NovelToon NovelToon
TAK ADA JALAN KEMBALI

TAK ADA JALAN KEMBALI

Status: tamat
Genre:Kebangkitan pecundang / Anak Lelaki/Pria Miskin / Pengawal / Tamat
Popularitas:229.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.

Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.

Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.

Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.

Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?

"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Hancur

.

Riko yang baru pulang dari tempat kerja, memarkir motor bututnya dan berlari menuju kamarnya tak peduli dengan teriakan Ratna. Yang ia butuh hanya segera bertemu Laras. Ia tahu, jam segini Laras pasti ada di rumah. Berita yang ia lihat di televisi saat sedang membantu temannya menyortir barang masih mengganggu pikirannya.

"Laras, apa ini? Apa maksud semua ini?” Suara Riko bergetar saat ia menghadapkan ponselnya ke wajah Laras.

Layar layar sentuh itu menampilkan berita utama portal hiburan lokal – foto-foto Laras bersama aktor yang sedang naik daun, Aldo, dengan pose yang sangat mesra di sebuah acara promosi film. Judul beritanya cukup mencolok: "Laras dan Aldo: Cinta atau Hanya Promosi?"

Laras yang sedang bermalas-malasan di atas ranjangnya, hanya mengangkat bahu dengan nada tenang bahkan terkesan acuh tak acuh. "Oh, itu? Jangan khawatir, Sayang. Itu hanya settingan."

"Settingan? Maksudmu?" Riko menatapnya dengan mata penuh keraguan.

"Iya, tuntutan dari agensi. Aku harus melakukan itu untuk melambungkan nama dan mendongkrak popularitas. Kamu kan tahu, aku ini seorang selebriti. Hal seperti itu biasa terjadi dalam agency."

Riko tidak bisa menyembunyikan ekspresi tidak percaya di wajahnya. "Tapi, foto-foto itu... terlihat sangat mesra."

Laras kemudian tersenyum manis dan mengulurkan tangan untuk memeluknya. "Jangan cemburu, Sayang. Itu hanya akting. Kamu tahu kan, aku hanya mencintaimu."

Awalnya, Riko benar-benar berusaha untuk mempercayai penjelasan istri yang telah ia nikahi setahun lalu itu. Ia yakin bahwa semua yang terlihat di media hanya bagian dari pekerjaan Laras, tidak ada perasaan yang sesungguhnya terlibat di antara mereka berdua.

Ia menutup mata dan telinga terhadap semua desas-desus yang beredar, hanya karena ingin mempertahankan pernikahan mereka – meskipun dalam hati paling dalam, ia mulai menyadari bahwa hubungan mereka sudah mulai retak jauh sebelum gosip itu muncul. Hubungan mereka sama sekali tidak seperti layaknya pasangan suami istri.

Namun, keraguan seperti jamur yang tumbuh di tempat lembab tak pernah bisa dihilangkan sepenuhnya. Bayangan foto-foto Laras dan Aldo yang saling mendekap serta tersenyum bahagia terus menghantui pikirannya setiap malam.

Riko mulai merasa semakin tidak aman dengan dirinya sendiri, sering kali introspeksi diri dan bertanya-tanya apa yang kurang dari semua pengorbanannya, hingga Laras harus melakukan hal seperti itu.

Hingga suatu hari, saat mendapatkan izin untuk pulang lebih awal dari toko elektronik tempat ia bekerja, ia mendapat sebuah kejutan yang sangat menyakitkan daripada semua yang pernah ia bayangkan.

Pintu rumah mewah yang menjadi tempat tinggal mereka terbuka perlahan. Riko menginjakkan kaki ke dalam ruang tamu dengan tubuh lelah, matanya terbelalak melihat apa yang terjadi di tengah ruangan.

Di sofa besar berbahan kulit hitam, Laras sedang berciuman mesra dengan seorang pria. Ia mengenali wajah pria itu. Aldo – aktor yang beberapa waktu terakhir selalu muncul bersamanya di berita dan gosip.

Mereka sama sekali tidak menyadari kedatangan Riko. Tawa riang Laras terdengar jelas di setiap jeda ciuman mereka. Mereka seolah hidup dalam dunia sendiri, seolah tidak ada orang lain yang berhak berada di sekitar mereka.

Bersamanya, Laras tak pernah seintim itu. Tapi bersama pria lain …

Riko terpaku di ambang pintu, kaki seperti tertambat di lantai marmer yang mengkilap. Jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak, nafasnya tercekik di tenggorokan hingga ia merasa sulit bernapas. Rasanya seperti disambar petir di tengah siang bolong yang cerah – sakit, tiba-tiba, dan membuat seluruh tubuhnya menjadi kaku.

Hingga kemudian, kata-kata yang meluncur dari bibir Laras dengan nada yang penuh canda dan kasih sayang – namun bukan untuknya. Kata-kata itu menghancurkan setiap sisa harapan dan keyakinan yang masih tersisa dalam dirinya.

"Kamu memang pintar membuatku bahagia, Sayang," ucap Laras sambil membelai pipi Aldo dengan lembut, wajahnya penuh keceriaan. "Kalau bukan karena kamu, aku pasti sudah bosan dengan kehidupan pernikahan palsu ini."

Aldo melumat bibir gadis itu sebelum menjawab dengan nada sama hangatnya. "Aku juga senang bisa membuatmu bahagia, Laras. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik daripada pria bodoh itu."

Laras tertawa sinis,. "Kamu tidak tahu betapa menjijikkannya dia. Tapi aku terpaksa menikahinya. Kalau bukan untuk meloloskan Kak Bagas dalam akademi kepolisian, mana mungkin aku sudi berdekatan dengan cowok kere macam dia."

Suara itu seperti mencucurkan garam ke luka terbuka

Dunia Riko runtuh seketika. Kebenaran yang begitu pahit menghantam dadanya dengan kekuatan luar biasa, seolah meremukkan setiap tulang dan sendi di dalam tubuhnya. Ia mendengar dengan jelas setiap kata yang keluar dari bibir wanita yang selama ini ia cintai dengan tulus, setiap hinaan yang ditujukan padanya seperti anak panah yang menusuk hati. Ia merasa dipermalukan, direndahkan, dan dipermainkan dengan cara yang paling kejam.

Selama ini ia hidup dalam kebohongan yang begitu indah. Ia percaya bahwa Laras benar-benar mencintainya, bahwa mereka memiliki keluarga yang akan terus bahagia meskipun harus menghadapi berbagai rintangan. Namun, kenyataannya jauh berbeda – ia hanya menjadi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan Laras dan keluarganya. Sebuah boneka yang bisa dipermainkan kapan saja dan dibuang begitu saja ketika sudah tidak berguna lagi.

Air mata mulai mengalir deras di pipinya, membasahi wajah yang tiba-tiba menjadi pucat dan pucat. Ia tidak bisa lagi menahan emosi yang meledak dalam dirinya, ingin berteriak dan meluapkan semua amarah serta kekecewaan yang telah ia pendam selama ini. Riko mengusap kasar wajahnya, lalu menghirup udara sebanyak mungkin. Ia tak boleh terlibat lemah.

Prok prok prok…

Suara tepuk tangan yang terdengar keras namun lambat, membuat Laras dan Aldo akhirnya menyadari adanya orang lain di dalam ruangan. Ciuman mereka terhenti tiba-tiba, kedua wajah mereka menunjukkan ekspresi terkejut yang jelas terlihat. Mereka menoleh ke arah pintu dan menemukan Riko berdiri di sana – dengan tatapan yang tampak kosong namun di dalamnya menyimpan amarah yang membara seperti kobaran api.

Riko kemudian mulai berjalan pelan mendekat dan tertawa. Tawa yang terdengar hambar dan getir. Kedua tangan yang terus bertepuk pelan, seolah sedang memberikan apresiasi atas sebuah pertunjukan yang luar biasa.

"Bravo! Akting yang luar biasa!" ucapnya dengan suara yang penuh dengan rasa sakit dan rasa malu pada dirinya sendiri. "Kalian benar-benar hebat!"

Laras tampak sedikit gugup, berusaha untuk mendekatinya dan meraih tangannya. "Riko? Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami hanya..."

"Tidak seperti yang aku pikirkan? Hanya apa? Hanya settingan? Hanya sedang berlatih adegan?" Riko memotong ucapan Laras dengan suara yang berat dan dingin. Ia tidak berteriak, namun suara yang datar itu sarat akan luka dan amarah yang mencoba ditahan.

"Ternyata selama ini mataku buta! Aku tidak menyangka kamu wanita sekejam ini! Setelah semua yang aku korbankan untukmu, ternyata kamu tak lebih dari seorang penipu, pengkhianat!"

Laras berdiri dengan cepat dari sofa, ekspresi gugupnya perlahan berubah menjadi dingin dan tak peduli. Ia menatap Riko seolah sedang melihat orang asing yang tidak berarti apa-apa baginya.

"Lalu kamu mau apa?" ucapnya dengan nada sinis. "Ngaca dong, kamu itu siapa? Kamu merasa berkorban? Ya salah kamu sendiri, kenapa mau? Memangnya aku pernah memaksa? Terus kenapa kamu tidak terima? Aku menjanjikan pernikahan dan sudah aku tepati. Yaaa… walaupun penghulunya penghulu palsu. Sekarang kamu mau apa? Cerai? Ayo!"

Kata-kata itu seperti batu besar yang menghantam kepala Riko. Penghulu palsu? Jadi, selama setahun ini, pernikahan mereka tidak pernah sah?

Riko terhuyung mundur beberapa langkah, tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas dan tak berdaya. Ia tersandar pada punggung sofa yang ada di belakangnya, jari-jarinya mencengkeram pinggiran sofa itu erat-erat. Pikirannya kosong, hatinya hancur berkeping-keping. Semua yang pernah ia percayai, semua yang pernah ia cintai, ternyata hanya sekedar kebohongan belaka.

*

1
awesome moment
hangatnya
awesome moment
duh...prof. sesuai gelar. smua hrs jd
awesome moment
mas su yg protektif tp bgoosh. body mbak istri jgn diumbar
awesome moment
30 tahun dgn 5 tahun penuh hinaan dan siksaan bisa merubah org jd lbh matang. bastian tersepona lbh dlu n😄😄😄
awesome moment
whoah...auto dpt kepercayaan ta. btw, n tanuwijaya senior g ngasih info ke anya y. bodyguardnya siapa
awesome moment
ketulusan tu g pernah lekang. tdk terlihat...mgk. tp hilang, tak berharga...sangat tdk mungkin
awesome moment
n bukan balas dendam. tp menunjukkan bhw bukan sasaran utk diinjak
awesome moment
😄😄😄ngabrut smp buang angin. ngehaluin muka2 dying gegara sombong
awesome moment
👍👍👍do'a ibu memudahkan smuanya
awesome moment
anak laki2 yg mengutamakan ibunya stl smua kewajiban ke kelg akan berlimpah keberuntungan
awesome moment
1 tahun utk marketing bruang.
awesome moment
wkwkk laki2 klo mmg udh buat y buta j
Ari Sawitri
fitrahnya laki laki itu tdk akan mau direndahkan spt Riko. tp krn ini di novel ya bisa bisa aja🤔
Dwi Setyaningrum
heleh ras gmn km juga menorehkan luka bgtu dlm wkt sm Riko jd anggap aja apa yg diperbuat sm Aldo k km bentuk pembalasan dr Riko melalui Aldo jadi ga usah mendramatisir deh🤪
Dwi Setyaningrum
meluapkan apa melupakan thor🤔
Neni Karyani
ceritanya sangat mnyentuh mngharu biru...tak kuasa diahir cerita sampai meneteskan airmata mksih KK thoor
Dwi Setyaningrum
heh Bu Ratna anda percaya diri sekali kalau Riko mau balik lg sm Laras..ngaca Bu..Riko skrg sdh ga level lg sm anda🤪🤪
Julie Yang
🤣🤣🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: aduh, apa ini woee... aku kan dah lupa pernah nulis apa 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nanik Kusno
Bahagia untuk semuanya.....👏👏👏👏👏👏
terimakasih Kak Othor ceritanya....🙏🙏🙏🙏🙏
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: terima kasih juga atas dukungan nnya, Ka Nanik. sehat dan sukses selalu selalu untuk kakak sekeluarga🙏
total 1 replies
Nanik Kusno
Semoga Aldo ma Laras kembali bersama..... kondisi dan sikap mereka sudah semakin baik...🤲🤲🤲🤲🤲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!