Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*21
"Ah, bu-- bukan itu, pak." Mika berucap cepat sambil melebarkan matanya.
"Bukan itu? Lalu apa?"
Mika sungguh sedang berada di situasi yang sangat sulit. Menghadapi ketenangan Paris, dia sungguh kewalahan. Pria itu sungguh luar biasa. Sejauh ini, tidak ada riak sedikitpun yang terlihat. Wajahnya tetap tenang seolah air yang mengalir perlahan tanpa ada yang menghalang sedikitpun.
Mika benar-benar kehabisan kata-katanya kini. Ingin menjawab dengan jawaban sembarangan, tapi dia takut akan menyingung perasaan Paris. Karena bagaimanapun, Paris adalah bos tempat dia bekerja. Lalu, dia masih sangat membutuhkan pekerjaan itu.
"Pak-- "
"Mika. Apa alasan kamu menerima tawaran Naya?"
Mika terdiam. sejenak. Matanya kini menatap lekat wajah tampan milik Paris. Sesaat terdiam, Mika akhirnya berani menjawab dengan terus terang Tentunya, setelah beberapa pertimbangan yang benaknya lakukan sebelumnya.
"Saya butuh uang, Pak. Istri bapak memberikan saya uang sebagai imbalan untuk menikah dengan bapak."
"Tapi pak Paris tenang saja, karena kita tidak sederajat, maka saya akan membatalkan kesepakatan itu."
"Tidak sederajat, Mika? Maksudnya bagaimana?"
"Bapak adalah bos saya. Sedangkan saya adalah karyawan bapak. Jadi, ada perbedaan yang sangat jauh diantara kita, Pak. Karena
itu-- "
"Lupakan saja niat kamu untuk membatalkan kesepakatan mu dengan Naya, Mika. Karena itu tidak akan berhasil."
"Tapi-- "
"Menikahlah dengan ku. Karena jika aku tidak menikah dengan mu, maka Naya akan tetap mencarikan aku wanita yang lainnya lagi untuk dia jadikan istri kedua ku."
Sungguh, Mika benar-benar tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Tapi Paris tidak ingin menghiraukannya. Dia tetap melanjutkan niatnya untuk melepas apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini.
"Kamu tidak tahu seperti apa sifat Naya, Mika. Jika dia punya keinginan, maka dia akan terus berusaha untuk mencapai keinginannya itu. Karena itu, menikahlah kamu dengan mu. Jadilah istriku, Mika."
"Jika kamu masih keberatan, anggap saja kita sama-sama mendapatkan keuntungan dari pernikahan ini. Kamu diuntungkan karena uang, sedangkan aku diuntungkan karena aku tidak perlu menikah dengan orang asing yang sama sekali tidak aku kenali."
"Walau aku hanya mengenalmu sebagai karyawan ku saja, tapi itu jauh lebih baik dari pada menikah dengan orang yang benar-benar asing, Mika."
Mika terdiam sejenak. Benaknya mencerna dengan sangat teliti setiap kata yang Paris ucapkan. Lalu, ucapan Paris itu benak Mika benarkan.
'Benar juga. Kalau aku batalkan kesepakatan dengan mbak Naya, ke mana aku harus mencari uang yang telah aku pakai untuk operasi mama? Itu uang dengan jumlah yang sangat besar. Jika aku tidak bisa membayarnya, aku akan berada dalam masalah.' Mika berkata dalam hati.
Lalu, yang paling Mika takutkan adalah, mamanya tahu. Mamanya yang sedang ada dalam pemulihan saat ini, jika semua ulahnya ketahuan, maka sudah bisa dipastikan, kesehatan sang mama yang baru mulai pulih akan kembali memburuk.
"Ba-- baiklah kalau begitu. Saya setuju dengan usulan pak Paris. Kita akan menikah, tapi dengan syarat, pernikahan sembunyi-sembunyi saja. Hanya kita dan orang-orang yang paling dekat saja yang tahu. Bagaimana?"
Paris langsung menyetujui apa yang Mika ucap. Uluran tangan langsung dia berikan pada Mika. "Baik, sepakat."
Mika menyambut uluran tangan itu dengan enggan. "Se-- sepakat."
Pertemuan itupun akhirnya mencapai puncak persetujuan. Keduanya sama-sama setuju untuk melanjutkan pernikahan yang telah Naya rencanakan.
"Baiklah kalau begitu, Pak. Jika tidak ada lagi yang mau dibicarakan, saya pamit sekarang."
"Tunggu!"
"Iya? Ada lagi, Pak Paris?"
"Karena kamu dan aku akan menikah, tolong ubah panggilan mu ketika kita hanya berduaan saja. Jika kita ada di tempat umum, atau sedang bersama orang lain, maka terserah padamu mau memanggil aku dengan panggilan yang biasa kamu panggil."
"Maksudnya, ubah panggilan bagaimana, Pak?"
"Aku tidak nyaman dengan panggilan pak yang selalu kamu ucap. Ganti dengan panggilan lain."
"Panggilan lain? Panggilan apa, Pak?"
"Mmm .... " Paris terlihat sedang berpikir. Sesaat kemudian, dia pun angkat bicara kembali. "Bagaimana jika kamu panggil aku dengan panggilan Mas saja? Itu akan lebih cocok untuk seorang istri buat memanggil suaminya."
"Mm-- Mas?"
"Ya."
Mika terdiam. Namun, hatinya sedang bicara. 'Ya Tuhan, kenapa harus mengubah panggilan segala. Cocok buat kamu, aneh buat aku. Aish, tapi ya sudahlah. Apa yang dia katakan memang benar adanya. Panggilan pak akan terasa sedikit mengganjal untuk memanggil orang yang sudah jadi suamiku. Kecuali aku punya anak. Eh, tapi kalo aku punya anak juga gak akan manggil suamiku dengan panggilan pak. Orang ntar anakku manggilnya papa. Masa aku manggil suamiku pak sih?'
Mika yang sibuk dengan pikirannya sendiri tidak luput sedikitpun dari perhatian Paris. Pria itu terus menatap si calon istri yang terlihat sangat menggemaskan.
"Ehem. Mika."
Yang di panggil tidak menyahut. Karena sampai saat ini, Mika tetap sibuk dengan apa yang sedang dia pikirkan sebelumnya. Alhasil, Paris harus mengulangi lagi panggilannya untuk yang kedua kalinya.
"Mika."
Eh ... tetap saja Mika masih tidak menyahut. Paris pun langsung mendengus kasar.