan deras. " cecar Faisal.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa ia baru saja memesan coklat panas tambahan untuk Aruna tanpa bertanya dulu pada Devina apakah dia ingin memesan sesuatu.
" Aku..... Aku paling naik taksi online, Sal. " jawab Aruna dengan suara parau sambil mencuri pandang ke arah Devina yang wajahnya mulai berubah kaku.
" Ngga , Na. Aku ga akan ngebiarin kamu pulang sendiri. Bahaya ini udah malem, biar aku yang anter kamu pulang. "
Kalimat itu bagai petir yang menyambar Devina. Ia menoleh ke arah Faisal dengan tatapan tidak percaya.
" Sal? kita kan rencananya sepulang dari sini mau ke toko buku. Kamu udah janji mau bantu aku cari referensi tugas. "
Faisal menoleh ke arah Devina, raut wajahnya tampak dipenuhi rasa bersalah. Namun, tetap bersikeras.
" Bentar aja, kasian Aruna. Dia lagi down banget pasti, masa kamu tega ninggalin dia sendirian di kondisi kaya gini?! "
Devina mengepalkan tangannya dibawah meja. Ia melihat bagaimana mata Faisal menatap Aruna, ada sisa sisa kekhawatiran yang terlalu dalam untuk ukuran seorang mantan. Ia juga melihat bagaimana Aruna yang seolah olah bersandar pada perhatian Faisal, seolah sedang menikmati momen dimana ia kembali menjadi pusat perhatian dari Faisal.
Yang lebih menyakitkan lagi ketika Faisal tanpa sengaja melihat payung yang terlipat disamping Aruna.
" Loh, ini kan payung yang barusan aku temuin di kursi depan gerbang sekolah?! Na, jadi payung itu punya......" Faisal tidak melanjutkan kalimatnya, tapi binar matanya menunjukan campuran antara rasa haru dan penyesalan. Ia menatap Aruna lebih dekat lagi, seolah sedang membaca pesan pesan tersembunyi yang selama ini dikirimkan Aruna lewat diamnya.
Tiba tiba Devina berdiri, membuat kursi kayu yang ia duduki berdenyit nyaring dilantai kedai.
" Devina, kamu mau kemana? " tanya Faisal bingung.
" Aku pulang sendirian aja, Sal. " ucap Devina dengan suara gemetar yang berusaha tetap tegar. " kayanya kamu masih punya banyak urusan yang harus diselesaikan disini. Aku gamau jadi penonton yang gangguin kamu, untuk urusan yang belum bener bener selesai. "
Devina berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Hujan diluar masih cukup deras, namun rasa panas dihatinya jauh lebih deras. Ia menyadari bahwa sekeras apapun Faisal mencoba meyakinkannya, bayang bayang Aruna tidak pernah benar benar pergi dari pikirannya.
Faisal berdiri ragu ragu, antara mengejar Devina yang mulai menjauh ditengah hujan, atau tetap tinggal menemani Aruna yang sedang menangis tersedu di depannya. Di satu sisi, ada komitmen dan masa depannya. Disisi lain, ada luka masalalu yang tiba tiba memanggilnya kembali.
- Aku cinta kamu, Sal. Tapi aku gabisa mencintai seseorang yang hatinya masih terbagi untuk menyelamatkan orang lain. Gumam Devina ditengah deru hujan.
Faisal terdiam di kursi itu, tangannya yang menggantung di udara perlahan turun. Ia tidak mengejar Devina. Malam itu, ia terjebak dalam pusaran emosi Aruna. Ia menemaninya hingga merasa sedikit tenang, mendengarkan tangisnya, dan mengantarnya pulang ke rumah yang kini terasa sangat sunyi. Ada rasa yang berbahaya saat ia berada di dekat Aruna, sebuah tarikan masalalu yang hampir membuatnya lupa pada janji yang ia bangun dengan susah payah.
.......
Faisal kembali ke kamarnya, keheningan menyadarkannya. Ia melihat gantungan kunci ' love ' yang sama dengan yang ia berikan kepada Devina, tergeletak dimeja belajarnya. Ia menyadari bahwa rasa kasihan kepada Aruna tidak boleh menghancurkan rasa sayangnya pada Devina.
Keesokan harinya, matahari terbit dengan cahaya yang seolah menuntut kejujuran. Faisal berdiri didepan gerbang rumah Devina sebelum berangkat ke sekolah. Wajah Faisal tampak lesu, tanda ia tidak tidur semalaman karena dihantui rasa bersalah.
Saat Devina keluar rumah dengan mata yang sembab, Faisal langsung menghampirinya.
" Devina, aku minta maaf, " ucap Faisal tanpa basa basi. " kemarin aku udah berlebihan. aku ga seharusnya ngelepas tangan kamu demi orang lain, apapun alesannya. "
Devina terdiam sebentar, menatap Faisal dengan tatapan yang sulit diartikan.
" aku ga marah sama kamu gara gara kamu nolong dia, Sal. aku cuma takut kalo aku ini cuma dijadiin pelarian sampai kamu ngerasa dia butuhin kamu lagi. "
Faisal menggelengkan kepalanya. Ia menggenggam tangan Devina dengan erat.
" engga, Na. Kemarin itu cuman sisa sisa tanggung jawab masalalu, kamu tetep jadi pilihan aku. Pliss kasih aku kesempatan buat perbaiki ini. "
Setelah pembicaraan panjang, Devina akhirnya luluh, meski masih ada luka kecil yang membekas di ingatannya. Faisal mengantarkan Devina ke sekolahnya yang berada di dekat pusat kota, mencoba merajut kembali apa yang sempat merenggang.
.......
Disisi lain, disekolah Faisal.
Aruna berdiri dibalik pilar perpustakaan, matanya mencari keberadaan Faisal. Aruna sudah benar benar melupakan Arya. Pesan pesan Arya yang berisi jadwal belajar dan tuntutan nilai, ia biarkan tanpa balasan. Baginya, Arya sudah tidak berguna karena ia telah kehilangan pemicu untuk membuat Faisal cemburu.
Aruna melihat Faisal memasuki parkiran dengan motornya. Aruna bergegas melangkah ke lorong kelas 11, jalan yang akan dilewati Faisal sebelum masuk ke kelasnya. Setelah beberapa saat, Faisal terlihat melangkah tanpa memperhatikan sekitar, Aruna bangkit dari duduknya.
" Tumben kamu telat, Sal. Bangun kesiangan, ya? " tanya Aruna.
Faisal mendongak.
" Ngga ko, barusan aku nganterin Devina dulu ke sekolahnya. " jawab Faisal datar. " Aku duluan ya , Na. " Faisal melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Aruna mematung, tidak menjawab Faisal. Matanya tidak lagi memancarkan kesedihan yang rapuh seperti di kedai kopi, melainkan tatapan yang tajam dan terencana. Ia mulai mencatat setiap detail hubungan Faisal dengan Devina. Ia tahu kapan Faisal dan Devina akan bertemu, ia tahu hal apa yang bisa menyebabkan mereka berselisih paham, dan ia tahu kapan Faisal tidak bisa menemani Devina.
Aruna mulai menyusun strategi, ia tidak akan masuk secara kasar. Ia akan menunggu saat Faisal merasa jenuh, saat Devina mulai menuntut terlalu banyak, atau saat ada celah kecil dari kesalahpahaman. Ia akan menjadi sahabat yang selalu ada, yang mengerti tanpa harus menghakimi.
Aruna tidak hanya mengamati, ia sedang menunggu momentum untuk merebut kembali dunianya yang hilang.
- Nikmatilah kebahagiaanmu yang sebentar lagi itu, Devina. Karena setiap hubungan pasti ada titik jenuhnya. Dan disaat itulah aku akan ada disana untuk merebutnya kembali.